Anda di halaman 1dari 19

AKUNTANSI

PERPAJAKAN
NAMA KELOMPOK
OBBY BIMOARIYAN
ISMAIL ARDIANSYAH
FANJI NUGRAHA
RAHMADANI PUTRA
HARDI ZAKI
MUHAMMAD FADILLAH
Materi Pembahasan:
1. Investasi Pada Efek Tertentu

2. Manajemen Pajak
1. INVESTASI PADA EFEK TERTENTU

Akuntansi Investasi Efek

Pada saat pemerolehan, perusahaan


harus
mengklasifikasikan efek utang dan efek
ekuitas
ke dalam salah satu dari tiga kelompok
berikut
ini:
A) DIMILIKI HINGGA JATUH TEMPO (HELD TO MATURITY)

Jika perusahaan mempunyai maksud


untuk
memiliki efek utang hingga jatuh tempo,
maka
investasi dalam efek utang tersebut
harus
diklasifikasikan dalam kelompok “dimiliki
hingga
jatuh tempo” dan disajikan dalam neraca
sebesar biaya perolehan setelah
Penjualan atau transfer efek utang tidak
dianggap sebagai perubahan dalam
tujuan
“dimiliki hingga jatuh tempo” jika
perubahan
maksud tersebut disebabkan oleh kondisi
berikut
ini:
1. Terdapat bukti mengenai penurunan
signifikan risiko kredit perusahaan
penerbit efek
2. Terjadi perubahan peraturan
perpajakan yang menghapuskan atau
menaikkan tarif perpajakan yang
menghapuskan atau menaikkan tarif
pajak final yang berlaku atas bunga
dari efek utang
3. Terjadi penggabungan usaha atau penjualan
dalam jumlah besar
4. Terjadi perubahan dalam persyaratan atau
peraturan perundangan yang secara
signifikan mengubah definisi investasi yang
diizinkan
5. Terjadi perubahan peraturan pemerintah
mengenai modal minimum industri tertentu
yang mengakibatkan perusahaan
mengurangi aktivitas usahanya
6. Terjadi perubahan dalam peraturan
pemerintah yang mengakibatkan
bertambahnya bobot risiko atas
investasi efek utang dalam
perhitungan rasio tertentu,
B) EFEK “DIPERDAGANGKAN” (TRADING)

Menurut IAI dalam SAK-ETAP (2009;46-47) investasi utang


yang dikelompokkan dalam kelompok “trading” diukur
sebesar nilai wajarnya dalam neraca. Efek yang dibeli dan
dimiliki untuk dijual kembali dalam waktu dekat, harus
diklasifikasikan dalam kelompok Efek “diperdagangkan”.
Pengelompokkan ini biasanya ditunjukkan dengan
frekuensi pembelian dan penjualan yang sangat sering
dilakukan. Efek Diperdagangkan”. ini dimiliki dengan tujuan
untuk menghasilkan laba dari perbedaan harga jangka
pendek. Laba/rugi yang belum direalisasi atas investasi
utang “trading” harus diakui sebagai penghasilan.
C) EFEK “TERSEDIA UNTUK DIJUAL” (AVAILABLE FOR SALE)

Menurut IAI dalam SAK-ETAP (2009:47) efek yang


tidak diklasifikasikan dalam kelompok “trading”
dan dalam kelompok HTM, maka harus
diklasifikasikan kedalam kelompok AFS.
Laba/Rugi yang belum direalisasi harus
dimasukkan sebagai komponen ekuitas yang
disajikan secara terpisah dan tidak boleh diakui
sebagai penghasilan sampai pada saat laba/rugi
tersebut dapat direalisasi
D. PENYAJIAN DAN PENGUNGKAPAN INVESTASI PADA EFEK
TERTENTU

Menurut IAI dalam SAK ETAP (2009:49-51) Perusahaan


dengan neraca yang aktiva dikelompokkan menjadi aktiva
lancar, aktiva tetap dan aktiva lain-lain kewajibannya
dikelompokkan manjadi kewajiban jangka pendek dan
jangka panjang (classified balance sheet) harus melaporkan
semua efek yang diperdagangkan sebagai aktiva lancar.
Efek dalam kelompok dimiliki hingga jatuh tempo dan efek
dalam kelompok tersedia untuk dijual disajikan sebagai
aktiva lancar atau aktiva tidak lancar berdasarkan
keputusan manajemen. Khusus untuk efek utang dalam
kelompok dimiliki hingga jatuh tempo dan kelompok
tersedia untuk dijual yang jatuh tempo pada tahun
berikutnya harus dikelompokkan sebagai aktiva lancar
Penilaian investasi pada Efek tertentu menurut perpajakan
didasarkan pada perolehannya sesuai dengan penjelasan
UU PPh Nomor 36 Tahun 2008 Pasal 10 ayat (6) ditentukan
bahwa penilaian sekuritas hanya boleh menggunakan
harga perolehan. Sedangkan keuntungan atau kerugian
karena penjualan/pengalihan saham hendaknya berpegang
kepada ketentuan UU PPh Nomor 36 Tahun 2008 Pasal 4
ayat (1), yaitu sebesar selisih antara harga jual dengan
harga perolehan. Investasi surat berharga dalam valuta
asing, sesuai dengan ketentuan perpajakan, harus
dijabarkan ke dalam mata uang rupiah. Penjabarannya
dilakukan dengan menggunakan kurs tanggal neraca atau
kurs tetap yang dilakukan secara taat asas.
E. PERPAJAKAN
Pada UU PPh Nomor 36 Tahun 2008 Pasal 4 ayat (1)
menyebutkan bahwa “Yang menjadi objek pajak
adalah penghasilan, yaitu setiap tambahan
kemampuan ekonomis yang diterima/diperoleh WP,
baik yang berasal dari Indonesia maupun dari luar
Indonesia., yang dapat dipakai untuk konsumsi atau
menambah kekayaan WP yang bersangkutan
dengan nama dan dalam bentuk apa pun.” Hal ini
juga mencakup penghasilan yang diterima/diperoleh
dari transakasi investasi utang
Jika dalam pembelian obligasi termasuk unsur
bunga berjalan, maka bunga tersebut harus
diperhitungkan sebagai penghasilan. PPh yang
dipungut atas bunga obligasi yang tidak dijual di
bursa efek tidak boleh dikapitalisasi, tetapi harus
dicatat sebagai pajak yang dibayar dimuka (PPh 23
denngan tarif 15% x penghasilan bruto). Sementara
itu, bunga obligasi di bursa efek dikenakan PPh final
(PPh Pasal 4 ayat 2) sesuai dengan peraturan
pemerintah (PP)
2. MANAJEMEN PAJAK

A. Perencanaan Pajak
Perencanaan pajak adalah tahap
pertama dalam penghematan pajak,
strategi penghematan pajak disusun
pada saat perencanaan
Tujuan Perencanaan Pajak adalah merekayasa
agar beban pajak (Tax Burden) serendah mungkin
dengan memanfaatkan peraturan yang ada tetapi
berbeda dengan tujuan pembuatan Undang-
undang maka tax planning disini sama dengan
tax avoidance karena secara hakikat ekonomis
kedua-duanya berusaha untuk memaksimalkan
penghasilan setelah pajak (after tax return)
karena pajak merupakan unsur pengurang laba
yang tersedia baik untuk dibagikan kepada
pemegang saham maupun diinvestasikan kembali
B. Pelaksanaan kewajiban perpajakan
Pelaksanaan kewajiban pajak baik yang formal
maupun material. Harus dipastikan bahwa
pelaksanaan kewajiban itu telah memenuhi
peraturan perpajakan yang berlaku. Manajemen
pajak tidak dimaksudkan untuk melanggar
peraturan. Jika pelaksanaannya menyimpang dari
peraturan yang ada maka hal tersebut telah
menyimpang dari tujuan manajemen pajak. Tujuan
utama manajemen pajak sebenarnya adalah agar
perusahaan (wajib pajak) tidak menyimpang dari
ketentuan
C. Pengendalian Pajak
Pengendalian pajak adalah tahap pekerjaan untuk memastikan
bahwa peraturan perpajakan telah dilaksanakan. Dalam
pengendalian pajak yang paling penting adalah pengecekan
saat pembayaran pajak. Pengendalian pajak di dalamnya
termasuk juga pemeriksaan jika perusahaan telah membayar
pajak lebih besar dari pada pajak terutang. Apabila jumlah
pajak yang dibayar telah melampaui pajak yang terutang
segera mengajukan permohonan kepada FISKUS untuk
mendapatkan izin agar tidak membayar pajak lebih lanjut.
Apabila pajaknya sudah terlanjur dibayar lebih besar dari pada
pajak yang terutang,perusahaan dapat segera mengupayakan
untuk mengajukan permohonan restitusi
Menurut pengalaman orang,pengurus
restitusi tidak semudah yang diatur
dalam ketentuan. Karena itu
pengurusan Restitusi harus dipantau
sedemikian rupa sehingga restitusi
dapat diterima pada waktunya