Anda di halaman 1dari 38

KELOMPOK 3

Nama anggota:
Riris Hanifasari (1562030014)
Merry Wati. A (1562030018)
Nova Fronika (1562030026)
Novia Natalia. M (1562030029)
Maina Kobak (1562030031)
Riska Insela. P (1562030043)

FLAT FOOT
STATUS KLINIK FISIOTERAPI PADA KONDISI MUSKULOSKELETAL
AKFIS UKI
Definisi
Nama lain Flat foot:
 Pes Planus
 Fallen Arches
 Talipes Equino Valgus

 Flat foot adalah kondisi dimana lengkung kaki


hilang dan disertai dengan nyeri (Giovanni dan
Greishberg, 2007).
 Flat foot adalah suatu kondisi medis dimana
lengkungan kaki rata atau datar sehingga
seluruh bagian telapak kaki menempel atau
hampir menempel pada tanah (Santoso, 2011).
Klasifikasi
Flat
Foot

kongenital Dapatan

Fleksibel Flat Foot Rigid Flat Foot

- Bersifat fisiologis - Bersifat patologis


- Tidak menimbulkan gejala, tidak - Menimbulkan nyeri, keterbatasan,
membutuhkan penanganan dan dan membutuhkan penanganan
muncul pada awal dekade
kehidupan
Grading
Menurut Lendra (2009) Flat Foot terbagi menjadi 3 grade yaitu :
 Grade 1: kaki masih punya arkus meski sangat sedikit
 Grade 2: kaki sudah tak punya arkus sama sekali
 Grade 3: pada derajat ini, kaki bukan hanya tidak memiliki arkus,
namun juga terbentuk sudut di pertengahan kaki yang arahnya
ke luar
Etiologi

Etiologi Flat Foot (Wilson, 2008), diantaranya sebagai berikut:


 Kongenital
 Adanya ruptur pada tendon tibialis posterior. Umumnya dialami
oleh wanita pada rentan usia 45-65 tahun. Hal ini disebabkan
karena overuse atau aktivitas berlebih
 Post-trauma, seperti fraktur pada ankle dengan mal-union
 Kelemahan atau kelebihan aktivitas pada otot kaki
 Penyakit inflamasi, seperti arthritis
 Obesitas
Tanda dan gejala

 Nyeri pada bagian medial kaki


 Mudah merasa lelah ketika berjalan
 Sulit untuk melakukan gerakan menjinjit
 Pada keadaan kronik, dapat menyebabkan nyeri pada
sendi lutut dan punggung bawah
Case report
Tanggal pembuatan laporan : 21 Agustus 2017

A. DATA DATA MEDIS RUMAH SAKIT


I. Diagnosa medis: Flat Foot dextra
II. Catatan klinis: (-)
B. SEGI FISIOTERAPI
I. ASESMEN FISIOTERAPI
a. Anamnesis (Auto/Hetero)
1. Identitas
Nama : Tn. Y
Umur : 28 Tahun
Jenis Kelamin : Laki-laki
Agama : Kristen
Status Perkawinan : Kawin
Pekerjaan : Guru SD
Hobi : bermain sepak bola
Alamat : Jl. Bahari Raya No. 17 Jakarta Utara
2. Riwayat Penyakit
2.1 Keluhan Utama
Pasien mengeluh nyeri pada bagian medial kaki dan mudah
lelah saat berjalan jauh
2.2 Riwayat Penyakit Sekarang
Pasien mengeluh nyeri pada bagian medial kaki kanan saat
berjalan lama. Pasien merasa mudah lelah ketika berjalan
dengan jarak jauh. Rasa nyeri mulai terasa mengganggu sejak 2
bulan belakangan sehingga pasien memeriksakan diri ke rumah
sakit pada tanggal 15 Agustus 2017. Lalu pada tanggal 21
Agustus 2017 pasien dirujuk ke poliklinik fisioterapi.
2.3 Riwayat Penyakit Dahulu: Pasien pernah mengalami fraktur
pada ankle tungkai kanan 2 tahun yang lalu saat bermain
sepak bola

2.4 Riwayat Pribadi: tidak ada

2.5 Riwayat Keluarga: tidak ada


b. Pemeriksaan Fisik
1. Tanda Vital dan Keadaan Umum
1.1 Tekanan darah : 120/80 mmHg
1.2 Denyut nadi : 78x/menit
1.3 Pernapasan : 21x/menit
1.4 Temperatur : 37⁰ C
1.5 Tinggi badan : 167 cm
1.6 Berat badan : 65 kg
1.6 Tingkat kesadaran : compos mentis
2. Inspeksi
2.1 Inspeksi statis :
- pasien tidak memakai alat bantu
- ketika berdiri Os. Naviculare kaki kanan lebih menonjol ke medial dan posisi kaki
hyperpronation
2.2 Inspeksi dinamis :
- Tidak adanya fase toe-off pada kaki kanan saat berjalan
- wajah pasien meringis menahan nyeri ketika berjalan

3. Palpasi :
- Suhu lokal kedua kaki bagian medial sama
- Adanya spasme pada otot Flexor digitorum longus
- Adanya nyeri tekan pada otot Flexor digitorum longus
- Arcus longitudinal plantaris kaki kanan rata
4. Perkusi : tidak dilakukan
5. Auskultasi : tidak dilakukan
6. Pemeriksaan fungsi gerak dasar (PFGD)
6.1 Gerak Aktif

Nilai MMT ROM Aktif Nyeri (VAS/cm)


Otot Dextra Sinistra Dextra Sinistra ROM Normal Gerakan Dextra Sinistra
M. Tibialis 4 4 S 20°-0°-30° S 20°-0°-50° S 20°-0°-50° Dorsifleks 2 0
anterior i ankle
M. 3 pain 4 Plantarfl 5 0
Gastrocne eksi
mius ankle
M. 3 pain 4 R 35°-0°-40° R 30°-0°-60° R 30°-0°-60° Eversi 5 0
Peroneus foot
longus dan
brevis
M. Tibialis 4 4 Inversi 2 0
posterior foot
Lanjutan Gerak Aktif…
Nilai MMT ROM Aktif Nyeri (VAS/cm)
Otot Dextra Sinistra Dextra Sinistra ROM Normal Gerakan Dextra Sinistra
Flexor 3 pain 4 MTP 40°-0°- MTP 70°-0°- MTP 70°-0°-45° Flexio 5 0
hallucis 35° 40° jari 1
Extensor 4 4 Ekstensi 2 0
hallucis jari 1

Flexor 3 pain 4 MTP 20°-0°- MTP 40°-0°40° MTP 40°-0°-40° Flexio jari 5 0
digitorum 30° 2-5
longus

Extensor 4 4 Ekstensi 2 0
digitorum jari 2-5
longus
6.2 Gerak Pasif
ROM Pasif End feel Nyeri (VAS/cm)
Dextra Sinistra ROM Normal Gerakan Dextra Sinistra Geraka Dextra Sinistra
n
S 20°-0°-50° S 20°-0°-50° S 20°-0°-50° Dorsifleksi Elastic Elastic Dorsiflek 3 0
ankle si ankle

Plantarfle Elastic Elastic Plantarfl 6 0


ksi ankle eksi
ankle
R 40°-0°-30° R 30°-0°-60° R 30°-0°-60° Eversi Firm Elastic Eversi 6 0
foot foot

Inversi Elastic Elastic Inversi 3 0


foot foot
Lanjutan Gerak Pasif…
ROM Pasif End feel Nyeri (VAS/cm)
Dextra Sinistra ROM Normal Gerakan Dextra Sinistra Geraka Dextra Sinistra
n

MTP 35°-0°- MTP 70°-0°- MTP 70°-0°- Fleksi jari Soft Soft Flexio 6 0
35° 45° 45° 1 jari 1

Ekstensi Hard Hard Ekstensi 3 0


jari 1 jari 1

MTP 15°-0°- MTP 40°-0°- MTP 40°-0°- Fleksi jari Firm Elastic Flexio 6 0
25° 40° 40° 2-5 jari 2-5

Ekstensi Hard Hard Ekstensi 3 0


jari 2-5 jari 2-5
6.3 Gerak Isometrik Melawan Tahanan
Pasien mampu melawan tahanan dari terapis pada gerakan eversi foot
dengan nyeri (VAS 5)
7. Pemeriksaan Khusus
 Wet Footprint test, hasil: (+)

8. Pemeriksaan tambahan/pendukung
Tidak dilakukan
c. Pemeriksaan Kemampuan Kognitif, Intrapersonal dan
Interpersonal
1. Pemeriksaan Kemampuan Kognitif
Pasien memiliki orientasi waktu, tempat dan ruang yang
baik serta mampu menceritakan kronologi kejadian
dengan baik.
2. Pemeriksaan Kemampuan Intrapersonal
Pasien mempunyai motivasi yang tinggi untuk sembuh.
3. Pemeriksaan Kemampuan Interpersonal
Pasien dapat berkomunikasi dan kooperatif dengan
terapis.
d. Pemeriksaan Kemampuan Fungsional dan Lingkungan Aktivitas
1. Kemampuan Fungsional Dasar
Pasien mampu melakukan aktivitas sehari-hari tanpa mengalami
hambatan (barthel index 20).
2. Aktivitas Fungsional
Pasien mengalami hambatan saat berjalan jauh (LEFS 78.75%,
keterbatasan ringan).
3. Lingkungan Aktivitas
Lingkungan aktivitas pasien kurang mendukung karena pekerjaan
pasien sebagai guru SD harus berdiri lama saat mengajar.
2
3

2
3

1
2

2
2

2
1
20
63
LEFS = x 100%
80

= 78,75%
(keterbatasan ringan)

63/80
e. Problematik Fisioterapi

1. Adanya spasme pada otot flexor jari-jari kaki kanan


2. Adanya nyeri pada bagian medial kaki kanan
3. Adanya penurunan ROM otot flexor jari-jari kaki kanan
4. Adanya penurunan kemampuan fungsional berjalan jauh
II. DIAGNOSA FISIOTERAPI

Adanya gangguan kemampuan fungsional berjalan jauh akibat spasme


otot ec. Flat foot dextra
III. RENCANA INTERVENSI FISIOTERAPI

a. Tujuan Jangka Pendek


1. Mengurangi spasme otot flexor jari-jari kaki kanan
2. Mengurangi nyeri pada bagian medial kaki kanan
3. Meningkatkan ROM otot flexor jari-jari kaki kanan

b. Tujuan Jangka Panjang


Meningkatkan kemampuan fungsional berjalan jauh
c. Rencana Intervensi Fisioterapi
1. Modalitas Alternatif
 MWD
 SWD
 US under water
 Towel curl exercise
 Toe grasp exercise
 Heel raises exercise
Lanjutan Rencana Intervensi
Fisioterapi...
2. Modalitas terpilih
a. US 3 MHz (under water)
Tujuan : mengurangi spasme otot
Dosis :
F : 3x/minggu
I : 3 w/cm²
T : 12 menit
T : intermitten
b. Towel curl exercise, heel raises exercise dan toe grasp exercise
Tujuan : meningkatkan kekuatan otot-otot betis dan jari-jari kaki
Dosis :
F : 3x/minggu
I : 6 detik kontraksi, rest 2 detik
T : 3 menit
T : dinamik
R :10x pengulangan
S : 2 sesi, jarak antar sesi 30 detik
d. Rencana Evaluasi Fisioterapi
1. Evaluasi Sesaat (setiap sebelum dan setelah terapi)
 Vital sign
 Nyeri dengan VAS
 ROM dengan goniometer
2. Evaluasi Periodik (setelah 4x terapi)
 Nyeri dengan VAS
 ROM dengan goniometer
3. Evaluasi Kumulatif (setelah 8x terapi)
Kemampuan fungsional berjalan jauh dengan LEFS
e. Prognosis
Quo ad functionam : baik
IV. PELAKSANAAN INTERVENSI FISIOTERAPI
Implementasi
1. US 3 MHz (under water)
a. Persiapan alat dan bahan
 Menggunakan US 3 MHz dengan luas penampang transduser 3 cm
 luas area yang akan di terapi 12 cm
 Menggunakan metode sub-aqual
 Siapkan bak berisi air yang sudah matang
 Siapkan handuk
 Periksa kabel apakah dalam keadaan terbuka/tidak
 Hidupkan alat (hubungkan cord dengan power supply) dan lakukan cek alat
 Terapis menyetel parameter pada mesin US sesuai dosis yang telah ditetapkan
 Sebelum terapi, mesin US dipanaskan selama 5 menit
b. Persiapan pasien:
 Bebaskan area yang akan di terapi dari pakaian namun
tetap dalam batas kesopanan
 Pasien duduk di kursi
 Terapis menjelaskan tujuan terapi
c. Pelaksanaan :
 Masukkan kaki kanan pasien sampai sebatas ankle ke dalam bak
berisi air
 Jarak transduser dan area yang di terapi 3 cm
 Gerakkan transduser dengan arah gerak sirkuler pada kaki
dengan irama yang teratur
 Selesai terapi mesin dimatikan dan semua tombol dalam posisi nol
 Kemudian kaki kanan pasien dibersihkan sampai kering dengan
handuk. Khusus untuk transduser, harus dibersihkan lagi
menggunakan alkohol 70%
 Terapis memeriksa reaksi pasien, apakah ada efek samping yang
mungkin timbul
b. Towel curl exercise, heel raises exercise dan toe grasp exercise
a. Persiapan alat dan bahan:
 Menyiapkan bed dan kursi yang ada pegangannya
 Menyiapkan handuk
 Menyiapkan wadah dan kelereng

b. Persiapan pasien:
 Area yang akan di terapi bebas dari hambatan
Pelaksanaan:
1. Towel curl exercise
 Posisi pasien berdiri, terapis disamping pasien
 Pasien diminta meletakkan kaki kanan diatas handuk
 Meremas handuk dengan jari-jari kaki

2. Heel raises exercise


 Posisi pasien berdiri, terapis disamping pasien
 Pasien diminta untuk berjinjit dengan kedua tangan memegang pada sandaran kursi
 Lalu kembali ke posisi semula

3. Toe grasp exercise


 Posisi pasien berdiri, terapis disamping pasien
 Pasien diminta memindahkan kelereng dari satu wadah ke wadah lainnya dengan
cara menjepitkan di jari kaki kanan
Orthose
Medial Arch Support
 Merupakan alat bantu bagi seseorang dengan
kondisi flat foot
 Berfungsi untuk membuat arkus longitudinal
(lengkung pada kaki) lebih tinggi
 Caranya dengan memasukkan Medial arch
support ke dalam sepatu yang akan digunakan
 Sebelum menggunakan Medial arch support,
lakukan exercise terlebih dahulu

 Orthotics are inserts which are placed in your


shoe. It’s function is to provide an external
support to lift up your arch.
 If you are considering getting an orthotic for your
flat fleet, please consider doing the following
exercises FIRST.
V. EVALUASI/RE-EVALUASI FISIOTERAPI
Setelah dilakukan terapi selama 8x dengan menggunakan US, Towel Curl exercise,
heel raises exercise dan toe grasp exercise, maka didapatkan hasil sebagai berikut:

HASIL EVALUASI

Problem Standar Pre-Terapi Post-Terapi Keterangan


pengukuran

Nyeri VAS 5

AROM Goniometer MTP 20°-0°-30°

Aktivitas LEFS 78.75 %


fungsional
Terima kasih...

Anda mungkin juga menyukai