Anda di halaman 1dari 14

Abses Tuba-Ovarium

Definisi
• Tubo-ovarian abscess (TOA) adalah pembengkakan yang
terjadi pada tuba-ovarium yang ditandai dengan radang
bernanah, baik di salah satu tuba-ovarium, maupun
keduanya (Granberg, 2009).
• TOA Merupakan komplikasi termasuk efek jangka panjang
dari salfingitis akut tetapi biasanya akan muncul dengan
infeksi berulang atau kerusakan kronis dari jaringan adnexa.
Biasanya dibedakan dengan ada tidaknya ruptur.
• Dapat terjadi bilateral walaupun 60% dari kasus abses yang
dilaporkan merupakan kejadian unilateral dengan atau
tanpa penggunaan IUD. Abses biasanya polimikroba.
Gambaran Patologi
Signs and Symptoms
• Karateristik pasien biasanya yang muda serta
paritasnya rendah dengan riwayat infeksi pelvis. Durasi
dari gejala pada wanita biasanya kurang lebih 1 minggu
dan onsetnya biasanya terjadi 2 minggu atau lebih
setelah siklus menstruasi.
• Gejala berikut: nyeri (88%), demam (35%), massa
adneksa (35%), diare (24%), mual dan muntah (18%),
haid tidak teratur (12%).
• Vaginal touche : nyeri goyang portio, nyeri kiri dan
kanan uterus atau salah satunya, kadang-kadang
terdapat penebalan tuba (tuba yang normal, tidak
teraba), seta nyeri pada ovarium karena meradang
Etiologi
• TOA biasanya disebabkan oleh bakteri aerob dan
anaerob, seperti Escherichia coli, Hemolytic
streptococci and Gonococci, Bacteroides species
dan Peptococcus (Seshadri et al., 2004).
• Pada beberapa kasus, Hemophilus influenzae,
Salmonella, actinomyces, dan Staphylococcus
aureus juga dilaporkan menjadi penyebab TOA.
Sekitar 92% penyebab TOA adalah Streptococci
(Cohen et al., 2003).
Faktor Risiko
• Adapun faktor risiko adalah sebagai berikut
(Tuncer et al., 2012) :
– Multiple partner
– Status ekonomi rendah.
– Riwayat PID
– Menggunakan AKDR (alat kontrasepsi dalam
rahim)
– Adanya riwayat STD
Patofisiologi
• Adanya penyebaran bakteri dari vagina ke uterus lalu ke tuba dan
atau parametrium,
• Pada permulaan proses penyakit, lumen tuba masih terbuka
mengeluarkan eksudat yang purulent dari febriae dan menyebabkan
peritonitis, ovarium sebagaimana struktur lain dalam pelvis
mengalami inflamasi, tempat ovulasi dapat sebagai tempat masuk
infeksi.
• Abses masih bisa terbatas mengenai tempat masuk infeksi. Abses
masih bisa terbatas mengenai tuba dan ovarium saja, dapat pula
melibatkan struktur pelvis yang lain seperti usus besar,buli-buli atau
adneksa yang lain
• Proses peradangan dapat mereda spontan atau sebagai respon
pengobatan, keadaan ini biasanya memberi perubahan anatomi
disertai perlekatan fibrin terhadap organ terdekatnya. Apabila
prosesnya menghebat dapat terjadi pecahnya abses (Mudgil, 2009).
Diagnosa
• Klinis:
– Riwayat infeksi pelvis
– Adanya massa adnexa, biasanya lunak
– Produksi pus dari kuldesintesis pada ruptur
• Pemeriksaan Penunjang
– Pemeriksaan laboratorium:
– USG
– CT-Scan
– Kuldosintesis
Diagnosa Banding
a. TOA utuh dan belum b. TOA utuh dengan keluhan
memberikan keluhan • Perforasi apendik
• Kistoma ovari, tumor • Perforasi divertikel/abses
ovari divertikel
• KET • Perforasi ulkus peptikum
• Abses peri, apendikuler • Kelainan sistematis yang
• Mioma uteri memberi distres akut
• Hidrosalping abdominal
• Kista ovari terinfeksi atau
terpuntir
Komplikasi
• TOA yang utuh: pecah sampai sepsis reinfeksi
di kemudian hari, infertilitas
• TOA yang pecah: syok sepsis, abses
intraabdominal, abses subkronik, abses
paru/otak.
Tatalaksana
• Curiga TOA utuh tanpa gejala
– Antibotika dengan masih dipertimbangkan
pemakaian golongan : doksiklin 2x /100 mg / hari
selama 1 minggu atau ampisilin 4 x 500 mg / hari,
selama 1 minggu.
– Pengawasan lanjut, bila masa tak mengecil dalam
14 hari atau mungkin membesar adalah indikasi
untuk penanganan lebih lanjut dengan
kemungkinanuntuk laparatomi
Lanjutan…
• TOA utuh dengan gejala
– Tirah baring posisi “semi fowler”
– observasi ketat tanda vital dan produksi urine, periksa lingkar
abdmen, jika perlu pasang infuse P2
– Antibiotika massif (bila mungkin gol beta lactar) minimal 48-72
jam Gol ampisilin 4 x 1-2 gram selama / hari, IV 5-7 hari dan
gentamisin 5 mg / kg BB / hari, IV/im terbagi dalam 2x1 hari
selama 5-7 hari dan metronida xole 1 gr reksup 2x / hari atau
kloramfinekol 50 mg / kb BB / hari, IV selama 5 hari
metronidazol atau sefaloosporin generasi III 2-3 x /1 gr / sehari
dan metronidazol 2 x1 gr selama 5-7hari
– Pengawasan ketat mengenai keberhasilan terapi
– Jika perlu dilanjutkan laparatomi, SO unilateral, atau
pengangkatan seluruh organ genetalia interna.
Lanjutan…
• TOA yang pecah
– TOA yang pecah merupakan kasus darurat:
dilakukan laparotomi pasang drain kultur nanah.
– Setelah dilakukan laparatomi, diberikan
sefalosporin generasi III dan metronidazol 2 x 1 gr
selama 7 hari (1 minggu).
Prognosis
• TOA yang utuh
– Pada umumnya prognosa baik,
– Apabila dengan pengobatan medidinaslis tidak ada perbaikan
keluhan dan gejalanya maupun pengecilan tumornya lebih baik
dikerjakan laparatomi jangan ditunggu abses menjadi pecah
yang mungkin perlu tindakan lebih luas.
– Kemampuan fertilitas jelas menurun kemungkinan reinfeksi
harus diperhitungan apabila terapi pembedahan tak dikerjakan
• TOA yang pecah
– Kemungkinan septisemia besar oleh karenanya perlu
penanganan dini dan tindakan pembedahan untuk menurunkan
angka mortalitasnya.