Anda di halaman 1dari 59

Kaitan antara tektonik lempeng

dengan mineralisasi
Pengertian Lempeng Tektonik
Lempeng tektonik adalah bagian dari kerak bumi dan lapisan paling atas, yang
disebut juga lithosphere.

Lempeng tektonik memiliki tebal sekitar 100 km (60 mill) yang terdiri dari dua
jenis bahan pokok yaitu

1. kerak samudra (disebut juga sima yang terdiri dari silikon dan magnesium)
Komposisi dari kerak samudra adalah batuan basalt (mafic)
2. kerak benua (disebut juga sial yang terdiri dari silicon dan megnesium).
komposisi dari kerak benua terdiri dari batuan granitic yang prinsip
kepadatannya rendah.
Dibawah lithosphere adalah asthenosphere dimana terdapat dapur magma yang
sangat panas dan dinamis berputar dengan siklusnya sendiri.

Pergerakan Ini mendorong lithosphere dimana terdapat plate diatasnya untuk


bergerak.
Pergerakan diawali dari tempat naiknya magma yang mendorong lapisan diatasnya
untuk bergerak. Daerah itu disebut Divergent margin atau biasa dikenal dengan
spreading center, bisa juga disebut daerah bukaan.
Karena lempeng-lempeng bergerak, maka ada yang saling bertumbukan atau
bertabrakan yang disebut Convergent Margin.
Convergent margin sendiri ada dua jenis, yaitu subduction (dimana terjadi
penunjaman) dan collision (terjadi pengangkatan seperti Himalaya).
Dan ada yang saling bergeser.
Sketsa yang menunjukkan sel konveksi

konseptual asumsi sel konveksi di dalam mantel.


Pergerakan Lempeng (Plate Movement)
Lapisan litosfer dibagi menjadi lempeng-lempeng tektonik (tectonic plates).
Di bumi, terdapat tujuh lempeng utama dan banyak lempeng-lempeng yang lebih
kecil.
Lempeng-lempeng tektonik utama yaitu:
1) Lempeng Afrika, meliputi Afrika - Lempeng benua
2) Lempeng Antarktika, meliputi Antarktika - Lempeng benua
3) Lempeng Australia, meliputi Australia (tergabung dengan Lempeng India
antara 50 sampai 55 juta tahun yang lalu)- Lempeng benua
4) Lempeng Eurasia, meliputi Asia dan Eropa - Lempeng benua
5) Lempeng Amerika Utara, meliputi Amerika Utara dan Siberia timur laut -
Lempeng benua
6) Lempeng Amerika Selatan, meliputi Amerika Selatan - Lempeng benua
7) Lempeng Pasifik, meliputi Samudera Pasifik - Lempeng samudera
Lempeng-lempeng penting lain yang lebih kecil mencakup:
• Lempeng India,
• Lempeng Arabia,
• Lempeng Karibia,
• Lempeng Juan de Fuca,
• Lempeng Cocos,
• Lempeng Nazca,
• Lempeng Filipina, dan
• Lempeng Scotia
Lempeng-lempeng penyusun permukaan bumi
Lempeng-lempeng litosfer ini menumpang di atas astenosfer. Mereka bergerak
relatif satu dengan yang lainnya di batas-batas lempeng,
Batas lempeng
Batas Pergerakan Lempeng

Dengan pergerakan lempeng tektonik yang terjadi mampu membentuk muka


bumi serta menimbulkan gejala – gejala atau kejadian – kejadian alam seperti
 gempa tektonik,
 letusan gunung api, dan
 tsunami.

Pergerakan lempeng tektonik di bumi digolongkan dalam tiga macam batas


pergerakan lempeng, yaitu
1. konvergen,
2. divergen, dan
3. transform (pergeseran).
Jenis ketiga batas lempeng
1. Convergen ( Pergerakan saling mendekat )
Pergerakan saling mendekat antar kerak samudera, menyebabkan kerak samudera
menujam kedalam mantel sehingga terbentuk palung / zona subduksi, dan terbentuk
pegunungan vulkanik dasar laut dengan magma yang cair karena mengandung sedikit
kuarsa (SiO2), pembentuk batuan granitis

Batas Lempeng Convergen: Subduksi


Konvergen lempeng benua—samudra (Oceanic—Continental)
Ketika suatu lempeng samudra menunjam ke bawah lempeng benua, lempeng
ini masuk ke lapisan astenosfer yang suhunya lebih tinggi, kemudian meleleh.
Kemudian pada lapisan litosfer tepat di atasnya, terbentuklah deretan gunung
berapi (volcanic mountain range). Sementara di dasar laut tepat di bagian
terjadi penunjaman, terbentuklah parit samudra (oceanic trench).
Konvergen lempeng samudra—samudra (Oceanic—Oceanic)
Salah satu lempeng samudra menunjam ke bawah lempeng samudra lainnya,
menyebabkan terbentuknya parit di dasar laut, dan deretan gunung berapi yang
pararel terhadap parit tersebut, juga di dasar laut.
Puncak sebagian gunung berapi ini ada yang timbul sampai ke permukaan,
membentuk gugusan pulau vulkanik (volcanic island chain).
Konvergen lempeng benua—benua (Continental—Continental)
Salah satu lempeng benua menunjam ke bawah lempeng benua lainnya, Karena
keduanya adalah lempeng benua, materialnya tidak terlalu padat dan tidak cukup
berat untuk tenggelam masuk ke astenosfer dan meleleh. Wilayah di bagian yang
bertumbukan mengeras dan menebal, membentuk deretan pegunungan non vulkanik
(mountain range).
Convergent Margin.
Convergent margin sendiri ada dua jenis, yaitu subduction (dimana terjadi
penunjaman) dan collision (terjadi pengangkatan seperti Himalaya).

Jenis Batas Konvergen:


Obduction/Obduksi (atas) dan Subduction/Subduksi (bawah)
2. Pergerakan saling menjauh (Divergen)
Pergerakan saling menjauh dimana dalam pergerakan lempeng ini akan
mengakibatkan terbentuknya / memekarnya dasar samudra dan terbentuknya
punggungan tengah samudera ( mid-ocean ridge ), serta aktivitas vulkanisme laut
dalam yang menghasilkan lava basa berstruktur basalts.
3. Transform Fault.
Dimana dalam pergerakan ini akan dihasilkan aktivitas vulkanisme yang
lemah disertai gempa yang tidak kuat.
Dari akibat pergerakan tersebut jelas setiap jenis pergerakan akan menghasilkan
adanya aktivitas :
Vulkanisme, Gempa bumi, Mineralisasi, Pengangkatan pegunungan,
berarti kaitan antara tektonik dengan pembentukan batuan pembawa mineral
logam dasar dan sumberdaya panas bumi sangatlah erat.
Pembentukan Batuan pembewa mineral logam dasar.

Kerak samudra, tersusun oleh mineral yang kaya akan Si, Fe, Mg yang disebut sima.
Ketebalan kerak samudra berkisar antara 5-15 km (Condie, 1982)dengan berat jenis
rata-rata 3 g/cc.
Kerak samudra biasanya disebut lapisan basaltis karena batuan penyusunnya
terutama berkomposisi basalt.
Kerak benua, tersusun oleh mineral yang kaya akan Si dan Al, oleh karenanya di
sebut sial (asam).
Ketebalan kerak benua berkisar antara 30-80 km (Condie 1982) rata-rata 35 km
dengan berat jenis rata-rata sekitar 2,85 g/cc.
kerak benua biasanya disebut sebagai lapisan granitis karena batuan penyusunya
terutama terdiri dari batuan yang berkomposisi granit yang membawa mineral
logam dasar.
Salah satu faktor utama yang membedakan antara bermacam – macam batuan
beku dan juga antara berbagai macam magma asal ialah kandungan silika (SiO2).

Magma pembentuk batuan beku basaltik mengandung kira – kira 50% silika.
Batuan Beku Granitik mengandung sekitang 70% silika, sedang batuan beku
menengah mengandung sekitar 60% silika.

Maka dapat dikatakan bahwa Viskositas dangan berhubungan dengan kandungan


silikanya,
Hal ini dikarenakan molekul – molekul silika terangkai dalam bentuk rantai yang
panjang. Walaupun belum mengalami kristalisasi.

Akibatnya Lava basaltik mengandung silika yang rendah, maka lava basaltik
cenderung bersifat encer dan mudah mengalir.

Sedangkan lava granitik relatif sangat kental dan sulit mengalir walaupun pada
temperatur tinggi.
Kerak benua cenderung lebih ringan (kurang padat) daripada kerak samudra.
Kerak samudra lebih muda usia geologinya dibandingkan dengan kerak benua.
Logam dasar istilah yang biasa digunakan secara informal untuk mengacu pada
logam yang mengoksidasi relatif mudah dan bereaksi bervariasi dengan asam
klorida encer (HCl) untuk membentuk hidrogen.
Contohnya termasuk besi, nikel, timah dan seng. Tembaga juga dianggap sebagai
logam dasar karena mengoksidasi relatif mudah, meskipun tidak bereaksi dengan
HCl.
Logam dasar dalam kaitannya dengan batuan biasanya terbentuk dalam batuan
menengah dalam komposisi antara sialic dan mafik, Jenis batuan meliputi:
Andesit (aphanitic)
Diorit (phaneritic)

Accecories mineral:
plagioklas feldspar, amphibole, piroksen, biotit, kuarsa
Dalam kaitan dengan plate tektonik batuan menengah ini diketemukan pada jalur
volcanic arc pada batas pergerakan convergen.

Pergerakan saling mendekat antar kerak samudera, menyebabkan


kerak samudera menujam kedalam mantel sehingga terbentuk palung / zona subduksi,
dan terbentuk pegunungan vulkanik dasar laut dengan magma yang cair karena
mengandung sedikit kuarsa (SiO2), pembentuk batuan granitis yang membawa logam
dasar.
Perbedaan Basalt dan Granit

Salah satu faktor utama yang membedakan antara bermacam – macam batuan
beku dan juga antara berbagai macam magma asal ialah kandungan silika (SiO2).
Magma pembentuk batuan beku basaltik mengandung kira – kira 50% silika. Batuan
Beku Granitik mengandung sekitang 70% silika, sedang batuan beku menengah
mengandung sekitar 60% silika. Maka dapat dikatakan bahwa Viskositas dangan
berhubungan dengan kandungan silikanya,
Hal ini dikarenakan molekul – molekul silika terangkai dalam bentuk rantai yang
panjang. Walaupun belum mengalami kristalisasi.
Akibatnya Lava basaltik mengandung silika yang rendah, maka lava basaltik
cenderung bersifat encer dan mudah mengalir.
Sedangkan lava granitik relatif sangat kental dan sulit mengalir walaupun pada
temperatur tinggi.
Batas Lempeng dan batuan yang terbentuk
Tektonik Lempeng dan Batuan Beku
Kemunculan teori tektonik lempeng pada tahun 1960-an menyediakan kerangka
kerja teoritis untuk memahami sebaran berbagai macam tipe batuan beku di
seluruh dunia.

Berdasarkan teori tersebut, permukaan bumi tersusun oleh belasan lempeng


tektonik besar.

Beberapa lempeng ini berkomposisi utama basalt dan dikenal sebagai lempeng
samudera, karena sebagian besar landas samudera tertutupi oleh basalt.
Lempeng yang lainnya disebut lempeng benua, karena membentuk benua, dan
berkomposisi bermacam-macam batuan, termasuk batuan sedimen dan
metamorf serta sebagian besar granit.
Apabila dua lempeng bergerak saling menjauh (divergen), seperti pada pematang
tengah samudera, magma bergerak ke permukaan untuk mengisi kekosongan.
Magma ini berkomposisi mafik dan membentuk basalt.

Apabila batas divergen ini berada di permukaan bumi, seperti di Islandia, flood
basalt akan terbentuk.
Ketika lempeng samudera bertumbukan dengan lempeng benua, lempeng samudera
yang densitasnya lebih berat akan menunjam di bawah lempeng benua.

Sebagian dari material yang menunjam tersebut akan meleleh dan naik ke
permukaan.
Dalam perjalanannya naik menembus lempeng benua, magma ini akan melelehkan
dan bercampur dengan material dari lempeng benua.
Karena material benua rata-rata lebih felsik daripada material lempeng samudera,
percampuran ini menyebabkan komposisi magma lebih intermediet.
Magma yang sampai ke permukaan dapat membentuk gunungapi andesitik.
Pegunungan Andes di Amerika Selatan adalah jalur gunungapi andesitik yang
terbentuk dari penunjaman Lempeng Pasifik terhadap Lempeng Amerika
Selatan.

Apabila magma menjadi lebih felsik, dapat membentuk gunungapi riolitik seperti
Gunung Saint Helens. Magma yang sangat kental dan sulit naik ke permukaan
akan membentuk batolit granitik.
Pembentukan Batuan pembewa mineral.
Kerak samudra, tersusun oleh mineral yang kaya akan Si, Fe, Mg yang disebut sima.
Ketebalan kerak samudra berkisar antara 5-15 km (Condie, 1982) dengan berat jenis
rata-rata 3 g/cc.
Kerak samudra biasanya disebut lapisan basaltis karena batuan penyusunnya
terutama berkomposisi basalt.
Kerak benua, tersusun oleh mineral yang kaya akan Si dan Al, oleh karenanya di
sebut sial (asam).

Ketebalan kerak benua berkisar antara 30-80 km (Condie 1982) rata-rata 35 km


dengan berat jenis rata-rata sekitar 2,85 g/cc.
kerak benua biasanya disebut sebagai lapisan granitis karena batuan
penyusunya terutama terdiri dari batuan yang berkomposisi granit yang
membawa mineral logam dasar
Dalam kaitan dengan plate tektonik batuan menengah ini diketemukan pada jalur
volcanic arc pada batas pergerakan convergen.

Pergerakan saling mendekat antar kerak samudera, menyebabkan kerak samudera


menujam kedalam mantel sehingga terbentuk palung / zona subduksi, dan terbentuk
pegunungan vulkanik dasar laut dengan magma yang cair karena mengandung
sedikit kuarsa (SiO2), pembentuk batuan granitis yang membawa logam dasar.
Keberadaan Mineral Logam
Pembentukan mineral logam sangat berhubungan dengan aktivitas
magmatisme dan vulkanisme, pada saat proses magmatisme akhir (late
magmatism), pada suhu sekitar 200oC
Adimangga dan Trail (1980), memaparkan busur-busur magmatik seluruh Indonesia
sebagai dasar eksplorasi mineral.

Teridentifikasikan 15 busur magmatik, 7 diantaranya membawa jebakan emas dan


tembaga, dan 8 lainnya belum diketahui.

Busur yang menghasilkan jebakan mineral logam tersebut adalah busur magmatik
Aceh, Sumatera-Meratus, Sunda-Banda, Kalimantan Tengah, Sulawesi-Mindanau
Timur, Halmahera Tengah, Irian Jaya.
Busur yang belum diketahui potensi sumberdaya mineralnya adalah Paparan
Sunda, Borneo Barat-laut, Talaud, Sumba-Timor, Moon-Utawa dan dataran Utara
Irian Jaya.
Jebakan tersebut merupakan hasil mineralisasi utama yang umumnya berupa
porphyry copper-gold mineralization, skarn mineralization, high sulphidation
epithermal mineralization, gold-silver-barite-base metal mineralization, low
sulphidation epithermal mineralization dan sediment hosted mineralization.
Jebakan emas dapat terjadi di lingkungan batuan plutonik yang tererosi, ketika
kegiatan fase akhir magmatisme membawa larutan hidrotermal dan air tanah.
Proses ini dikenal sebagai proses epitermal, karena terjadi di daerah dangkal dan
suhu rendah.
Proses ini juga dapat terjadi di lingkungan batuan vulkanik (volcanic hosted rock)
maupun di batuan sedimen (sedimen hosted rock), yang lebih dikenal dengan
skarn.

Contoh cukup baik atas skarn terdapat di Erstberg (Sudradjat, 1999).


Skarn Erstberg berupa roofpendant batugamping yang diintrusi oleh granodiorit.
Sebaran skarn dikontrol oleh oleh struktur geologi setempat.
Sebagai sebuah roofpendant, zona skarn bergradasi dari metasomatik contact
sampai metamorphic zone (Juharlan, 1993).
Konsep cebakan emas epitermal merupakan hal baru yang memberikan perubahan
signifikan pada potensi emas Indonesia.

Cebakan yang terbentuk secara epitermal ini terdapat pada kedalaman kurang dari
200 m, dan berasosiasi dengan batuan gunungapi muda berumur kurang dari 70 juta
tahun.

Sebagian besar host rock merupakan batuan vulkanik, dan hanya beberapa yang
merupakan sediment hosted rock.

Cebakan emas epitermal umumnya terbentuk pada bekas-bekas kaldera dan daerah
retakan akibat sistem patahan.
Proses mineralisasi dalam di lingkungan batuan vulkanik ini dikenal sebagai sistem
porfiri (porphyry).
Contoh baik atas porfiri terdapat di kompleks Grasberg di Papua, dengan
mineralisasi utama bersifat disseminated sulfide dengan mineral bijih utama
kalkopirit yang banyak pada veinlet (MacDonald, 1994).
Contoh lain terdapat di Pongkor dan Cikotok di Jawa Barat, Batu Hijau di
Sumbawa, dan Ratotok di Minahasa.

Lingkungan lain adalah kondisi gunungapi di daerah laut dangkal. Air laut yang
masuk ke dalam tubuh bumi berperan membawa larutan mineral ke permukaan
dan mengendapkannya.
Contoh terbaik atas proses ini terjadi di Pulau Wetar, yang menghasilkan mineral
barit.
Proses pengkayaan batuan karena pelapukan dikenal dengan nama pengkayaan
supergen.
Batuan granitik yang lapuk akan menghasilkan mineral pembawa aluminium, antara lain
bauxit.
Proses ini sangat berhubungan dengan keberadaan jalur magmatik, berupa subduksi pada
lempeng benua bersifat asam, sehingga menghasilkan baruan bersifat asam.
Contoh pelapukan granit ini antara lain terjadi di Kalimantan Barat, Bangka, Belitung dan
Bintan.
Peridotit terbentuk di lingkungan lempeng samudera yang akan kaya mineral berat
besi, nikel, kromit, magnesium dan mangan.

Keberadaannya di permukaan disebabkan oleh lempeng benua Pasifik yang


terangkat ke daratan oleh proses obduksi dengan lempeng benua Eurasia, yang
kemudian “disebarkan” oleh sesar Sorong (Katili, 1980) sebagai pulau-pulau kecil di
berada di kepulauan Maluku.
Pelapukan akan menguraikan batuan ultrabasa tersebut menjadi mineral terlarut
dan tak terlarut.
Air tanah melarutkan karbonat, kobalt dan magnesium, serta membawa mineral
besi, nikel, kobalt, silikat dan magnesium silikat dalam bentuk koloid yang
mengendap.
Endapan kaya nikel dan magnesium oksida disebut krisopas, dan cebakan nikel ini
disebut saprolit.
Proses pelapukan peridotit akan menghasilkan saprolit, batuan yang kaya nikel.
Pelapukan ini terjadi di sebagian kepulauan Maluku, antara lain di pulau Gag,
Buton dan Gebe (Sudrajat, 1999).
Tektonik Indonesia Barat dan Timur
Pembahasan tatanan teknonik Indonesia menggunakan pendekatan tektonik lempeng
telah lama dilakukan.
Aplikasi teori ini untuk menerangkan gejala geologi regional di Indonesia dilakukan oleh
Hamilton (1970, 1973, 1978), Dickinson (1971), dan Katili (1975, 1978, 1980). Secara
setempat-setempat Audley-Charles (1974) menerapkan teori ini untuk menjelaskan
gejala geologi kawasan Pulau Timor, Rab Sukamto (1975) dan Simanjuntak (1986)
menerapkannya untuk memahami keruwetan Sulawesi. Sartono (1990) mengemukakan
bahwa tatanan tektonik Indoenesia selama Neogen yang dipengaruhi oleh tatanan
geosinklin pasca Larami.
Busur-busur geosiklin ini merupakan zona akibat proses tumbukan kerak benua dan
samudra.
Kerak benua yang bekerja pada waktu itu terdiri dari kerak benua Australia, kerak
benua Cina bagian selatan, benua mikro Sunda, kerak samudra Pasifik, dan kerak
samudra Sunda.
Tumbukan Larami tersebut membentuk busur-busur geosinklin Sunda, Banda,
Kalimantan utara dan Halmahera-Papua.
Peta anomali gaya berat dapat menunjukkan dengan baik pola hasil tektonik ini.
Tatanan tektonik Indonesia bagian barat menunjukkan pola yang relatif lebih
sederhana dibanding Indonesia timur.
Kesederhanaan tatanan tektonik tersebut dipengaruhi oleh keberadaan Paparan
Sunda yang relatif stabil.
Pergerakan dinamis menyolok hanya terjadi pada perputaran Kalimantan serta
peregangan selat Makassar.
Hal ini terlihat pada pola sebaran jalur subduksi Indonesia Barat (Katili dan Hartono,
1983, dan Katili, 1986; dalam Katili 1989).
Sementara keberadaan benua mikro yang dinamis karena dipisahkan oleh banyak
sistem sesar (Katili, 1973 dan Pigram dkk., 1984 dalam Sartono, 1990) sangat
mempengaruhi bentuk kerumitan tektonik Indonesia bagian timur.
Manfaat dari tatanan lempeng tektonik Indonesia
Penyebaran mineral ekonomis di Indonesia ini tidak merata. Seperti halnya
penyebaran batuan, penyebaran mineral ekonomis sangat dipengaruhi oleh tatanan
geologi Indonesia yang rumit.
Berkenaan dengan hal tersebut, maka usaha-usaha penelusuran keberadaan
mineral ekonomis telah dilakukan oleh banyak orang.
Mineral ekonomis adalah mineral bahan galian dan energi yang mempunyai nilai
ekonomis. Mineral logam yang termasuk golongan ini adalah tembaga, besi, emas,
perak, timah, nikel dan aluminium.
Mineral non logam yang termasuk golongan ini adalah fosfat, mika, belerang,
fluorit, mangan.
Mineral industri adalah mineral bahan baku dan bahan penolong dalam industri,
misalnya felspar, ziolit, diatomea. Mineral energi adalah minyak, gas dan batubara
atau bituminus lainnya.
Belakangan panas bumi dan uranium juga masuk dalam golongan ini walaupun cara
pembentukannya berbeda. (Sudradjat, 1999)