Anda di halaman 1dari 32

Bantuan Hukum

Dan
Bantuan Hukum
Struktural
Oleh :
LIDYA MAWARNI, S.H.
Pengertian Bantuan Hukum

Bantuan Hukum adalah jasa


hukum yang diberikan oleh
Pemberi Bantuan hukum baik itu
advokat maupun paralegal kepada
penerima bantuan hukum baik itu
yang kurang mampu maupun yang
mampu.
 PemberiBantuan Hukum dari sisi
Paralegal sesuai Undang-undang No
16 Tahun 2011

Legal Aid :
pemberian jasa dibidang hukum kepada seseorang
yang terlibat dalam suatu perkara.Pemberian jasa
bantuan Hukum dilakukan dengan cuma-Cuma
kepada yang tidak mampu. Motivasi utama dalam
konsep Legal Aid Adalah menegakkan hukum dengan
jalan membela kepentingan dan hak asasi rakyat
kecil yang tak mampu dan buta hukum.
Undang-undang No 16 Tahun
2011 tentang Bantuan
Hukum disebutkan bahwa :

Bantuan Hukum adalah jasa


hukum yang diberikan oleh
pemberi bantuan hukum
secara Cuma-Cuma kepada
penerima bantuan hukum
Pemberi Bantuan Hukum dari sisi
Advokat sesuai Undang-undang No
18 Tahun 2003 :
Legal Assistance :
Memberi bantuan hukum; Baik kepada mereka
Yang mampu membayar prestasi; Maupun
Pemberian bantuan kepada rakyat yang kurang
Mampu secara cuma-cuma.
Undang-undang No 18 Tahun 2003
tentang Advokat
Dalam Pasal 1 butir (9) Undang-undang
Nomor 18 Tahun 2003 Tentang Advokat,
disebutkan bahwa:
“Bantuan hukum adalah jasa hukum
yang diberikan oleh Advokat secara
cuma-cuma kepada Klien yang tidak
mampu”
Undang-undang No 18 Tahun
2003 tentang Advokat

Dalam Pasal 1 butir (7) disebutkan


bahwa :
Honorarium adalah imbalan atas
jasa hukum yang diterima oleh
Advokat berdasarkan kesepakatan
dengan Klien.
 Ketentuan yang mengatur Bantuan
Hukum :

- UUD 1945
- UU No 18 Tahun 2003 tentang Advokat
- UU No 48 Tahun 2009 tentang Kekuasaan Kehakiman
- UU No 16 Tahun 2011 tentang Bantuan Hukum
- Undang-undang No 8 Tahun 1981 tentang KUHAP
- PP No 83 Tahun 2008 tentang Persyaratan Bantuan
Hukum Cuma-Cuma
- SEMA No 10 Tahun 2010 tentang Pedoman Bantuan
Hukum
Undang-undang Dasar 1945 :
Pasal 28 D

“Setiap orang berhak atas


Pengakuan, Jaminan, Perlindungan,
Kepastian Hukum yang adil serta
Perlakuan yang sama dihadapan
Hukum”
Undang-undang No 48 Tahun 2009
tentang Kekuasaan Kehakiman :
 Pasal 56

- Setiap orang yang tersangkut


perkara berhak memperoleh
Bantuan Hukum;
- Negara menanggung biaya perkara
bagi pencari keadilan yang
tergolong tidak mampu.
Undang-undang No 8 Tahun 1981
Tentang KUHAP :
 Pasal 54

- Guna kepentingan pembelaan, tersangka atau


Terdakwa berhak mendapat bantuan hukum
dari seorang Atau lebih penasihat hukum
selama dalam waktu dan pada setiap tingkat
pemeriksaan, menurut tatacara yang
ditentukan dalam undang-undang ini.
Undang-undang No 8 Tahun 1981
Tentang KUHAP :
 Pasal 56
- Dalam hal tersangka atau terdakwa disangka atau
didakwa melakukan tindak pidana yang diancam
dengan pidana mati atau ancaman pidana lima belas
tahun atau lebih atau bagi mereka yang tidak mampu
yang diancam dengan pidana lima tahun atau lebih
yang tidak mempunyai penasihat hukum sendiri,
pejabat yang bersangkutan pada semua tingkat
pemeriksaan dalam proses peradilan wajib menunjuk
penasihat hukum bagi mereka.
- Setiap penasihat hukum yang ditunjuk untuk
bertindak sebagaimana dimaksud dalam ayat (1),
memberikan bantuannya dengan cuma-cuma.
Undang-undang No 18 Tahun 2003
Tentang Advokat :
 Pasal 22

- Advokat wajib memberikan bantuan


hukum secara cuma-cuma kepada
pencari keadilan yang tidak
mampu.
Asas – asas Bantuan Hukum
Pasal 2 Undang-undang No 16 Tahun 2011 :

1. Keadilan
2. Persamaan Kedudukan dihadapan
Hukum
3. Keterbukaan
4. Efesiensi dan Efektivitas
5. Akuntabilitas
1. Asas Keadilan
Menempatkan hak dan kewajiban setiap orang secara
proporsional, patut, benar, baik, dan tertib.

2. Asas Persamaan Kedudukan dihadapan Hukum


Bahwa setiap orang mempunyai hak dan perlakuan
yang sama di depan hukum serta kewajiban
menjunjung tinggi hukum.

3. Keterbukaan
Memberikan akses kepada masyarakat untuk
memperoleh informasi secara lengkap, benar, jujur,
dan tidak memihak dalam mendapatkan jaminan
keadilan atas dasar hak secara konstitusional
4. Asas Efisiensi dan Efektivitas
Memaksimalkan pemberian Bantuan Hukum melalui
penggunaan sumber anggaran yang ada, Menentukan
pencapaian tujuan pemberian Bantuan Hukum secara
tepat.
5. Asas Akuntabilitas
bahwa setiap kegiatan dan hasil akhir dari kegiatan
penyelenggaraan Bantuan Hukum harus dapat
dipertanggungjawabkan kepada masyarakat
Tujuan Bantuan Hukum
Pasal 3 UU No 16 Th 2011 :

- Menjamin dan memenuhi hak bagi Penerima


Bantuan Hukum untuk mendapatkan akses
keadilan;
- Mewujudkan hak konstitusional segala warga negara
sesuai dengan prinsip persamaan kedudukan di
dalam hukum;
- Menjamin kepastian penyelenggaraan Bantuan
Hukum dilaksanakan secara merata di seluruh wi
layah Negara Republik lndonesia; dan,
- Mewujudkan peradilan yang efektif , efisien, dan
dapat dipertanggungjawabkan.
Ruang Lingkup Bantuan Hukum :
 Pasal 4 UU Bantuan Hukum

- Bantuan Hukum diberikan kepada Penerima Bantuan


Hukum yang menghadapi masalah hukum.
- Bantuan Hukum sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
meliputi masalah hukum keperdataan, pidana, dan
tata usaha negara baik litigasi maupun nonlitigasi.
- Bantuan Hukum sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
meliputi menjalankan kuasa, mendampingi, mewakili,
membela, dan/atau melakukan tindakan hukum lain
untuk kepentingan hukum Penerima Bantuan
Hukum.
-
Sejarah singkat dan Perkembangan Bantuan
Hukum di Indonesia :

Pembicaraan mengenai Bantuan Hukum di Indonesia


Maka dalam benak kita teringat akan sosok Adnan Buyung
Nasution Memang seperti kita ketahui bahwa gagasan
pemberian bantuan hukum di Indonesia adalah gagasan dari
Adnan Buyung Nasution yang saat itu menginginkan adanya
pemberian bantuan hukum secara cuma-cuma terhadap
masyarakat yang tidak mampu. Lembaga Bantuan Hukum
atau yang sekarang dikenal dengan nama Yayasan Lembaga
bantuan Hukum Indonesia (YLBHI) pada awalnya merupakan
gagasan Adnan Buyung Nasution, yang ketika itu tergabung
dalam PERADIN, akibat ketidakpuasan terhadap situasi sosial
politik yang dengan mengesampingkan norma-norma hukum
yang ada seringkali merugikan rakyat.
gagasan tersebut diusulkan pada PERADIN untuk
mendirikan suatu lembaga yang memberikan bantuan
hukum secara prodeo. Maka pada tanggal 28 Oktober
1970 PERADIN membentuk lembaga bantuan hukum
yang sekarang dikenal dengan nama Lembaga Bantuan
Hukum (LBH) di Jakarta dan Adnan Buyung Nasution
sebagai pimpinannya. Mulai dari tahun 1970 - 1986
pendirian LBH di Jakarta diikuti oleh pendirian bantuan
hukum di daerah-daerah Indonesia lainnya, seperti
Bandung, Semarang, Yogyakarta, Surabaya, Medan,
Ujung Pandang, Menado, Palembang dan Jaya pura.
Pendirian LBH-LBH tersebut kemudian
disentralisasikan dengan mendirikan yayasan, dikenal
dengan Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia
(YLBHI).
Konsep Bantuan Hukum itu
ada 3 yaitu :

- Bantuan Hukum Tradisional


- Bantuan hukum konstitusional
- Bantuan hukum struktural
Bantuan Hukum Tradisional :

Pemberian Bantuan Hukum pada


masyarakat yang tidak mampu, berupa
pendampingan baik dimuka pengadilan
maupun melalui arbitrase. Yang
dilakukan secara Individual, Pasif, dan
Pendekatannya secara Formal Legal
 Bantuan Hukum Konstitusional :

Bantuan Hukum Masyarakat kurang


mampu dengan Tujuan yang lebih luas
yaitu menyadarkan Hak-hak
Masyarakat, Penegakan Hak Asasi
Manusia, bersifat lebih aktif, bukan saja
secara individual tapi secara kolektif
Bantuan Hukum Struktural :

Segala kegiatan yang dilakukan tidak


semata mata ditujukan untuk membela
kepentingan/Hak Hukum Masyarakat
yang tidak mampu pada proses
Peradilan, tapi lebih luas lagi. Bantuan
Hukum Struktural bertujuan untuk
menumbuhkan kesadaran hukum dan
Pengertian Masyarakat terhadap
pentingnya hukum
 Bantuan Hukum Struktural :
Berbicara mengenai Bantuan Hukum Struktural kita
tidak bisa lepas dari kerja-kerja Lembaga Bantuan
Hukum.

Dalam Anggaran Dasar LBH disebutkan bahwa


tujuan LBH adalah:

- memberi pelayanan hukum pada rakyat kurang


mampu;
- mengembangkan dan meningkatkan kesadaran
hukum terhadap rakyat, terutama mengenai hak-
haknya sebagai subjek hukum;
- mengusahakan perubahan dan perbaikan hukum
untuk mengisi kebutuhan baru dari masyarakat yang
sedang berkembang.
 Ex.peristiwa-peristiwa yang pernah ditangani
oleh LBH diantaranya adalah pada tahun
1971, LBH bersedia mewakili kurang lebih
lima ratus keluarga yang berasal dari daerah
Lubang Buaya (Jakarta Timur) yang tergusur
oleh Pemda DKI Jakarta karena lahan
mereka akan digunakan untuk membangun
Taman Mini Indonesia Indah Saat itu LBH
menentang Gubernur Jakarta yang pada saat
itu dijabat oleh Ali Sadikin, yang
membuktikan bahwa LBH adalah lembaga
yang mandiri,
 Menurut T. Mulya Lubis menyebutkan ada tujuh
ciri dari apa yang disebut bantuan hukum
struktural yang secara singkat dapat disebutkan
sebagai berikut:
- sifat bantuan hukum haruslah struktural, artinya
bantuan hukum haruslah sepenuhnya memihak pada
pinggiran dalam menghadapi pusat. Bantuan hukum
struktural haruslah mengutamakan bantuan kepada
kelompok, bukan lagi pada perorangan.
- sistem hukum kita juga harus diubah dalam arti aksi-
aksi hukum kelompok atau aksi-aksi hukum
struktural harus mulai dimungkinkan
- sifat bantuan hukum kita haruslah menjadi pedesaan
disamping tetap berurusan dengan kota. Bantuan
hukum harus lebih banyak di pedesaan di pinggiran,
karena memang lapisan tertindas itu lebih banyak di
pinggiran
- sifat bantuan hukum haruslah aktif. Bantuan hukum
bukan lagi rumah sakit yang menunggu, tetapi
haruslah bantuan hukum yang berjalan dari suatu
tempat ke tempat lain di kota dan di desa;
- bantuan hukum harus mulai mendayagunakan
pendekatan-pendekatan diluar hukum atau bukan
hukum;
- bantuan hukum harus mulai membuka diri terhadap
organisasi-organisasi yang bukan badan hukum;
- bantuan hukum untuk bisa efektif haruslah menjadi
suatu gerakan sosial yang bertujuan tidak saja pada
konsentrasi sosial, politik, ekonomi dan budaya tetapi
justru harus menciptakan power resource untuk
menghadapi pusat.
 Bantuan Hukum Struktural berpandangan
bahwa hak-hak hukum masyarakat kurang
mampu bisa dipenuhi jika asumsi sosialnya
terpenuhi yaitu: pertama, masyarakat
mengerti dan memahami hak-hak mereka
tersebut dalam konteks posisi mereka dalam
masyarakat dan kedua, bahwa warga
masyarakat mempunyai kekuatan dan
kecakapan untuk memperjuangkan hak-hak
tersebut.
 sebagai organisasi bantuan hukum sebagai lembaga
yang menginisiasi bentuk bantuan hukum ini, dan
aktor yang lain adalah paralegal. Aktor yang
belakangan disebut ini kemudian memiliki peran
sentral dalam pengembangan BHS, karena
merupakan perpanjangan tangan dari LBH-LBH
untuk menjangkau masyarakat di daearah. Paralegal
biasanya para aktivis LBH (bukan pengacara) atau
masyarakat yang sudah dibekali pelatihan oleh LBH
untuk melakukan tugas-tugas advokasi di tingkat
daerah sampai ke level perdesaan. Paralegal bertugas
melakukan pengorganisasian masyarakat, melakukan
pendidikan dan penyadaran hukum dan tugas-tugas
advokasi lainnya.
Hambatan - Hambatan Bantuan
Hukum Cuma - Cuma

1. Kemiskinan Alamiah Maupun


Struktural Makin Banyak
2. Sumber Daya Manusia
3. Sumber Dana
4. Faktor Undang-undang, Penegak
Hukum, Sarana Fasilitas, Masyarakat,
Kebudayaan (Soerjono Soekanto)