Anda di halaman 1dari 20

Perubahan Iklim

Berdasarkan Fosil
Kelompok 1 :
 Suci Julian Hastiana
 Embun Hanapi
 Muhammad Nasir
 Sugih Wiarto
 Nugie Prayu Setiawan
 Muhammad Arfadillah
 Zaenal Abidin
Dinamika Iklim Masa Lampau
Berdasrkan Indikator Froxy Fosil
Jurnal oleh :
Elsa Noviyanti(410015123),Cindy Gracia T. (410015),Ringgit Aji P.
(410015),Swain Gustin P. (410015),Andre Setyo W. (410015),Alfian Agung W.
(410015)
Jurusan Teknik Geologi, Sekolah Tinggi Teknologi Nasional Yogyakarta
 Perubahan Iklim adalah perubahan distribusi pola dan intensitas iklim
secara statistik dalam skala global sepanjang periode waktu. Sebagai
akibat dari perubahan keseimbangan komponen energi dalam sistem
bumi, dan hal ini disebabkan oleh dua faktor yaitu yang bersifat internal
dan eksternal. Proses internal yang menyebabkan perubahan iklim
antaralain emisi vulkanik ekplosif, perubahan atmosfer,sirkulasi laut dan
kimia, karbon dan elemen lain dalam siklus biologi. Sedangkan yang
termasuk faktor eksternal ialah faktor yang berasal dari proses luar bumi,
seperti variabilitas matahari dan perubahan orbit bumi.
 ilmuwan menggunakan cetakan yang dibuat selama iklim masa lalu
sebagai cara mempelajari berbagai sinyal yang terdokumentasikan di
alam, yang kemudian dikenal sebagai Proxy (Handiani, 2012).
 Proxy digunakan untuk menafsirkan kondisi paleoklimatik dan merupakan
data yang digunakan untuk menggantikan data atau kondisi iklim. Proxy
yang digunakan dapat berupa bentuk objek yang dapat merekam kondisi
iklim pada masa lalu.
 Proxy (rekaman cetakan) iklim merupakan informasi iklim secara tidak
langsung berupa data selama periode masa lalu, untuk menentukan iklim
pada jangka waktu tersebut.
 Proxy tersebut memberi informasi berupa catatan fosil mikroba
foraminifera, batu karang, serta polen yang di temukan dalam batuan
sedimen.
Paleoklimatologi

 Ilmu yang mempelajari tentang iklim massa lampau, dapat pula di katakan
sebagai suatu cabang di siplin ilmu yang membahas perubahan iklim yang
tejadi dalam seluruh rentang sejarah bumi
 Dalam beberapa dekade paleoklimatologi melibatakan aplikasi hukum
uniformitrianisme untuk mempelajri perubahan iklim. Dalam bentuk
gagasan bahwa “the present is the key to the past”
 Penggunaan kombinasi berbagai proxy terutama indikator fosil mikroba
khususnya foraminifera dan diatom sebagai kunci untama dalam
merekronstruksi perubahan iklim massa lampau
 Rasio isotop oksigen stabil yang terkandung dalam shell dapat digunakan
untuk menyimpulkan suhu air di masa lalu. Isotop oksigen yang ditemukan
secara alami di kedua atmosfer dan larut dalam air
 Alasan utama isotop stabil sebagai proxy penentu iklim adalah bahwa
rasio isotop suatu unsur dalam material merupakan fungsi dari banyak
variabel, di antaranya, variabel terkait iklim seperti SST, salinitas, Volume es,
suhu atmosfer, dan kelembaban. Dengan mengidentifikasi faktor-faktor
dominan yang mengontrol fraksinasi isotop dalam bahan tertentu, peneliti
mendapatkan proxy yang dapat memberikan ukuran kuantitatif dari
sekuler dan geografis variabilitas dalam kunci parameternya .
Contoh Fosil
1. Kulit Telur Emu dan Mihurung (Genyornis)
Selama periode glasial akhir, sekitar 50,000-20,000 tahun yang lalu, emu genus Dromaius
dan merupakan kerabat dekat mihirung raksasa (Genyornis) yang telah punah merupakan
anggota terkemuka dari faunal terestrial Australia.
Fosil emu dan mihurung membantu memecahkan iklim model zona tropis pada zaman
es. Atas dasar biogeokimia analisis radiokarbon pada emu, Miller et al. (1997) menyatakan
bahwa tropis Australia terjadi pendinginan selama periode glasial akhir sebanyak 9oC atau
lebih. Kesimpulan berdasarkan kimia dari fosil kulit telur. Cangkang telur pada dasarnya
biomineralized pada rezim suhu masalalu dari Australia tropis. Seperti kerabat burung unta,
kerang emu melestarikan residu cangkang protein dengan sedikit atau tanpa perubahan
kimia, sebagian besar geokimia utuh. Asam amino, membangun blok protein pada
cangkang.
2. Foraminifera dan Diatom
Proxy iklim mikroba biasanya menggunakan foraminifera (foram) dan
diatom . Foram adalah mikroorganisme protista laut bersel tunggal yang
ditemukan di lingkungan perairan dan laut.
Organisme ini merekam bukti untuk kondisi lingkungan masa lalu pada
cangkang mereka. Sisa-sisa foram dan diatom kerang dapat ditemukan
dengan mengambil inti sedimen dari dasar lautan, karena cangkang mereka
terkubur dan diawetkan dalam sedimen ketika mereka mati.
Metode berupa analisis geokimia dari foraminifera dengan melakukan
perbandingan komposisi isotop Oksigen (18O/16O)
Diatom adalah tanaman mikroskopis, yang berada dalam kelompok yang
sama seperti ganggang,dan memikli cangkang yang terbuat dari silikon
dioksida. Diatom dapat berfotosintesis dan dapat ditemukan di setiap badan
air.
Diatom sangat berguna untuk studi iklim karena organisme ini peka
terhadap kondisi yang berbeda.
Dari kiri atas : atas rawa bentik foraminifera (trochamminainflata), ostracode
(Schizocythere kishinouyei),foraminifera planktonik (Globigerinoides ruber),diatom laut
(Thalassiosira antartica).
Sumber : D. Scott, A. Tsukagoshi, H. Dowsett, A. Laventer, dan R. Scherer.
3. Polen
Pollen atau yang dikenal serbuk sari adalah tempat gametofit jantan
pada generasi gametofit tumbuhan Gymnospermae dan Angiospermae.
Penyebaran serbuk sari dapat terjadi melalui berbagai perantara, yaitu:
angin, air, dan binatang (Dwimeini, 2010).
Serbuk sari dan spora adalah dasar dari sebuah aspek penting dari
rekonstruksi iklim bumi. Serbuk sari yang tersebar di danau, laut dan
mengendap dalam sedimen memberikan catatan perubahan vegetasi masa
lalu yang mungkin terjadi karena perubahan iklim. Tahap yang dilakukan
pada metode ini adalah mengklasifikasi morfologi, deskripsi morfologi serbuk
sari, serta menentukan taksonomi. Sehingga dapat diketahui habitat serta
iklim yang medukung per-tumbuhannya. Serta dapat diketahui jenis
tumbuhan yang tumbuh pada masa itu. Kemudian bagaimana tumbuhan
tersebut bertahan hidup (NOAA,2011).
Kesimpulan

Proxy digunakan untuk menafsirkan kondisi paleoklimatik dan merupakan


data yang digunakan untuk menggantikan data atau kondisi iklim. Proxy yang
digunakan dapat berupa bentuk objek yang dapat merekam kondisi iklim
pada masa lalu.
Analisis sampel isotop terhadap data proxy (rekaman) pada massa
spektrometer mencakup material yang mengandung unsur-unsur oksigen dan
karbon: fosil mikropaleontologi,coral reef, pollen (serbuk sari),lingkar tahun
pohon, speleothems,sedimen kaya akan organik dapat menyimpulkan kondisi
lingkungan masa lalu serta dapat mengetahui banyak variabel, di antaranya,
variabel terkait iklim seperti SST, salinitas, volume es, suhu atmosfer, dan
kelembaban. Sehingga, data proxy iklim terutama fosil baik dijadikan indikator
untuk merekonstruksikan iklim masa lampau.