Anda di halaman 1dari 17

FRAUD DALAM ETIKA

BISNIS
DISUSUN OLEH:
1. SUSI SETYOWATI (B.131.16.0052)
2. DEVI YULI (B.131.16.0160)
3. GATOT SETIAWAN (B.131.16.0191)
4. DHIKA SURYA (B.131.16.0203)
5. KURNIA ALIFIANA (B.141.16.0018)
Fraud (kecurangan) ini merupakan tindakan yang disengaja dan
dilakukan demi kepentingan pribadi. Fraud (kecurangan) juga
sama halnya menipu para konsumen. Yang mendorong adanya
fraud (kecurangan) biasanya karena kegagalan, kurangnya
informasi, ketidakmampuan dan juga kurang jelinya audit.
PENGERTIAN FRAUD
 Black’s Law Dictionary Fraud
 The Institute of Internal Auditor (IIA)
 Webster’s New World Dictionary
 Association of Certified Fraud Examiners (ACFE)
UNSUR – UNSUR DALAM FRAUD
 Terdapat tindakan yang melanggar/melawan hukum (illegal-acts).
 Ditemukan salah saji dan kekeliruan dalam penyajian laporan (mispresentation).
 Dilakukan oleh individu atau kelompok dari dalam/atau luar organisasi.
 Pihak yang dirugikan harus beraksi (acted) terhadap kekeliruan penyajian atau
pernyataan terhadap salah/kekeliruan penyajian (misrepresentation).
 Untuk mendapatkan keuntungan pribadi atau kelompok.
 Langsung atau tidak langsung dapat merugikan pihak lain (detriment).
 Dilakukan secara sengaja atau tanpa pertimbangan (make-knowingly or
recklessly).
 Mengakibatkan pihak lain bereaksi.
TYPES OF FRAUD

TYPE OF FRAUD PERPETRATOR VICTIM

Employee embezzlement Employees of an organization The employer

The organization to which the


Vendor fraud Vendors of an organization
vendors sell goods or services
The organization which sells to
Customer fraud Customers
the consumer
Shareholders and/or debt-
Management Fraud (Financial
Management of a company holders and regulators (taxing
statement fraud)
authorities, etc.)

Investment scams and other


Individuals Investors
consumer frauds

Sumber: Albrecht W.Steve and Albrecht Chad O, 2002 . “ Fraud Examination” Thomson
South- Western.
Berkaitan dengan itu Association of Certified Fraud Examinations (ACFE-
2000), salah satu asosiasi di USA yang mendarmabaktikan kegiatannya
dalam pencegahan dan pemberantasan kecurangan, mengkategorikan
kecurangan dalam tiga kelompok sebagai berikut:
1.Benturan
kepentingan
(conflict of
interest)

Pemberian
Hadiah Yang
Kecurangan Illegal (illegal
Penyalahgunaan gratuity)
Laporan
Aset Perusahaan 3. Korupsi
Keuangan
(Asset (Corruption)
(Financial
Misappropriation) 3.Pemerasan
Statement Fraud)
(economic
extortion)

Penyuapan
(bribery)
BIDANG YANG BERISIKO TINGGI TERKENA FRAUD
 Purchasing and Payroll
 Sales and Inventory ( Penjualan dan Inventarisasi)
 Cash and Check (Kas dan Cek)
 Hak Kekayaan Intelektual (HKI) dan Kerahasiaan Informasi
 Information Technology (Teknologi Informasi)
MOTIVASI MELAKUKAN FRAUD
Pada umumnya fraud terjadi karena tiga hal yang mendasarinya terjadi secara
bersamaan, yaitu:
 Insentif atau tekanan untuk melakukan fraud
 Peluang untuk melakukan fraud
 Sikap atau rasionalisasi untuk membenarkan tindakan fraud.
Ketiga faktor tersebut digambarkan dalam segitiga fraud (Fraud Triangle) berikut:

PRESSURE

FRAUD
RISK

OPPORTUNITY RATIONALIZATION
FAKTOR PEMICU FRAUD
 GENERIC FACTOR
a. OPPORTUNITY
b. EXPOSURE

 INDIVIDUAL FACTOR
a. GREED
b. NEED
PENDETEKSIAN FRAUD BERDASAR PENGGOLONGAN
KECURANGAN OLEH ACFE
Kecurangan Laporan
Penyalahgunaan Aset Korupsi
Keuangan
(Asset Misappropriation) (Corruption)
(Financial Statement Fraud)
• Analytical review • Analisis Vertikal • Sebagian besar
• Statistical sampling • Analisis Horizontal kecurangan ini dapat
• Vendor/outsider • Analisis Rasio dideteksi melalui keluhan
complaints dari rekan kerja yang jujur,
laporan dari rekan, atau
• Site-visit observation
pemasok yang tidak puas
dan menyampaikan
komplain ke perusahaan.
• Atas sangkaan terjadinya
kecurangan ini kemudian
dilakukan analisis
terhadap tersangka atau
transaksinya
PENCEGAHAN FRAUD

MEMBANGUN
STRUKTUR MENGEFEKTIFKAN MENINGKATKAN MENGEFEKTIFKAN
PENGENDALIAN AKTIVITAS KULTUR FUNGSI INTERNAL
INTERN YANG PENGENDALIAN ORGANISASI AUDIT
BAIK
KENDALA PENANGGULANGAN FRAUD
 Lemahnya pengawasan dari internal perusahaan.
 Keterbatasan kompetensi sumber daya manusia sebagai
auditor investigasi.
 Pihak terkait telah berpindah ke perusahaan lain atau
meninggal dunia.
 Fraud dapat dilakukan oleh orang-orang yang telah mendapat
kepercayaan besar dari perusahaan.
 Kurangnya pemahaman karyawan/pegawai tentang peraturan
perusahaan.
STUDI KASUS SKANDAL MANIPULASI LAPORAN KEUANGAN
PT KIMIA FARMA Tbk

 PT Kimia Farma adalah salah satu produsen obat-obatan milik pemerintah di Indonesia. Pada audit tanggal 31
Desember 2001, manajemen Kimia Farma melaporkan adanya laba bersih sebesar Rp 132 milyar, dan laporan
tersebut di audit oleh Hans Tuanakotta & Mustofa (HTM). Akan tetapi, Kementerian BUMN dan Bapepam menilai
bahwa laba bersih tersebut terlalu besar dan mengandung unsur rekayasa. Setelah dilakukan audit ulang, pada
3 Oktober 2002 laporan keuangan Kimia Farma 2001 disajikan kembali (restated), karena telah ditemukan
kesalahan yang cukup mendasar. Pada laporan keuangan yang baru, keuntungan yang disajikan hanya
sebesar Rp 99,56 miliar, atau lebih rendah sebesar Rp 32,6 milyar, atau 24,7% dari laba awal yang dilaporkan.
Kesalahan itu timbul pada unit Industri Bahan Baku yaitu kesalahan berupa overstated penjualan sebesar Rp 2,7
miliar, pada unit Logistik Sentral berupa overstated persediaan barang sebesar Rp 23,9 miliar, pada unit
Pedagang Besar Farmasi berupa overstated persediaan sebesar Rp 8,1 miliar dan overstated penjualan sebesar
Rp 10,7 miliar.
 Kesalahan penyajian yang berkaitan dengan persediaan timbul karena nilai yang ada dalam daftar harga
persediaan digelembungkan. PT Kimia Farma, melalui direktur produksinya, menerbitkan dua buah daftar harga
persediaan (master prices) pada tanggal 1 dan 3 Februari 2002. Daftar harga per 3 Februari ini telah
digelembungkan nilainya dan dijadikan dasar penilaian persediaan pada unit distribusi Kimia Farma per 31
Desember 2001. Sedangkan kesalahan penyajian berkaitan dengan penjualan adalah dengan dilakukannya
pencatatan ganda atas penjualan. Pencatatan ganda tersebut dilakukan pada unit-unit yang tidak disampling
oleh akuntan, sehingga tidak berhasil dideteksi. Berdasarkan penyelidikan Bapepam, disebutkan bahwa KAP
yang mengaudit laporan keuangan PT Kimia Farma telah mengikuti standar audit yang berlaku, namun gagal
mendeteksi kecurangan tersebut. Selain itu, KAP tersebut juga tidak terbukti membantu manajemen melakukan
kecurangan tersebut
STUDI KASUS SKANDAL MANIPULASI LAPORAN KEUANGAN
PT KIMIA FARMA Tbk
SANKSI DAN DENDA
 Sehubungan dengan temuan tersebut, maka sesuai dengan Pasal 102 Undang-undang Nomor 8 tahun
1995 tentang Pasar Modal jo Pasal 61 Peraturan Pemerintah Nomor 45 tahun 1995 jo Pasal 64 Peraturan
Pemerintah Nomor 45 tahun 1995 tentang Penyelenggaraan Kegiatan di Bidang Pasar Modal maka PT
Kimia Farma (Persero) Tbk. dikenakan sanksi administratif berupa denda yaitu sebesar Rp. 500.000.000,-
(lima ratus juta rupiah).
 Sesuai Pasal 5 huruf n Undang-Undang No.8 Tahun 1995 tentang Pasar Modal, maka:
 Direksi Lama PT Kimia Farma (Persero) Tbk. periode 1998 – Juni 2002 diwajibkan membayar sejumlah Rp
1.000.000.000,- (satu miliar rupiah) untuk disetor ke Kas Negara, karena melakukan kegiatan praktek
penggelembungan atas laporan keuangan per 31 Desember 2001.
 Sdr. Ludovicus Sensi W, Rekan KAP Hans Tuanakotta dan Mustofa selaku auditor PT Kimia Farma (Persero)
Tbk. diwajibkan membayar sejumlah Rp. 100.000.000,- (seratus juta rupiah) untuk disetor ke Kas Negara,
karena atas risiko audit yang tidak berhasil mendeteksi adanya penggelembungan laba yang dilakukan
oleh PT Kimia Farma (Persero) Tbk. tersebut, meskipun telah melakukan prosedur audit sesuai dengan
Standar Profesional Akuntan Publik (SPAP), dan tidak diketemukan adanya unsur kesengajaan. Tetapi, KAP
HTM tetap diwajibkan membayar denda karena dianggap telah gagal menerapkan Persyaratan
Profesional yang disyaratkan di SPAP SA Seksi 110 – Tanggung Jawab & Fungsi Auditor Independen,
paragraf 04 Persyaratan Profesional, dimana disebutkan bahwa persyaratan profesional yang dituntut dari
auditor independen adalah orang yang memiliki pendidikan dan pengalaman berpraktik sebagai auditor
independen.
STUDI KASUS SKANDAL MANIPULASI LAPORAN KEUANGAN
PT KIMIA FARMA Tbk
 Dalam kasus ini, KAP HTM menghadapi sanksi yang cukup berat dengan dihentikannya jasa
audit mereka. Hal ini terjadi bukan karena kesalahan KAP HTM semata yang tidak mampu
melakukan review menyeluruh atas semua elemen laporan keuangan, tetapi lebih karena
kesalahan manajemen Kimia Farma yang melakukan aksi manipulasi dengan
penggelembungan nilai persediaan.
 Kasus yang menimpa KAP HTM ini adalah risiko inheren dari dijalankannya suatu tugas audit.
Sedari awal, KAP HTM seharusnya menyadari bahwa kemungkinan besar akan ada risiko
manipulasi seperti yang dilakukan PT. Kimia Farma, mengingat KAP HTM adalah KAP yang telah
berdiri cukup lama. Risiko ini berdampak pada reputasi HTM dimata pemerintah ataupun
publik, dan pada akhirnya HTM harus menghadapi konsekuensi risiko seperti hilangnya
kepercayaan publik dan pemerintah akan kemampuan HTM, penurunan pendapatan jasa
audit, hingga yang terburuk adalah kemungkinan di tutupnya Kantor Akuntan Publik tersebut.
 Diluar risiko bisnis, risiko etika yang dihadapi KAP HTM ini cenderung pada kemungkinan
dilakukannya kolaborasi dengan manajemen Kimia Farma dalam manipulasi laporan
keuangan. Walaupun secara fakta KAP HTM terbukti tidak terlibat dalam kasus manipulasi
tersebut, namun hal ini bisa saja terjadi.
STUDI KASUS SKANDAL MANIPULASI LAPORAN KEUANGAN
PT KIMIA FARMA Tbk
 Sesuai dengan kasus yang telah di paparkan diatas, manajemen risiko yang dapat diterapkan oleh KAP HTM antara lain adalah dengan mengidentifikasi
dan menilai risiko etika, serta menerapkan strategi dan taktik dalam membina hubungan strategis dengan stakeholder.

1. Mengidentifikasi dan menilai risiko etika

Dalam kasus antara KAP HTM dan Kimia Farma ini, pengidentifikasian dan penilaian risiko etika dapat diaplikasikan pada tindakan sebagai berikut:

a. Melakukan penilaian dan identifikasi para stakeholder HTM

b. Mempertimbangkan kemampuan SDM HTM dengan ekspektasi para stakeholder, dan menilai risiko ketidak sanggupan SDM HTM dalam

menjalankan tugas audit.

c. Mengutamakan reputasi KAP HTM

Tiga tahapan ini akan menghasilkan data yang memungkinkan pimpinan KAP HTM dapat mengawasi adanya peluang dan risiko etika, sehingga

dapat ditemukan cara untuk menghindari dan mengatasi risiko tersebut, serta agar dapat secara strategis mengambil keuntungan dari kesempatan

tersebut.

2. Menerapkan strategi dan taktik dalam membina hubungan strategis dengan stakeholder

KAP HTM dapat melakukan pengelompokan stakeholder dan meratingnya dari segi kepentingan, dan kemudian menyusun rencana untuk

berkolaborasi dengan stakeholder yang dapat memberikan dukungan dalam penciptaan strategi, yang dapat memenuhi harapan

para stakeholder HTM.


SEKIAN DAN TERIMAKASIH