Anda di halaman 1dari 19

Gambaran Klinis Kasus

Batuk Kronik Berulang


pada Anak

dr. Dwi Wastoro Dadiyanto, SpA(K)

Divisi Respirologi Ilmu Kesehatan Anak


Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro / RS. Dr. Kariadi, Semarang
Pendahuluan

• Batuk Kronik Berulang (BKB) adalah keadaan


klinis oleh berbagai penyebab dengan gejala
batuk yang berlangsung selama 2 minggu atau
lebih dan/atau batuk yang berulang sedikitnya 3
episode dalam 3 bulan berturut-turut, dengan
atau tanpa gejala respiratorik atau non
respiratorik lain
UKK Respirologi Anak dalam KONIKA V tahun 1981 di Medan

• Dua penyebab BKB yang utama


• asma
• bronkhitis viral yang berulang.
Patofisiologi

Komponen refleks batuk :


1. reseptor batuk  di larings, trakea, bronkus,
telinga, lambung, hidung, sinus paranasal,
farings, perikardium dan diafragma,
2. saraf aferen  n. vagus, n. trigeminus, dan n.
frenikus,
3. pusat batuk  di medula dekat dengan pusat
pernafasan,
4. saraf aferen  n. vagus, n. frenikus dan n.
interkostal
5. efektor  otot-otot pada larings, trakea,
bronkus, diafragma dan interkostal
Patofisiologi
Rangsangan eksogen : Rangsangan endogen :
asap, benda asing sekret, mukus, mediator inflamasi

reseptor

saraf aferen

pusat batuk

saraf aferen

efektor
Etiologi
1. Penyebab yang sering c. Aspirasi Pulmoner
a.Asma - Refluks
b.Brokitis virus berulang gastroesofageal
-
2. Penyebab yang agak jarang Gangguan
a.Bronkitis Spesifik koordinasi
-Pertusis, mycoplasma,
TB menelan
-Bronkitis bakterial -
sekunder Gangguan
-Brokiolitis infantil anatomi
b.Penyakit Paru Supurativa d. Lesi fokal pada saluran
-Fibrosis kistik trakeo-
-Defisiensi imum bronkial
-Diskinesia silia primer - Benda sing
-Benda asing yang - Kelainan saluran
menetap pernafasan
-Post-viral kongenital
-Idiopatik - Tumor
e. Penyakit Saluran
Pendekatan Diagnostik
Diagnosis banding untuk batuk kronik pada anak.

Anak tampak sehat Penyakit dasar nyata

- Bronkitis akut viral berulang - Penyakit paru supurativa


- Batuk paska infeksi virus kronik
- Asma - Aspirasi paru berulang
- Post nasal drip - Benda asing
- Pertussis like cough - Bronkiektais
- Refluks gastro-esofagus - Defisiensi imun
- psikogenik - Diskinesia silia primer
- Lesi saluran respiratorik
- Trakeobronkomalasia
- Tuberkulosis ( kompresi
oleh kelenjar getah
bening)
Pendekatan Diagnostik
Diagnosis banding untuk batuk kronik pada anak.

Bayi -Refluks gastroesofageal


-Infeksi
-Malformasi kongenital
-Penyakit jantung bawaan
-Perokok pasif
-Polusi lingkungan
-Asma

Masa kanak-kanak awal -Hiper-responsif saluran nafas paska infeksi virus


-Asma
-Perokok pasif
-Refluks gastroesofageal
-Benda asing
-Bronkiektasis

Akhir masa kanak- -asma


kanak -postnasl drip
-merokok
-tuberkulosis paru
-bronkiektasis
-batuk psikogenik
Gambaran Klinik BKB
Perbedaan asma dan bronkitis viral berulang
BRONKITIS VIRAL
ASMA
BERULANG
GEJALA
Batuk Episodik Persisten
Wheezing Ada Tidak ada
Pencegah Virus +/- dan lainnya Hanya virus
Atopik Ada Dapat ada atau tidak
Riwayat Atopi dalam keluarga Ada Tidak ada

TANDA-TANDA
Wheezing Ada Tidak ada
Dermatitis atopik Ada Tidak ada
Rhinitis alergi Ada Tidak ada

INVESTIGASI
Skin test alergi Positif Negatif
Obstruksi jalan nafas yang Ada Tidak ada
riversible Baik Marginal
Respon terhadap terapi asma
Batuk dan / wheezing
Alur Riwayat penyakit

Diagnostik
Pemeriksaan fisik
Uji tuberkulin

Asma
Anak Patut diduga asma : Tidak jelas asma :
-Episodik dan / atau kronik -Timbul masa neonatus
-Nocturnal / morning dip -Gagal tumbuh
-Musiman -Infeksi kronik
-Pajanan terhadap pencetus -Muntah / tersedak
-riwayat atopi pasien / keluarga -Kelainan paru local
-Kelainan kardiovaskuler

Periksa peak flow meter atau


spirometer untuk menilai
Pertimbangkan :
- Reversibilitas (≥ 15%)
- Foto Ro thoraks dan sinus
- Variabilitas (≥ 15%)
-Uji faal paru
-Uji respons terhadap bronkodilator dan
steroid sistemik 5 hari
Tidak Berhasil -Uji provokasi bronkus
Berikan bronkodilator -Uji keringat
-Uji imunologis
-Pemeriksaan motilitas silia
Berhasil -Pemeriksaan refluks GE

Tidak Mendukung
Diagnosis kerja : Asma mendukung diagnosis lain
diagnosis lain

Berikan obat anti asma : Diagnosis dan pengobatan penyakit lain


Tidak berhasil, nilai ulang diagnosis
dan ketaatan berobat
Pertimbangkan asma Bukan
diserta penyakit lain Asma
Gambaran Klinik BKB

Sinobronkitis
Gambaran klinis pada anak bervariasi:
– batuk-batuk batuk kronik dan/atau berulang, iritatif terutama
malam hari.
– pilek lama, sekret kental dan/atau purulen.
– post nasal drip
– hidung terasa tersumbat oleh karena edema mukosa hidung,
ditambah dengan adanya deviasi septum nasi, polip atau hipertrofi
adenoid.
– demam.
– bernafas melalui mulut dan nafas bau.
– nyeri sinus dan sakit kepala yang tidak jelas lokasinya, yang
biasanya ditemukan pada anak yang lebih besar.
– tidur ngorok.
– tanda radang kronik pada faring, tonsil dan adenoid.
Gambaran Klinik BKB
Sinobronkitis
Pemeriksaan penunjang :
• Non radiologik
– Pemeriksaan sitologi nasal  eosinofil, polimorfonuklear, limfosit
dan basofil.
– Endoskopi serat optik.
– Endoskopi rigid
• Radiologik
– Foto rontgen sinus
• Waters  evaluasi sinus maksilaris dan frontalis.
• Caldwell  evaluasi sinus etmoidalis.
• Proyeksi lateral  engevaluasi ukuran adenoid, massa di
nasofaring dan kelainan sfenoid.
– A-mode USG
– CT Scan
– MRI
Gambaran Klinik BKB
Tuberkulosis
Manifestasi sistemik atau non spesifik :
• berat badan turun tanpa sebab yang jelas atau tidak naik dalam 1
bulan dengan penanganan gizi.
• Anoreksia, failure to thrive.
• demam lama (≥ 2 minggu) dan/atau berulang tanpa sebab yang jelas
• pembesaran kelenjar limfe superfisialis
• batuk lama ≥ 3 minggu, dan sebab lain telah disingkirkan.
• diare persisten

Manifestasi yang spesifik :


• TB kelenjar
• TB otak dan saraf (meningitis TB, tuberkuloma)
• TB tulang dan sendi  spondilitis TB, koksitis, gonitis, daktilitis.
• TB kulit  skrofuloderma.
• TB Mata  konjungtivistis flektenularis, tuberkel koroid.
• Peritonitis TB, TB ginjal, dll.
Gambaran Klinik BKB

Pemeriksaan Penunjang
• Uji Tuberkulin
– Pembacaan dalam 48-72 jam setelah penyuntikan
– Interpretasi  indurasi yang timbul, bukan hiperemis.
• Diameter indurasi 0-4 mm (negatif), 5-9 mm (positif
meragukan), ≥ 10 mm (positif).
• Radiologis
– Pembesaran kelenjar hilus atau paratrakheal dengan / tanpa
infiltrat
– Konsolidasi segmental / lobar
– Milier, kalsifikasi, atelektasis, kavitas dan efusi pleura
• Pemeriksaan mikrobiologis  pada anak sulit dilakukan
Gambaran Klinik BKB
Sistem Skoring Diagnosis Tuberkulosis Anak
0 1 2 3
Parameter
Kontak TB Tidak jelas Laporan keluarga, BTA Kavitas (+), BTA BTA(+)
(-) atau tidak tahu tidak jelas
Uji Tuberkulin negatif Positif (≥ 10 mm atau
≥ 5 mm pada
keadaan
imunosupresi)
Berat badan / Status BB/TB < 90% , atau Klinis gizi buruk
Gizi BB/U < 80% Atau BB/TB < 70%
Atau BB/U < 60%
Demam tanpa sebab ≥ 2 minggu
yang jelas
Batuk ≥ 3 minggu

Pembesaran kelenjar ≥ 1 cm, jumlah > 1,


kolli, aksila, inguinal tidak nyeri

Pembengkakan tulang Ada pembengkakan


/ sendi panggul, lutut,
falang
Foto Thoraks Normal / Infiltrat Kalsifikasi + infiltrat
tidak jelas Pembesaran kelenjar Pembesaran
Konsolidasi kelenjar + infiltrat
segmental/lobar
Atelektasis
Gambaran Klinik BKB

Sistem Skoring Diagnosis Tuberkulosis Anak

• Diagnosis dengan sistem skoring ditegakkan oleh dokter

• Jika dijumpai skrofuloderma, langsung didiagnosis tuberkulosis

• Berat badan dinilai saat datang (moment opname)

• Demam dan batuk tidak ada respon terhadap terapi sesuai baku

• Foto rontgen thoraks bukan alat diagnostik utama pada TB anak

• Semua anak dengan reaksi cepat BCG harus dievaluasi dengan


sistem skoring TB anak

• Didiagnosis TB jika jumlah skor ≥ 6, (skor maksimal 14)


Gambaran Klinik BKB

Pertussis  batuk paroksismal yang berhubungan dengan post-


tussive flushing pada wajah dengan / tanpa muntah, disertai
dengan/tanpa whoop inspirasi.

Mycoplasma pneumoniae  Batuk non produktif yang


menetap, disertai demam, letargi, anoreksia, nyeri tenggorok dan
sekret nasal, meski anak umumnya tampak tidak sakit. Seringkali
terdengar ronki basah, khususnya dibagian basal yang berkaitan
dengan perubahan gambaran radiologis pada lobus paru bawah.

Bronkitis bakterial sekunder  bila batuk akibat bronkitis


viral tidak kunjung reda setelah 2-3 minggu, khususnya bila batuk
menjadi lebih produktif dengan cepat atau terdapat perubahan
gambaran radiologis, seperti daerah atelektasis. Penyebab biasanya
adalah Haemophillus influenzae atau Streptococcus pneumoniae dan
kadang-kadang Moraxella catarrhalis.
Gambaran Klinik BKB

Bronkiolitis infantil  Infeksi Respiratory Syncytial Virus (RSV)


pada tahun-tahun pertama kehidupan biasanya berbentuk bronkiolitis

Penyakit Paru Supurativa  Penyebab paling sering adalah


fibrosis kistik, berkaitan dengan berat badan sukar naik, steatorrhea,
tidak tahan terhadap hawa panas baik dengan maupun tanpa
hiponatremia. Diskinesia silia primer perlu difikirkan bila terdapat
gejala infeksi saluran pernafasan atas supurativa (otitis media, rhinitis,
sinusitis) pada usia yang sangat muda (periode neonatal)

Aspirasi Paru  penyebab BKB yang penting pada bayi dan anak-
anak dengan masalah neuro-developmental. Klinis mungkin terdapat
episode aspirasi berulang, aspirasi pneumonia atau aspirasi kronik
yang menyebabkan batuk dan/atau wheezing yang menetap
Gambaran Klinik BKB
Lesi Trakeo-bronkial  mungkin oleh benda asing, dimana ada
riwayat tersedak pada anamnesa. Dapat pula disebabkan oleh kelainan
kongenital (trakeomalasia, bronkomalasia) dimana didapatkan
gambaran batuk yang mirip dengan batuk pada croup

Batuk Habitual dan Psikogenik


 mengganggu aktivitas sehari-hari / aktivitas sosial.
 berkurang saat yang menggembirakan / kegiatan menyenangkan.
 dapat didahului oleh infeksi saluran pernafasan atas
 pasien mendapatkan keuntungan dari batuknya  perhatian, bolos sekolah.
 pasien acuh tak acuh terhadap batuknya
 bertambah parah didepan orangtua, guru atau petugas medis.
 pasien merasa ada yang menggelitik di tenggorokannya serta mengambil
sikap
dagu menempel ke dada (chin-on-chest).
 dapat dipicu oleh gangguan emosi.
 mempunyai saudara kandung berjenis kelamin yang sama.
 mempunyai riwayat keluarga yang sama dengan keadaan pasien.
 pengaruh atau kontrol orangtua yang sangat ketat.
 fobia sekolah
 reaksi cemas atau penolakan dan membutuhkan perhatian.

Anda mungkin juga menyukai