Anda di halaman 1dari 29

OSLER ANESTESI

Tu m o r M a m m a e S i n i s t r a

Pe m b i m b i n g :

d r. G u n t u r M . Ta q w i n , S p . A n
d r. B u d i H a r t a n t o , S p . A n
T I N J A U A N P U S TA K A
DEFINISI
Kanker payudara (KPD)  keganasan pada jaringan payudara yang dapat berasal dari epitel
duktus maupun lobulusnya (Kemenkes, 2013).

Kanker payudara  tumor ganas yang tumbuh di dalam jaringan payudara. Kanker bisa mulai
tumbuh di dalam kelenjar susu, saluran susu, jaringan lemak maupun jaringan ikat pada payudara
(Sabiston, David. 1995).
FAKTOR PREDISPOSISI
1. Paparan estrogen  Menstruasi yang dimulai pada usia lebih muda, menopause yang
terlambat, dan nuliparitas.
2. Riwayat keluarga dan pribadi  10% dari kanker payudara tentukan secara genetis dalam
kaitan dengan gen BRCA-1, BRCA-2, P53, dan A-T.
3. Riwayat kanker payudara, endometrium, atau kanker ovarium.
(Davey, Patrick. 2005)
STADIUM

(Sabiston, David. 1995)


BIOPSI
1. Biopsi jarum halus atau yang lebih dikenal dengan FNAB dapat dikerjakan secara rawat jalan.
Pemeriksaan sitologi merupakan bagian dari triple diagnostic untuk tumor payudara yang
teraba tidak teraba dengan bantuan penuntun pencitraan.Yang bisa diperoleh dari
pemeriksaan sitologi adalah bantuan penentuan jinak/ganas.
2. Tru-cut Biopsi atau Core Biopsy akan menghasilkan penilaian histopatologi. Tru-cut biopsi
atau core biopsy dikerjakan dengan memakai alat khusus dan jarum khusus no G12-16.
3. Biopsi terbuka dan spesimen operasi akan menghasilkan penilaian histopatologi. Biopsi
terbuka dengan menggunakan irisan pisau bedah dan mengambil sebagian atau seluruh tumor,
baik dengan bius lokal atau bius umum.
4. Pemeriksaan histopatologi merupakan baku emas untuk penentuan jinak/ ganas suatu jaringan
dan bisa dilanjutkan untuk pemeriksaan imunohistokimia.
(Kemenkes, 2013)
PILIHAN ANESTESI PADA TUMOR
MAMMAE
• General Anestesi  LMA
INDIKASI LMA
• Alternatif face mask dan intubasi endotrakheal untuk penanganan jalan nafas
• Penanganan airway selama anestesi umum pada :
– Rutin ataupun emergency
– Radioterapi
– CT-Scan / MRI
– Resusitasi luka bakar
– ESWL
– Adenotonsilektomy
– Bronkhoskopi dengan fiberoptik fleksibel
– Resusitasi neonatal
• Situasi jalan nafas sulit :
– Terencana
– Penyelamatan jalan nafas
– Membantu intubasi endotrakheal
(Morgan, et al., 2002)
KONTRAINDIKASI LMA
1. Resiko meningkatnya regurgitasi isi lambung (tidak puasa).
2. Terbatasnya kemampuan membuka mulut atau ekstensi leher (misalnya artitis
rematoid yang berat atau ankilosing spondilitis), menyebabkan memasukkan
LMA lebih jauh ke hipopharynx sulit.
3. Compliance paru yang rendah atau tahanan jalan nafas yang besar.
4. Obstruksi jalan nafas setinggi level larynx atau dibawahnya.
5. Kelainan pada oropharynx (misalnya hematoma, dan kerusakan jaringan).
6. Ventilasi paru tunggal.

(Morgan, et al. 2002)


JENIS –JENIS LMA
LMA klasik

LMA flexible

LMA proseal

LMA fast track


1. Teknik Klasik/standard
(Brain’s original technique)
MACAM –
2. Inverted/reserve/rotation MACAM
approach TEKNIK
INSERSI LMA
3. Lateral apporoach à
inflated atau deflated cuff
Gambar Teknik Insersi LMA :
• A. LMA dalam keadaan siap untuk diinsersi.
Balon harus dalam keadaan kempes dan rim
membelakangi lubang LMA. Tidak boleh ada
lipatan pada ujung LMA.
• B. Insersi awal LMA dengan melihat langsung,
ujung masker ditekan terhadap palatum
durum. Jari tengah dapat digunakan untuk
menekan dagu kebawah. Masker ditekan
kearah depan terus meju ke dalam pharynx
untuk memastikan bahwa ujungnya tetap datar
dan menolak lidah. Dagu tidak perlu dijaga
agar tetap terbuka bila masker telah masuk
kedalam mulut. Tangan operator yang tidak
terlibat proses intubasi dapat menstabilisasi
occiput.
• C. Dengan menarik jari sebelahnya dan
dengan sedikit pronasi dari lengan bawah,
biasanya dengan mudah akan dapat
mendorong masker. Posisi leher tetap flexi dan
kepala tetap extensi.
• D. LMA ditahan dengan tangan sebelah dan
jari telunjuk kemudian diangkat. Tangan
menekan LMA ke bawah dengan lembut
sampai terasa tahanan.
KENTUNGAN DAN KERUGIAN LMA
DIBANDINGKAN FACE MASK DAN ETT
(AFZAL, 2007)
ILUSTRASI
KASUS
EKSISI PADA TUMOR PAYUDARA
• Definisi
Eksisi  pengambilan seluruh benjolan tanpa menyentuhnya.
Dilakukan pada benjolan baik jinak atau ganas. Bertujuan untuk metode penyembuhan pada
fibroadenoma, dan tindakan diagnosis pemeriksaan penunjang (Biopsy).

• Indikasi
Lesi jinak yang memberikan keluhan atau tidak berhasil dengan terapi konservatif.

• Kontraindikasi
a. Bukan lesi maligna
b. Tidak ada komorbid yang berat
• Sumber: Perkembangan onkologi dan bedah kulit di Indonesia. (2000). Semarang: Badan
penerbit Universitas Diponegoro. 2000:317-20
IDENTITAS
Nama: Ny. SR
Ruangan: Kemuning
No RM: 532267
Usia: 32 tahun
Tanggal lahir: 20 – 07 – 1985 (32 tahun)
Jenis kelamin: Perempuan
Pekerjaan: Ibu rumah tangga
Diagnosis pre op: Tumor Mammae Sinistra
Tindakan: Eksisi
Anastesi: GA
Teknik anastesi: GA / LMA
EVALUASI PRE ANASTESI
Pada anamnesis didapatkan riwayat operasi (-). Riwayat alergi obat/
makanan disangkal. Riwayat sakit jantung, paru, kejang, hepatitis disangkal. Saat ini
tidak ada keluhan demam, batuk, pilek. Gigi palsu / goyang tidak ada. Pasien belum
pernah menjalani riwayat operasi sebelumnya. Makan dan minum terakhir pada
pasien ini yaitu pukul 00.00 sebelum operasi.
PEMERIKSAAN FISIK
– KU : CM (E4V5M6)
– BB: 60 kg
– TD : 120/80, N: 92 x/menit, T: 36.5 0C, RR: 22 x/menit
– Konjungtiva tidak pucat, tidak ikterik, mallapati 2, Ekstensi kepala maksimal, buka mulut
lebih 3 jari, tidak ada gigi yang goyah, berlubang ataupun gigi palsu (ompong)
– Pada pemeriksaan leher tidak terdapat leher pendek, trismus, gangguan fleksi ekstensi
leher
– Pada pemeriksaan palpasi teraba benjolan pada mammae sinistra, mobile, tidak nyeri
tekan.
– Pemeriksaan auskultasi thorax didapatkan bunyi jantung 1-2 normal, tidak ada murmur
dan gallop, bunyi paru vesikuler, tanpa ronki dan wheezing
– Abdomen supel, tidak ada distensi, massa, asites
– Ekstremitas tidak edema, capillary refill <2 detik
– Vertebra :Tidak ada kelainan
HASIL PEMERIKSAAN LAB
• Lekosit: 10.0
• Eritrosit: 4.6
• Hemoglobin: 13.7
• Hematokrit: 40
• Trombosit: 344

APTT Test: 31.6


PT test: 9.4
PASIEN DATANG KE IBS

Pasien datang ke IBS RSUD DR.SOESELO Pukul 08.00 sudah dipasang iv line, Cairan infus RL

Pasien dimasukkan ke ruang OK 3

Pasang monitoring: NIBP dan SpO2 (TD 120/ 70, N 90x/menit, SpO2 99%)

dilakukan general anastesi menggunakan Propofol dan miloz

Periksa rangsangan sensorik dan motoric dan kesadaran

Evaluasi monitoring hemodinamik
KONDISI INTRA OPERATIF
Monitoring Hemodinamik

Hemodinamik relatif stabil
TDS 120 & TDD 70-80 MAP 90- 100, N: 80-90X/menit, SpO2 99% - 100%)

Tindakan eksisi, lakukan pemeriksaan PA pada massa tumor yang telah dieksisi

Monitoring hemodinamik terakhir:
(TD 120/80 mmHg, N: 90x/m, saturasi oksigen 99%. Cairan masuk kristaloid 1000 cc)
PEMANTAUAN DI RECOVERY ROOM
– Tensi, nadi, pernapasan, aktivitas motorik.
– Beri O2 3L/menit nasal canul atau 6L/menit sungkup.
– Bila BS ≤ 2 boleh pindah ruangan.
– Pasien sadar penuh, mual (-), muntah (-), peristaltik usus (+), boleh makan dan minum
sedikit – sedikit.
MANAJEMEN POST OPERATIF
• Awasi tanda vital (tensi, nadi, pernapasan tiap ½ jam).
• Bila kesakitan beri analgetik : injeksi ketorolac 30 mg iv tiap 8 jam
• Bila mual dan muntah beri injeksi Ondansetron 4 mg iv
• Program cairan: infuse RL 20 tpm
• Pasien post op posisi berbaring terlentang
• Bila TD sistole <90mmhg injeksi ephedrine 10 mg iv diencerkan
• Bila HR <60 konsul anestesi
• Bila sakit kepala hebat berkepanjangan, konsul anestesi
PEMBAHASAN
Pasien dengan benjolan pada mammae sinistra
Diagnosis tumor mammae
Lakukan observasi pre anastesi  tanpa penyulit jalan napas
Lakukan teknik anastesi GA dengan pemasangan LMA

Evaluasi TTV dan saturasi O2 Evaluasi perdarahan


Kristaloid Efedrine, as. tranexamat
KESIMPULAN
Kanker payudara (KPD) merupakan keganasan pada jaringan payudara
yang dapat berasal dari epitel duktus maupun lobulusnya. Tindakan yang dilakukan
pada tumor mammae yaitu eksisi. Eksisi merupakan pengambilan seluruh benjolan
tanpa menyentuhnya. Dilakukan pada benjolan jinak maupun ganas. Bertujuan
untuk metode penyembuhan pada fibroadenoma, dan tindakan diagnosis
pemeriksaan penunjang (Biopsy). Teknik anestesi yang dilakukan yaitu General
Anestesi dengan LMA. Dimana salah satu indikasi LMA yaitu sebagai alternatif
face mask dan intubasi endotrakheal untuk penanganan jalan nafas. Selama
operasi berlangsung sampai pasien berada pada recovery room lakukan
monitoring hemodinamik.