Anda di halaman 1dari 15

FILSAFAT ILMU

ONTOLOGI
• Kata ontologi berasal dari perkataan Yunani, yaitu
: Ontos : being, dan Logos
• Logic Jadi ontology adalah the theory of being
qua being ( teori tentang keberadaan sebagai
keberadaan ). Atau bisa juga ilmu tentang yang
ada.
• Secara istilah ontologi adalah ilmu yang
membahas tentang hakikat yang ada yang
merupakan realiti baik berbentuk jasmani atau
kongkrit maupun rohani atau abstrak.
• Suatu world view yang dipergunakan oleh
suatu komunitas ilmuwan tertentu untuk
mempelajari obyek keilmuwan mereka.
• ( Dr. Wahyudi Winarjo, M.Si. Ketua Prodi
Mag. Sosiologi PPs-UMM )
• Istilah yang digunakan untuk menjelaskan
sudut pandang seseorang dalam melihat
sesuatu
• Paradigma disebut juga perspektif atau cara
melihat fenomena tertentu.
• (Miller,2002: 1)
• Suatu cara pandang (worldview) yang dipakai
dalam mencari kebenaran tentang realitas
dalam kehidupan sosial, termasuk mencari
kebenaran tentang realitas dalam Ilmu
Komunikasi.
• Menurut Guba dan Lincoln, Paradigma Ilmu
Sosial terbagi dalam:
• Paradigma Klasik adalah: Paradigma yang
menganalogikan Ilmu Sosial sebagai Ilmu
Alam.
• Paradigma Konstruktif adalah: Paradigma yang
memandang Ilmu Sosial sebagai analisis sistematis
terhadap pelaku sosial, yang dilakukan melalui
pengamatan langsung dan rinci terhadap pelaku sosial.
• Paradigma kritis adalah: Paradigma yang memandang
Ilmu Sosial sebagai sebuah proses yang kritis yang
bertujuan menyatakan struktur nyata dalam kehidupan
sosial.
• Asumsi Ontologis adalah asumsi mempertanyakan the
nature of being, dengan kata lain berkaitan dengan
hakikat dari realitas ; hakikat dari sesuatu yang ingin
peneliti ketahui; hakikat mengenai suatu fenomena
(Miller,2002: 24).
• Asumsi Epistemologis adalah asumsi yang
menyangkut apa yang dapat dipertimbangkan
sebagai pengetahuan, apa yang dapat kita
ketahui dan apa hakikat hubungan antara
peneliti dengan objek yang diteliti (Miller,
2002:25).
• Asumsi Metodologis adalah asumsi yang
menyangkut bagaimana cara dalam
memperoleh kebenaran maupun pengetahuan
mengenai objek yang akan diteliti.
• Asumsi Aksiologis adalah asumsi yang
menyangkut pilihan nilai dan moral dari
sipeneliti dan implikasinya terhadap hasil
temuannya. Bisa juga sebagai asumsi yang
mempertegas hakikat dan posisi si peneliti.
• Secara ontologis berbicara mengenai hakikat
realitas atau kenyataan. Paradigma Klasik
percaya bahwa realitas yang ada di luar sudah
diatur oleh hukum dan kaidah-kaidah tertentu
secara universal.
• Secara epistemologis berbicara mengenai
hubungan peneliti dengan yang diteliti. Paradigma
Klasik meyakini bahwa peneliti bersifat objektif,
maka peneliti harus menjaga jarak dengan objek
yang diteliti.
• Secara Metodologis berbicara mengenai cara
yang akan digunakan dalam memperoleh
pengetahuan. Cara yang dipakai dalam pardigma
ini adalah cara hipotesis dan metode deduktif.
• Secara Aksiologis berbicara mengenai
pertimbangan nilai dari peneliti mengenai objek
yang diteliti. Dalam Paradigma Klasik nilai, etika
dan moral berada di luar proses penelitian.
Peneliti bertindak sebagai pengamat.
• Dalam Paradigma Konstruktif, kebenaran tentang
suatu realitas bersifat relatif. Artinya kebenaran
realitas sosial tergantung pada individu pelaku
sosial.
• Dalam Paradigma ini, kebenaran atau realitas
dunia sosial, merupakan hasil interaksi dari
sesama pelaku sosial.
• Dalam paradigma ini, cara yang dipakai untuk
mengetahui kebenaran realitas sosial adalah cara
dialektis dengan metode-metode seperti metode
kualitatif.
• Dalam paradigma ini nilai, etika dan pilihan
moral sipeneliti tidak boleh dipisahkan dari proses
penelitian.
• Peneliti bertindak sebagai fasilitator yang
menjembatani keragaman subjektivitas pelaku
sosial.
• Dalam paradigma ini, realitas sosial dipandang
sebagai sesuatu yang semu karena merupakan
hasil dari proses sejarah, sosial maupun
politik.
• Dalam paradigma ini, hubungan antara peneliti
dengan yang diteliti selalu dijembatani oleh
nilai-nilai tertentu. Nilai itu sendiri ditemukan
oleh si peneliti itu sendiri.
• Dalam paradigma ini, cara yang dipakai untuk
mengetahui kebenaran suatu realitas adalah
peneliti bertindak sebagai partisipan atau biasa
disebut sebagai aktivis perubahan sosial.
• Dalam paradigma ini nilai, etika dan pilihan
moral tidak dapat dipisahkan dari proses
penelitian.
• Peneliti bertindak sebagai aktivis, advokat
maupun sebagai transformative intellectual
• Karl Marx berpendapat bahwa materi adalah
esensi pokok hidup manusia.
Keberadaan menentukan kesadaran.
• Apabila dapat menguasai sektor material,
maka dapat dipastikan bahwa negara akan
dapat dikuasai juga.
• Akan selalu ada perubahan dan pertentangan
antar kelas sosial.
• Cultural Determinism
• Tatanan sosial merupakan faktor kekuatan di
dalam masyarakat.
• Perlunya solidaritas sosial.
• Analisisnya lebih terfokus pada status sosial
bukan kelas sosial. Menurut Weber keadaan
sosial, politik dan pendidikan bisa menjadi faktor
stratifikasi sosial.
• Kenyataan sosial bersifat pribadi.
• Perubahan masyarakat terjadi mulai dari gejala
yang sederhana hingga gejala yang lebih
kompleks.
• Dunia nyata bukan merupakan sesuatu yang
objektif, tetapi merupakan produk relasi kita.
• Untuk menjamin warganegara yang taat dapat
dilakukan melalui tekanan dan doktrinisasi dari
aparat negara.
• Hegemoni sosial maupun politik dapat
dilakukan melalui cultural leader ship.
• Melalui cultural leader ship, negara dapat
menguasai dan mengontrol sistem
institusional.
• Dunia nyata bukan merupakan sesuatu yang
objektif, tetapi merupakan produk relasi kita.
• Untuk menjamin warganegara yang taat dapat
dilakukan melalui tekanandan doktrinisasi dari
aparat negara.
• Hegemoni sosial maupun politik dapat
dilakukan melalui cultural leader ship.
• Melalui cultural leader ship, negara dapat
menguasai dan mengontrol sistem
institusional.