Anda di halaman 1dari 26

LAPORAN

KASUS

GASTROENTERITIS
AKUT
Hendriana Sussana Kasale
Tirza Yustianah Limbong
Alfina Alfiani M.K., S.Ked
Andi Riza Syafitri
Fadiyah Ulfah Khalid
Iqrana

Dibawakan dalam Rangka Tugas Kepaniteraan Klinik


Bagian Ilmu Penyakit Dalam
Fakultas Kedokteran Universitas Muslim Indonesia | Makassar 2017
IDENTITAS PASIEN

Nama : Tn.B
Umur : 55 tahun
No. index : 17/A/2017
Alamat : Jln. PT punggawa no. 71
Pekerjaan : Wiraswasta
Tanggal masuk : 20/02/2017
ANAMNESIS
■ Keluhan Utama : BAB encer.

■ Riwayat Penyakit Sekarang


Pasien datang ke puskesmas dengan keluhan BAB encer berampas tanpa lendir dan
darah. BAB encer sejak kemarin dan memberat sejak pagi hari pada tanggal 20 Februari
2017 dengan frekuensi >3 kali saat masih di rumah. Terdapat nyeri perut dibawah
umbilikus dan terasa melilit. Sehari sebelum ke puskesmas, terdapat riwayat demam, mual
tapi tidak disertai muntah. Rasa pusing serta sakit kepala ada. Nafsu makan baik. BAK
lancar, volume cukup dan berwarna kuning jernih. Sebelum ,engeluhkan BAB encer pasien
mengaku sudah makan bakso lalu setelah itu keluhan muncul.
ANAMNESIS

■ Riwayat penyakit sebelumnya :


Riwayat penyakit yang sama sebelumnya disangkal. Riwayat berobat sebelumnya
tidak ada. Riwayat penyakit DM (-), Jantung (-), Hipertensi (-), Ginjal (-), Asma (-).

■ Riwayat pribadi dan keluarga :


Riwayat penyakit yang sama pada keluarga disangkal.
PEMERIKSAAN FISIK

TANDA-TANDA VITAL
Keadaan Umum : Baik
• Tekanan darah : 130/80 mmHg
Gizi : Baik
• Nadi : 80 x /menit
GCS : E4M6V5
• Pernapasan : 22 x/menit,
BB : 48 kg
• Suhu : 37 oC
TB : 152 cm
• Nyeri : ada
PEMERIKSAAN FISIK
Kepala
• Ekspresi : Biasa
• Simetris muka : Simetris kiri dan kanan
• Deformitas : Tidak ada
• Rambut : Hitam, lurus, sukar dicabut

Mata
• Eksoptalmus/Enoptalmus : (-)
• Gerakan : Dalam batas normal
• Tekanan bola mata : Tidak diperiksa
• Kelopak mata : Edema palpebral (-)
• Konjungtiva : Anemis (-/-)
• Sklera : Ikterus (-/-)
• Kornea : Jernih
• Pupil : Bulat, isokor 2,5mm/2,5mm
PEMERIKSAAN FISIK
Telinga
• Tophi : (-)
• Pendengaran : Dalam batas normal
• Nyeri tekan di prosesus mastoideus: (-) Leher
• Kelenjar getah bening : Tidak ada
Hidung pembesaran
• Perdarahan : (-)
• Sekret : (-)
• Kelenjar gondok : Tidak ada
pembesaran
Mulut • DVS : R+0 cm H2O
• Bibir : Pucat (-), Kering (-) • Pembuluh darah : Dalam batas normal
• Gigi geligi : Caries (-)
• Kaku kuduk : Tidak ada (-)
• Gusi : Perdarahan gusi (-)
• Tonsil : T1 – T1, hiperemis (-) • Tumor : Tidak ada (-)
• Faring : Hiperemis (-)
• Lidah : Kotor (-), tremor (-),
hiperemis (-)
PEMERIKSAAN FISIK
Thoraks
■ Perkusi
■ Inspeksi
• Paru kiri : Sonor
• Bentuk : Normochest, simetris kiri =
kanan • Paru kanan : Sonor
• Pembuluh darah : Tidak ditemukan kelainan • Batas paru-hepar : ICS VI dekstra anterior
• Buah dada : Simetris kiri = kanan, • Batas paru belakang kanan: setinggi
ginekomastia (-) columna vertebra thorakal IX dekstra
• Sela iga : Dalam batas normal, tidak • Batas paru belakang kiri: setinggi columna
melebar vertebra thorakal X sinistra
• Lain-lain : (-)
 Auskultasi
■ Palpasi
• Bunyi pernapasan : Vesikuler
• Fremitus raba : Simetris kiri dan kanan.
• Bunyi tambahan : Ronchi -/- , Wheezing -/-
• Nyeri tekan & : Tidak ada
PEMERIKSAAN FISIK
Abdomen
• Inspeksi : Datar, ikut gerak napas,
• Auskultasi : Peristaltik (+), kesan normal
Jantung • Palpasi : Nyeri tekan (+), massa tumor (-), Hepar
• Inspeksi : Ictus cordis tidak tidak teraba, Lien tidak teraba
tampak • Perkusi : Timpani, undulasi (-)
• Lain-lain : Ascites (-)
• Palpasi : Ictus cordis tidak teraba
Punggung
• Perkusi : Batas kanan jantung ICS • Palpasi : NT(-), MT (-)
4 line parasternalis Dextra, Batas kiri • Nyeri ketok : dalam batas normal
jantung ICS 5 linea midklavikularis • Auskultasi : dalam batas normal
Sinistra • Gerakan : dalam batas normal
• Auskultasi : Bunyi jantung I/II murni Alat Kelamin, Anus dan Rektum
regular, bunyi tambahan (-) Tidak diperiksa
Extremitas
• Edema -/- Perdarahan (-), palmar eritam (-), akral
hangat
PLANNING

• Ranitidin / 12 jam/ oral

• Cotrimoxazole 80 mg/ 12 jam/ oral

• Paracetamol 500 mg /8 j / oral

• Diet rendah serat


PENDAHULUAN

Gastroenteritis akut (GEA) adalah Buang air besar dengan feses


tidak berbentuk atau cair dengan frekuensi lebih dari 3 kali
dalam 24 jam.

(Zulkifli Lukman. 2015. Tatalaksana Diare akut. Jakarta. Vol.42 no7)


ETIOLOGI
■ Virus
Rotavirus (serotype 1,2,8,9) pada manusia, norwalk virus, astrovirus, adenovirus (type
40,41), small bowel structured virus, cytomegalovirus.
■ Bakteri
ETEC (Enterotoxigenik E.coli) , EPEC (Enteropathogenic E.coli), EAggEC (Enteroaggregative
E.coli), Enteroinvasive E.coli (EIEC), Enterohemorragic E.coli (EHEC), Shigella spp,
Campylobacter jejuni (helicobacter jejuni), Vibrio Cholerae 01, Vibrio Cholerae 0139,
Salmonella (non Thypoid).
■ Protozoa
Giardia lamblia, Entamoeba histolytica, Cryptosporidium, microsporidium spp, isospora
belli,cylosspora cayatanensis.
■ Helmint
Strongyloides stercoralis, schistosoma spp, Capilaria Philippinensis, Trichuris trichura.
FAKTOR RISIKO

■ Tidak tersedianya fasilitas penyediaan air bersih secara memadai


■ Sumber air tercemar feses
■ Pembuangan feses yang tidak higienis
■ Kebersihan perorangan dan lingkungan yang buruk
■ Penyiapan dan penyimpanan makanan yang tidak semestinya.
PATOFISIOLOGI

Diare Diare
sekretorik osmotik

Diare Diare
dismotilitas inflamatorik
MANIFESTASI KLINIS
•Demam
•Mual Muntah
•Nyeri Abdomen
•Diare
•Malaise
•Anorexia
DIAGNOSIS
■ Anamnesis
Pasien dengan diare akut infektif datang dengan keluhan
khas yaitu mual, muntah, nyeri abdomen, demam dan tinja
yang sering, bisa air, malabsorbtif, atau berdarah tergantung
bakteri yang menyebabkan.
■ Tanyakan:
1.Kontak terakhir dengan seseorang yang mengalami diare akut
dan/atau muntah
2. Pajanan terhadap sumber infeksi enterik yang diketahui
(mungkin dari makanan atau air yang terkontaminasi)
3. Perjalanan atau bepergian.
(Simadibrata K et al., 2009).
DIAGNOSIS

■ Pemeriksaan Klinis
Menilai perubahan tekanan darah dan nadi, temperatur
tubuh dan tanda toksisitas. Pemeriksaan abdomen yang
seksama juga merupakan hal yang penting dilakukan

(Simadibrata K et al., 2009).


PEMERIKSAAN PENUNJANG

■ Pemeriksaan Tinja
Biakan, makroskopis, mikroskopis, tes resitensi antibiotik,
pemeriksaan Glukosa untuk mendiagnosis adanya intoleransi
laktosa
■ Pemeriksaan Darah Rutin
elektrolit, pH dan ureum

Pedoman pengendalian Hepatitis Virus,2012, Kemenkes RI


DIAGNOSIS BANDING

■ Leptospirosis
■ Malaria
■ Infeksi Salmonella typhii

Pedoman pengendalian Hepatitis Virus,2012, Kemenkes RI


PENATALAKSANAAN
1. Rehidrasi 2. Nutrisi 3. Antibiotik

Makan porsi kecil Pilihan 1


Dehidrasi ringan :
tapi sering Siprofloksasin 500mg
Banyak minum air putih,
2x1 selama 5-7hari
sari buah.

Tidak bergas, Alternatif 1


berkafein, Amoksisilin 750mg
Dehidrasi sedang/berat : beralkohol 4x1 selama 14hari
Oral  oralit
Iv  Ringer Laktat
Alternatif 2
Kotrimoksazol 960mg
2x1 selama 14hari

Infeksi Parasit :
Metronidazole 250-500mg 3x1
selama 7-14hari
PENATALAKSANAAN

4. Antiemetik 5. Anti diare 6. Antispasmodik

Loperamide 4mg
Hioscien-n-
dosis awal
Domperidone 10- butilbromide 10mg,
dilanjutkan 2mg tiap
20mg 3x1 2-3x sehari, max
diare, max 15mg/24
100mg/hari
jam
PENCEGAHAN

Hindari konsumsi
Selalu mencuci tangan dengan makan mentah atau es
sabun dan air bersih yang batu yang terbuat dari
mengalir setelah melakukan air yang tidak bersih
aktivitas

Menjaga kebersihan Menghindari makanan yang


dapur dan kamar tidak terjamin kebersihannya
mandi
KOMPLIKASI

Gagal Ginjal Akut

Syok Hipovolemik
PROGNOSIS

BONAM
TERIMA KASIH