Anda di halaman 1dari 32

SPIROCHAETACEAE

MIKROBIOLOGI-FK UKRIDA
Dr. Wani D. Gunardi SpMK
PENDAHULUAN

Ordo Spirochaetales mempunyai 2 famili yang


penting dalam medis :
• Fam.Spirochaetaceae mempunyai 2 genera
yang penting :
– Treponema → penyebab: syphilis dan nonvenerik
treponematosis.
– Borrelia → penyebab: demam balik-balik dan penyakit
• Fam. Leptospiraceae hanya 1 genus yang
Lyme

penting:
– Leptospira → penyebab: leptospirosis.
PENDAHULUAN…

• Spirochaeta 
–dinding tipis, fleksibel, spiral.
–flagella.
Gerak menggunakan axial filament bukan

• Treponema dan Leptospira tipis


–biasa,
tidak dapat dilihat dengan mikroskop
harus dengan mikroskop lapangan
gelap atau pewarnaan khusus impregnasi
perak atau immunofluorescence.
• Borrelia  lebih tebal
– dapat dilihat dengan mikroskop biasa,
pewarnaan Giemsa.
Treponema

Genus yang penting:


•Treponema pallidum ssp pallidum
(Treponema pallidum).
•Treponema pallidum ssp endemicum
(Treponema endemicum).
•Treponema pallidum ssp pertenue
(Treponema pertenue).
•Treponema pallidum ssp carateum
(Treponema carateum).
Treponema pallidum ssp pallidum
(Treponema pallidum).

Penyebab penyakit : sifilis.


Morfologi:
• spiral halus, sangat tipis 0,2 μm, gerak (+) dengan
axial filament (endoflagella).
Biakan:
• Belum dapat dibiakkan pada media buatan atau
biakan sel
• Dapat dibiakkan pada hewan percobaan (kelinci).
• Treponema nonpatogen strain Reiter dapat dibiakkan
pada media buatan.
Pendahuluan…

Daya tahan kuman:


• Dalam darah pada suhu 4oC tahan selama 24 jam →
penting pada transfusi.
• Dalam cairan penyimpan yang cocok (+ reduktor) 25oC
hidup selama 3-6 hari.
• Peka terhadap panas dan kering, pada suhu 42oC kuman
mati.
• Sangat peka terhadap penisilin, sampai saat ini belum
resisten.

Penularan:
• Kuman dapat menembus mukosa intact atau kulit yang
abrasi.
• Penularan biasanya hubungan intim (sexual contact).
• Dapat ditularkan dari ibu ke anak selama masa kehamilan
(transplacental).
• Darah transfusi (sekarang jarang)
Sifilis Congenital
• Treponema dapat menembus barrier plasenta > 16
minggu  karena atrofi sel-sel Langhans.
• Pengobatan ibu hamil < 16 minggu, mencegah bayi
tertular sifilis.
• 25% fetus yang tertular  mati in utero
• 25% lainnya  mati post partum
• Sisanya  lahir hidup dengan cacat (sifilis
congenita).
• Sifilis kongenita prekoks seperti sifilis sekunder →
– condyloma lata,
– snuffle nose (hidung mampet)
– osteochondritis.
• Sifilis kongenita tarda  mirip sifilis tertier.
– Tulang:
shins.
tulang hidung → saddle nose, tibia → sabre

– Gigi: gigi seri atas → Hutchinson’s teeth, molar →


mulberry molars.
Congenital Syphilis (CS)

• Sifilis merupakan penyakit infeksi kronis yang


disebabkan oleh Treponema pallidum, yang harus
diberikan perhatian khusus selama kehamilan
karena resiko infeksi transplasenta terhadap janin.
• Infeksi kongenital dapat mengakibatkan :
-Kematian perinatal
-Kelahiran prematur
-Bayi dengan berat badan lahir rendah (Low birth
weight)
-Kelainan kongenital
Cara Penularan :

• Kontak seksual.
• Trans-placental ke janin melalui ibu yang
terinfeksi.
• Kontak saat persalinan.
–Resiko menjadi sifilis setelah terpapar  40%
Faktor Risiko Sifilis Kongenital

• Antenatal care yang kurang.


• Ibu yang terinfeksi sifilis.
• Tidak melakukan tes serologi ulangan untuk
sifilis pada trimester ketiga.
• Kegagalan terapi
• Kurangnya penyuluhan kesehatan tentang
penyakit akibat hubungan seksual
(PHS/STD)
Syphilis in Newborns
• Duapertiga neonatus dengan sifilis
kongenital  asimptomatik saat lahir.
• Kelainan dapat bermanifestasi saat janin,
neonatus atau usia bayi.
• Neonatus bermanifestasi saat usia 6-8
minggu (bentuk delayed)
• Manifestasi klinis pada bayi :
- Early CS (<=2 years of age) and
- Late CS ( >2 years of age)
Manifestasi Klinik Early CS
Condyloma Lata Lymphadenopathy
Maculopapular rash
Mucous patches
Hepatosplenomegaly
Jaundice due to the
hepatitis
Anemia
Osteochondritis
Snuffles
Pseudoparalysis
Laboratory Diagnosis

Direct visualization
Darkfield examination of exudate
Direct fluorescent antibody to T. pallidum
Serologic testing
- Nontreponemal Antibody tests (VDRL test and
RPR test)
- Treponemal Antibody tests (FTA-ABS and MHA-TP)
Patogenesis dan Gejala Klinik:

• Setelah hubungan intim dengan penderita sifilis yang


infeksius, kuman dapat masuk melalui mukosa utuh
atau kulit yang terabrasi.
• Perjalanan penyakit 
– Sifilis primer (setelah 3-4 Minggu)
– Sifilis sekunder
– Sifilis latent
– Sifilis tertier
– Sifilis congenita
Hutchinson’s Triad (late
congenital syphilis):
Interstitial keratitis
Teeth abnormalities
Deafness
Interpretation of the Syphilis Serology of Mothers & their Infants

INTERPRETASI HASIL TES SEROLOGI IBU DAN BAYI (DETEKSI SIFILIS KONGENITA)

Tes Non Treponemal Tes Treponemal INTERPRETASI HASIL

IBU BAYI IBU BAYI

Neg Neg Neg Neg Bukan sifilis atau masa inkubasi pada Ibu dan Bayinya

Pos Pos Neg Neg Ibu Tidak menderita sifilis

Pos Pos atau Neg Pos Pos Sifilis pada maternal dengan kemungkinan infeksi pada bayinya

Pos Pos Pos Pos Infeksi sifilis akut atau yang lalu pada Ibu; dengan kemungkinan infeksi
sifilis pada bayinya

Neg Neg Pos Pos Ibu telah sembuh dari sifilis (sebelumnya atau masa awal kehamilan)
Follow-up evaluation

• Non-treponemal antibody serologic testing should be checked at


1, 3, 6, 12 and 24 months following treatment.
• Titers should decrease four-fold by 6 months post therapy and
become non-reactive by 12 to 24 months.
• Titers that show a four-fold rise or do not decrease suggest
either treatment failure or re-infection.
Saddle Nose

Sabre Shins
Patogenesis …

• Lesi tidak infeksius treponema sulit ditemukan.


• Gejala tergantung lokasi lesi  great imitator.
– Cardiovascular: aneurysma pada aorta ascendens atau
arkus aorta akibat aortitis.
– CNS: meningitis, tabes dorsalis (kerusakan medulla
spinalis posterior), paresis sampai dementia dan
kelainan jiwa.
– Argyll-Robertson pupil (prostitute pupil) → pupil
konstriksi pada waktu akomodasi, reflex cahaya (-),
kerusakan pada midbrain.
• Tahap ini Terapi sudah tidak berguna.
Diagnosis Laboratorium

1. Pemeriksaan mikroskopik  Spesimen: cairan lesi yang infeksius.


– Mikroskop lapangan gelap.
Melihat gerak yang khas dari Treponema.
– Mikroskop Immunofluoressensi.
Sediaan dari cairan lesi dikeringkan + antibodi treponema yang
dilabel fluorescein, dilihat dengan mikroskop UV → tampak
berpendar.

2. Kultur  Tidak dilakukan karena tidak tumbuh dalam media


buatan

3. Tes serologi.
• Tidak spesifik.
• Terbentuknya antibodi (reagin) terhadap phospholipid (IgM
dan IgA), antibodi ini tidak jelas terhadap lipid host atau lipid
yang di-absorbsi treponema  tidak spesifik.
• Adanya reagin dideteksi dengan menggunakan antigen lipid
(cardiolipin) + lesitin
Contoh :
Tes Flokulasi (VDRL = Venereal Disease Research Laboratory
dan RPR = Rapid Plasma reagin).
Sensitivitas & Spesifisitas Tes Serologi
Pengobatan

Dahulu menggunakan “fever” box.


Obat pilihan: Penisilin  Karena treponema mempunyai dinding
peptidoglycan dan tidak membuat β-lactamase
Kalau alergi  Erythromycin atau Doxycycline
Paling baik slow release penicillin (benzathine penicillin), sekali suntik
dosis besar cukup untuk penderita yang sakitnya < 1 tahun.
Pemantauan hasil pengobatan:
Titer tes nonspesifik akan ↓ sampai hilang bila sembuh.
Tes spesifik untuk sifilis akan tetap (+) seumur hidup.
Pada sifilis tertier
Tes nonspesifik tetap (+) walaupun telah diobati.
Komplikasi Terapi

Timbul reaksi Jarisch-Herxheimer, gejalanya


bisa ringan – berat:
hipotensi, sianosis, demam tinggi dan rigor
(kejang) karena matinya treponema dalam
jumlah besar → membebaskan endotoxin.
Biasanya sembuh sendiri (self-limited),
Penting dibedakan dengan reaksi alergi
(alergi : biasanya tidak ada demam).
Your Topic Goes Here
Your subtopic goes here
Transitional Page
Your Topic Goes Here
Your subtopic goes here
Elements
www.animationfactory.com