Anda di halaman 1dari 28

MENGIDENTIFIKASI KEMATIAN SEPASANG

SUAMI-ISTRI BERDASARKAN ILMU


KEDOKTERAN FORENSIK
Kelompok A4
Fendi 102013345
Priest Daniel Limahelu 102014101
Ricko 102014174
Arditya Destian 102013136
Alberthina Sara Tirza 102013454
Irvania Limarus 102014082
Chindy Claritha Malinda Dau 102014126
Maria Rosario Angelina Mella 102014154
Intan Novia Sari 102014189
Cindy Nafriani 102014277
SKENARIO
• Suatu hari anda didatangi penyidik dan diminta untuk membantu
mereka dalm memeriksa suatu tempat kejadian perkara (TKP).
Menurut penyidik , tkp adalah sebuah rumah yang cukup besar milik
seorang pegusaha perkayuan yang terlihat sukses. Tadi pagi si
pengusaha dan isterinya ditemukan meninggal dunia didalam
kamarnya yang terkunci didalam. Anaknya yang pertama kali
mencurigai hal ini (pukul 08.00) karena si ayah yang biasanya bangun
untuk lari pagi, hari ini belum keluar dari kamarnya. Ia bersama
dengan pak ketua RT melaporkan kepada polisi
• Penyidik telah membuka kamar tersebut dan menemukan kedua
orang tersebut tiduran ditempat tidurnya dan dalam kedaan mati,
tidak ada tanda-tanda perkelahian diruang tersebut, segalanya masih
tertata rapi sebagaimana biasa, tutur anaknya. Dari pengamatan
sementara tidak ditemukan luka-luka pada kedua mayat dan tidak ada
barang yang hilang. Salah seorang penyidik ditelepon oleh petugas
asuransi bahwa ia telah dihubungi oleh anak si pengusaha berkaitan
dengan kemungkinan klaim asuransi jiwa pengusaha tersebut.
Istilah yang tidak diketahui Rumusan Masalah
■ Tidak ada ■ Pengusaha dan Istrinya
ditemukan meninggal di
dalam kamar
MIND MAP
Aspek
Medikolegal

Aspek hukum
Visum et
Revertum

Pemrk. TKP
toksikologi RM

Identifikasi
forensik
Teknik Autopsi
Tanatologi
Identifikasi forensik

• Pemeriksaan sidik jari


• Pemeriksaan dokumen
• Pemeriksaan pakaian dan perhiasan
• Identifikasi medik
• Pemeriksaan gigi
• Pemeriksaan serologik
• Metode eksklusi
• Identifikasi potongan tubuh manusia (kasus mutilasi)
• Identifikasi kerangka
Autopsi

■ Autopsi adalah pemeriksaan terhadap tubuh mayat (bagian


tubuh luar maupun bagian dalam)
■ Tujuannya untuk menemukan proses penyakit dan atau
adanya cedera, melakukan interpretasi atas penemuan
penemuan tersebut,
■ menerangkan penyebabnya serta mencari hubungan sebab
akibat antara kelainan-kelainan yang ditemukan dengan
penyebab kematian.
Pemeriksaan Medis
Korban 1
■ Pemeriksaan Luar ■ Identifikasi umum: Jenis Kelamin : Laki-
laki,Bangsa : -,Ras : -,Umur : -,Warna Kulit :
Label mayat: -
-,Keadaan gizi : -,Tinggi badan : -,Berat
Tutup mayat: - badan : -.
Bungkus mayat: - ■ Identifikasi khusus: Tattoo : -,Jaringan
parut : -,Anomali : -
Pakaian: -
■ Pemeriksaan rambut: -
Perhiasan: Tidak ditemukan
■ Pemeriksaan mata: -
Benda di samping mayat:
■ Pemeriksaan daun telinga dan hidung:

■ Tanda kematian:
■ Pemeriksaan terhadap mulut dan rongga
mulut: -
Lebam mayat
■ Pemeriksaan alat kelamin dan lubang
Kaku mayat pelepasan: -
Suhu tubuh ■ Pemeriksaan terhadap tanda-tanda
kekerasan : letak luka, jenis, arah, tepi,
Pembusukan
sudut, dasar, ukuran luka.
■ Pemeriksaan terhadap patah tulang: -
Pemeriksaan Dalam
korban 1
■ Lidah : - ■ Jantung : -
■ Tonsil : - ■ Aorta thorakalis : Tidak ada kelainan
■ Kerongkongan : - ■ Aorta abdominalis : Tidak ada kelainan
■ Batang tenggorok : - ■ Ginjal : Tidak ada kelainan
■ Rawan gondok : - ■ Hati, kandung empedu, dan pankreas :
Tidak ada kelainan
■ Arteria karotis interna : -
■ Limpa dan kelenjar getah bening : Tidak
■ Kelenjar timus : - ada kelainan
■ Paru-paru : - ■ Lambung dan Usus: Tidak ada kelainan
■ Otak besar, otak kecil, dan batang otak
:-
■ Alat kelamin dalam: Tidak ada kelainan
Pemeriksaan Medis
Korban 2
■ Identifikasi umum: Jenis Kelamin : Laki-
■ Pemeriksaan Luar laki,Bangsa : -,Ras : -,Umur : -,Warna Kulit : -
,Keadaan gizi : -,Tinggi badan : -,Berat badan :
Label mayat: - -.
Tutup mayat: - ■ Identifikasi khusus: Tattoo : -,Jaringan parut : -
Bungkus mayat: - ,Anomali : -

Pakaian: - ■ Pemeriksaan rambut: -

Perhiasan: Tidak ditemukan ■ Pemeriksaan mata: -


Benda di samping mayat: ■ Pemeriksaan daun telinga dan hidung:
■ Pemeriksaan terhadap mulut dan rongga
■ Tanda kematian: mulut: -

Lebam mayat ■ Pemeriksaan alat kelamin dan lubang


pelepasan: -
Kaku mayat
■ Pemeriksaan terhadap tanda-tanda
Suhu tubuh kekerasan : letak luka, jenis, arah, tepi, sudut,
Pembusukan dasar, ukuran luka.
■ Pemeriksaan terhadap patah tulang: -
Pemeriksaan Dalam
korban 2
■ Lidah : - ■ Jantung : -
■ Tonsil : - ■ Aorta thorakalis : Tidak ada kelainan
■ Kerongkongan : - ■ Aorta abdominalis : Tidak ada kelainan
■ Batang tenggorok : - ■ Ginjal : Tidak ada kelainan
■ Rawan gondok : - ■ Hati, kandung empedu, dan pankreas :
Tidak ada kelainan
■ Arteria karotis interna : -
■ Limpa dan kelenjar getah bening : Tidak ada
■ Kelenjar timus : - kelainan
■ Paru-paru : - ■ Lambung dan Usus: Tidak ada kelainan
■ Otak besar, otak kecil, dan batang otak : -
■ Alat kelamin dalam: Tidak ada kelainan
Tidak didapati hasil yang
Hasil Pada Skenario
berarti
Thanatologi

■ bagian dari ilmu kedokteran forensik yang memperlajari


kematian dan perubahan yang terjadi setelah kematian serta
faktor yang mempengaruhi perubahan tersebut
■ Mati somatik (mati klinis)
■ Mati suri (suspended animation, apparent death)
■ Mati seluler (mati molekuler)
Tanda pasti kematian
Lebam mayat (livor mortis)
•mulai tampak 20-30 menit pasca mati, makin lama
intensitasnya bertambah dan menjadi lengkap dan
menetap setelah 8-12 jam.
Kaku mayat (rigor mortis).
•mulai tampak kira-kira 2 jam setelah mati klinis,
dimulai dari bagian luar tubuh (otot-otot kecil) ke
arah dalam (sentripetal).
•Setelah mati klinis 12 jam kaku mayat menjadi
lengkap
Algor mortis / penurunan suhu
•Algor mortis mulai terjadi saat 4 jam post-mortem.
Suhu organ dalam mulai menurun sejak 5 jam post-
mortem dan seluruh tubuh menjadi dingin sejak 12
jam post-mortem. Algor mortis / penurunan suhu
mayat terjadi karena lepasnya kalor tubuh ke
lingkungan.
Pembusukan
• Sebelum terjadi pembusukan, lalat sudah berkerumun di sekitar
mayat mulai 18 jam post-mortem. Sedangkan pembusukan
sendiri terjadi mulai saat 24 jam post-mortem. Pada 26 jam
post-mortem, lalat mulai bertelur di tubuh mayat. Larva muncul
36 – 48 jam post-mortem. Umur larva dapat digunakan untuk
memperkirakan usia mayat.

Adipocere / lilin mayat


• Adipocere diakibatkan oleh hidrolisis dan hidrogenasi jaringan
lemak akibat lesitinase (enzim yang dihasilkan oleh Clostridium
welchii)
Mumifikasi
• Mumifikasi terjadi melalui pengurangan tubuh mayat sehingga
mengakibatkan penurunan proses pembusukan dan pengerukan
organ

Saponifikasi

• Saponifikasi merupakan kejadian yang ditandai dengan


munculnya cairan berwarna putih, lunak dan berbau busuk
Tanda tidak pasti kematian
• pernafasan berhenti, dinilai selama > 10 menit
• terhentinya sirkulasi, dinilai selama15 menit, nadi karotis
tidak teraba
• kulit pucat
• tonus otot menghilang dan relaksasi
• pembuluh darah retina mengalami segmentasi beberapa
menit setelah kematian
• pengeringan kornea menimbulkan kekeruhan dalam waktu
10 menit
Toksikologi

■ Berdasarkan sumber, asal racun dapat dibagi menjadi:


■ tumbuh-tumbuhan: opium (dari Papaver somniferum), kokain,
kurare, aflatoksin (dari Aspergilus niger)
■ Hewan: bisa/toksin ular/ laba-laba/ hewan laut
■ Mineral: arsen, timah hitam
■ sintetik : heroin.
Berdasarkan tempat dimana ia
berada, racun dapat dibagi
menjadi :
■ -Keracuanan CO
■ -racun di alam bebas (terdapat di rumah tangga) : deterjen,
desinfektan, insektisida, pembersih (cleaners).
■ -Racun yang digunakan dalam pertanian: insektisida,
herbisida, pestisida.
■ -Racun yang digunakan dalam industri dan laboratorium :
asam dan basa kuat, logam berat.
■ -Racun yang terdapat dalam makanan : sianida (CN) dalam
singkong, toksin bitulinus, bahan pengawet
■ -Racun dalam bentuk obat : hipnotik, sedatif.
Pemeriksaan Tempat Kejadian
Perkara (TKP)
■ Keadaan tempat atau ruang TKP itu tenang dan teratur rapi
 bunuh diri
■ Pemeriksaan ditujukan untuk menjelaskan apakah mungkin
meninggal akibat keracunan
■ Memeriksa apakah terdapat obat-obatan atau barang yang
dapat dicurigai sebagai korban keracunan.
Visum et Repertum

■ menguraikan segala sesuatu tentang hasil pemeriksaan medik yang


tertuang di dalam bagian pemberitaan, yang karenanya dapat
dianggap sebagai pengganti barang bukti.
■ Tujuan :
– Memberikan kenyataan (barang bukti) pada hakim.
– Menyimpulkan berdasarkan hubungan sebab akibat.
– Memungkinkan hakim memanggil dokter ahli lainnya untuk membuat
kesimpulan visum et repertum yang lebih baru.
Visum et Repertum Jenazah

Sesuai dengan yang diminta penyidik (kewajiban


dokter membantu peradilan pada pasal 133 KUHAP)
Harus sesuai dengan pemeriksaan yang diminta
(pemeriksaan luar saja, otopsi saja, dll)
Autopsi dilakukan setelah keluarga korban tidak
keberatan, atau bila dalam dua hari tidak ada
tanggapan apapun dari keluarga korban (ps 134
KUHAP)
Jenasah yang diperiksa dapat juga berupa jenasah
yang didapat dari penggalian kuburan (ps 135
KUHAP)
Prosedur medikolegal
 Kewajiban Dokter Membantu Peradilan diatur dalam:

 Pasal 133 KUHAP : mengatur kewajiban dokter untuk membuat


keterangan ahli

 Pasal 134 KUHAP : penyidik wajib memberitahu keluarga korban


perihal bedah mayat , tetapi jika ditunggu
sampai 2 hari tidak ada tanggapan maka
penyidik melakukan hal sesuai ketentuan

 Pasal 179 KUHAP :Setiap orang yang diminta pendapatnya


sebagai ahli kedokteran kehakiman atau
dokter atau ahli lainnya wajib memberikan
keterangan ahli demi keadilan
Bentuk Bantuan Dokter bagi
Peradilan dan Manfaatnya
 Pasal 184 KUHAP
1. Alat bukti yang sah adalah:
Keterangan saksi
Keterangan ahli
Surat
Petunjuk
Keterangan terdakwa

2. Hal yang secara umum sudah diketahui tidak perlu


dibuktikan

 Pasal 186 KUHAP : Keterangan ahli ialah apa yang seorang ahli
nyatakan di sidang pengadilan
Asas Praduga Tak Bersalah
■ Praduga Tak Bersalah atau "Presumption of Innocence"
adalah asas di mana seseorang dinyatakan tidak bersalah
hingga pengadilan menyatakan bersalah

■ diatur dalam Kitab Undang-Undang Hukum Acara


Pidana(“KUHAP”) dan Undang-Undang No. 48 Tahun 2009
tentang Kekuasaan Kehakiman (“UU Kekuasaan
Kehakiman”)
Asas Praduga Tak Bersalah

“Setiap orang yang disangka, ditangkap, ditahan,


dituntut dan atau dihadapkan di muka sidang
pengadilan, wajib dianggap tidak bersalah sampai
adanya putusan pengadilan yang menyatakan
kesalahannya dan memperoleh kekuatan hukum
tetap.”

Intinya asas praduga tak bersalah setiap orang yang


disangka, ditangkap, ditahan, dituntut dan atau
dihadapkan di muka sidang pengadilan, wajib
dianggap tidak bersalah sampai adanya putusan
pengadilan yang menyatakan kesalahannya dan
memperoleh kekuatan hukum tetap.
Pembunuhan dari Aspek
Hukum
Pasal 338 KUHP
Barangsiapa dengan sengaja merampas
nyawa orang lain, diancam karena
pembunuhan, dengan pidana penjara paling
lama lima belas tahun.

Pasal 339 KUHP


Pembunuhan yang diikuti, disertai atau didahului
oleh suatu perbuatan pidana, yang dilakukan dengan
maksud untuk mempersiapkan atau mempermudah
pelaksanaannya, atau untuk melepaskan diri sendiri
maupun peserta lainnya dari pidana dalam hal
tertangkap tangan, ataupun untuk memastikan
penguasaan barang yang diperolehnya secara
melawan hukum, diancam dengan pidana penjara
seumur hidup atau selama waktu tertentu, paling
lama dua puluh tahun
Pembunuhan dari Aspek
Hukum
Pasal 351 KUHP
Penganiyaan diancam dengan pidana penjara paling lama dua
tahun delapan bulan atau pidana denda paling banyak 4500
rupiah.
Jika perbuatan mengakibatkan luka-luka berat, yang bersalah
diancam dengan pidana penjara paling lama 5 tahun.
Jika mengakibatkan mati, diancam dengan pidana penjara paling
lama7 tahun.
Dengan penganiyaan disamakan sengaja merusak kesehatan.

Pasal 353 KUHP


Penganiayaan dengan rencana terlebih dahulu,
diancam dengan pidana penjara paling lama 4
tahun.
Jika perbuatan mengakibatkan luka-luka berat,
yang bersalah dikenakan pidana penjara paling
lama tujuh tahun.
Jika perbuatan mengakibatkan mati, dia
dikenakan pidana penjara paling lama 9 tahun.
Kesimpulan

■ Seorang dokter berkewajiban untuk membantu penyidikan


suatu tindak pidana,
■ Seorang dokter harus memiliki kemampuan untuk membuat
visum serta hal-hal yang terkandung di dalamnya meliputi
– thanatology forensic, toksikologi forensic, identifikasi
forensic, serta hal-hal lainnya yang berkaitan dengan ilmu
kedokteran forensic.
Kesimpulan
■ Sebab mati : Pada kasus ini, jenazah meninggal dengan
sebab kematian
■ Cara kematian : Kematian tidak wajar dapat terjadi sebagai
akibat kecelakaan, bunuh diri atau pembunuhan. Pada kasus
ini, jenazah meninggal dengan cara tidak wajar.
■ Mekanisme kematian : gangguan fisiologik dan atau
biokimiawi yang ditimbulkan oleh penyebab kematian. Pada
kasus ini, kemungkinan mekanisme kematiannya karena
proses keracunan