Anda di halaman 1dari 28

Pembimbing:

dr. A.Bau Tune Mangkau

Supervisor:
dr. John Pieter Jr. Sp.B (K) ONK
Nama : Umar Dg. Beta
Jenis kelamin: Laki-laki
Tanggal lahir: 01-12-1946
No.RM : 61.23.19
MRS : 18-07-2013
Jaminan : Jamkesmas
R. Perawatan : L2 B.Onk K9 B1
 Keluhan utama: benjolan pada leher
 Riwayat penyakit sekarang: Dialami sejak +1
tahun yang lalu, awalnya benjolan sebesar biji
jagung. Kemudian membesar secara perlahan-
lahan hingga seperti sekarang sebesar bola tenis
pada leher sebelah kiri dan dalam 1 bulan ini,
muncul benjolan di leher sebelah kanan namun
ukurannya lebih kecil seperti kelereng. Tidak ada
nyeri, tidak ada gangguan menelan, perubahan
suara tidak ada, mata menonjol (-) jantung
berdebar-debar(-) sering berkeringat (-) nafsu
makan meningkat (-), cepat lelah (-). Adanya
benjolan di bagian tubuh lainnya disangkal.
Riwayat terpapar radiasi (+)
Riwayat merokok (+)
Riwayat penyakit yang sama sebelumnya (+) ibu
tiri
Pasien tinggal di daerah pantai
Riwayat keluarga dengan keluhan dan penyakit
yang sama (-)
Riwayat mendapat obat tyrax selama 1 bulan tapi
sudah di stop krena T3 normal.
 Keadaan umum: sakit sedang/gizi
baik/composmentis

 Status vitalis:
TD : 120/70mmHg
N : 84 x/menit
P : 20 x/menit
S : afebris
• Kepala
Konjungtiva : anemis (-), injeksio (-)
Sklera : ikterus (-)
Bibir : tidak ada sianosis
Gusi : perdarahan (-)
• Mata
pupil bulat, isokor, θ 3mm/3mm, RC +/+
• Leher
Kelenjar getah bening : tidak terdapat pembesaran
DVS : R-2 cmH20
Deviasi trakea : tidak ada
Tidak didapatkan massa tumor
Tidak ada nyeri tekan.
 Thoraks
Paru
Inspeksi : simetris kiri dan kanan
Palpasi : nyeri tekan (-), massa tumor (-), fremitus
raba kiri=kanan
Perkusi : sonor R=L
Auskultasi : Bunyi pernapasan vesikuler R=L
Bunyi tambahan : ronkhi -/- Wheezing -/-
Jantung
Inspeksi : ictus cordis tidak tampak
Palpasi : ictus cordis teraba di ICS V midclavicularis (S)
Perkusi : batas jantung dalam batas normal
auskultasi : S1/S2 reguler,murmur (-)
 Abdomen :
Inspeksi : datar, ikut gerak napas
Auskultasi : peristaltik (+) kesan normal
Palpasi : MT(-), NT(-)
Hepar/Lien tidak teraba.
Perkusi : timpani
 Status lokalis
Regio Colli Anterior
I : tampak massa tumor sebesar telur ayam,
batas tegas, warna sama dengan sekitar,
ikut gerak menelan
P : teraba massa tumor ukuran 6x5 cm,
konsistensi padat kenyal, batas tegas,
ikut gerak menelan, pembesaran KGB (-)
Pemeriksaan Hasil Nilai normal Pemeriksaan Hasil Nilai
normal
WBC 8,3 4,00-10,0
CT 8’00” 4’00’-
RBC 4,41 4,00-6,00 10’00’
HGB 13,6 12,0-16,0 BT 2’00” 1’00”-7’00”

HCT 40,6 37,0-48,0 PT 11,9 control 10-14


13,0
PLT 297 150-400
APTT 26,9 control 22,0-30,0
Ureum 21 10-50 25,9
Na 133 136-145
Kreatinin 0,8 L(<1,3);
P(<1,1) K 4,2 3,5-5,1
GOT 22 < 38
Cl 113 97-111
GPT 21 < 41

Albumin 4,1 3,5-5,0

Asam urat 5,7 3,0-7,0

GDS 108 140


PEMERIKSAAN HASIL NILAI RUJUKAN
FT4 0,70 0,932- 1,71
TsHs 1,31 0,270- 4,20
KESAN HIPERTIROIDISME

PEMERIKSAAN HASIL NILAI RUJUKAN


FT4 1,46 0,932- 1,71
TsHs 0,222 0,270- 4,20
KESAN HIPERTIROID SUBKLINIS
Klinis Tampak benjolan sebesar bola
tenis, ikut gerak menelan
Mikroskopik Saat FNA teraspirasi cairan koloid
sebanyak 2cc, apusan aspirat
terdiri dari sebaran cyst makrofag,
dengan latar belakang massa
koloid tebal

KESAN Suspek Struma koloides cystic


Kesan:
 Nodul thyroid kanan

 Massa thyroid kiri


 Struma Nodusa Non-Toksik bilateral.
 Total Thyroidectomi
 Struma disebut juga goiter adalah suatu
pembengkakan pada leher oleh karena pembesaran
kelenjar tiroid akibat kelainan glandula tiroid dapat
berupa gangguan fungsi atau perubahan susunan
kelenjar dan morfologinya

 Dampak struma terhadap tubuh terletak pada


pembesaran kelenjar tiroid yang dapat
mempengaruhi kedudukan organ-organ di
sekitarnya
 Terletak di bagian bawah leher
 Memiliki dua bagian lobus yang
dihubungkan oleh ismus yang
masing-masing berbetuk
lonjong berukuran panjang 2,5-
5 cm, lebar 1,5 cm, tebal 1-1,5
cm dan berkisar 10-20 gram
 Berperan penting untuk
mengatur metabolisme dan
bertanggung jawab atas
normalnya kerja setiap sel
tubuh
 Kelenjar ini memproduksi
hormon tiroksin (T4) dan
triiodotironin (T3) dan
menyalurkan hormon tersebut
ke dalam aliran darah
 Terdapat 4 atom yodium di
setiap molekul T4 dan 3 atom
yodium pada setiap molekul T3
 Pertumbuhan sel, perkembangan dan
metabolisme energi
 Mempengaruhi pertumbuhan pematangan
jaringan tubuh dan energi
 Mengatur kecepatan metabolisme tubuh dan
reaksi metabolik
 Menambah sintesis asam ribonukleat (RNA)
 Menambah produksi panas, absorpsi intestinal
terhadap glukosa
 Merangsang pertumbuhan somatis dan berperan
dalam perkembangan normal sistem saraf pusat.
 Tidak adanya hormon-hormon ini, membuat
retardasi mental dan kematangan neurologik
timbul pada saat lahir dan bayi
terjadi akibat kekurangan yodium yang dapat
menghambat pembentukan hormon tiroid oleh
kelenjar tiroid sehingga terjadi pula
penghambatan dalam pembentukan TSH oleh
hipofisis anterior. Hal tersebut memungkinkan
hipofisis mensekresikan TSH dalam jumlah yang
berlebihan. TSH kemudian menyebabkan sel-sel
tiroid mensekresikan tiroglobulin dalam jumlah
yang besar (kolid) ke dalam folikel, dan kelenjar
tumbuh makin lama makin bertambah besar.
Akibat kekurangan yodium maka tidak terjadi
peningkatan pembentukan T4 dan T3, ukuran
folikel menjadi lebih besar dan kelenjar tiroid
dapat bertambah berat sekitar 300-500 gram
 Defisiensi iodium
penderita penyakit struma sering terdapat di
daerah yang kondisi air minum dan tanahnya
kurang mengandung iodium, misalnya daerah
pegunungan.
 Kelainan metabolik kongenital yang menghambat
sintesa hormon tyroid.
 Penghambatan sintesa hormon oleh zat kimia
(seperti substansi dalam kol, lobak, kacang
kedelai).
 Penghambatan sintesa hormon oleh obat-obatan
(misalnya : thiocarbamide, sulfonylurea dan
litium).
 Berdasarkan Fisiologisnya
1. Eutiroidisme
2. Hipotiroidisme
3. Hipertiroidisme

 Berdasarkan Klinisnya
1. Struma Toksik
2. Struma Non-Toksik
 Anamnesis
Umumnya asimptomatis. Walaupun sebagian struma
nodosa tidak mengganggu pernafasan karena
menonjol ke depan, sebagian lain dapat
menyebabkan penyempitan trakea bila
pembesarannya bilateral. Struma nodosa unilateral
dapat menyebabkan pendorongan sampai jauh ke
arah kontra lateral. Pendorongan demikian mungkin
tidak mengakibatkan gangguan pernafasan.
Penyempitan yang berarti menyebabkan gangguan
pernafasan sampai akhirnya terjadi dispnea dengan
stridor inspirator. Keluhan yang ada ialah rasa berat
di leher. Sewaktu menelan trakea naik untuk menutup
laring dan epiglotis sehingga terasa berat karena
terfiksasi pada trakea.
Pemeriksaan fisis
 Inspeksi : leher dibatasi di cranial oleh tepi rahang bawah, di
kaudal oleh kedua tulang selangka dan tepi cranial sternum,
di lateral oleh pinggir depan m. trapezius kiri dan kanan.
Kedua m.sternocleidomastoideus selalu jelas terlihat, dan
pada garis tengah dari cranial ke kaudal terdapat tulang
hyoid serta kartilago tiroid, krikoid, dan trakea.
 Palpasi : palpasi dapat dilakukan pada pasien dalam sikap
duduk atau berbaring, dengan kepala dalam sikap fleksi
ringan supaya regangan otot pita leher tidak mengganggu
palpasi. Pada sikap duduk dilakukan pemeriksaan dari
belakang penderita maupun dari depan. Sedangkan pada
sikap berbaring digunakan bantal tipis di bawah kepala.
Tulang hyoid, kartilago tiroid dan krikoid sampai cincin kedua
trakaea biasanya mudah diraba di garis tengah. Cincin trakea
yang lebih kaudal makin sukar diraba karena trakea
mengarah ke dorsal. Pada gerakan menelan, seluruh trakea
bergerak naik turun. Satu-satunya struktur lain yang turut
dengan gerakan ini adalah kelenjar tiroid atau sesuatu yang
berasal dari kelenjar tiroid
 Tes Fungsi Hormon
 Foto Rontgen leher
 Ultrasonografi (USG) tiroid
 Scan tiroid
 Biopsi FNA
 Pemberian Tiroksin dan obat Anti-Tiroid
 Pembedahan
 Iodium Radioaktif