Anda di halaman 1dari 52

MATERI A.

KEBIJAKAN PENYELENGGARAAN PENDIDIKAN INKLUSIF

DISAMPAIKAN OLEH :
TIM NARA SUMBER POKJA INKLUSIF JAWA BARAT

DISAMPAIKAN OLEH TIM NARA SUMBER POKJA INKLUSIF JAWA BARAT

PEMERINTAH DAERAH KABUPATEN KARAWANG


DINAS PENDIDIKAN
TAHUN 2017
 Apakah semua anak telah memperoleh akses
pendidikan?

 Apakah semua anak telah memperoleh pendidikan


yang bermutu?

 Apakah semua sekolah telah ramah, terbuka, dan


tidak diskriminasi terhadap semua anak?
PENYELENGGARAAN
PENDIDIKAN UNTUK SEMUA (PUS)
JALUR PENDIDIKAN FORMAL

ABK/PDBK SD/MI,
SMPMTs,
SMA/MA/SMK/
MAK

ANAK/PESERTA
ANAK/PESERTA
DIDIK PADA
DIDIK UMUMNYA
HISTORI
PENYELENGGARAAN PENDIDIKAN
INKLUSIF DI JAWA BARAT

TAHUN

2002 2003 2011 2012 2013 2014


Pendidikan masih bersifat eksklusif, yang
ditandai oleh adanya diskriminasi,
pembelajaran yang hanya berpusat pada
kurikulum, dan pendidikan yang belum
memperhatikan keberagaman anak.
PDBK PADA JENJANG PENDIDIKAN MENENGAH
Ayu Tri Handayani membatik dengan kaki
Stevie Wonder

Helen Keller

Ludwig Van Beethoven


PERMASALAHAN PENDIDIKAN INKLUSIF
1. Tidak ada atau kurangnya guru yang memiliki kualifikasi akademik pendidikan
khusus
2. Kurang/tidak adanya pelatihan bagi guru sekolah umum mengenai pendidikan
inklusif sehingga para guru dan tenaga kependidikan belum memahami
layanan pembelajaran bagi Peserta DidikBerkebutuhan Khusus (PDBK)
3. Tidak tersedianya dana atau anggaran untuk pelaksanaan identifikasi dan
asesmen yang dibutuhkan SPPPI
4. Kurangnya pemahaman konsep dasar pendidikan inklusif baik para penentu
kebijakan, guru, kepala sekolah, pengawas sekolah, tenaga kependidikan dan
masyarakat
5. Kurangnya sarana dan sarana pendidikan yang aksesibel sebagai penunjang
penyelenggaraan pendidikan inklusif

(Sumber : Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Karanganyar Jawa tengah)


AYO KITA ANALISIS
AYO URUSAN PEMERINTAH DAERAH
KABUPATEN KARAWANG
DALAM BIDANG PENDIDIKAN
 Penyelenggaraan Pendidkikan Anak Usia Dini
 Penyelenggaraan Pendidikan Inklusif Pada Pendidikan Anak
Usia Dini?
 Penyelenggaraan Pendidikan Dasar
 Penyelenggaraan Pendidikan Layanan Khusus Pada Jenjang
Pendidikan Dasar?
 Penyelenggaraan Pendidikan Inklusif Pada Jenjang Pendidikan
Dasar?
 Penyelenggaraan Pendidikan Nonformal
UU NO. 23 TAHUN 2014
PEMBAGIAN URUSAN PEMERINTAHAN BIDANG PENDIDIKAN
NO SUB URUSAN PEMERINTAH DAERAH DAERAH KAB/KOTA
PUSAT PROVINSI
1 Manajemen a. Penetapan Standar a. Pengelolaan a. Pengelolaan
Pendidikan Nasional Pendidikan Pendidikan Pendidikan Dasar
b. Pengelolaan Menengah b. Pengelolaan
Pendidikan Tinggi b. Pengelolaan pendidikan anak usia
Pendidikan dini dan pendidikan
Khusus nonformal
2 Kurikulum Penetapan kurikulum Penetapan Penetapan kurikulum
nasional pendidikan kurikulum muatan muatan lokal
menengah, pendidikan lokal pendidikan pendidikan dasar,
dasar, pendidikan anak menengah dan pendidikan anak usia
usia dini, dan muatan lokal dini, dan pendidikan
pendidikan nonformal. pendidikan khusus. nonformal.
NO SUB URUSAN PEMERINTAH PUSAT DAERAH DAERAH KAB/KOTA
PROVINSI
3 Akreditasi Akreditasi perguruan - -
tinggi, pendidikan
menengah, pendidikan
dasar, pendidikan
anak usia dini, dan
pendidikan nonformal.
4 Pendidik dan Pengendalian formasi Pemindahan Pemindahan
Tenaga pendidik, pemindahan pendidik dan pendidik dan tenaga
Kependidikan pendidik, dan tenaga kependidikan dalam
pengembangan karier kependidikan Daerah
pendidik. b. lintas Daerah kabupaten/kota.
Pemindahan pendidik kabupaten/kota
dan tenaga kependidikan dalam 1 (satu)
lintas Daerah provinsi. Daerah provinsi.
NO SUB URUSAN PEMERINTAH PUSAT DAERAH DAERAH KAB/KOTA
PROVINSI
5 Perizinan a. Penerbitan izin a. Penerbitan izin a. Penerbitan izin
Pendidikan perguruan tinggi swasta pendidikan pendidikan dasar yang
yang diselenggarakan menengah yang diselenggarakan oleh
oleh masyarakat. diselenggarakan masyarakat.
b. Penerbitan izin oleh masyarakat. b. Penerbitan izin
penyelenggaraan satuan b. Penerbitan izin pendidikan anak usia
pendidikan asing. pendidikan khusus dini dan pendidikan
yang nonformal yang
diselenggarakan diselenggarakan oleh
oleh masyarakat. masyarakat.
6 Bahasa dan Pembinaan bahasa dan Pembinaan bahasa dan Pembinaan bahasa dan
Sastra sastra Indonesia. sastra yang penuturnya sastra yang penuturnya
lintas Daerah dalam Daerah
kabupaten/kota dalam kabupaten/kota.
1 (satu) Daerah
provinsi.
DASAR PEMENUHAN HAK PENYANDANG DISABILITAS
Pelaksanaan dan pemenuhan hak penyandang
Disabilitas berasaskan:
a. Penghormatan terhadap martabat;
b. otonomi individu;
c. tanpa Diskriminasi;
d. partisipasi penuh;
e. keragaman manusia dan kemanusiaan;
f. Kesamaan Kesempatan;
g. kesetaraan;
h. Aksesibilitas;
i. kapasitas yang terus berkembang dan identitas anak;
j. inklusif; dan
k. perlakuan khusus dan Pelindungan lebih.
Pasal 2 UU No.8 Tahun 2016 tentang Penyandang Disabilitas
Pasal 6 Permendikbud Nomor 3Tahun 2017
tentang Penilaian Hasil Belajar oleh Pemerintah
dan Penilaian Hasil Belajar oleh Satuan
Pendidikan

(1) Setiap peserta didik berkebutuhan khusus


tidak wajib mengikuti UN dan USBN
PENJELASAAN UU NO. 20 TAHUN
2003 TENTANG SISTEM
PENDIDIKAN NASIONAL
Pasal 15 (…) Pendidikan khusus
merupakan penyelenggaraan pendidikan
untuk peserta didik yang berkelainan
atau peserta didik yang memiliki
kecerdasan luar biasa yang
diselenggarakan secara inklusif atau
berupa satuan pendidikan khusus pada
tingkat pendidikan dasar dan menengah.
SURAT DIRJEN DIKDASMEN DEPDIKNAS
Nomor : 380/C.C6/MN/2003. 30 Januari 2003
Perihal : Pendidikan Inklusi

Dengan hormat kami informasikan bahwa dalam rangka menuntaskan wajib belajar pendidian
dasar dan memberikan kesempatan pendidikan bagi semua (Edducation for All) termasuk anak-
anak dengan pendidikan khusus. Departemen Pendidikan Nasional melalui Direktorat Jenderal
Pendidikan Dasar dan Menengah mengupayakan berbagai model penyelenggaraan pendidikan,
salah satu di antaranya adalah pendidikan inklusi.
Pendidikan inklusi adalah pendidikan yang mengikutsertakan anak-anak yang memilik kebutuhan
khusus (anak luar biasa) untuk belajar bersama-sama dengan anak sebaya sekolah umum.
Untuk menyelenggarakan dan mengembangkan pendidikan inklusi dimaksud, kami mohon
kesediaan Saudara untuk menentukan, memfasilitasi dan membina sekolah perintis pendidikan
inklusi di wilayah binaan Saudara di setiap kabupaten/kota sekurang-kurangnya 4 (empat) sekolah
yang terdiri atas :
1 (satu) Sekolah Dasar (SD)
1 (satu) Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama (SLTP)
1 (satu) Sekolah Menengah Umum (SMU)
1 (satu) Sekolah Menengah Kejuruan (SMK)
.. Kami berharap upaya ini sudah dapat terealisasi mulai pada penerimaan siswa baru tahun
pelajaran 2003/2004 mendatang. ......”
PP NO 19 TAHUN 2005 TENTANG STANDAR NASIONAL PENDIDIKAN
SEBAGAIMANA TELAH DIUBAH BEBERAPA KALI TERAKHIR DENGAN
PP NO. 13 TAHUN 2015 TENTANG PERUBAHAN KEDUA ATAS PP NO. 19
TAHUN 2005 TENTANG STANDAR NASIONAL PENDIDIKAN
Pasal 41 ayat 1 Setiap satuan pendidikan yang melaksanakan pendidikan
inklusif harus memiliki tenaga kependidikan yang mempunyai kompetensi
menyelenggarakan pembelajaran bagi peserta didik dengan kebutuhan khusus.
PP NO. 17 TAHUN 2010
Pasal 131 ayat (2)
Pemerintah kabupaten/kota menjamin
terselenggaranya pendidikan khusus pada
satuan pendidikan umum dan satuan
pendidikan kejuruan sesuai dengan
kebutuhan peserta didik
MENGAPA PENDIDIKAN PERMENDIKNAS
INKLUSIF 70 TAHUN 2009
Mengarah ke
pemberian jaminan
kesetaraan

Pendidikan inklusif adalah sistem penyelenggaraan


pendidikan yang menjamin kesetaraan bagi peserta didik
berkebutuhan khusus dan peserta didik pada umumnya
untuk mengikuti pendidikan dalam satu lingkungan
pendidikan secara bersama dengan suatu sistem layanan
yang disesuaikan dengan kebutuhan peserta didik.
PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN PEMDA
PROV JAWA BARAT

 PerdaProvinsi Jawa Barat Nomor 7 Tahun 2008 tentang


Penyelenggaraan Pendidikan. Diganti dengan Perda Provinsi
Jawa Barat Nomor 5 Tahun 2017 tentang Penyelenggaraan
Pendidikan
 Peraturan
Gubernur Jawa Barat Nomor 72 Tahun 2013 tentang
Pedoman Penyelenggaraan Pendidikan Inklusif
Apakah semua anak memperoleh kesempatan yang luas
untuk memperoleh pendidikan yang bermutu?

Apakah semua masyarakat menghargai keanekaragaman


dan tidak diskriminatif.
DASAR HUKUM
PENDIDIKAN INKLUSIF
Beberapa peraturan perundang-undangan yang dapat
dijadikan
Dasar hukum dalam penyelenggaraan pendidikan inklusif
sebagai
Berikut :
PEMERINTAH KABUPATEN KARAWANG
DINAS PENDIDIKAN PEMUDA DAN OLAHRAGA
BIMBINGAN TEKNIS PENDIDIKAN INKLUSIF TAHUN 2017
PERKEMBANGAN PEMBUDAYAAN PENDIDIKAN
INKLUSIF DI INDONESIA
Tahun
Tahun 2007
2006

 UU No. 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen


Tahun  PP. No. 19 Tahun 2005 tentang SNP, Pasal 41
 Seminar Internasional Pendidkan Inklusif di Bukitinggi
2005  PP No. 36 Tahun 2005 tentang Peraturan Pelaksanaan UU Nomor
28 Tahun 2002
Tahun  Deklarasi Bandung “Indonesia Menuju Pendidikan
2004 Inklusif.” (11-8-2004)
Tahun  Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional
2003  Surat Edaran Dirjen Dikdasmen Nomor 380/C.C6/MN/2003.

Tahun  Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 Tentang Perlindungan Anak


2002
PERKEMBANGAN PEMBUDAYAAN PENDIDIKAN
INKLUSIF DI INDONESIA
Tahun  Mulai Penganugerahan
Provinsi/Kabupaten/Kota Penerima
2012 Inclusive Award

Tahun  UU No. 19 Tahun 2011 tentang Pengesahan


Convention on The Right Of Persons With
2011 Disabilities (Konvensi Mengenai Hak-hak
Penyandang Disabilitas)
Tahun
 PP.No.17 Tahun 2010 - PP. No. 66 Tahun 2010
2010  Permendiknas No. 35 Tahun 2010

Tahun  Permendiknas Nomor 70 Tahun 2009 tentang Pendidikan Inklusif bagi Peserta
Didik yang Memiliki Kelainan dan Memiliki Potensi Kecerdasan dan/atau Bakat
2009 Istimewa.
Tahun  Peraturan Pemerintah Nomor 74 Tahun 2008 tentang Guru
 Permendiknas Nomor 32 Tahun 2008 tentang Standar Kualifikasi dan Kompetensi Guru
2008 Pendidikan Khusus
 PP.19 tahun 2017 ttg Perubahan PP.74 Tahun
PERKEMBANGAN PEMBUDAYAAN 2008
 Permendikkbud No.3 Tahun 2017 ttg Penilaian
PENDIDIKAN INKLUSIF DI Hasil Belajar oleh Pemerintah dan Penilaian
Hasil Belajar oleh Satuan Pendidkan
INDONESIA  Permendikbud No. 14 Tahun 2017 ttg Ijazah dan
Tahun SHUN
 Permendikbud No. 17 Tahun 2017 ttg PPDB
2017  SE Dirjen Dikdasmen No.1040/D6/KR/2017
 SE Dirjen Dikdasmen No.2951/D.D6/HK/2017
Tahun  UU No. 8 Tahun 2016 tentang Penyandang
Disabilitas
2016  Permendikbud 20, 21, 22, 23, 24 Tahun 2016
Tahun  UU No. 09 Tahun 2015 Perubahan Kedua UU No. 23 Tahun 2014
 Permendikbud Nomor 23 Tahun 2015 tentang Penumbuhan Budi Pekerti
2015  Permendikbud No. 53 Tahun 2015
 Permendikbud Nomor 82 Tahun 2015 tentang Pencegahan dan
Tahun Penanggulangan Tindak Kekerasan di Lingkungan Satuan Pendidikan

2014 

UU No.23 Tahun 2014
UU No. 35 Tahun 2014 ttg UU Perubahan No. 23 Tahun 2002 Perlindungan Anak
 Permendikbud No. 146 Tahun 2014 tentang Kurikulum 2013 PAUD
Tahun  Peraturan Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Nomor 8 Tahun 2014
tentang Kebijakan Sekolah Ramah Anak
2013  Penganugerahan Provinsi/Kabupaten/Kota Penerima Inclusive Award
Deklarasi Bandung “Indonesia Menuju Pendidikan
Inklusif.” (11-8-2004)
1. Menjamin setiap anak berkelainan dan anak berkebutuhan khusus
lainnya mendapatkan kesamaan akses dalam segala aspek
kehidupan, baik dalam bidang pendidikan, kesehatan, sosial,
kesejahteraan, keamanan, maupun bidang lainnya, sehingga
menjadi generasi penerus handal.
2. Menjamin setiap anak berkelainan dan anak berkebutuhan khusus
lainnya, sebagai individu yang bermartabat untuk mendapatkan
perlakuan yang manusiawi, pendidikan yang bermutu dan sesuai
dengan potensi dan tuntutan masyarakat tanpa perlakuan
diskriminatif yang merupakan eksistensi kehidupannya baik secara
fisik, psikologis, ekonomis, sosiologis, hukum, politis maupun
kutural.
3. Menyelenggarakan dan mengembangkan pengelolaan
pendidikan inklusif yang ditunjang kerjasama yang sinergis dan
produktif di antara para stakeholders, terutama pemerintah,
institusi pendidikan, institusi terkait, dunia usaha dan dunia
industri, orang tua serta masyarakat.
4. Menciptakan lingkungan yang mendukung bagi pemenuhan
anak berkelainan dan anak berkebutuhan khusus lainnya,
sehingga memungkinkan mereka dapat mengembangkan
keunikan potensinya secara optimal.
5. Menjamin kebebasan anak berkelainan dan anak berkebutuhan
khusus lainnya untuk berinteraksi baik secara reaktif maupun
proaktif dengan siapapun, kapanpun dan di lingkungan
manapun, dengan meminimalkan hambatan.
6. Mempromosikan dan mensosialisasikan layanan pendidikan inklusif
melalui media masa, forum ilmiah, pendidikan dan pelatihan, dan
lainnya secara berkesinambungan.
7. Menyusun Rencana Aksi (Action Plan) dan pendanaannya untuk
pemenuhan aksesibilitas fisik dan non fisik, layanan pendidikan yang
berkualitas, kesehatan, rekreasi, kesejahteraan bagi semua anak
berkelainan dan anak berkebutuhan khusus lainnya.
Pasal 51 UU No. 35 Tahun 2014 : “Anak Penyandang Disabilitas diberikan
kesempatan dan aksesibilitas untuk memperoleh pendidikan inklusif dan/atau
pendidikan khusus.”

Pasal 53 UU No. 35 Tahun 2014 :”


(1) Pemerintah dan Pemerintah Daerah bertanggung jawab untuk memberikan
biaya pendidikan dan/atau bantuan cuma-cuma atau pelayanan khusus bagi
Anak dari Keluarga kurang mampu, Anak Terlantar, dan Anak yang
bertempat tinggal di daerah terpencil.
(2) Pertanggungjawaban Pemerintah dan Pemerintah Daerah sebagaimana
dimaksud pada ayat (1) termasuk pula mendorong Masyarakat untuk
berperan aktif.”
Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang
Pemerintahan Daerah sebagaimana telah diubah beberapa
kali terakhir dengan Undang-Undang Nomor 9 tahun 2015
tentang Perubahan kedua Atas Undang-Undang Nomor 23
Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah

Pendidikan Menengah dan Pendidikan Khusus urusan


Pemerintah Daerah Provinsi
DASAR PEMENUHAN HAK PENYANDANG DISABILITAS

Pelaksanaan dan pemenuhan hak Penyandang Disabilitas berasaskan:


a. Penghormatan terhadap martabat;
b. otonomi individu;
c. tanpa Diskriminasi;
d. partisipasi penuh;
e. keragaman manusia dan kemanusiaan;
f. Kesamaan Kesempatan;
g. kesetaraan;
h. Aksesibilitas;
i. kapasitas yang terus berkembang dan identitas anak;
j. inklusif; dan
k. perlakuan khusus dan Pelindungan lebih.
Pasal 2 UU No.8 Tahun 2016 tentang Penyandang Disabilitas
 Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor 30/Prt/M/2006
Tentang Pedoman Teknis Fasilitas dan Aksesibilitas Pada
Bangunan Gedung Dan Lingkungan
 Permendikbud Nomor 3 Tahun 2017 tentang Penilaian Hasil
Belajar Oleh Pemerintah dan Penilaian Hasil Belajar oleh
Satuan Pendidikan;
 Permendikbud Nomor 17 Tahun 2017 tentang Penerimaan
Peserta Didik Baru;
 Permendikbud Nomor 23 Tahun 2017 tentang Hari Sekolah
Permendikbud Nomor 17 Tahun 2017 tentang
Penerimaan Peserta Didik Baru

Pasal 10 Ketentuan terkait persyaratan usia dan memiliki SHUN


sebagaimana dimaksud dalam Pasal 5 sampai dengan Pasal 7
tidak berlaku kepada peserta didik yang berkebutuhan khusus
yang akan sekolah di sekolah yang menyelenggarakan program
pendidikan inklusif
KURIKULUM 2013 PAUD ------------- PAUD INKLUSIF

Keseriusan Pemerintah dalam menyelenggarakan PAUD inklusif sudah


tercantum dalam Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 146
Tahun 2014 tentang Kurikulum 2013 Pendidikan Anak Usia Dini. Pada lampiran
I B. Landasan Sosiologis menjelaskan bahwa Kurikulum 2013 Pendidikan Anak
Usia Dini dikembangkan sesuai dengan tuntutan dan norma-norma yang
berlaku di masyarakat setempat. Masyarakat Indonesia adalah masyarakat
yang sangat beragam. Satuan PAUD merupakan representasi dari masyarakat
yang beragam baik dari aspek strata sosial-ekonomi, budaya, etnis, agama,
kondisi fisik maupun mental. Untuk mengakomodasi keberagaman itu,
Kurikulum 2013 Pendidikan Anak Usia Dini dikembangkan secara inklusif
untuk memberi dasar terbentuknya sikap saling menghargai dan tidak
membeda-bedakan.
Permendikbud Nomor 3 Tahun 2017 tentang Penilaian
Hasil Belajar oleh Pemerintah dan Penilaian Hasil Belajar
oleh Satuan Pendidikan

Pasal 6
(1) Setiap peserta didik yang berkebutuhan khusus tidak wajib
mengikuti UN dan USBN
(2) Peserta didik yang berkebutuhan khusus yang mengikuti UN
sebagaimana dimaksud pada ayat (1) berhak mengulang UN
untuk memenuhi kriteria pencapaian standar kompetensi lulusan
Permendikbud Nomor 17 Tahun 2017 tentang
Penerimaan Peserta Didik Baru

Pasal 10 Ketentuan terkait persyaratan usia dan memiliki SHUN


sebagaimana dimaksud dalam Pasal 5 sampai dengan Pasal 7
tidak berlaku kepada peserta didik yang berkebutuhan khusus
yang akan sekolah di sekolah yang menyelenggarakan program
pendidikan inklusif
KURIKULUM 2013 PAUD ------------- PAUD INKLUSIF

Keseriusan Pemerintah dalam menyelenggarakan PAUD inklusif sudah


tercantum dalam Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 146
Tahun 2014 tentang Kurikulum 2013 Pendidikan Anak Usia Dini. Pada lampiran
I B. Landasan Sosiologis menjelaskan bahwa Kurikulum 2013 Pendidikan Anak
Usia Dini dikembangkan sesuai dengan tuntutan dan norma-norma yang
berlaku di masyarakat setempat. Masyarakat Indonesia adalah masyarakat
yang sangat beragam. Satuan PAUD merupakan representasi dari masyarakat
yang beragam baik dari aspek strata sosial-ekonomi, budaya, etnis, agama,
kondisi fisik maupun mental. Untuk mengakomodasi keberagaman itu,
Kurikulum 2013 Pendidikan Anak Usia Dini dikembangkan secara inklusif
untuk memberi dasar terbentuknya sikap saling menghargai dan tidak
membeda-bedakan.
MEKANISME PENYUSUNAN PERATURAN
BUPATI TENTANG PENYELENGGARAAN
PENDIDIKAN
UU NO.20 TAHUN 2003, UU. NO.23
INKLUSIF
TAHUN 2014, UU NO.8 TAHUN 2016
PP NO. 17 TAHUN 2010-PP NO.66
TAHUN 2010
PERMENDIKNAS NO.70 TAHUN
2009

PERDA NO.5 TAHUN 2017


TENTANG PENYELENGGARAAN
PENDIDIKAN
PERGUB NO.72 TAHUN 2013

PERATURAN BUPATI NOMOR


TAHUN TENTANG
PENYELENGGARAAN
PENDIDIKAN INKLUSIF
DUKUNGAN/FASILITASI PEMERINTAH DAN PEMERINTAH
PROVINSI

KELEMBAGAAN PERATURAN BUPATI NOMOR PTK


TAHUN TENTANG
PENYELENGGARAAN
PENDIDIKAN INKLUSIF
PESERTA DIDIK SARPRAS

PENYELENGGARAAN
PENYELENGGARAAN PENDIDIKAN INKLUSIF
KURIKULUM BIAYA
PENDIDIKAN INKLUSIF PADA JALUR PENDIDIKAN
PADA PAUD FORMAL NON
DAN NON FORMAL FORMAL/PENDIDIKAN
PEMBELAJARAN MASYARAKT DUKUNGAN

PENYELENGGARAAN
KERJASAMA
PENILAIAN PENDIDIKAN INKLUSIF
KEMITRAAN
PADA JENJANG
PENDIDIKAN DASAR
MENUJU SEKOLAH YANG BERMUTU DAN MENGAKSES
SEMUA ANAK
Tenaga Sistem Mutu
Pendidik Penilaian Lulusan

Tenaga
Kependidikan WHAT WE ARE
Current Situation GOING TO BE
Pembiayaan
Existing School
Pengelolaan

Sarana Informasi
Prasarana
Kuriculum Proses

SEKOLAH BERMUTU
Incluisive
Education

Financial & Human ICT Organization


Physical Assets Capital Capital Capital
IMPLEMENTASI PENDIDIKAN INKLUSIF DI SEKOLAH

ADAPTASI
PPDB MENGAKOMODASI ABK
PUSAT SUMBER KURIKULUM
(RESORCE CENTRE)

SEKOLAH PENYELENGGARA
PENDIDIKAN INKLUSIF
KERJASAMA DAN PEMBELAJARAN
MEMBANGUN ADAPTIF
JARINGAN

PELAKSANAAN PENILAIAN HASIL


PENGADAAN/PENGANGKATAN
BANTUAN BELAJAR YANG
GPK
PROFESIONAL DISESUAIKAN

Mengacu pada Permendiknas No. 70 Tahun 2009


tentang Pendidikan Inklusif ……………….
PERENCANAAN, PELAKSANAAN DAN PENILAIAN
PEMBELAJARAN SETING PENDIDIKAN INKLUSIF

SEMUA ADAPTASI
PESERTA KURIKULUM BAGI
PDBK YANG UJIAN
DIDIK KEMAMPUANNYA DI NASIONAL
ATAS STANDAR
IDENTIFIKASI
A PEMERINTAH
S
PESERTA E MENGGUNAKAN
DIDIK S KURIKULUM PBM
BERKEBUTUHAN M STANDAR SEKOLAH
KHUSUS
E
N ADAFTASI UJIAN
KURIKULUM BAGI SEKOLAH/
PDBK YANG
USBN
KEMAMPUANNYA
ESKALASI DI BAWAH
STANDAR
DUPLIKASI
MODIFIKASI
SUBSTITUSI
OMISI Mengacu pada Permendiknas No. 70 Tahun 2009
tentang Pendidikan Inklusif ……………….
SISTEM DUKUNGAN SEKOLAH PENYELENGARA PENDIDIKAN INKLUSIF

PEMERINTAH (KEMENDIKBUD)
POKJA
PENDIDIKAN
PEMERINTAH DAERAH (DISDIK PROVINSI) INKLUSIF
PROVINSI
PEMERINTAH KAB/KOTA (DISDIK KAB/KOTA)
PENGAWAS SEKOLAH PENGAWAS
POKJA P.I. NAS, P4TK, SEKOLAH PLB
PERGURUAN TINGGI
PUSAT SUMBER
SLB PUSAT
POKJA P.I. KAB/KOTA RESOURCE
SUMBER
CENTRE
SEKOLAH PENYELENGGARA
SEKOLAH PENDIDIKAN
PENYELENGGARA INKLUSIF
PENDIDIKAN
ORGANISASI INKLUSIF
PROFESI KELUARGA
(APPKhI, /KOMITE
APSI, AGPLB) SEKOLAH

LEMBAGA LEMBAGA MITRA LEMBAGA DAN


SOSIAL TERKAIT DALAM DAN TENAGA AHLI
MASYARAKAT LUAR NEGERI LAINNYA

KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN


DIREKTORAT JENDERAL PENDIDIKAN DASAR DAN MENENGAH
DIREKTORAT PEMBINAAN PENDIDIKAN KHUSUS DAN PENDIDIKAN LAYANAN KHUSUS
APA YANG HARUS DILAKUKAN PEMERINTAH DAERAH
KABUPATEN KARAWANG DALAM PENYELENGGARAAN
PENDIDIKAN INKLUSIF
Untuk mendukung penyelenggaraan Pendidikan Inklusif, pendidik dan
tenaga kependidikan perlu memiliki Kompetensi dalam memberikan
layanan bagi Peserta Didik Berkebutuhan Khusus;
1. Menerbitkan kebijakan dan regulasi penyelenggaraan Pendidikan
Inklusif sesuai dengan kebutuhan Pemerintah Kabupaten/Kota;
2. Mengalokasikan anggaran daerah tingkat Kabupaten/Kota untuk
penyelenggaraan Pendidikan Inklusif di Kabupaten/Kota;
3. Melakukan sosialisasi, koordinasi, monitoring, pembinaan, dan
evaluasi penyelenggaraan Pendidikan Inklusif
4. Menyelenggarakan Pendidikan Inklusif pada jenjang pendidikan
usia dini, pendidikan dasar, dan pendidikan nonformal;
5. Memfasilitasi satuan pendidikan pada jenjang pendidikan usia dini,
pendidikan dasar, dan pendidikan nonformal dalam implemenasi
Pendidikan Inklusif;
6. Menerbitkan ketentuan peraturan pelaksanaan yang diperlukan sebagai
tindak lanjut dari peraturan daerah yang digunakan sebagai acuan
Pendidikan Inklusif;
7. Melakukan sosialisasi, koordinasi, monitoring, pembinaan, dan evaluasi
penyelenggaraan Pendidikan Inklusif di satuan pendidikan usia dini,
pendidikan dasar, dan pendidikan nonformal;
8. Melakukan peningkatan kapasitas untuk peningkatan kualitas
penyelenggaraan Pendidikan Inklusif pendidikan usia dini, pendidikan
dasar, dan pendidikan nonformal; dan
9. Memfasilitasi infrastruktur dan sarana prasarana penyelenggaraan
Pendidikan Inklusif.
SPPPI
1. Satuan Pendidikan Penyelenggara Pendidikan Inklusif wajib
menyediakan lingkungan dan layanan pembelajaran yang
aksesibel bagi semua peserta didik.
2. Pemerintah Kabupaten/Kota wajib memberikan dukungan kepada
Satuan Pendidikan Penyelenggara Pendidikan Inklusif dalam
penyediaan lingkungan dan layanan pembelajaran yang aksesibel
bagi semua peserta didik.
WEWENANG PEMERINTAH DAERAH KABUPATEN/KARAWANG DALAM
MEMEBERIKAN DUKUNGAN KEPADA SATUAN PENDIIKAN
PENYELENGGARA PENDIDIKAN INKLUSIF
1. Satuan Pendidikan Penyelenggara Pendidikan Inklusif berhak memperoleh dukungan
dari Pemerintah, Pemerintah Provinsi, Pemerintah Kabupaten/Kota, Pusat Sumber,
Unit Layanan Disabilitas, organisasi profesi, lembaga swadaya masyarakat,
perguruan tinggi, institusi kesehatan, dunia usaha dan industri, serta lembaga lain
yang memiliki kepedulian terhadap Pendidikan Inklusif.
2. Dukungan dapat berupa bantuan pembiayaan, sarana prasarana, sumberdaya
manusia, bantuan teknis, pengembangan kapasitas, pendampingan, bantuan
profesional, dan/atau bentuk lain sesuai kebutuhan.
3. Pemerintah Kabupaten/Kota wajib memberikan dukungan kepada Satuan Pendidikan
Penyelenggara Pendidikan Inklusif dalam penyediaan lingkungan dan layanan
pembelajaran yang aksesibel bagi semua peserta didik.
4. Pemerintah Provinsi dan Pemerintah Kabupaten/Kota wajib
memiliki paling sedikit 1 (satu) Pusat Sumber atau Unit Layanan
Disabilitas.
5. Pemerintah Provinsi dan/atau Pemerintah Kabupaten/Kota wajib
mengkoordinasikan dan memfasilitasi berfungsinya Pusat
Sumber atau Unit Layanan Disabilitas bagi penyediaan layanan
pendukung Satuan Pendidikan Penyelenggara Pendidikan
Inklusif
Mekanisme
PENETAPAN
UPTD KEC/DINAS SEKOLAH
SEKOLAH/TAMAN/ PENYELENGGARA
PENDIDIKAN
PAUD KAB/KOTA DARI DISDIK
KAB/KOTA
MENGAJUKAN
PERMOHONAN
SEBAGAI
SEKOLAH
PENYELENGGARA PENETAPAN
SEKOLAH DINAS
PENDIDIKAN PENYELENGGARA
INKLUSIF PENDIDIKAN
PENDIDIKAN PROVINSI
INKLUSIF DARI
DISDIK PROV.INSI

KEMENDIKBUD
KAJIAN PENYELENGARAAN PENDIDIKAN INKLUSIF

PENINGKATAN REGULASI DAN KOMITMEN,


KAPASITAS SDM KEBIJAKAN KEMITRAAN DAN
NETWORKING

PILOTING SEKOLAH
PENYELENGGARA PUSAT DATA DAN
PENDIDIKAN INFORMASI
INKLUSIF

PENATAAN DAN PENYUSUNAN


DOKUMENTASI
PEMBERDAYAAN GRAND DESIAIN
DAN MANAJEMEN
DAN PUBLIKASI
PUSAT SUMBER

MONITORING PENCANANGAN PROVINSI


DAN EVALUASI INKLUSIF
TERIMA KASIH
WASSALAMUALAIKUM WR.WB