Anda di halaman 1dari 40

 PMK 71 TAHUN 2013 TENTANG PELAYANAN

KESH PADA JAMINAN KESEHATAN NASIONAL


 Pasal 12
 (2) HAK FASILITAS KESEHATAN PALING SEDIKIT
TERDIRI ATAS:
 A. MENDAPATKAN INFORMASI TENTANG
KEPESERTAAN, PROSEDUR PELAYANAN,
PEMBAYARAN DAN PROSES KERJA SAMA DENGAN
BPJS KESEHATAN; DAN
 B. MENERIMA PEMBAYARAN KLAIM ATAS
PELAYANAN YANG DIBERIKAN KEPADA PESERTA
PALING LAMBAT 15 (LIMA BELAS) HARI KERJA
SEJAK DOKUMEN KLAIM DITERIMA LENGKAP.
 METODE PEMBAYARAN PROSPEKTIF ADALAH METODE PEMBAYARAN YANG
DILAKUKAN ATAS LAYANAN KESEHATAN YANG BESARANNYA SUDAH
DIKETAHUI SEBELUM PELAYANAN KESEHATAN DIBERIKAN.
 EPISODE ADALAH JANGKA WAKTU PERAWATAN PASIEN MULAI DARI PASIEN
MASUK SAMPAI PASIEN KELUAR RUMAH SAKIT, TERMASUK KONSULTASI DAN
PEMERIKSAAN DOKTER, PEMERIKSAAN PENUNJANG MAUPUN PEMERIKSAAN
LAINNYA. DALAM INA-CBGS HANYA TERDAPAT 2 (DUA) EPISODE YAITU
EPISODE RAWAT INAP DAN RAWAT JALAN.
 EPISODE RAWAT INAP ADALAH SATU RANGKAIAN PELAYANAN JIKA PASIEN
MENDAPATKAN PERAWATAN > 6 JAM DI RUMAH SAKIT ATAU JIKA PASIEN
TELAH MENDAPATKAN FASILITAS RAWAT INAP (BANGSAL/RUANG RAWAT
INAP DAN/ATAU RUANG PERAWATAN INTENSIF) WALAUPUN LAMA
PERAWATAN KURANG DARI 6 JAM, DAN SECARA ADMINISTRASI TELAH
MENJADI PASIEN RAWAT INAP.

 EPISODE RAWAT JALAN ADALAH SATU RANGKAIAN PERTEMUAN KONSULTASI


ANTARA PASIEN DAN DOKTER SERTA PEMERIKSAAN PENUNJANG SESUAI
INDIKASI MEDIS DAN OBAT YANG DIBERIKAN PADA HARI PELAYANAN YANG
SAMA. APABILA PEMERIKSAAAN PENUNJANG TIDAK DAPAT DILAKUKAN PADA
HARI YANG SAMA MAKA TIDAK DIHITUNG SEBAGAI EPISODE BARU.
 PENGELOMPOKAN TARIF 7 KLUSTER RUMAH SAKIT, YAITU : A, B, B PEND,
C, D
 REGIONALISASI, TARIF TERBAGI ATAS 5 REGIONAL YANG DIDASARKAN
PADA INDEKS HARGA KONSUMEN (IHK) DAN TELAH DISEPAKATI BERSAMA
ANTARA BPJS KESEHATAN DENGAN ASOSIASI FASILITAS KESEHATAN
TINGKAT LANJUTAN.

 TERDAPAT PEMBAYARAN TAMBAHAN (TOP UP) DALAM SISTEM INA-CBGS


VERSI 4.0 UNTUK KASUS – KASUS TERTENTU YANG MASUK DALAM
SPECIAL CASEMIX MAIN GROUP (CMG)
 TIDAK ADA PERBEDAAN TARIF ANTARA RUMAH SAKIT UMUM DAN
KHUSUS

 TARIF INA-CBGS MERUPAKAN TARIF PAKET YANG MELIPUTI SELURUH


KOMPONEN SUMBER DAYA RUMAH SAKIT YANG DIGUNAKAN DALAM
PELAYANAN BAIK MEDIS MAUPUN NON-MEDIS.
 COSTING: Proses menghitung biaya dari seluruh
tangkaian perawatan pasien dari masuk hingga
pulang manjadi satu episode pelayanan……..PETUGAS
ADMINISTRASI
 CODING:kegiatan memberikan kode diagnosis utama
dan diagnosis sekunder sesuai dengan ICD-10 serta
memberikan kode prosedur sesuai dengan ICD-9-
CM. Koding sangat menentukan dalam sistem
pembiayaan prospektif yang akan menentukan
besarnya biaya yang dibayarkan ke Rumah Sakit.
PETUGAS REKAM MEDIS
 VERIFIKASI: proses menentukan fakta2 kebenaran
dari proses identifikasi kasus. Verifikazi internal
dibagi menjadi 2 ver. medis dan ver.
Administrasi….DOKTER DAN PETUGAS ADMINISTRASI
 Kegiatan untuk memastikan bahwa
komponen biaya2 yang dikeluarkan dalam
proses perawatan pasien sama dengan proses
pencatatan medis layanan yang diberikan ke
pasien.
 Kegiatannya:
1. Membuat billing
2. Verifikasi administrasi
3. Delivery klaim dan grouper
4. Rekonsiliasi dan penyelesaian Berkas
penyerahan klaim
 Proses mencocokan kelengkapan dokumen yang sesuai dengan syarat pengiriman
berkas klaim ke verifikasi eksternal RS baik hardcopy maupun softcopy
Berkas klaim yang akan diverifikasi berupa hard copy di ranap:
1. SURAT PERINTAH RANAP
2. BILLING RANAP PULANG
3. SEP YANG DITANDA TANGANI PASIEN ATAU KELUARGA
4. COPY BPJS ATAU KTP
5. RESUME MEDIS DITANDATANGANI DPJP
6. BUKTI PELAYANAN PENUNJANG YANG MENCANTUMKAN DIAGNOSE DAN
PROSEDUR SERTA DITANDATANGANI OLEH DPJP
7. LAPORAN OPERASI
Berkas klaim yang akan diverifikasi berupa hard copy di RAJAL:
1. SEP TERCANTUM DIAGNOSA TANDA TANGAN DPJP, DAN TTD PASIEN
2. BILLING RAJAL
3. RESUME MEDIS YANG DITANDATANGANI OLEH DPJP (IGD/ODC)
4. BUKTI PELAYANAN PENUNJANG YANG MENCANTUMKAN DIAGNOSE DAN
PROSEDUR SERTA DITANDATANGANI OLEH DPJP
5. LAPORAN OPERASI
BERKAS KLAIM YANG AKAN DIVERIFIKASI BERUPA SOFTCOPY:
1 FILE TXT
2. EKSPEDISI BERKAS EMAIL
 PROSES MENYAMAKAN PRESEPSI VERIFIKASI
INTERNAL DAN EKSTERNAL BAIK SECARA
JUMLAH MAUPUN KUALITAS DATA
 MANFAATNYA:
1. MEMISAHKAN DATA PENDING DAN LAYAK
KALIM
2. MENCARI DATA SEVERITY LEVEL III
3. MENGETAHUI POSISI DOWNCODING
 KEGIATAN MEMBERIKAN KODE DIAGNOSIS
UTAMA DAN DIAGNOSIS SEKUNDER SESUAI
DENGAN ICD-10 SERTA MEMBERIKAN KODE
PROSEDUR UTAMA MAUPUN SEKUNDR SESUAI
DENGAN ICD-9-CM. KODING SANGAT
MENENTUKAN DALAM SISTEM PEMBIAYAAN
PROSPEKTIF YANG AKAN MENENTUKAN
BESARNYA BIAYA YANG DIBAYARKAN KE
RUMAH SAKIT.
 DIAGNOSIS UTAMA ADALAH DIAGNOSIS
AKHIR/FINAL YANG DIPILIH DOKTER PADA HARI
TERAKHIR PERAWATAN DENGAN KRITERIA PALING
BANYAK MENGGUNAKAN SUMBER DAYA ATAU
HARI RAWATAN PALING LAMA
 CIRI DIAGNOSIS UTAMA
1. SELALU DITETAPKAN AKHIR PERAWATAN PASIEN
2. JIKA TERDAPAT LEBIH DARI DIAGNOSIS MAKA
DIPILIH YANG PALING BANYAK MENGGUNAKAN
sdm, BAHAN HABIS PAKAI, PERALATAN MEDIK,
TES PEMERIKSAAN DLL

 .
 DIAGNOSIS SEKUNDER ADALAH DIAGNOSIS YANG
MENYERTAI DIAGNOSIS UTAMA PADA SAAT PASIEN MASUK
ATAU YANG TERJADI SELAMA EPISODE PELAYANAN.
DIAGNOSIS SEKUNDER MERUPAKAN KO-MORBIDITAS
ATAUPUN KOMPLIKASI.
 KOMORBIDITAS ADALAH PENYAKIT YANG MENYERTAI
DIAGNOSIS UTAMA ATAU KONDISI PASIEN SAAT MASUK
DAN MEMBUTUHKAN PELAYANAN/ASUHAN KHUSUS
SETELAH MASUK DAN SELAMA RAWAT. DIABETES,
HIPERTENSI
 KOMPLIKASI ADALAH PENYAKIT YANG TIMBUL DALAM
MASA PENGOBATAN DAN MEMERLUKAN PELAYANAN
TAMBAHAN SEWAKTU EPISODE PELAYANAN, BAIK YANG
DISEBABKAN OLEH KONDISI YANG ADA ATAU MUNCUL
AKIBAT DARI PELAYANAN YANG DIBERIKAN KEPADA
PASIEN, EXP WOUND INFECTION, PNEUMONIA
 PROSEDUR UTAMA (PRINCIPAL PROCEDURE)
PROSEDUR UTAMA ADALAH PROSEDUR
TINDAKAN YANG PALING BANYAK
MENGHABISKAN SUMBER DAYA ATAU YANG
MENYEBABKAN HARI RAWATAN PALING LAMA
DAN BIASANYA BERHUBUNGAN ERAT DENGAN
DIAGNOSA UTAMA.
 PROSEDUR SEKUNDER ADALAH SELURUH
SIGNIFIKAN PROSEDUR TINDAKAN YANG
DIJALANKAN PADA PASIEN RAWAT INAP ATAU
RAWAT JALAN, MEMBUTUHKAN PERALATAN
SPECIAL ATAU DIKERJAKAN OLEH STAF TERLATIH
DAN BERPENGALAMAN,EXP X RAY, CPR, LAB TEST,
IV THERAPY, PHYSIOTHERAPY
 TANPA DOKUMENTASI REKAM
MEDIS>>>>KODING TIDAK BISA DILAKUKAN
 KELENGKAPAN RESUME MEDIS
 KETELITIAN DAN KETEPATAN KODING
 KOMUNIKASI DOKTER DAN KODING
 HASIL AKURAT DAN LENGKAP
 ,MENCERMINKAN EPISODE PERAWATAN
PASIEN
 PENULISAN DIAGNOSA DAN PROSEDUR TIDAK
BOLEH DISINGKAT (RESUME MEDIS)
 HARUS JELAS DAN RINCI
 CATATAN HARUS DIBACA DAN TIDAK BOLEH
DIHAPUS
 DATA DEMOGRAFI PASIEN
 RESUME MEDIS
 LAPORAN OPERASI
 HASIL PEMERIKSAAN PENUNJANG
 CATATAN PERKEMBANGAN PASIEN
TERINTREGASI
 DOKTER
TUGAS DAN TANGGUNG JAWAB DOKTER ADALAH MENEGAKKAN
DAN MENULISKAN DIAGNOSIS PRIMER DAN DIAGNOSIS SEKUNDER
SESUAI DENGAN ICD- 10, MENULIS SELURUH
TINDAKAN/PROSEDUR SESUAI ICD-9-CM YANG TELAH
DILAKSANAKAN SERTA MEMBUAT RESUME MEDIS PASIEN SECARA
LENGKAP DAN JELAS SELAMA PASIEN DIRAWAT DI RUMAH SAKIT.
 KODER
TUGAS DAN TANGGUNG JAWAB SEORANG KODER ADALAH
MELAKUKAN KODIFIKASI DIAGNOSIS DAN TINDAKAN/PROSEDUR
YANG DITULIS OLEH DOKTER YANG MERAWAT PASIEN SESUAI
DENGAN ICD-10 UNTUK DIAGNOSIS DAN ICD-9-CM UNTUK
TINDAKAN/PROSEDUR YANG BERSUMBER DARI REKAM MEDIS
PASIEN. APABILA DALAM MELAKUKAN PENGKODEAN DIAGNOSIS
ATAU TINDAKAN/PROSEDUR KODER MENEMUKAN KESULITAN
ATAUPUN KETIDAKSESUAIAN DENGAN ATURAN UMUM
PENGKODEAN, MAKA KODER HARUS MELAKUKAN KLARIFIKASI
DENGAN DOKTER
 MENENTUKAN KODING BERDASARKAN ICD-
10 UNTUK DIAGNOSIS DAN ICD-9-CM UNTUK
TINDAKAN/PROSEDUR
 BERTANGGUNG JAWAB THD KETEPATAN
KODING DIAGNOSIS DAN TINDAKAN PADA
KLAIM JKN
 MENGIKUTI STANDAR RESMI WHO Morbidity
Reference Group
 MENGIKUTI STANDAR RESMI ATURAN KODING
ICD-10 DAN ICD-9-CM
 PADA KASUS bayi lahir (0-28) DATA BERAT
BADAN HARUS DIMASUKAN DALAM GRAM
 GUNAKAN KODE P (PERINATAL) UNTUK
DIAGNOSE UTAMA JIKA UMUR KURANG DARI
28 HARI,
 DIAGNOSIS/TINDAKAN TIDAK DITULIS
 DIAGNOSIS/TINDAKAN TIDAK SPESIFIK
 DIAGNOSIS/TINDAKAN TIDAK LENGKAP
 TULISAN DOKTER TIDAK TERBACA
 SINGKATAN TIDAK TERSTANDAR
 PROSEDUR TIDAK DILAKUKAN TAPI DI
KODING
 PROSEDUR DILAKUKAN TAPI TIDAK DI
KODING
 SALAH KODING
1. PENCATATAN IMFORMASI DIAGNOSIS
• DOKTER HARUS MEMILIH KONDISI UTAMA
UNTUK DICATAT
• DIAGNOSA HARUS MEMPUNYAI NILAI
INFORMATIF SESUAI KATEGORI ICD SPESIFIK:
a. Acute Appendicitis With Perporation
b. Diabetic Catarac, Insulin-dependent
c. Meningococcal Pericarditis
d. Antenatal Care For Pregnancy-induced
Hypertension
e. Osteoarthiritis Of Hip Due To An Old Hip
Fracture
f. Third-degree Burn Of Palm Of Hand
2. PEDOMAN PEMBERIAN KONDISI UTAMA DAN KONDISI LAIN
 KONDISI UTAMA DAN KONDISI LAIN YANG RELEVAN
HARUS DICATAT OLEH DOKTER, DAN KODER MEMBERI
KODE PADA KONDISI TERSEBUT. BILA KONDISI
PENCATATAN UTAMA SUDAH TIDAK KONSISTEN ATAU
SALAH CATAT, HARUS DIKEMBELIKAN UTK PENJELASAN.
BILA GAGAL MENDAPATKAN KLARIFIKASI PERATURAN
MB1 S/D MB5 AKAN MENOLONG KODER
 SISTEM DUAL-KLASIFIKASI KODE DAGGER (†) DAN
ASTERISK (*) HARUS DIGUNAKAN SEBAGAI KONDISI
UTAMA, KARENA KODE-KODE TERSEBUT MENANDAKAN
DUA PATHWAYS YANG BERBEDA UNTUK SATU KONDISI
Contoh :
Measles pneumonia = B05.2† J17.1*
Pericarditis tuberculosis = A18.8† I32.0*
NIDDM karatak = E11.3† H28.0*
 SYMPTOMS (GEJALA), TANDA DAN TEMUAN ABNORMAL
DAN SITUASI YANG BUKAN PENYAKIT :HATI-HATI DALAM
MENGKODE DIAGNOSIS UTAMA UNTUK BAB XVIII (KODE
“R”) DAN XXI (KODE “Z”) UNTUK KASUS RAWAT INAP.
 KODE KATEGORI KOMBINASI
Dalam ICD 10, ada kategori tertentu dimana dua kondisi atau kondisi utama dan
sekunder yang berkaitan dapat digambarkan dengan satu kode.
Kondisi utama : Renal failure
Kondisi lain : Hypertensive renal disease
Diberi kode Hypertensive renal disease with renal failure (I12.0)

 KODE KONDISI MULTIPLE


Pada suatu episode perawatan dengan kondisi multiple (injury, sequelae, HIV),
kondisi yang nyata lebih berat dan membutuhkan resources lebih dari yang lain
harus dicatat sebagai kondisi utama. Bila terdapat kondisi “Multiple ….” dan tidak
ada kondisi tunggal yang menonjol, diberi kode “multiple……..” dan kode
sekunder dapat ditambahkan untuk daftar kondisi individu Kode ini diterapkan
terutama pada yang berhubungan dengan penyakit HIV, Cedera dan Sequelae

 KODE MORBIDITAS PENYEBAB EKSTERNAL


Untuk cedera dan kondisi lain karena penyebab eksternal, kedua sifat dasar
kondisi dan keadaan penyebab eksternal harus diberi kode.
Biasanya sifat dasar diklasifikasi pada BAB XIX (S00-T98). Kode penyebab external
pd BAB XX (V01-Y98) digunakan sebagai kode tambahan
contoh :
Kondisi utama : Fraktur colum femoris karena jatuh tersandung pd trotoar yang
tidak rata.
 RULE MB1 :
Kondisi minor direkam sebagai ”KONDISI utama”
(main condition), kondisi yang lebih bermakna
direkam sebagai ”diagnosis sekunder” (other
condition).
Diagnosis utama adalah kondisi yang relevan bagi
perawatan yang terjadi, dan jenis specialis yang
mengasuh pilih kondisi yang relevan sebagai
”Diagnosis utama”
CONTOH:
K.UTAMA: DYSPEPSIA
KONDISI LAIN: ACUTE APENDICSITIS ACUT ABDOMINAL
PAIN
PROSEDUR: APPENDICTOMY
SPESIALIS: BEDAH DIGESTI
MAKA RESELEKSI: ACUTE APENDICSITIS SEBAGAI
KONDISI UTAMA
 RULE MB2 :
 Beberapa kondisi yang direkam sebagai diagnosis utama
- Jika beberapa kondisi yang tidak dapat dikode bersama dicatat
sebagai diagnosis utama dan informasi dari rekam medis
menunjukkan salah satu dari diagnosis tersebut sebagai
diagnosis utama maka pilih diagnosis tersebut sebagai diagnosis
utama.
- Jika tidak ada informasi lain, pilih kondisi yang disebutkan
pertama
 Contoh :
 1Kondisi Utama : Osteoporosis ,
Bronchopnemonia ,
Rheumatism
Bidang specialisasi : Penyakit Paru
Reseleksi Diagnosis utama Candida Bronchopneumonia (J
18.9)
 2. KondisiUtama : Ketuban pecah dini, presentasi bokong dan
anemia
Kondisi Sekunder : Partus spontan
Reseleksi Diagnosis Utama Ketuban pecah dini
 RULE MB3 :
Kondisi yang direkam sebagai diagnosis utama
menggambarkan suatu gejala yang timbul akibat suatu
kondisi yang ditangani.
Suatu gejala yang diklasfikasikan dalam Bab XVIII (R.-),
atau suatu masalah yang dapat diklasfikasikan dalam bab
XXI (Z) dicatat sebagai kondisi utama, sedangkan informasi
di rekam medis, terekam kondisi lain yang lebih
menggambarkan diagnosis pasien dan kepada kondisi ini
terapi diberikan maka reseleksi kondisi tersebut sebagai
diagnosis utama.
 Contoh:
Diagnosis Utama : Hematemis
Diagnosis Sekunder : Varises esohpagus. Cirrhosis
Hepatis
Specialis : penyakit dalam konsul ke bedah
Reseleksi sebagai diagnosis utama. Varises esohpagus
pada Cirrhosis Hepatis (K74.╶† 198.2*
 RULE MB4 :
Spesifisitas
Bila diagnosis yang terekam sebagai diagnosis
utama adalah istilah yang umum, dan ada istilah
lain yang memberi informasi lebih tepat tentang
topografi atau sifat dasar suatu kondisi, maka
reseleksi kondisi terakhir sebagai diagnosis
utama : Contoh:
Diagnosis Utama : Cerebrovascular accident
Diagnosis Sekunder : Diabetes mellitus,
Hypertensi, Cerebral haemorrhage
Reseleksi cerebral haemorrhage sebagai
diagnosis utama ( I61.9.)
 RULE MB5 :
 Alternatif diagnosis utama
 Apabila suatu gejala atau tanda dicatat sebagai kondisi utama
yang karena satu dan lain hal gejala tersebut dipilih sebagai
kondisi utama.
 Bila ada 2 atau lebih dari 2 kondisi direkam sebagai pilihan
diagnostik sebagai kondisi utama, pilih yang pertama disebut.
 Contoh :
Diagnosis Utama : Sakit kepala karena stess dan tegang atau
sinusitis akut
Diagnosis Sekunder : -
Reseleksi sakit kepala headache (R51) sebagai Diagnosis utama
Diagnosis Utama : akut kolesistitis atau akut pankreatitis
Diagnosis Sekunder : -
Reseleksi akut kolesistitis K81.0 sebagai diagnosis utama
 DIBAGI MENJADI 2:
1. VER MEDIS/DOKTER UMUM
2. VER ADMINISTRASI/SI MANAJEMEN RS
VER MEDIS BERTUGAS:
1. MEMASTIKAN DIAGNOSIS DALAM RESUME SESUAI DENGAN
KELENGKAPAN BERKAS YANG ADA ( LAP OPERASI, LAPORAN
TINDAKAN, PEMERIKSAAN PENUNJANG)
2. MENGIDENTIFIKASI ADANYA DIAGNOSIS SEKUNDER YANG
DIDAPATKAN SESUAI TERAPI YANG DIBERIKAN/KESESUAIAN
SEVERITY LEVEL
3. MENGIDENTIFIKASI KESESUAIAN ANTARA TINDAKAN YANG
DIBERIKAN DENGAN BERKAS ADMINISTRASI /BILLING
4. MELAKUKAN KORDINASI DENGAN DPJP ATAU DOKTER
KONSULTAN LAIN MENGENAI DIAGNOSIS ATAU TINDAKAN
5. MEMPERHATIKAN KASUS DENGAN SPESIAL CMGs YAITU SPESIAL
DRUGS, SPESIAL PROSEDUR, SPESIAL INVESTIGASI, SPESIAL
PROSTHESIS, SUB AKUT GROUP
 TAHAP 1
1. KEBENARAN DATA PASIEN
2. KEBENARAN KELAS PERAWATAN
3. KEBENARAN PERIODE PERAWATAN
4. KELENGKAPAN DATA MEDIS (ANAMNESIS,
PF, PENUNJANG)
5. KELENGKAPAN DIAGNOSIS, TATALAKSANA
TINDAKAN
 TAHAP 2
DIAGNOSIS SEKUNDER

IDENTIFIKASI DIAGNOSIS DAN TERAFI YANG


SIGNIFIKAN
 TAHAP 3
1. PROSES PENCARIAN: TINDAKAN DAN ATAU
PENGOBATAN (IDENTIFIKASI TATALAKSANA
DAN ATAU TIND OPERASI YANG DIBERIKAN
SELAMA PERAWATAN DI RS
2. PROSES KONFIRMASI: IDENTIFIKASI
KESESUAIAN TINDAKAN DENGAN BILLING
3. SESUAI PROSES INPUT DALAM INA
CBGs
 KEBENARAN DATA ENTRI SEP DAN KEPERSERTAAN
DI INA CBGs
 KELENGKAPAN BUKTI PELAYANAN YANG
MENCANTUMKAN DIAGNOSA DAN PROSEDUR
SERTA DITANDATANGANI OLEH DPJP
 BERKAS PENDUKUNG LAIN YANG DIPERLUKAN;
PENGANTAR TINDAKAN, PENGANTAR OP
KATARAK
 REKONSILIASI DATA TXT
 KONFIRMASI DATA YANG TIDAK LAYAK/PENDING
 FINALISASI TAGIHAN
 Lebih menyiapkan diri , dimulai dengan
membuat tim casemix terstandar
 Memaksimalkan cross functional teamwork
 Sosialisasi pada semua pelaksana proses
 Ada Tempat khusus untuk melaksanakan
proses
 Membuat standar2 proses dari masing-masin
tahapan proses
 Lebih menjalin komunikasi dengan verifikator
eksternal (menjadi patner)
 DIBUAT UNIT YANG TERDIRI DARI PERSONIL
MULTIDISIPLIN (DOKTER, REKAM MEDIS,
ADMINISTRASI)
 DITETAPKAN TARGET KERJA( BAIK CASEMIX
ITU SENDIRI DAN UNIT LAIN YANG BERKAITAN
SEPERTI KEUANGAN DAN RWAT INAP)
 EVALUASI HASIL KERJA
 PENINGKATAN PEMANPAATAN IT UNTUK
KECEPATAN DAN KETEPATAN PROSES KLAIM
 MEMBANGUN TIM RUMAH SAKIT,
manajemen dan profesi serta komponen rumah sakit yang lain harus
mempunyai persepsi dan komitmen yang sama serta mampu bekerja sama
untuk menghasilkan produk pelayanan rumah sakit yang bermutu dan cost
efective
 MENINGKATKAN EFISIENSI ,
efisiensi tidak hanya dilakukan pada sisi proses seperti penggunaan sumber
daya farmasi, alat medik habis pakai, lama rawat, pemeriksaan penunjang
yang umumnya menjadi area profesi tetapi juga pada sisi input seperti
perencanaan dan pengadaan barang dan jasa yang umumnya menjadi
area/tanggung jawab menejemen.
 MEMPERBAIKI MUTU REKAM MEDIS ,
Tarif INA-CBGs sangat ditentukan oleh output pelayanan yang tergambar
pada diagnosis akhir (baik diagnosis utama maupun diagnosis sekunder) dan
prosedur yang telah dilakukan selama proses perawatan. Kelengkapan dan
mutu dokumen rekam medis akan sangat berpengaruh pada koding,
grouping dan tarif INA-CBGs.
 MEMPERBAIKI KECEPATAN DAN MUTU KLAIM,
Kecepatan dan mutu klaim akan mempengaruhi cash flow rumah sakit. Kecepatan
klaim sangat dipengaruhi oleh kecepatan penyelesaian berkas rekam medis.
Sehingga rumah sakit harus menata sistem pelayanan rekam medis yang baik agar
kecepatan dan mutu rekam medis bisa memperbaiki dan meningkatkan cash flow
rumah sakit.
 MELAKUKAN STANDARISASI,
 Perlu terus dibangun standard input dan proses di tingkat rumah sakit. Standard
input misalnya farmasi, alat medik habis pakai . Perlu dibuat formularium rumah
sakit (perencanaan), perlu dibuat standar pengadaan obat rumah sakit (e katalog
dan atau lelang), standar penulisan resep misal dokter hanya menulis nama
generik sedangkan obat yang diberikan berdasar hasil/perolehan pengadaan.
Standar proses misalnya PPK/SPO dan atau clinical pathway. Keputusan/penetapan
standar proses akan sangat berpengaruh pada pembuatan keputusan pada
standar input.
 MEMBENTUK TIM CASEMIX/TIM INA-CBG RUMAH SAKIT
Tim Casemix/Tim INA-CBGs rumah sakit akan menjadi penggerak membantu
melakukan sosialisasi, monitoring dan evaluasi implementasi INA-CBGs di rumah
sakit.
 MEMANFAATKAN DATA KLAIM.
data ina-cbgs rumah sakit dapat digunakan/dimanfaatkan tidak hanya
untuk klaim tetapi juga dapat digunakan untuk menilai performance
rumah sakit dan performance sdm khususnya profesi dokter. data klaim
dapat digunakan sebagai bahan untuk pengambilan
keputusan/kebijakan tingkat rumah sakit.
 MELAKUKAN REVIU POST-CLAIM
Reviu post-claim yang dilakukan secara berkala sangat penting dalam
menentukan kebijakan yang berkaitan dengan pengendalian biaya dan
mutu dalam pelayanan yang akan diberikan. Idealnya kegiatan reviu ini
melibatkan seluruh unit yang ada di rumah sakit baik manajemen,
tenaga professional, serta unit penunjang maupun pendukung dan
dilakukan dengan data yang telah dianalisis oleh tim Casemix rumah
sakit.
 PEMBAYARAN JASA MEDIS
Perubahan metode pembayaran rumah sakit dengan metode paket INA-
CBGs sebaiknya diikuti dengan perubahan pada cara pembayaran jasa
medis. Pembayaran jasa medis sebaiknya disesuaikan dengan
menggunakan sistem remunerasi berbasis kinerja.

Anda mungkin juga menyukai