Anda di halaman 1dari 16

Konjungtivitis Bakteri

Definisi

 Menurut Perhimpunan Dokter Spesialis Mata Indonesia (PERDAMI),


Konjungtivitis adalah “suatu inflamasi atau peradangan pada konjungtiva yang
dapat disebabkan oleh infeksi, iritasi, atau reaksi alergi (hipersensitivitas)”

 Konjungtivitis bakteri adalah suatu proses inflamasi pada konjungtiva yang

disebabkan oleh infeksi bakteri.


 Konjungtivitis bakteri terjadi akibat pertumbuhan dan infiltrasi bakteri pada

permukaan epitelial konjungtiva


 Biasanya penyakit ini dapat sembuh dengan sendirinya (self limiting
disease)
 Hal ini disebabkan oleh faktor-faktor :
1. Konjungtiva selalu dilapisi oleh tears film yang mengandung zat-zat anti
microbial.
2. Stroma konjungtiva pada lapisan adenoid mengandung banyak kelenjar
limfoid
3. Epitel konjungtiva terus menerus diganti.
4.Temperatur yang relatif rendah karena penguapan air mata, sehingga
perkembangbiakan mikroorganisme terhambat.
5. Penggelontoran mikroorganisme oleh aliran air mata.
6. Mikroorganisme tertangkap oleh mukus konjungtiva hasil sekresi sel-sel
goblet kemudian akan digelontor oleh aliran airmata.
Etiologi dan Klasifikasi
 Konjungtivitis bakteri  infeksi yg sering terjadi, wabah musiman
 Faktor predisposisi berhubungan dengan iklim lembab, higienitas dan sanitasi kurang
bersih  permudah penyebaran infeksi.
 Klasifikasi berdasarkan onset
Manifestasi Klinis
 Konjungtivitis bakteri bisa dicurigai pada setiap pasien dengan inflamasi
konjungtiva bilateral dan sekret purulen.

 Biasanya keluhan konjungtivitis yang disebabkan bakteri 


iritasi dan kemerahan kedua mata, kelopak mata menempel sehingga
mengakibatkan sulit dibuka di pagi hari, keluar kotoran pus kekuningan,
kadang-kadang kelopak mata bengkak.

 Tanda klinis  inflamasi konjungtiva bilateral, injeksi konjungtiva, sekret


purulen, dan edema palpebra.

 Onset dan keparahan inflamasi konjungtiva serta sekret yang keluar 


memprediksi kemungkinan bakteri penyebab konjungtivitis.
Pada konjungtivitis bakteri hiperakut
 onset injeksi konjungtiva yang cepat, edema palpebra, sekret purulen banyak,
kemosis, dan rasa tidak nyaman atau nyeri.
 Agen penyebab biasanya N gonorrhoeae atau N meningitidis.
 Konjungtivitis gonokokus dapat juga terjadi pada neonatus dengan tanda khas
munculnya sekret konjungtiva purulen pada kedua mata 3 – 5 hari setelah
persalinan per vaginam.

Sekret Purulen pada Konjungtivitis Gonorrhoeae


 Konjungtivitis bakteri akut sering terdapat dalam bentuk epidemik dan disebut “mata merah”
oleh orang awam.
 Penyakit ini ditandai dengan dengan hiperemia konjungtiva secara akut dan biasanya sembuh
sendiri.
 Penyebab tersering adalah S pneumoniae, S aureus, dan H influenzae. S pneumoniae merupakan
penyebab
 manifestasi klinis sekret purulen, edema palpebra, kemosis, perdarahan konjungtiva
 Konjungtivitis bakteri kronis terjadi pada pasien dengan riwayat obstruksi duktus nasolakrimalis,
dakriosistitis menahun yang biasanya unilateral.
 Infeksi ini juga dapat menyertai bleparitis bakterial menahun, atau disfungsi kelenjar meibom
 Pasien dengan sindrom palpebra lemas atau ektropion dapat berkembang menjadi konjungtivitis
bakteri sekunder

Injeksi Konjungtiva pada Konjungtivitis Bakteri Sekret Mukopurulen pada Konjungtivitis Bakteri
Penegakan Diagnosis
 Penegakkan konjungtivitis bakteri  anamnesis, pemeriksaan fisik dan
pemeriksaan penunjang yang tepat.
 Keluhan  mata merah, keluar kotoran pus kekuningan yang terjadi dalam 1
atau 2 hari, kelopak mata bengkak, dan menempel susah dibuka saat pagi hari,
gatal dan terasa seperti ada sensasi benda asing pada mata.
 Pemeriksaan fisik  edema palpebra, palpebra saling melekat saat baru
bangun, hiperemi konjungtiva sering pada ke dua mata dan sekret purulen
adanya papil pada kelopak mata.
 Pemeriksaan penunjang dilakukan swab pada konjungtiva kemudian dilakukan
pengecatan gram
 Ditemukan adanya diplokocus extra maupun intrasesular  Neisseria
gonorrhoe
 Giemsa ditemukan inclusion bodies  clamidya.
Diagnosis Banding
Penatalaksanaan

 Terapi spesifik terhadap konjungtivitis bakteri tergantung pada agen


mikrobiologinya.
 Sambil menunggu hasil laboratorium, dokter dapat memberikan terapi
awal dengan antimikrobial topikal.

Terapi konjungtivitis bakteri hiperakut


 Jika didapatkan hasil diplokokus gram negatif dicurigai agen penyebab
adalah Neisseria
  CDC merekomendasikan terapi konjungtivitis bakteri hiperakut dengan
antiobiotik sistemik
ceftriaxone 1 gram dosis tunggal injeksi IM dikombinasikan dengan eye
lavage menggunakan saline 4 kali sehari sampai sekretnya habis terbuang.
Terapi konjungtivitis bakteri akut atau subakut, dan kronis
 Konjugtivitis bakteri akut atau subakut biasanya sembuh spontan, sembuh
sendiri dalam 8 hari.

 Pengobatan dengan antibiotik mempercepat penyembuhan, mengurangi


kemungkinan terjadinya komplikasi dan mengurangi penyebaran.

 Terapi yang dianjurkan adalah


 Tetes mata antibiotik spektrum luas: neomisin, polimiksin, ciprofloxasin,
ofloxasin, atau levofloxasin selama kurang lebih 4-5 hari.
 Vitamin C 500 mg 1 x sehari.
 Antiinflamasi 2x1 sehari bila disertai dengan edema palpebra.
 Tidak perlu antibiotika sistemik dan analgesik.

• Konjungtivitis bakteri kronis dapat diterapi seperti diatas, namun harus juga
dihilangkan fokal infeksi yang menjadi sumber infeksi.
Indikasi Rujuk

 Reds Flags seperti adanya nyeri hebat pada mata atau sakit kepala, fotofobia,
penurunan visus, atau penggunaan lensa kontak menunjukkan pasien dalam
kondisi yang mengancam penglihatan sehingga merupakan indikasi rujukan
segera ke dokter spesialis mata.

 Pasien dengan konjungtivitis bakteri hiperakut harus juga dirujuk untuk menilai
apakah terjadi kerusakan pada kornea.

 Pada pasien konjungtivitis bakteri yang tidak membaik dalam 24 jam setelah
pemberian antibiotik dipertimbangkan juga untuk di rujuk ke dokter spesialis
mata
Komplikasi
 Keratitis punctata superfisialis dan Dakriosistitis akut.
 Blefaritis marginal menahun sering menyertai konjungtivitis stafilokokus
kecuali pada pasien sangat muda yang bukan sasaran blefaritis.
 Parut konjungtiva dapat terjadi pada konjungtivitis pseudomembranosa
dan membranosa dan pada kasus tertentu yang dikuti ulserasi kornea dan
perforasi sampai endoftalmos.
 Ulserasi kornea marginal dapat terjadi pada infeksi N gonorrhoeae, N
kochii, N meningitidis, H aegyptius, S aureus, dan M catarrhalis.
 Jika produk toksik dari N gonorrhoeae berdifusi melalui kornea masuk
camera anterior, dapat timbul iritis toksik

Ulkus kornea dan Perforasi pada Konjungtivitis Hiperakut oleh karena N. Gonorhoeae
Prognosis

 Prognosis konjungtivitis bakterial akut umumnya baik dan hampir selalu


sembuh sendiri.

 Tanpa diobati, infeksi dapat berlangsung selama 10 - 14 hari

 Jika diobati dengan memadai sembuh dalam 1-3 hari, kecuali konjungtivitis
bakteri karena stafilokokus (yang dapat berlanjut menjadi blefarokonjungtivitis
dan memasuki tahap menahun) dan konjungtivitis bakteri hiperakut (yang bila
tidak dapat diobati dapat berakibat perforasi kornea dan endoftalmitis).

 Karena konjungtiva  gerbang masuk bagi meningokokus ke dalam darah dan


meninges, hasil akhir konjungtivitis meningokokus  septikemia dan
meningitis