Anda di halaman 1dari 43

BASIL GRAM POSITIF

BACILLUS
• Gram positif basil
• Menghasilkan endospora
• Hidup ditanah, air, debu
• Strict aerob / anaerob fakultatif
• Sering sbg kontaminan
• Ada yang menyebabkan keracunan
• Hasilkan AB basitrasin
Bacillus anthracis
• Menyebabkan anthrax : penyakit herbivora
pada domba dan sapi
• Di isolasi R. Koch 1877
• Infeksi pada manusia :
– Luka / abrasi
– Inhalasi
– Ingesti
Morfologi dan Fisiologi
• Batang lurus 1-1,2 X 3-5 um
• Spora oval dengan lokasi sentral
• Non motil
• Spora dibentuk pada :
– Kultur, tanah
– Jaringan dan eksudat hewan mati
• Spora tdk dibentuk dlm darah dan jaringan hidup
• Tumbuh pada pH 7,0 – 7,4
• Suhu pertumbuhan 37 C (15-40 C)
Struktur Antigenik
• Polipeptida kapsul
• Antigen somatik polisakarida
• Toksin protein kompleks, 3 komponen :
– Antigen protektif (PA)
– Faktor letal (LF)
– Faktor edema (EF)
• PA + LF : menyebabkan kematian
• PA + EF : edema terlokalisir
RESISTENSI
• Spora tahan pengaruh :
– Fisika
– Kimia
• Suhu 120 C, 15 menit akan inaktif
• Sel vegetatif rusak 54 C selama 30 mnt
IDENTIFIKASI
INFEKSI
• ANIMAL
– Reservoir anthrax ; tanah (sporulasi)
– Infeksi binatang : septicemia – 80% mati
• MANUSIA
– Insiden anthrax rendah
– Kasus agrikultur : kontak dg hewan mati
– Kasus industri : kontaminasi produk
PATOGENESIS
• Kutaneous route (>95% kasus)
– Abrasi / luka : respon radang
– 2-5 hari timbul papula : cairan biru hitam
– Lesi dapat ditemukan pada tangan, lengan,
kepala
• Inhalasi : paru – nodus lymph ; nekrosis
• Ingesti daging terinfeksi : ulcerasi mukosa
usus
DIAGNOSIS LAB
• Spesimen :
– Pus / lesi kutan
– Sputum
– Darah
• Mikroskopis
• Kultur :
– LAD : koloni 2-5 mm, putih abu, swarm
– Bacillus saprofit ; hemolitik
Cont…
• Reaksi biokimia
• Serologi :
– Antibodi di deteksi dg gel difusi
– ELISA
• Sensitivitas :
– Penisilin
– Streptomisin
– Eritromisin, tetrasiklin, co-trimoksazol
Bacillus cereus
• Menyebabkan keracunan makanan
• MI : 4 JAM ( mual, muntah hebat, kejang
perut, diare)
• Sering krn makan nasi goreng
• Susah dibedakan dg infeksi :
– Staphylococcus aureus
– Clostridium
• Sensitif (clindamisin, amioglikosida, eritro)
CLOSTRIDIUM
• Basil Gram positif anaerob
• Spora , katalase negatif
• Ada 85 – 100 spesies
• Motil (flagel peritrikh)
– Non motil : C. perfringens
• Ubiquitus :
– Tanah, air
– Flora normal GIT
DIAGNOSIS LAB
• Mikroskopis
• Kultur :
– LAD anaerob, BHI + ekst yeast + vit K, hemin
– Brucella 5% darah, NEY (neomisin egg yolk)
• Kepekaan :
– Sensitif (penisilin, clindamisin, chlorampheni-
col, metronidazol, ciprofloxacin)
– Resisten (efalosporin, tetrasiklin, aminogliko)
C. perfringens
• Basil Gram positif non motil
• Hemolitik
• Flora normal GIT
• Spora ; tahan pd waktu yg lama
• Penyakit :
– Myonekrosis (gas gangren)
– Gastroenteritis (keracunan makanan)
TOKSIN
• Toksin alfa :
– Lisis eritrosit, leukosit, trombosit
– Destruksi jaringan
– Hemolisis
– Toksik pd hepar
• Toksin beta dan epsilon :
– Meningkatkan permeabilitas kapiler
Gambaran Klinik
• Bakteremia
• Myonekrosis
– Akibat trauma atau stl operasi
• Infeksi soft tissue
• Food poison :
– Masa inkubasi 8-24 jam
– Cramp perut, diare tanpa muntah
DIAGNOSIS LAB
• Mikroskopis :
– Gram positif basil tanpa leukosit
• Kultur : builon darah anaerob
• TREATMENT ;
– Surgical debridement
– Penisilin dosis tinggi
– Antitoksin thd toksin alfa
– Oksigen hiperbarik
C. tetani
• Sensitif oksigen (sulit tumbuh in-vitro)
• Spora terminal, motil
• Ditemukan :
– Tanah
– Sal cerna hewan dan manusia
• Mortalitas tinggi :
– Tidak vaksin, pelayanan medik rendah
– Neonatus, drug abuser
PATOGENESIS
• Neurotoksin / tetanospasmin dihasilkan
pada fase stasioner – keluar bila sel lisis
• Toksin dari PNS – CNS – toksin memblok
neurotransmitter – menghambat synapsis
– eksitasi
• Sebelumnya diawali infeksi kuman aerob
seperti :
– Staphylococcus dan atau Streptococcus
Gambaran Klinik
• MI bervariasi : beberapa hari – minggu
• Ludah keluar, berkeringat
• Lock jaw
• Risus sardonicus (kejang otot wajah)
• Back spasm (opisthotonus)
• Berat :
– Aritmia cardiac, dehidrasi
– Tek darah berfluktuasi
Treatment & Prevention
• Pengobatan ;
– Penisilin : eliminasi sel vegetatif
– Antitoksin (Ig) : mengikat tetanospasmin atau
neurotoksin
• Pencegahan :
– Vaksinasi tetanus (DPT)
– Booster seriap 10 tahun
C. botulinum
• Menyebabkan botulism (keracunan
makanan t.u makanan kaleng)
• Food borne :
– Setela konsumsi : lemah, pusing, penglihatan
kabur, nyeri orofaring, konstipasi, nyeri perut,
paralisis respiratori
• Infant botulism :
– Neurotoksin sal cerna bayi : konstipasi
C. difficile
• Flora normal intestin
• Penyakit : GI disease & pseudomembran
colitis
• Akibat :
– Broad spectrum AB (thd flora normal)
– Diskontinuitas AB (ampisilin, clindamisin)
• Toksin :
– Enterotoksin A ; hipersekresi cairan
– Sitotoksin B : CPE (destruktif)
Corynebacterium diphteriae
• Gram positif batang aerob, fakultatif
• Formasi huruf China / palisade
• Katalase positif
• Pada agar darah koloni 1-2 mm
• Fermentasi KH – asam laktat
• Menghasilkan eksotoksin
• Media selektif : potasium telurit – koloni
abu-abu kehitaman
EPIDEMIOLOGI
• Transmisi ; droplet inhalasi
• Nasal karier :
– Beberapa minggu / bulan
– Seumur hidup
• Imunisasi : jarang menderita
• USA < 10 kasus per tahun
– Pekerja imigran
– Transient
PATOGENESIS
• Efek toksin ; lokal / sistemik
• Toksin menghambat sintesa protein sel
• Toksin mengandung sub unit :
– A ; katalisis aktivitas toksik
– B : mediator perlekatan pada reseptor dan
membran
IMUNITAS
• Toksin bersifat antigenik – akan
menstimulasi antibodi terhadap infeksi
• Toksoid : toksin + formalin
– Antigenik (tidak toksik)
– Digunakan untuk imunisasi
– Menginaktivasi fragmen A dan B
Gambaran Klinik
• Masa inkubasi 2-4 hari
• Kuman ditemukan di faring dan tonsil
• Eksudat ditemukan pada :
– Tonsil, uvula
– Palatum lunak, dinding faring
• Membentuk pseudomembran abu-putih
– Gumpalan fibrin
– Leukosit, debris sel (akibat toksin)
Cont…
• Melekat pd membran mukosa : orofaring,
larynx, trachea
• Keluhan : malaise, sore throat, demam
• Kasus berat :
– Adenitis cervical
– Edema bullneck (leher banteng)
• Efek fatal : obstruksi sal nafas
Cont …
• Toksin ke sirkulasi : miokarditis (minggu
ke 2 atau ke 3) dg manifestasi :
– Perbesaran cardiac, aritmia jantung
– Weakness
– Congestive heart failure dg dyspnea
• Fase akhir ; sistem syaraf
– Paralisis palatum lunak
– Otot mata
– Dapat reversibel
TREATMENT
• Antitoksin :
– Netralisasi free toksin
– Tidak ada efek thd toksin yg berikatan dg sel
• Antibiotik :
– Eritromisin
– Penisilin
– Sefalosporin
– Tetrasiklin, Linkomisin
PREVENTIF
• Imunisasi :
– Dengan 3-4 dosis toksoid akan mengstimulasi
pembentukan antibodi
– First year of life
– Booster : interval 10 tahun – maintain
imunitas
• Infeksi serius dan kematian
– Individu tidak imunisasi
– Incomplete imunisasi
Diagnosis Lab
• Spesimen : swab nasofaring
• MIKROSKOPIK
– Gram positif basil agak membesar disatu
ujung, formasi huruf China
– Albert stain : green, terlihat volutin (granul)
• KULTUR
– Tumbuh aerob suhu 20-40 C (37 C)
– Pada TBA : koloni grey black 0,5-2 mm,
hemolitik
Cont…
• Tinsdale medium :
– Koloni grey black, dikelilingi area coklat karena
dihasilkan H2S dari cystine
• Dorset egg dan Loeffler serum tumbuh cepat
dalam 4-6 jam
• Virulen testing : Elek gel precipitation
• Schick : tes kulit utk melihat antitoksin dihasilkan
kuman difteri di sirkulasi yg merupakan respon
thd infeksi / previous imunisasi