Anda di halaman 1dari 25

PRE CONSTRUCTION MEETING

DAN
SHOW CAUSE MEETING
Nama Anggota
1. Affan Nurun Tajalla
2. M. Misbahru Nizar
3. Nurin Shabrina Z.L.H
Rapat Pra Pelaksanaan (Pre Construction
Meeting)
 Pre Construction Meeting adalah pertemuan yang diselenggarakan
oleh unsur-unsur yang terkait dengan pelaksanaan kegiatan seperti
pihak Direksi Pekerjaan sebagai unsur pengendalian, Direksi Teknis
sebagai pengawas teknis, dan penyedia jasa sebagai pelaksana
pekerjaan, wakil masyarakat setempat dan instansi terkait guna
menyamakan presepsi tersebut seluruh dokumen kontrak dan
membuat kesepakatan tersebut hal-hal penting yang belum terdapat
dalam dokumen kontrak maupun kemungkinan-kemungkinan
kendala yang akan terjadi dalam pelaksanaan pekerjaan.
Pelaksanaan Pre Construction Meeting

 Pelaksanaan PCM harus diselengarakan paling lambat 7


(tujuh) hari sejak diterbitkannya SPMK / Surat Perintah
Mulai Kerja.
Tujuan:
Untuk menyamakan pengertian/bahasa yang sama mengenai Dokumen
Kontrak (Spesifikasi) yang dipakai dalam pelaksanaan pekerjaan.

Adapun yang dimaksud dengan dokumen kontrak meliputi /harus diinterpretasikan


dalam urutan kekuatan hukum sebagai berikut:

1. Surat perjanjian,
2. Surat penunjukkan penyedia jasa,
3. Surat penawaran,
4. Addendum dokumen lelang (bila ada),
5. Syarat-syarat khusus kontrak,
6. Syarat-syarat umum kontrak,
7. Spesifikasi teknis,
8. Gambar-gambar,
9. Daftar kuantitas dan harga,
10. Dokumen lain yang tercantum dalam lampiran kontrak.
Hal-hal yang perlu dibahas dan disepakati dalam
rapat persiapan pelaksanaan konstruksi antara lain:

1. Struktur Organisasi Proyek


2. Dokumen kontrak
3. Mutual Check
4. Time Schedule
5. Penentuan Sumber Material
6. Metode Pelaksanaan
7. Administrasi Proyek
8. Agenda Rapat Pra Pelaksanaan
1. Struktur Organisasi Proyek
Pihak-pihak kontraktor yang terlibat dalam rapat pra pelaksanaan diantaranya adalah:
1. Penanggungjawab Perusahaan
2. Kepala Unit Pelaksanaan

Adapun tugas-tugas dan tanggung jawab dari pihak kontraktor yang terkait antara lain:
a. Menjelaskan rencana kerja pada saat mobilisasi
b. Rencana Kerja dan Review Design
c. Menjelaskan metode atau cara pelaksanaan konstruksi
d. Menjelaskan Struktur Organisasi serta tugas dan tanggungjawabnya
e. Menjelaskan kualifikasi personil kontraktor yang akan dimobilisasi
f. Menjelaskan rencana mobilisasi personil
g. Menjelaskan bagian pekerjaan yang akan di sub-kontrakkan serta calon sub-kontraktornya
h. Menjelaskan rencana penggunaan peralatan
i. Menjelaskan rencana pengadaan bahan serta surat ijinnya
j. Menjelaskan rencana kerja kurva S
2. Dokumen Kontrak
Keppres N0. 80/2003 memuat ketentuan mengenai dokumen kontrak sebagai berikut :

Kontrak terdiri dari :


1. Surat Perjanjian
2. Syarat-syarat Umum Kontrak
3. Syarat-syarat Khusus Kontrak
4. Dokumen Lainya Yang Merupakan Bagian Dari Kontrak
3. Mutual Check
Prosedur pelaksaan mutual check dengan cara:
a. Membentuk tim panitia peneliti pelaksana kontrak
b. Melakukan pemeriksaan bersama di lapangan
c. Bila ada perbedaan di lapangan dengan kontrak maka dilakukan CCO (Contract
Change Order)
d. Perubahan lebih dari 10% , amandemen kontrak diberlakukan
4. Time Schedule
Jadwal Pelaksanaan Pekerjaan dapat dituangkan dalam berbagai cara,
tapi yang paling umum digunakan dalam pekerjaan pemerintah adalah
Kurva S.
Kurva S dipakai untuk melihat progress pekerjaan harian, mingguan,
dan bulan. Dengan melihat deviasinya, dapat diketahui suatu pekerjaan
terlambat atau mendahului dari target. Target yang dimaksud adalah
jadual sesuai dengan kurva Rencana Prestasi Pekerjaan.
5. Penentuan Sumber Material
Penentuan sumber material diperhitungkan berdasarkan:

a.Lokasi sumber material


b.Jarak ke proyek
c.Pengujian laboratorium
d.Estimasi kuantitas
e.Pertimbangan yang diperlukan (Merk, mutu, dan kesesuaian spek)
6. Metode Pelaksanaan
Tata cara dan prosedur teknis pelaksanaan pekerjaan Konstruksi
Bangunan, antara lain:

1. Pelaksanaan Perkerasan Jalan Konstruksi Bangunan pada segmen jalan berikut Pengaturan
lalu-lintasnya,
2. Pelaksanaan stabilisasi tanah Konstruksi Bangunan,
3. Pelaksanaan produksi agregat Konstruksi Bangunan untuk pondasi jalan dan perkerasan
aspalnya.
4. Menentukan lokasi sumber material (quarry) Konstruksi Bangunan , estimate kuantitas
bahan beserta rencana pemeriksaan mutu bahan yang digunakan.
5. Pendekatan terhadap masyarakat daerah dan sosialisasi Kegiatan.
6. Prosedur pengujian material/bahan dan hasil pekerjaan Konstruksi Bangunan.
7. Kendala-kendala yang mungkin terjadi selama periode kontrak.
8. Prosedur pengukuran dan pembayarannya.
9. Hubungan dengan institusi lain (Pemda, Laboratorium, dll).
7. Administrasi Proyek
a. Penentuan Termin
Termin adalah cara pembayaran dan tahapannya. Termin adalah cara pembayaran
pada dokumen perjanjian yang dikaitkan dengan prestasi kemajuan pekerjaan atau
sering disebut dengan bobot prestasi.
Penagihan mengacu pada dokumen kontrak apakah menggunakan Termin atau
Monthly Certificate (MC).

Pembuatan laporan prestasi pekerjaan sebagai berikut:


1. Penagihan 0% (biasa disebut MC-0 atau Termjn 0)
2. Penagihan 50% (biasa disebut MC-50 atau Termjn 50)
3. Penagihan 100% (biasa disebut MC-100 atau Termjin 100)
Dokumen-dokumen lampiran untuk Penagihan:
1. Foto Proyek
2. Gambar Kerja
3. As Bulit Drawing
4. Spesifikasi
5. Sertifikasi Acuan
6. Uji Laboratorium
7. Uji Lapangan
8. Dokumen Perubahan (CCO/Addendum)
9. Dokumen Mutu Kontrak
10.Dokumen-dokumen lain yang terkait
Contoh skema termin sebagai berikut :

Uraian Term 1 Term 2 Term 3 Term 4 Term 5


Progres Fisik 25% 25% 25% 25%
Pembayaran 20% 25% 25% 25% 5%

Pembagian termin fisik dan pembayaran harus ditetapkan dalam dokumen pemilihan
yang menjadi bagian tak terpisahkan dari dokumen kontrak. Bagian ini dijelaskan
pada SSKK.
Dari skema tersebut dapat dilihat bahwa pola termin pembayaran lebih lambat 5%
dibandingkan laju termin progres fisik pekerjaan. Hal ini ditujukan untuk menjamin
terpenuhinya kewajiban retensi atau jaminan pemeliharaan.
Kemudian dalam pola pembayaran termin harus memperhatikan
kewajiban-kewajiban akhir yang harus dipenuhi oleh penyedia
sebagaimana tertuang dalam kontrak. Seperti yang disyaratkan dalam
pasal 89 ayat 2 : Pembayaran prestasi kerja diberikan kepada
Penyedia Barang/Jasa setelah dikurangi angsuran pengembalian
Uang Muka dan denda apabila ada, serta pajak.
b. Persetujuan Bahan
c. Prosedur administrasi penyelenggaraan
pekerjaan:
1. Review dan penyempurnaan terhadap jadual kerja yang harus sesuai dengan target volume,
waktu dan mutu
2. Jadwal pengadaan bahan Konstruksi Bangunan, penggunaan peralatan dan personil
3. Gambar kerja dan kelengkapannya
4. Pengajuan (request) Konstruksi Bangunan dan persetujuan (approval) dalam rangka
pemeriksaan lapangan bersama (examination of works)
5. Menyusun rencana dan pelaksanaan Konstruksi Bangunan pemeriksaan lapangan bersama
(mutual check), sehubungan dengan perencanaan teknis (DED) yang ada.
6. Tata cara pengajuan Pembayaran Bulanan (Monthly Certificates/MC)
7. Perpanjangan periode pelaksanaan
8. Pembuatan Amandemen Kontrak
9. Serah Terima Sementara (Provisional Hand Over) dan Serah Terima Akhir (Final Hand
Over).
8. Agenda Rapat Pra Pelaksanaan

Apabila saat pelaksanaan PCM, keberadaan konsultan supervisi belum


tersedia di lapangan, maka Rapat Persiapan Pekerjaan tetap
dilaksanakan, Berita Acara Rapat Persiapan Pekerjaan harus
disampaikan oleh konsultan supervisi untuk dipedomani.
Dalam hal konsultan supervisi memiliki pandangan yang berbeda
dengan hasil Rapat Persiapan Pekerjaan yang telah ditetapkan, maka
persamaan presepsi dapat dilakukan pada rapat-rapat koordinasi yang
dilaksanakan pada tahap selanjutnya.
BAGAN ALIR PELAKSANAAN PRE
CONSTRUCTION MEETING
SHOW CAUSE MEETING
Show Cause Meeting (SCM) adalah pertemuan antara kontraktor selaku
penyedia jasa dengan Pemberi Tugas selaku pengguna jasa dan konsultan
(selaku penyedia jasa yang membantu Pemberi Tugas di dalam melakukan
pengawasan teknis atas pekerjaan kontraktor), dimana kontraktor teknis atas
pekerjaan kontraktor), dimana kontraktor diminta membuktikan prospek
kemampuannya untuk menyelesaikan pekerjaan konstruksi sesuai dengan
dokumen kontrak, dilihat dari segi manajemen, peralatan dan keuangan.

Show Cause Meeting ( SCM ) sering disebut dengan Rapat Pembuktian


Keterlambatan pada proyek konstruksi dan diadakan oleh Pejabat Dinas
terkait.Rapat diadakan dikarenakan adanya kondisi kontrak kerja yang dinilai
kritis dan berpotensi waktu pelaksanaan tidak sesuai dengan shedule yang
telah dibuat.
Tujuan:
Bertujuan untuk pengendalian pekerjaan konstruksi yang dinilai kritis/terlambat oleh
pihak kontraktor agar pelaksanaan pekerjaan menjadi lebih disiplin dan
penyelesaiannya bisa tepat waktu.

Pemutusan kontrak dengan alasan keterlambatan penyedia dalam melaksanakan


pekerjaan tentunya harus melalui prosedur-prosedur tertentu seperti diberikan
peringatan secara tertulis atau dikenakan ketentuan tentang kontrak kritis.

Kontrak dinyatakan kritis apabila:

1. Dalam periode I (rencana fisik pelaksanaan 0%-70% dari kontrak), realisasi fisik
pelaksanaan terlambat lebih besar 10% dari rencana;
2. Dalam periode II (rencana fisik pelaksanaan 70%-100% dari kontrak), realisasi
fisik pelaksanaan terlambat lebih besar 5% dari rencana;
3. Rencana fisik pelaksanaan 70%-100% dari kontrak, realisasi fisik pelaksanaan
terlambat kurang dari 5% dari rencana dan akan melampaui tahun anggaran
berjalan.
Prosedur Penanganan kontrak Kritis oleh Rapat
Pembuktian (SCM)
1. Pada saat kontrak dinyatakan kritis direksi pekerjaan menerbitkan surat peringatan
kepada penyedia dan selanjutnya menyelenggarakan SCM.
2. Dalam SCM direksi pekerjaan, direksi teknis dan penyedia membahas dan
menyepakati besaran kemajuan fisik yang harus dicapai oleh penyedia dalam periode
waktu tertentu (uji coba pertama) yang dituangkan dalam berita acara SCM Tahap I
3. Apabila penyedia gagal pada uji coba pertama, maka harus diselenggarakan SCM
Tahap II yang membahas dan menyepakati besaran kemajuan fisik yang harus dicapai
oleh penyedia dalam periode waktu tertentu (uji coba kedua) yang dituangkan dalam
berita acara SCM Tahap II
4. Apabila penyedia gagal pada uji coba kedua, maka harus diselenggarakan SCM
Tahap III yang membahas dan menyepakati besaran kemajuan fisik yang harus
dicapai oleh penyedia dalam periode waktu tertentu (uji coba ketiga) yang dituangkan
dalam berita acara SCM Tahap III
5. Pada setiap uji coba yang gagal, terbitlah surat peringatan kepada penyedia atas
keterlambatan realisasi fisik pelaksanaan pekerjaan.
Selain itu pemutusan kontrak secara sepihak juga dibenarkan oleh
Peraturan Presiden No. 70 Tahun 2012 apabila :

1. Kebutuhan barang/jasa tidak dapat ditunda melebihi batas berakhirnya kontrak;


2. Penyedia barang/jasa cidera janji dan tidak memperbaiki kelalaiannya;
3. Penyedia diyakini tidak mampu menyelesaikan pekerjaan walaupun diberi waktu
sampai dengan 50 hari kalender sejak masa berakhirnya pelaksanaan pekerjaan;
4. Penyedia tidak dapat menyelesaikan pekerjaan setelah diberi waktu 50 hari
kalender
BAGAN ALIR PELAKSANAAN SHOW
CAUSE MEETING
SEKIAN DAN TERIMA KASIH