Anda di halaman 1dari 16

Kasus Bantuan Likuidasi Bank

Indonesi
Pendahuluan
• Kasus Bantuan Likuiditas Bank Indonesia atau yang biasa disingkat dengan
BLBI adalah suatu kasus yang fenomenal dalam sejarah perekonomian,
perbankan, sistem serta praktek hukum yang terjadi di Indonesia.
• Kasus tersebut dikualifikasikan sebagai kasus yang sifatnya fenomenal,
karena dalam penanganannya, yang semestinya murni sebagai hal-hal yang
bersifat biasa dalam sistem perbankan universal, ternyata memiliki dimensi
dimensi hukum, politis, perdata dan aspek pidana.
• Dalam peluncuran buku ‘Skandal BI: Ramai-ramai Merampok Uang Negara’
di Jakarta akhir Januari 2008, Guru Besar Fakultas Ekonomi UI, Sri Edi
Swasosno, menegaskan jika kasus tersebut diyakini bermuatan konspirasi
global.
Peran Rezim Pemerintah dalam Kasus BLBI
• Pemerintahan Soeharto (1997 – 1998) mengundang IMF (internasional Monetary
Bank) untuk merestrukturisasi perbankan yang mau kolaps dengan terms yang
ketat melalui letter of intent.
• Pemerintahan Habibie (1998 – 1999) berperan dalam memperkenalkan
assessmen untuk penanganannya antara lain dengan membentuk Badan
Penyehatan Perbankan (BPPN).
• Pemerintahan Gus Dur (1999 – 2000) mengeksekusi penjualan aset aset di bawah
BPPN.
• Pemerintahan Megawati (2000 – 2004) menerbitkan Release and Discharge
kepada para pengemplang BLBI yang koperatif
• Pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono (2004 – 2009) secara aktif dan selektif
mengundang dengan karpet merah mereka mereka yang telah memperoleh
Release and Discharge, tetapi kemudian mempersoalkan, membatalkan bahkan
menangkapi dan memenjarakan para obligor BLBI yang telah dinyatakan
sebelumnya tidak akan menghadapi tuntutan hukum.
Kronologis
• Kasus tersebut bermula dari terjadinya gejolak moneter, yaitu merosotnya secara
tajam kepercayaan terhadap rupiah, mulai sejak Juli 1997 yang diikuti dengan
rumor penutupan perbankan yang kalah kliring. Pemerintah pada 1 November
1997, menutup 16 bank. Tindakan pemerintah ini mengakibatkan psikologi
masyarakat terhadap kepercayaan perbankan menurun drastis, sehingga
masyarakat beramai ramai melakukan rush menarik simpanannya dari berbagai
bank yang diisukan atau dipersepsikan akan ditutup oleh Pemerintah.
• Akibat kepanikan masyarakat tersebut, untuk mengatasinya termasuk untuk
menjaga jangan sampai collapse sistem perbankan nasional, bank-bank akhirnya
meminta bantuan fasilitas Bank Indonesia sebagai lender of the last resort.
• Namun capital flight tetap terjadi, BLBI meningkat karena rush terus menerus,
dan untuk menutupinya Bank Indonesia tetap menyuntikkan pinjaman kepada
perbankan, sehingga jumlah perbankan yang bersaldo negatif bertambah banyak.
Kronologis
• Berbagai skema dilakukan oleh Pemerintah untuk menyelamatkan sistem
perbankan nasional. Di antara skema-skema tersebut adalah PKPS (Penyelesaian
Kewajiban Pemegang Saham), penerbitan Surat Utang Pemerintah untuk
mengkonversi BLBI menjadi penyertaan modal sementara Pemerintah,
pemberlakuan klausul release and discharge pada 21 September 1998, yang
membebaskan obligor dari tuntutan hukum asalkan sudah membayar utangnya
melalui penyerahan asset hingga memperkenalkan obligasi rekap.
• Namun belakangan terungkap bahwa banyak ditengarai bahwa pemberian BLBI
oleh Pemerintah tidak digunakan sesuai peruntukannya, yang potensial
mengandung hal-hal yang bersifat kejahatan perbankan dan berkualifikasi pidana.
Demikian juga pemberian release and discharge yang membebaskan obligor dari
tuntutan hukum, oleh sementara kalangan dianggap telah melampaui
kewenangan perdata untuk penyelesaian kasus yang bersifat pidana.
Kronologis
• Solusi yang diambil Pemerintah sebagai lanjutan dari kebijakan BLBI adalah dengan
menerbitkan obligasi rekap. Atas penempatan obligasi tersebut, Pemerintah menjadi
pihak berhutang kepada perbankan yang harus membayar bunga obligasi secara reguler
kepada perbankan. Pemerintah berharap bahwa dengan obligasi rekap tersebut,
perbankan memiliki kemampuan untuk menyalurkan kredit kep ada masyarakat,
membiayai operasional perusahaan, dan apabila telah beruntung dari selisih spread
(selisih bunga simpanan yang diterima dengan yang bunga pinjaman yang disalurkan),
pada waktunya perbankan akan mengembalikan Penyertaan Modal Pemerintah.
• Namun dalam perjalanan waktu, ternyata penyertaan Pemerintah dalam bentuk obligasi
rekap justru menjadi menjerat Pemerintah. Pemerintah terikat untuk membayar bunga
obligasi secara reguler dan melunasinya ke perbankan yang tercermin dalam beban
Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) setiap tahun. Sebaliknya, bunga
maupun cicilan obligasi rekap yang diperoleh perbankan dari topangan APBN, justru
dipergunakan tidak sesuai peruntukannya untuk penyaluran ke masyarakat dalam fungsi
intermediaries perbankan.
Pihak Terkait dan Kerugian Negara
• Pemerintahan Soeharto
• IMF mengusulkan kebijakan Bail-Out. BI-lah selanjutnya sebagai pelaksananya. Maka,
dikucurkanlah dana BLBI sebesar Rp 144,5 triliun, ditambah Rp 14,447 triliun per 29
Januari 1999, sehingga totalnya menjadi Rp 158,9 triliun.
• Dana BLBI dikucurkan berdasarkan Keppres No 26/1998. Dengan Keppres itulah,
Presiden Soeharto memerintahkan kepada Gubernur BI waktu itu, Soedrajat
Djiwandono dan Menteri Keuangan Marie Muhammad agar membantu bank bank
yang tergolong sehat. Sedangkan untuk bank-bank yang tidak sehat diperintahkan
agar segera dimerger, likuidasi dan akuisisi.
• pemerintah menerbitkan setidaknya empat kali surat utang pemerintah (SUP) tahun
1998 sebagai jaminannya senilai Rp 218,31 triliun. Lalu terungkap sejumlah
penyimpangan, kelemahan sistem dan kelalaian dalam mekanisme penyaluran dan
juga penggunaan BLBI. Dari total dana BLBI yang dikucurkan BI sebesar Rp 144,5
triliun, terdapat potensi kerugian negara sebesar Rp 138,4 triliun. (Siaran Pers BPK-RI,
11 Aug 2000).
Pihak Terkait dan Kerugian Negara
• Pemerintahan Habibie
• Memperkenalkan assessmen untuk penanganannya antara lain dengan
membentuk Badan Penyehatan Perbankan (BPPN).
• Dan melobi aturan yang sebelumnya peminjaman dari BLBI harus
dikembalikan dengan uang diganti dapat dikembalikan dengan asset, saham
dan bangunan.
• Sebagian besar asset yang diberikan obligor hanyalah asset yang “busuk” yang
tidak dapat menutupi hutangnya.
• Kerugian negara ditaksir sangat besar
Pihak Terkait dan Kerugian Negara
• Pemerintahan Gus Dur
• saat era Gus Dur, pemerintah meminta para penerima BLBI menyerahkan
personal guarantee. Yaitu perjanjian yang mengikat obligor untuk melunasi
hutangnya selama 3 turunan.
• Dan menjual asset-asset yang telah disetor obligor.
Pihak Terkait dan Kerugian Negara
• Pemerintahan Megawati
• Mengeluarkan inpres nomor 8 tahun 2002.
• Menarik personal guarantee.
• Sesuai inpres nomor 8 tahun 2002, mengeluarkan surat keterangan lunas
(SKL) kepada lima obligor MSAA dan 17 obligor PKPS APU padahal mereka
belum lunas membayar utang mereka.
Pihak Terkait dan Kerugian Negara
• Pemerintahan SBY
• Mengundang obligor secara aktif dan selektif dengan karpet merah mereka
mereka yang telah memperoleh Release and Discharge, tetapi kemudian
mempersoalkan, membatalkan bahkan menangkapi dan memenjarakan para
obligor BLBI yang telah dinyatakan sebelumnya tidak akan menghadapi
tuntutan hukum.
Pihak Terkait dan Kerugian Negara
• Pemerintahan Jokowi
• KPK menahan Syafruddin Arsyad Tumenggung. Saat itu Syafruddin Arsyad
Tumenggung yang mengeluarkan surat pemenuhan kewajiban atau yang
disebut SKL (surat keterangan lunas) terhadap Sjamsul Nursalim selaku
pemegang saham pengendali Bank Dagang Nasional Indonesia (BDNI) yang
memiliki kewajiban kepada BPPN. Dalam kasus ini, KPK menetapkan
Syafruddin Arsyad Tumenggung sebagai tersangka dan ditaksir merugikan
negara sebesar 3,7T. (kompas.com)
• Presiden yang bersih yang saat itu tidak terlibat langsung dan tidak ada
kaitannya dalam BLBI 1998.
• Semoga saja cepat terungkap kejahatan yang terstruktr yang melibatkan
pejabat tinggi ini.
• Tahun terjadi 1998-sekarang
• Pelaku yang dipidana
• Agustus 2017 KPK menahan Syafruddin Arsyad Tumenggung. Saat itu
Syafruddin Arsyad Tumenggung yang mengeluarkan surat pemenuhan
kewajiban atau yang disebut SKL (surat keterangan lunas) terhadap Sjamsul
Nursalim selaku pemegang saham pengendali Bank Dagang Nasional
Indonesia (BDNI) yang memiliki kewajiban kepada BPPN. Dalam kasus ini, KPK
menetapkan Syafruddin Arsyad Tumenggung sebagai tersangka dan ditaksir
merugikan negara sebesar 3,7T. (kompas.com)
• Kerugian Negara
• Tahun 1998 pemerintah menerbitkan setidaknya empat kali surat utang
pemerintah (SUP) Dari total dana BLBI yang dikucurkan BI sebesar Rp 144,5
triliun, terdapat potensi kerugian negara sebesar Rp 138,4 triliun. (Siaran Pers
BPK-RI, 11 Aug 2000).
• Agustus 2017 KPK menahan Syafruddin Arsyad Tumenggung, dan ditaksir
telah merugikan negara sebesar 3,7T
• Kerugian negara dari BLBI tahun 1998 sebesar 138,4T dapat
membangun program tol laut Jokowi sebanyak 72 pelabuhan atau 3x
lebih banyak dari total anggaran untuk membangun program
pemerintah ini. (https://finance.detik.com/berita-ekonomi-
bisnis/2751498/ini-dia-24-pelabuhan-yang-akan-dibangun-jokowi-
untuk-program-tol-laut)
• Kerugian Negara Syafruddin Arsyad Tumenggung yang mengeluarkan
surat pemenuhan kewajiban atau yang disebut SKL,ditaksir merugikan
negara sebesar 3,7T atau setara 392 KM Rel baru di Kalimantan.
(https://finance.detik.com/berita-ekonomi-bisnis/3505806/berapa-
biaya-bangun-2428-km-rel-baru-di-kalimantan)