Anda di halaman 1dari 30

Novita Suryana, Fathia Rianty, Primananda Ayu P.

Pembimbing: dr. Gita M, Sp.M


• kejadian kumulatif konjungtivitis neonatorum
(NC)
• mikroorganisme yang menjadi penyebab dan

Tujuan resistensinya thd antibiotik


• faktor yang berhubungan dengan konjungtivitis
neonatorum

• penelitian kohort prospektif


• bayi yang dilahirkan di MRRH
• tindak lanjut dilakukan setiap minggu sampai

Metode terjadinya NC
• dilakukan swab konjungtiva
• Dari 438 bayi, 49 mengalami NC
• Patogen paling banyak  S. Aureus
• Semua patogen  sensitivitas 100% u/
Hasil gentamisin dan oksasilin
• FR: Profilaksis, perawatan di NICU

• Kejadian NC  tinggi
• Dirawatnya neonatal di NICU dan kurangnya
profilaksis dalam waktu 24 jam merupakan
Kesimpulan faktor risiko untuk menderita NC
 Konjungtivitis neonatorum (NC)  salah satu
penyebab gangguan penglihatan dan
kebutaan pada anak yang dapat dihindari

 Metode profilaksis Crede pada tahun 1881


dan pengendalian IMS menurunkan
insidensi dan prevalensi NC
Ibu Neonatus

• ANC yang kurang baik  • prematuritas]


skrining IMS • bblr
• Persalinan lama • Trauma persalinan
• Dacryostenosis kongenital
• Sumbatan saluran lakrimal
nasal kongenital
• Profilaksis tidak adekuat
• Rawat NICU
DESAIN PENELITIAN
 Penelitian kohort prospektif
 Bangsal kebidanan MRRH

Bayi yang Perekrutan setiap


Bayi sehat yang mengalami hari pukul 7:00 -
dilahirkan di MRRH malformasi  10:00 pagi di
eksklusi bangsal kebidanan
Kuesioner
terstruktur Alamat dan kontak
mata bayi diperiksa
diberikan kepada ibu dicatat
ibu

Kunjungan
pertama antara
Follow up lanjutan
hari ke-5 sampai
hari ke 8
Gejala
Via telefon Gejala (+)

Mata merah

Kotoran mata (+)


Pengobatan dg
tetrasiklin 1% Pemeriksaan
salep mata dan dan swab
eritromisin sirup Edema palpebra
• Swab konjungtiva

• Inokulasi dibuat di agar coklat

• Dipindahkan dalam tabung anaerob/ruang CO2 ke laboratorium

• Dibiakkan dan diperiksa setiap hari

• Dilakukan pewarnaan gram dan Giemsa

• Dilakukan uji sensitiivitas


 gentamisin (10μg)  ampisilin (10μg)
 tetrasiklin (30μg)  amoksisilin (20μg)
 kloramfenikol (30 μg)  oxacillin (1μg )
 ciprofloxacin (1μg)  bacitracin  hanya
 ceftriaxone (30μg) digunakan untuk
 eritromisin (15μg) Streptococcus
 penisilin G (20μg) pyogenes
 Data kuesioner yang diturunkan dimasukkan
ke dalam paket perangkat lunak Microsoft
Excel
 diekspor ke paket perangkat lunak STATA
 Data ditabulasikan dan disajikan dengan odds
ratio, nilai p dan confident interval.
 Faktor-faktor yang terkait dengan NC dinilai
dengan regresi logistik.
 Neonatus:
 Dari 438 bayi yang terdaftar,
230 (52,5%) adalah laki-laki.
Berat lahir rata-rata adalah
3,2 kg dan hanya 59 (13,5%)
yang menerima profilaksis
tetrasiklin dalam waktu 24
jam setelah kelahiran.
 Tiga puluh lima (8,0%)
neonatus lahir dengan usia
kehamilan kurang dari 37
minggu
 Pada saat perekrutan, 4 (0,9%) bayi
mengalami pembengkakan kelopak mata, 2
(0,5%) memiliki sekret kelopak mata dan 1
(0,2%) mengalami kemerahan pada
konjungtiva.
 Sembilan bayi (2,0%) dirawat di NICU
sebelum ibu dipulangkan dari bangsal pasca
persalinan.
Ibu
 Usia rata-rata ibu adalah 24 tahun
 164 (37,4%) adalah ibu nullipara.
 99 (22,6%) memiliki setidaknya satu episode
infeksi urogenital
 72 (16,4%) ibu mengalami ketuban pecah dini
 66 (15,1%) mengalami persalinan lama.
 338 (77,2%) ibu menjalani persalinan per
vaginam.
Kejadian kumulatif:
 Dari 438 bayi, 45 (10,3%) menghilang
sehingga tidak dapat ditindaklanjuti

 49 neonatus menunjukkan tanda klinis NC


pada hari ke 28.
 Dari 49 bayi NC  34 kultur (+)

Kultur (+)
Staphylococcus Klebsiella Neisseria Streptococcus
aureus pneumonia gonorrhea pyogenes
23 (67,7%) 7 (20,6%) 3 (8,8%) 1 (2,9%)
 34 sampel  sensitivitas 100% untuk
gentamisin dan oxacillin
 ceftriaxone (76%), ciprofloxacin (68%) dan
chloramphenical (61%)
 Semua bakteri resisten terhadap penisilin G
 S. Aureus kurang rentan terhadap
chloramphenical (52%) dan eritromisin (45%),
juga resisten terhadap tetrasiklin (91%)
 Neisseria gonorrhoeae (3 isolat) dan
Streptococcus pyogenes semuanya 100%
sensitif terhadap siprofloksasin,
kloramfenikol, dan gentamisin
 Bacitracin hanya digunakan untuk
Streptococcus pyogenes dan sensitif 100%.
 Klebsiella pneumoniae sensitif terhadap
kloramfenikol (100%), tetrasiklin (71%)
namun resisten terhadap eritromisin (67%).
Insidensinya tinggi dengan 49 (11,2%) bayi
dalam penelitian ini mengidap NC

Penelitian di negara tetangga Kenya yang


melaporkan 2,1%, di negara-negara industri
0,04% 1

dikaitkan dengan kurangnya kehadiran ANC,


pemberian profilaksis topikal yang tidak rutin
pada saat kelahiran9 dan jenis profilaksis yang
ditawarkan pada saat perinatal
Penelitian: larutan
povidon iodine
2,5% tidak
MRRH Kenya memiliki resistensi
di semua spektrum
Tetrasiklin Povidon iodine bakteri dan juga
virus dibandingkan
dengan antibiotik
topikal
Dalam penelitian ini:
Staphylococcus aureus (67,7%)
Klebsiella pneumonia (20,6%)
Neisseria gonore (8,8%).

di Kenya:
39,7% staphylococcus
5% Neisseria gonore
50,5% Chlamydia trachomatis
 28,6% kultur negatif
 mungkin bersifat steril (tidak menular)
 efek profilaksis atau konjungtivitis klamidia yang
tidak dapat dikonfirmasi pada mikroskop
pewarnaan Giemsa
 Diperlukan pewarnaan direct immune
florescent (DIF) atau media jaringan khusus
(kultur sel McCoy) atau uji DNA-PCR 
Mahal
Penelitian Chen dan Starr3
Klebsiella pneumoniae menemukan konjungtivitis
diisolasi di antara neonatus Gram negatif yang paling
yang dirawat di NICU umum ditemukan di antara
bayi yang dirawat di NICU

 Staphylococcus aureus  resisten terhadap


tetrasiklin (91%) yang merupakan obat profilaksis
tetapi sensitif terhadap oxacillin (100%), ceftriaxone
(74%) dan ciprofloxacin (74%)
 Klebsiella pneumoniae sensitif terhadap
tetrasiklin (71%) dan kloramfenikol (100%)

 hal ini juga diamati oleh penelitian Chen dan


Starr3 di New York, di antara neonatus yang
dirawat di NICU
 Ibu yang menghadiri ANC setidaknya sekali
ditemukan memiliki perlindungan
 Profilaksis (-) pada mata bayi dalam waktu 24
jam setelah kelahiran dan perawatan
neonatal di NICU  peningkatan NC
 tidak mendapatkan profilaksis memiliki
sekitar 5 kali lipat kemungkinan
berkembangnya NC  sesuai dengan
metode Crede
 Menghadiri ANC
 skrining urogenital / IMS
Pencegahan
 pengobatan serta tes HIV primer NC
 inisiasi ART

 Bayi yg dirawat di NICU  kemungkinan 6x


lipat terkena NC
 BBLR  prematur  masuk NICU  resiko
meningkat
 BBLR  imun blm berkembang  resiko
meningkat

 usia kehamilan, cara persalinan, ketuban


pecah dini dan persalinan lama  tidak
signifikan secara statistik
 Hanya MRRH yang dipilih
 MRRH adalah rumah sakit tersier terbesar di
Uganda Barat Daya
 sampelnya mungkin berbeda dari satu tempat ke
tempat lain
 Hanya mikroskopi pewarnaan Gram,
pewarnaan Giemsa dan metode kultur dan
resistensi
 Sensitivitas dan spesivisitas rendah
 Kejadian NC ternyata tinggi
 Organisme penyebab tersering  Staphylococcus
aureus
 Waspada terhadap Neisseria gonore
 Uji sensitivitas  ciprofloxacin, ceftriaxone dan
gentamycin dapat digunakan sebagai monoterapi
empiris untuk mengobati NC di MRRH
 Menghadiri ANC lebih dari sekali melindungi bayi dari
NC
 Namun, dirawat di NICU dan tidak menerima
profilaksis dalam waktu 24 jam secara independen
terkait dengan berkembangnya NC