Anda di halaman 1dari 18

Fraktur Humerus

Dapat terjadi pada :


a. Anak
b. Dewasa
Fraktur epifisis humerus
Adalah fraktur lempeng epifisis tipe II (Salter-Harris)

Mekanisme Trauma
Biasanya terjadi pada anak-anak yang jatuh dalam posisi hiper-ekstensi,
misalnya jatuh pada saat mengendarai sepeda atau kuda.

Klasifikasi fraktur menurut Neer-Horowits :

• Grade I : Pergeseran fraktur kurang daari 5 mm.


• Grade II : Pergeseran epifisis 1/3 terhadap fragmen distal.
• Grade III : Pergeseran 2/3
• Grade IV : Pergeseran melebihi 2/3
Pada foto röntgen ditemukan adanya pemisahann epifisis dan metafisis, dimana epifisis
bersama-sama dengan sebagian metafisis yanng tetap terletak dalam ruang sendi,
sedang kan bagian distal tertarik ke proksimal.
Penatalaksanaan
Fraktur yang masih baru tererutama graade I tidak memerlukan reposisi. Pada grade II
reposisi dapat dilakukan dengan mudah denngan pembiusan umum adn setelah itu
dipasang mitela.

Pada fraktur humerus grade III dan IV harus dilakukan


reposisi dengan pembiusan umum dan
apabila tidak berhasil dilakukan
operasi terbuka dengan fiksasi interna
dengan menggunakan pin kecil.

1. Humeral head superior anatomical neck


2. Lesser tuberosity
3. Greater tuberosity
4. Shaft humerus
Perdarahan pada humerus anak dan dewasa
Fraktur metafisis humerus

Fraktur metafisis biasanya tidak mengalami pergeseran an pada keadaan ini


terapi konservatif merupakan pilihan pengobatan.
Fraktur metafisis dengan pergeseran yang jauh biasanya bagian distal menembus
ke arah muskulus deltoid sampai subkutan. Pada keadaan ini biasanya perlu
dilakukan tindakan operasi untuk melepaskan fragmen.
Fraktur diafisis humerus
Terjadi karen adanya trauma langsung atau trauma putar pada daerah humerus.

Gambaran Klinis
Terdapat pembengkakan dan nyeri pada daerah humerus. Harus diperhatikan
apakah fraktur humerus ini disertai kelumpuhan nervus radialis (jaarang
ditemukan pada anak-anak).

Pengobatan
Pengobatan dengan pemasangan gips sirkuler atau gips bentuk U,
dipertahankannn selama beberapa minggu.
Fraktur suprakkondiler humeri
Mekanisme Trauma
Tipe ekstensi biasnya terjadi pada saat sendi siku berada dalam posisi hiperekstensi atau
sedikit fleksi serta pergelngan tangan dalam posisi dorso fleksi. Sedangkan tipe fleksi terjadi
bila penderita jatuh dan terjadi trauma langsung sendi siku pada distal humeri.

Klasifikasi
• Tipe I : Terdapat fraktur tanpa adanya pergeseran dan hanya berupa retak yang berupa garis.

• Tipe II : Tidak ada pergeseran fragmen, hanya terjadi perubahan sudut antara humerus dan kondilus
lateralis (normal 40°).

• Tipe III : Terdapat pergeseran fragmen tetapi korteks posterior masih utuh serta masih ada kontak
antara kedua fragmen.

• Tipe IV : Pergeseran kedua fragmen dan tidak ada kontak sama sekali.
Fraktur kondilus lateralis humeri
Fraktur ini biasanya terjadi karena trauma tidak langsung dimana tangan dalam
keadaan out-stretched dan lengan bawah dalam keadaan abduksi, sendi siku dalam
keadaan ekstensi.

Diagnosis
Terdapat nyeri pada bagian lateral distal humerus, pembengkakan dan kebiruan.
Dengan pemeriksaan röntgen dapat dilihat adanya pusat ossifikasi.

Pengobatan
Fraktur tanpa pemindahan fragmen cukup dengan istirahat dan pemakaian mitela.

Komplikasi
1. Non union
2. Kubitus valgus
3. Paralisis nervus ulnaris karena valgus
4. Nekrosis avaskuler kapitulum
Fraktur epikondilus medialis (fraktur epifisis medialis)

Mekanisme Trauma

Terjadi fraktur pada saat sendi siku dalam regangan (strain) ke arah valgus yang
menyebabkan tekanan pada epikondilus medialis melalui otot-otot fleksor yang melekat
pada tulang ini.

Klasifikasi
• Tipe 1 : Terdapat fraktur epifisis tanpa pemisahan.
• Tipe 2 : Sedikit terdapat pemisahan.
• Tipe 3 : Terdapat pemisahan yang disertai dislokasi atau tanpa dislokasi pada sendi siku.
• Tipe 4 : Terdapat pemisahan epifisis disertai jebakan dalam sendi tanpa dislokasi.
• Tipe 5 : Terdapat pemisahan epifisis, dislokasi dan jebakan pada sendi siku.
BUKU BACAAN BEDAH

1. The Rationale of operative fracture care joseph Schatzker.Marvin Tile


2. Operative Orhopaedics, Campblee’s
3. Physical examination spine and ekstremitas,Stanley Hoppenfeld MD
4. Clinical Orthopaedi examination, Ronald Mc Rae
5. Kumpulan Kuliah Ilmu Bedah,Binarupa Aksara. Jakarta. 1995.
Reksoprodjo, Soelarto.
6. Textbook of Disorders and Injuries of the Muskuloskeletal System,
3rd edition Williams & Wilkins. Philadelphia. Salter, Robert Bruce
7. Apley’s System of Orthopaedics and Fractures ), 7 edition
Apley, A. Graham ; Solomon, Louis