Anda di halaman 1dari 54

BAHAN CETAK KEDOKTERAN GIGI

Shinta Dinyanti (151610101008)


Aprilia Sakila (151610101016)
Pengertian Bahan Cetak
Bahan cetak adalah bahan yang digunakan untuk
menghasilkan replika bentuk gigi dan jaringan lunak dalam
rongga mulut secara detail. Menurut Craig dkk (2004) syarat
bahan cetak dalam kedokteran gigi adalah : mudah digunakan
dan harga terjangkau, kekuatan aliran adekuat, memiliki
setting time dan karakteristik yang wajar, memiliki kekuatan
tarik yang cukup baik, sehingga tidak mudah sobek saat
dikeluarkan dari dalam mulut.
Tujuan Penggunaan
 Untuk membuat replika yang akurat dari jaringan lunak dan jaringan
keras gigi. Cakupan replika tersebut dapat bervariasi; hanya satu gigi,
gigi-geligi lengkap, atau pada mulut yang tidak bergigi sekalipun.
 Cetakan memberikan reproduksi negatif dari jaringan, dan dengan
mengisi impression dengan dental stone atau material lainnya. Hasilnya
akan digunakan dalam mengevaluasi gigi untuk:
- Orthodontic
- Occlusal
- Pembuatan restorasi dan gigi tiruan cekat maupun lepas
Klasifikasi Bahan Cetak
Bahan Cetak Elastis
 1.1 Bahan Cetak Hydrokoloid
 Alginat
Alginat hydrocolloids bersifat irreversible karena alginat akan
berubah dari fase sol ke fase gel disebabkan oleh reaksi kimia. Setelah
proses gelasi, material tidak dapat kembali menjadi sol. Alginat
digunakan untuk merencanakan pengobatan; memantau perubahan;
membuat crown, bridge, dan removable prostheses (gigi tiruan);
model orthodontik; dan study model. Alginat tidak cukup akurat
untuk cetakan gigi tiruan tetap parsial.
Komposisi Alginate
 Potassium Alginate (18%)
 Calcium sulfate dihydrate (14%)
 Kalium Sulfat, Potassium zinc fluoride, silicates, atau borates (10%)
 Natrium Fosfat (2%)
 Diatomaeous earth atau silica powder (Filler penguat) (56%)
 Organic glycols (kecil)
 Disinfectant (quaternary ammonium salt dan clorhexidine) (1-2%)
Manipulasi Alginate
Bubuk harus dikocok agar homogen dan memakai sendok takar yang sesuai
dengan standar yang telah ditetapkan oleh pabrik. Perbandingan w/p yang lebih
rendah akan meningkatkan kekuatan, ketahanan sobek (tear resistance), konsistensi
dan menurunkan working dan setting time. Spatulasi yang memadai akan
memberikan campuran halus dan lentur dengan minimal void. Working time nya
singkat hanya 2,5 menit dan setting time nya sekitar nya sekitar 3,5 menit setelah
pencampuran. Alginat sama dengan agar yaitu tidak stabil, karena keduanya berubah
menjadi gel dan mengalami penyusutan akibat penguapan dan imbibisi. Penyimpanan
pada kelembapan 100% akan menghasilkan perubahan dimensi yang paling sedikit.
Oleh karena itu cast harus dituang segera setelah alginat dikeluarkan dan dibersihkan.
Seperti agar-agar, alginat menghambat setting time dari gypsum model dan die
materials ketika terjadi kontak. Potassium sulfate ditambahkan untuk mempercepat
setting gipsum dan untuk mendapatkan permukaan halus dan die surfaces.
Sifat – sifat
1.WorkingTime
- Fast-set material: 1,25-2 menit
- Regular-set material: 3-4,5 menit
2. Setting Time
- Range setting time antara 1-5 menit
- Perpanjangan setting time sebaiknya dilakukan dengan menurunkan temperatur air
yang digunakan untuk mencampur daripada mengurangi rasio powder, karena hal
tersebut dapat mengurangi kekuatan dan akurasi alginat.
- Pengerasan dapat 2 kali lipat lebih cepat pada peningkatan temperatur 10oC.
3. Fleksibilitas
- Sebagian besar alginat mempunyai fleksibilitas sebesar 14% pada stress 1000 g/cm2.
Fleksibilitas mengacu kepada kemudahan pengeluaran/pelepasan material.
4. Kekuatan
 Compressive strength -> 5000-9000 g/cm2
 Tear strength (ukuran rasio gaya/ketebalan yang dibutuhkan untuk
menginisiasi dan melanjutkan penyobekan) -> 380-700 g/cm
5. Kompabilitas dengan gypsum
 Cetakan harus dibilas dengan air dingin untuk menghilangkan saliva dan
darah, kemudian didisinfeksi. Saliva dan darah dapat mempengaruhi
pengerasan dari gypsum. Lalu air dibersihkan dari permukaan alginat, karena
air dapat terakumulasi di bagian terdalam impression dan melarutkannya.
6. Disinfeksi
 Bertujuan mencegah penyakit akibat virus, seperti hepatitis B, AIDS dan
herpes simplex karena virus dapat berpindah dari model gypsum ke
personnel di dental laboratorium.
2. Agar Hydrocolloid
Agar hydrocolloid bersifat reversible. Saat dipanaskan, material akan berubah
menjadi fase sol. Bila didinginkan, akan kembali menjadi fase gel. Agar
hydrocolloidal mempunyai dimensi yang tidak stabil bila dibiarkan sehingga
model harus dibuat secepat mungkin setelah impression dilepas dari mulut.
Bahan ini dapat digunakan untuk cetakan gigi tiruan sebagian karena akurasi
yan tinggi.
Komposisi : Bahan aktif utamanya adalah agar, yaitu sulfuric ester dari
kompleks galactan yang mempunyai struktur formula yang kompleks.
 Agar (12,5%)
 Potassium sulfate (1,7%)
 Borax (0,2%)
 Colour and flavour (jumlah sedikit)
 Air (85,5%)
 Alkyl Benzoate (0,1%)
Manipulasi
1. Persiapan bahan
 Gel hidrokoloid diubah menjadi sol dengan melelehkannya dalam air panas selama 8-12 menit,
temperatur air 43-490C.
 Setelah dilelehkan, bahan bisa disimpan dalam keadaan sol sampai waktunya diinjeksikan ke
dalam preparasi kavitas atau diisikan ke sendok cetak. Bahan disimpan dalam temperatur
penyimpanan sampai siap digunakan (63-660C)
2. Condisioning (pendinginan)
 Tube sol hidrokoloid dikeluarkan dari kompartemen penyimpanan, diisi ke sendok cetak dan
diletakkan ke kompartemen pendingin (460C) selama 3-10 menit.
 Tujuan pendinginan adalah menurunkan temperatur material sehingga kompatibel dengan
jaringan mulut serta meningkatkan kekentalan material sehingga material tidak dapat mengalir
keluar dari sendok cetak.
 Pada injeksi untuk inlay, crown, atau bridge, tidak diperlukan pendinginan. Material dapat
dikeluarkan dari kompartemen penyimpanan atau langsung diinjeksikan pada preparasi.
3. Pencetakan
 Setelah impression diletakkan dalam mulut, agar didinginkan untuk
memperoleh kondisi keras
 Air dingin dialirkan melalui sendok cetak selama 3-5 menit untuk
mempercepat pengerasan
 Setelah dikeluarkan dari mulut, impression dicuci, didisinfeksi, dikeringkan,
dan dituang dengan dental stone.
Sifat – sifat
1. Temperatur gelasi
 Setelah dipanaskan, material sudah harus cukup cair untuk diekstrusi oleh
kompartemen. Setelah pendinginan, sol harus homogen dan harus
mengeras menjadi gel.
2. Fleksibilitas
 Mempunyai fleksibilitas sebesar 4%-15%.
3. Kekuatan
 Compressive strength: 8000 g/cm2
 Tear strength: 800-900 g/cm
 Compressive dan tear strength yang lebih besar dapat diperoleh pada
loading yang lebih tinggi.
4. Kompabilitas dengan gypsum
 Agar hydrocolloids lebih kompatibel dengan gypsum daripada alginate
hydrocolloids. Material harus dicuci untuk menghilangkan saliva dan
darah yang dapat menghambat pengerasan gypsum. Setelah dicuci dan
didisinfeksi, kelebihan cairan “ditiup” dengan air syringe untuk
mencegah dehidrasi permukaan material
5. Stabilitas dimensional
 Saat disimpan di udara, gel akan kehilangan air dan mengerut.
Sedangkan menempatkan gel di air akan mengakibatkan terjadinya
absorpsi dan pembengkakkan. Sebaiknya, material segera dituang
dengan gypsum setelah dicuci, didisinfeksi, dan dikeringkan.
1.2 Bahan Cetak Elastomer
 Elastomer adalah bahan cetak bersifat elastis yang apabila digunakan dan
dikeluarkan dari rongga mulut, akan tetap bersifat elastis dan fleksibel. Bahan
ini diklasifikasikan sebagai nonaqueous elastomeric impression material oleh
ANSI/ADA Spesification No.19. Biasanya digunakan untuk mencetak
pembuatan gigi tiruan sebagian lepasan, gigi tiruan immediat dan mahkota
serta gigi tiruan cekat yang mana diperlukan cetakan yang akurat pada detail
gigi.
 Bahan cetak ini menjadi pilihan dokter gigi karena tinggi keakuratannya,
stabilitas dimensi berbanding waktu dan memiliki kemampuan mencetak
dengan detail berbanding bahan cetak yang lain. Antara bahan cetak
elastomer yang terawal adalah polisulfida, diikuti silicone condensation,
polieter dan addition silicons. Bahan terbaru adalah dikategorikan sebagai
addition silicone-polyether hybrid.
Perbedaan Bahan Cetak Elastomer
Polisulfide
Polisulfide banyak digunakan untuk aplikasi gigi tiruan tetap sebagian karena
mempunyai akurasi yang tinggi dan biaya yang rendah. Bahan ini diberikan dalam 2
tabung pasta, pasta basis dan pasta katalis. Bahan ini juga tersedia dalam viskositas tinggi,
sedang, dan rendah.
Komposisi
Basis paste
 Polysulfida polimer
 Reinforcing filler (12-50%)
 Contoh: zinc oxide, titanium dioxide, zinc sulfida, silica
 Plasticizer
 Plasticizer dan filler mengontrol kekakuan pasta
Accelerator / catalyst paste
 Lead oxide (30%)
 Hydrated cupper oxide / organic peroxide sebagai katalis
 Sulfur (1-4%) sebagai promoter
 Dibutil phthalate
 Non reactive oil
Manipulasi
Material dicampur dengan menggunakan mixing slab dan spatula. Komponen
dicampur dengan spatula yang runcing dan kaku. Pada katalis lebih gelap
warnanya dibandingkan basis yang berwarna putih sehingga pencampuran
mudah diamati. Pencampuran yang memadai adalah 45-60 detik dengan
working time 5-7 menit. Baik working dan setting time diperpendek dengan
kenaikan temperatur dan kelembapan. Penyusutan bahan ini lebih kecil dari
silikon, tetapi pengecoran harus dilakukan sebelum 1 jam dari pencetakkan.
Bahan ini bisa dilapisi dengan silverplatted namun copperplating tidak
dianjurkan.
Sifat – sifat
1. Elastisitas
 Material dapat mengalami distorsi saat dikeluarkan dari mulut, tapi sifat elastik
polysulfide meminimalkan kemungkinan distorsi. Deformasi elastik setelah
peregangan pada polysulfide lebih lambat pulih dibanding 3 material lainnya.
2.Tear strength
 Polysulfide mempunyai ketahanan lebih tinggi terhadap robekan dibanding tiga
material lainnya. Polysulfide lebih rentan terhadap distorsi daripada robekan.
 Untuk mendapatkan akurasi maksimal, hasil cor harus dibuat dalam 30 menit setelah
cetakan polysulfide dikeluarkan dari mulut. Bila tidak, dapat terjadi perubahan
dimensi pada cetakan seperti pengurangan panjang ikatan dan pengerutan.
3. Biokompabilitas
 Polysulfide mempunyai hasil hitung kematian sel yang terendah
dibandingkan impression material yang lain.
4.Waktu penyimpanan
 Bahan cetak polysulfide yang dibuat dengan akurat tidak banyak
mengalami kerusakan bila disimpan pada kondisi lingkungan yang
normal. Selain itu, bila tidak digunakan, tube harus dijaga dalam
keadaan tertutup.
Silicones Condentation
Silikon digunakan untuk cetakan gigi tiruan parsial.
Bahan ini ideal untuk single-unit inlay. Disediakan dalam 2
pasta atau pasta-liquid catalyst. Silikon kondensasi tersedia
dalam viskositas rendah, sedang, tinggi, dan sangat tinggi
(dempul).
Komposisi
Pasta basis biasanya terdiri dari poly yang memiliki berat molekul yang
cukup tinggi (dimetil siloxane) dengan gugus tambahan (-OH)
orthoalkilsilika filler. Pasta akan terisi filler sebanyak 30-40%
sedangkan dempul akan terisi 75%. Pasta katalis/ liquid terdiri dari
logam ester organik seperti timah aktoate atau dibutil timah dilaurate
dan pengencer berminyak. Kadang-kadang katalis akan mengandung
orthoalkil silikat dan logam ester organik.
Manipulasi
Manipulasi silikon kondensasi sama dengan manipulasi polisulfida,
kecuali material silikon dapat diberi pasta basis plus cairan katalis.
Setting waktu antara 6-8 menit (kurang dari polisulfida) yang
menawarkan beberapa keuntungan dalam penghematan waktu.
Karena penyusutan yang tinggi, pengecoran harus segera
dilakukan. Suhu dan kelembapan yang lebih tinggi akan
mempersingkat setting time.
Sifat – sifat
1. Working dan setting time
 Working time: 3,3 menit (230C); 2,5 menit (370C)
 Setting time : 11 menit (230C); 8,9 menit (370C)
 Mendinginkan material atau mengaduknya pada permukaan dingin akan
memperlambat reaksi.
2. Elastisitas
 Sifat elastis condensation silicones lebih ideal bila dibandingkan polysulfide.
Material ini menunjukkan deformasi permanen minimal dan dapat kembali
ke bentuk semula dengan cepat bila diregangkan.
3. Tear strength
 Ketahanan robek material ini adalah rendah, walaupun tidak mudah robek
seperti alginate dan agar hydrocolloids.
4. Stabilitas dimensional
 Terjadi pengerutan yang cukup besar selama pengerasan. Ketidakstabilan
dimensi juga disebabkan penguapan produk reaksi, yaitu etil alkohol.
5. Biokompabilitas
 Silikon merupakan material yang paling dapat diterima secara biologis. Salah
satu bahaya yang mungkin terjadi adalah sama seperti polysulfide, yaitu
tertinggalnya material pada sulkus gingiva yang mengakibatkan peradangan
gingiva.
6. Lama penyimpanan
 Alkyl silicate sedikit tidak stabil, khususnya bila dicampur dengan komponen
timah. Lama penyimpana terbatas karena oksidasi dari komponen timah
tersebut.
Silicones Addition
 Material tersedia dalam 5 konsistensi, yaitu extra low, low, medium, heavy,
very heavy (putty).
 Pasta basis mengandung polymethyl hidrogen siloxane serat pre-polimer
siloxane lain.
 Pasta akselerator mengandung divinyl polydimethyl siloxane, serta pre-
polimer siloxane lain. Bila pasta akselerator mengandung garam
platinum, maka pasta basis harus mengandung hibrid silikon.
 Bahan cetak silikon bersifat hidrofobik. Untuk mengatasinya, dibuat addition
silicones yang lebih hidrofilik. Surfaktan ditambahkan pada pasta agar bahan
cetakan membasahi jaringan lunak lebih baik dan dapat diisi dental stone
dengan lebih efektif.
Komposisi
Bahan ini terdiri dari silicone prepolymer dengan gugus vinyl dan
hidrogen pada sisinya, yang bisa terjadi polimerisasi adisi. Reaksi
pengerasan dihasilkan oleh pencampuran satu pasta yang mengandung
propolimer vinyl-poly (dimetil siloxane) dengan pasta kedua yang
mengandung prepolimer siloxane dengan gugus hidrogen pada sisinya.
Sebuah katalis platinum, asam chloroplatinic, terdapat di salah satu
pasta dan memulai polimerisasi addisi. Reaksi selanjutnya akan
menghasilkan gas H2, yang pada kejadian yang langka akan
menghasilkan porositas. Beberapa produsen menambahkan oksigen
absorber pada formula untuk mengeliminasi masalah ini.
Manipulasi
1. Addition silicones yang low dan medium dikemas dalam 2 pasta sedangkan
bahan putty dikemas dalam 2 toples yang terdiri dari bahan basis dengan
kekentalan tinggi dan bahan akselerator.
2. Untuk pengambilan bahan dan pengadukan, lebih mudah dilakukan dengan
alat pengaduk otomatis. Keuntungan menggunakan alat ini:
 Hasil adukan menjadi lebih homogen
 Kemungkinan masuknya udara ke dalam adukan semakin kecil
 Waktu pengadukan lebih singkat
 Kemungkinan kontaminasi bahan lebih sedikit
3. Hasil adukan dimasukkan langsung ke dalam sendok cetak yang telah dilapisi
adhesif atau pada gigi yang telah dipreparasi.
Sifat – sifat
1. Working dan Setting time
 Working time: 3,1 menit (230C); 1,8 menit (370C)
 Setting time: 8,9 menit (230C); 5,9 menit (370C)
 Working dan setting time dapat diperpanjang dengan penambahan retarder
yang dipasok pabrik dan dengan pendinginan alas pengaduk.
2. Elastisitas
 Merupakan material bersifat elastik paling ideal pada saat ini. Material jarang
mengalami distorsi.
3. Tear strength
 Ketahanan terhadap robekan adalah cukup, serupa dengan condensation
silicones
4. Stabilitas dimensional
 Tidak ada penguapan produk hasil reaksi samping yang menyebabkan
pengerutan bahan. Kestabilan ini menyebabkan cetakan tidak harus langsung
diisi stone.
5. Biokompabilitas
 Material ini dapat ditolerir oleh jaringan hidup.
Polyether
 Polyeter rubber digunakan untuk mencetak secara akurat beberapa gigi yang
telah dipreparasi tanpa undercut yang parah. Kekakuannya yang tinggi dan
working time yang singkat membatasi pemakaian polyeter hanya untuk
mencetak beberapa gigi saja. Polyeter tersedia dalam viskositas rendah,
sedang dan tinggi.
Komposisi
 Bahan ini diberikan dalam 2 pasta. Pasta base/basis berisi polyeter dengan
berat molekul yang rendah dengan gugus tambahan etilena-imina beserta filer
seperti colloidal silica dan plasticizers. Pasta katalis terdiri dari aromatic
sulfonic acid ester dengan agent thickening untuk membentuk pasta bersama
dengan filler. Ketika pasta basis dicampur dengan pasta katalis, polimerisasi
ionik terjadi oleh pembukaan gugus ethylene-imine dan penambahan rantai.
Sifat – sifat
1.Working dan setting time
 Working time: 3,3 menit (230C); 2,3 menit (370C)
 Setting time : 9 menit (230C); 8,3 menit (370C)
 Penggunaan bahan pengencer dapat memperpanjang working time dengan
sedikit meningkatkan setting time. Bahan retarder dapat memperlama
working time.
2. Elastisitas
 Merupakan bahan cetak paling keras. Kurang elastik dibandingkan addition
silicones.
3.Tear strength
 Ketahanan sobeknya lebih baik dibandingkan condensation silicones, tapi
lebih mudah sobek dibandingkan polysulfide.
4. Stabilitas dimensi
 Perubahan dimensinya sedikit. Seperti silikon, polyether tidak memiliki
reaksi samping. Material bersifat keras sehinnga gaya yang diperlukan untuk
mengeluarkan cetakan besar.
5. Biokompabilitas
 Polyether yang telah mengeras mempunyai nilai toksisitas tertinggi dan
jumlah sel hidup terendah setelah pemaparan berulang. Bahan cetak yang
teringgal dalam sulkus gingiva dapat menyebabkan iritasi.
Bahan cetak Non-Elastis
1.2 Impession compound
Impression compound adalah bahan cetak yang terdiri
dari campuran malam, resin termoplastik, bahan pengisi dan
bahan pewarna
Aplikasi dalam bidang kedokteran gigi dari bahan cetak
compound adalah untuk membentuk tepi (border molding)
sendok cetak perseorangan dari akrilik selama mencoba
sendok cetak
 Tipe I
Memiliki titik leleh yang rendah, digunakan untuk: mencetak
rahang edentulous, pencetakan dengan tabung tembaga dalam
pembuatan inlay, mahkota
 Tipe II
Tipe ini titik lelehnya tinggi. Digunakan sebagai bahan cetak untuk
membuat sendok cetak yang cukup kaku untuk mendukung bahan
cetak lainnya.
Komposisi :
 Campuran resin alami : misalnya shelak, lilin
 Bahan pengisi : misalnya talk
 Bahan pelumas : misalnya asam staerat atau stearin.
Sifat / Karakteristik
 penghantar suhu rendah
 termoplastis, berubah sesuai suhu
 kurang akurat dan kurang mengalir, sehingga tidak cukup untuk
mencetak detil yang halus dari rongga mulut.
 mempunyai koefisien pemuaian termis yang tinggi, sehingga terjadi
pengerutan pada waktu pendinginan selama pengerasan
 dapat digabungkan dengan bahan model
 dapat mengalami distorsi pada saat melalui daerah gerong
 dapat terjadi perubahan dimensi jika dibiarkan terlalu lama setelah
pencetakan
 tidak beracun atau merangsang
 mengeras dalam waktu yang cukup di dalam mulut.
Manipulasi:
 Kompon dilunakkan dalam air bersuhu 55o-60oC. Jika telah agak
lunak, kompon dikeluarkan dari air dan dengan jari diremas-remas
sampai mendapatkan plastisitas yang menyeluruh.
 Bila terlalu dingin kompon tidak dapat mencetak dengan baik,
karena tidak cukup lunak.
 Bila kompon terlalu panas kompon akan menjadi lengket dan
terjadi pelarutan dari beberapa komponennya, sehingga akan
merubah sifat kompon, rapuh dan berbutir-butir.
 Setelah melunak dengan baik letakkan kompon dalam sendok
cetak dan ratakan, gunakan sendok cetak yang tak berlubang.
Panaskan pinggiran sendok cetak agar kompon melekat baik.
 untuk pencetakan dengan tabung tembaga dalam pembuatan inlay
atau mahkota, batang kompon dipanaskan dengan api.
 setelah kompon diletakkan dalam mulut dan mengeras, keluarkan
cetakan dari rongga mulut.
 Karena sifatnya yang dapat terjadi distorsi, maka untuk
menguranginya dapat dilakukan dengan segera mengisi cetakan
tersebut dengan bahan model, maksimal 1 jam setelah pencetakan.
 setelah gips model mengeras, kompon dilunakkan untuk
memisahkan model dengan cetakan. Cara terbaik ialah dengan cara
merendam keseluruhan model dan cetakan dalam air panas.
Setelah lunak kompon dikupas dengan hati-hati, agar komponen
model tidak pecah.
Impression compound (modelling plastic)
2.2 Zinc Oxide Eugenol (ZOE)
Bahan cetak zinc oxide eugenol merupakan bahan cetak
berbentuk pasta. Bahan ini dikemas dalam 2 bentuk pasta
yang berbeda pada masing-masing tube yaitu base (basis) dan
aselerator
Bahan cetak zinc oxide eugenol terutama digunakan sebagai
bahan cetak untuk gigitiruan pada lingir edentulous dengan
undercut kecil atau tanpa undercut. Bahan ini memiliki
keuntungan yaitu mampu mengisi pada bagian yang akurat
dari hasil cetakan jaringan lunak oleh karena sifat daya alirnya
yang rendah
Sifat / Karakteristik
 cukup cair untuk mencetak detail
 hampir tidak ada perubahan dimensi pada saat pengerasan
 bahan yang telah mengeras tidak elastis
 cetakan yang telah mengeras cukup stabil untuk disimpan dalam
laboratorium
 dapat digabung dengan bahan model, dipisahkan dari model dengan cara
dilunakkan dalam air bersuhu 60oC
 tidak beracun, namun eugenol dapat mengiritasi dan menimbulkan rasa
terbakar pada pasien. Pastanya melekat pada jaringan mulut, sehingga
sebelum pencetakan bibir dan pipi pasien sebaiknya dioles dulu dengan
Vaseline.
 waktu pengerasan cukup
 masa simpan cukup baik
Manipulasi
 Keluarkan kedua macam pasta dengan panjang yang sama
(atau sesuai ketentuan pabrik), untuk rahang tidak bergigi
biasanya sepanjang 10-12cm.
 Aduk dengan spatula yang terbuat dari tulang atau stainless
steel.
 Hentikan pengadukan setelah diperoleh warna yang merata.
 Komposisi
 Pasta I : berwarna putih, terdiri dari seng oksida dan lemak mineral/
lemak tumbuh-tumbuhan.
 Pasta II : berwarna coklat/ merah, terdiri dari eugenol/ oil of cloves,
resin, bahan pengisi (misalnya talk, kaolin), lanolin, balsam, akselerator
(misalnya asam asetat) dan pewarna.
Reaksi setting
Asam + basa --> garam + air
2C101H2O2 + ZnO —> Zn (C101H2O2)2 +H2O
Eugenol + Zink oksida --> Zink eugenolate + air
Zinc Oxide Eugenol (ZOE)
2.3 Gypsum
gips cetak merupakan bahan cetak yang berbahan dasar dari
gipsum
Secara kimiawi gipsum yang dihasilkan untuk tujuan
kedokteran gigi adalah kalsium sulfat dihidrat (CaSO4.
2H2O) murni. Sekarang bahan cetak gips jarang digunakan
sebagai bahan cetak sejak bahan elastomer telah tersedia,
karena gips cetak bersifat rigid dan lebih mudah patah. Dalam
kedokteran gigi bahan ini digunakan untuk membuat model
studi dari rongga mulut serta struktur maksilo-fasial dan
sebagai piranti penting untuk pekerjaan laboratorium
kedokteran gigi sebagai pembuatan protesa gigi.
Macam
 Plaster Cetak (Tipe 1)
 Terdiri dari Plaster of Paris yang ditambahkan zat tambahan
untuk mengatur waktu pengerasan dan ekspansi pengerasan.
 Plaster Model (Tipe 2)
 Biasanya digunakan untuk diagnostic cast dan artikulasi dari
stone cast, diproduksi dalam warna putih untuk membedakan
dengan Dental Stone.
 Stone Gigi (Tipe 3)
 Untuk pembuatan model dari full dan partial denture, model
orthodonsi, dll.
 Stone Gigi Kekuatan Tinggi (Tipe 4)
Sering digunakan sebagai die stone karena cocok untuk
pembuatan pola dari malam dalam cast restoration.
 Stone Gigi Kekuatan Tinggi Ekspansi Tinggi (Tipe 5)
Digunakan untuk memenuhi kebutuhan akan kekuatan dan
ekspansi gips yang lebih tinggi dibanding dental stone.
Material ini berwarna biru atau hijau.
 Gypsum Sintetic
Lebih mahaldibandingkan gips alami, tetapi sifatnya sebanding
atau melebihi stone alami.
Sifat / Karakteristik
 Plaster sangat baik dalam mencatat detail-detail halus
 Perubahan dimensi saat setting sangat kecil
 Perubahan dimensi selama penyimpanan adalah kecil
meskipun ada sedikit kontraksi karena pengeringan
 Sebelum diisi dengan model gips cetakan harus diberi bahan
separasi
 Non toksis
 Waktu setting bisa dikontrol dengan menggunakan bahan
tambahan yang tepat.
Manipulasi
 Ukur perbandingan powder dan liquid menggunakan sendok
takar dan gelas ukur sesuai dengan takaran pabrik
 Campur bubuk dan air ke dalam mangkuk karet lalu aduk
selama 1 menit (120 putaran) hingga adonan terlihat
homogen, dapat dibantu dengan meletakkan mangkuk karet
yang berisi adonan pada vibrator sehingga gelembung-
gelembung udara yang terperangkap dalam adonan dapat
dieliminasi. Perhatikan working time dan setting time
material gypsum.
Gypsum
2.4 Plaster of Paris
Komposisi:
 Komponen utama -> kalsium sulfat beta hemihidrat.
 Komponen tambahan -> potasium sulfat (mengurangi
ekspansi) borax (mengatur waktu setting) starch (pemisah
dengan stone model)
Sifat-sifat
 Viskositas rendah sehingga material cetak ini bersifat
mukostatik.
 Hidrofilik sehingga dapat beradaptasi baik dan dapat
mencetak detil.
 Kaku setelah setting sehingga tidak dapat mencetak undercut
sehingga hanya digunakan untuk mencetak rahang tanpa gigi.
 Menimbulkan sensasi kering pada pasien.
Reaksi setting
Serbuk gips plaster bila dicampur dengan air akan
bereaksi membentuk massa kalsium sulfat dehidrat yang
kaku. Reaksi yang terjadi sama dengan reaksi pada gips
plaster untuk model.

(CaSO4)2.H2O + 3H2O —> 2 CaSO4.2 H20


Kalsium sulfat air Kalsium sulfat
hemihidrat dihidrat
Daftar Pustaka
Power JM, Craig’s, Sakaguchi R. Restorative Dental
Materials 11th edition. St. Louis Missouri. 2002
Anusavice, J Kenneth.2003. Buku Ajar Ilmu Bahan
Kedokteran Gigi. Jakarta : EGC