Anda di halaman 1dari 26

EKOKINETIKA

Oleh
Kelompok VI
 Fransiska Sanjaya
 Maria Euprasia Suhartin
 Patricia Clarasula Sidore
 Yuni Larasati Sanda
Latar Belakang
Lingkungan merupakan tempat hidup makhluk hidup. Kualitas lingkungan
sangat mempengaruhi kondisi makhluk hidup, terutama manusia. Bila
interaksi antara manusia dengan lingkungan berada dalam keadaan
seimbang, maka kondisinya akan berada dalam keadaan sehat. Tetapi
karena sesuatu sebab yang mengganggu keseimbangan lingkungan ini,
maka akan menimbulkan dampak yang merugikan bagi kesehatan (Pallar,
1994).
Zat atau senyawa hasil kegiatan industri (limbah) biasanya berbahaya
dan mempunyai sifat beracun (toksik). Keberadaan zat atau senyawa
tersebut di lingkungan akan sangat membahayakan dan menurukan
kualitas lingkungan (Darmono, 1995).
Berbagai jenis senyawa beracun dari mulai bentuk cair,
padat, gas kini keberadaanya semakin meluas seiring
meningkatnya aktivitas manusia. senyawa beracun atau
asing limbah adalah salah satu bentuk hasil buangan dari
aktivitas manusia yang menjadi permasalahan di berbagai
belahan dunia. Berbagai jenis limbah baik cair, padat,
dan gas dapat menyebabkan masalah serius terhadap
lingkungan khususnya terhadap kehidupan organisme di
sekitarnya. Hampir semua limbah mengandung senyawa
beracun dan berbahaya seperti logam berat, DDT
(diklorodifeniltrikloroetana), Oil sludge, detergen, freon
dan sebagainya.
Pengertian Ekokinetik
Ekokinetik merupakan gabungan dari kata “eko” yang
berarti ekosistem dan “kinetik” yang berarti gerak. Jadi,
ekokinetik adalah pergerakan suatu zat racun dalam
ekosistem. Ekosistem atau sistem ekologi (Anderson,1981)
merupakan kesatuan komunitas biotik dengan lingkungan
abiotiknya.
Proses biotik maupun abiotik (fisik, kimia dan enzim)
merupakan proses ekokinetik. Ekokinetik menyebabakan
efek toksik secara lokal atau regional. (Cunningham, 2008).
Gbr. Pergerakan
senyawa toksik dalam
lingkungan
Solubilitas dan mobilitas dari senayawa ekokinetik,
yaitu apabila senyawanyanya larut dalam air, maka
akan lebih cepat tersebar luas dan lebih mudah
masuk kedalam sel. Namun, apabila senyawanya
larut dalm lemak/minyak, maka umumnya senyawa
organik membutuhkan pembawa untuk dapat
menyebar di lingkungan dan untuk bisa keluar masuk
dalam tubuh. Di dalam tubuh, senyawa-senyawa
toksik mudah menembus kedalam jaringan dan sel
karena membran pembungkus sel tersusun oleh
senyawa kimia yang serupa (larut dalam lemak).
Gbr. Biomagnifikasi dan Bioakumulasi (Cunningham, 2008)
Gbr. Pemaparan senyawa
persisten ke tubuh
(Cunninghum, 2008)
Zat, energi atau komponen lain yang
dihasilkan dari suatu kegiatan yang
masuk atau dimasukkan kedalam
lingkungan yang mempunyai atau tidak
mempunyai potensi sebagai unsur
pencemar disebut emisi. Emisi di
lingkungan dapat menyebar melalui air,
udara dan tanah.
Pencemaran lingkungan oleh limbah berbahaya

Pencemaran lingkungan dapat mengakibatkan menurunnya fungsi dan peruntukan


sumber daya alam, seperti air, udara, bahan pangan, dan tanah. Bahan pencemar
yang terbanyak adalah limbah, terutama dari kawasan industri. (Darmono, 2006).
 Pencemaran Lingkungan
Lingkungan yang tercemar kadang tampak jelas pada kita, seperti timbunan sampah
di pasar tradisional, muara sungai, atau asap knalpot kendaraan bermotor di jalan
raya yang macet. Setiap bahan pencemar berasal dari sumber tertentu. Untuk
menghindari atau mencegah pencemaran maka penting diketahui adalah sumber dan
bahan pencemar. Setelah itu bagaimana membebaskan bahan pencemar dari
sumbernya hingga ke obyek penerima efek atau lingkungan yang dipengaruhinya.
 Penggolongan Pencemaran Lingkungan
 Menurut jenis lingkungan, yaitu; pencemaran air,
pencemaran laut, pencemaran udara, pencemaran
tanah dan pencemaran kebisingan (bunyi).
 Menurut sifat bahan pencemar, yaitu; pencemaran
biologis, pencemaran kimia, dan pencemaran fisik.
 Menurut lamanya bahan pencemar bertahan dalam
lingkungan, yaitu; bahan pencemar yang lambat atau
sukar diuraikan seperti bahan kaleng, plastik, deterjen,
serta bahan pencemar yang mudah diuraikan
(degradable) seperti bahan-bahan organik.
Pencemaran Air
Pencemaran air adalah setiap perubahan  Komponen pencemar air
kimia-biologis dan fisik dari air yang dapat Bahan buangan dan limbah yang berasal
berpengaruh buruk terhadap organisme. dari kegiatan industri adalah penyebab
Makhluk hidup yang ada di bumi tidak dapat utama terjadinya pencemaran air.
terlepas dari kebutuhan akan air, sehingga Komponen pencemar air dapat
air merupakan kebutuhan utama bagi proses dikelompokkan sebagai berikut:
kehidupan di bumi ini. Saat ini sulit  Bahan buangan padat
mendapatkan air yang bersih dengan kualitas
terstandar. Untuk memperoleh air yang  Bahan buangan organic
bersih menjadi barang yang mahal karena  Bahan buangan anorganik
banyak sumber air yang sudah tercemar oleh
 Bahan buangan olahan bahan makanan
bermacam limbah dari hasil kegiatan
manusia, baik limbah dari kegiatan rumah  Bahan buangan cairan berminyak
tangga, industri dan kegiatan lainnya.  Bahan buangan zat kimia
(Darmono, 2006).
Untuk penanggulangannya biasanya dibedakan dua kategori
sumber pencemaran air, yaitu sumber tertentu dan sumber yang
tidak tertentu. Sumber tertentu (Point source) adalah sumber
yang membuang bahan pencemar melalui pipa, selokan, atau
parit ke perairan pada tempat tertentu. Sebaliknya, sumber tak
tertentu (non point source) dari bahan pencemar air adalah
sumber pencemar yang tersebar luas dimana-mana. (Darmono,
2006).
Pencemaran
Udara
Pencemaran udara dapat diartikan sebagai adanya bahan-bahan atau
zat-zat asing di dalam udara yang menyebabkan perubahan susunan
(komposisi) udara dari keadaan normalnya. Dalam udara terdapat
oksigen (O2) untuk bernafas, karbondioksida (CO2) untuk proses
fotosintesis oleh klorofil daun dan ozon (O3) untuk menahan sinar ultra
violet.
 Komponen pencemar udara
Udara di daerah yang mempunyai banyak kegiatan industri dan teknologi
serta lalu lintas yang padat, udaranya relatif tidak bersih lagi. Dari
beberapa macam komponen pencemar udara, yang paling banyak
berpengaruh adalah komponen-komponen berikut ini; Karbon Monoksida
(CO), Nitrogen Oksida (NOx), Hidro Karbon (HC).
Penyebab pencemaran
udara

Faktor eksternal
Faktor internal
(akibat perilaku
(secara alamiah) manusia)

1. Debu yang beterbangan 1. Hasil pembakaran bahan


akibat tiupan angin. bakar fosil.
2. Abu (debu) yang 2. Debu/serbuk dari
dikeluarkan dari letusan kegiatan industry.
gunung berapi dan gas-gas 3. Pemakaian zat-zat kimia
vulkanik. yang disemprotkan ke
3. Proses pembusukan udara.
sampah organik.
Pencemaran Tanah

Tanah merupakan sumberdaya alam yang mengandung bahan organik


dan anorganik yang mampu mendukung pertumbuhan tanaman
(Sastrawijaya, 1991).

Pencemaran tanah dapat terjadi karena pencemaran secara langsung,


misalnya penggunaan pupuk secara berlebihan, pemberian pestisida
atau insektisida dan pembuangan limbah yang tidak dapat dicernakan
seperti plastik. Pencemaran dapat juga melalui air. Air yang
mengandung bahan pencemar (polutan) akan mengubah susunan kimia
tanah sehingga mengganggu jasad yang hidup di dalam atau di
permukaan tanah.
Pencemaran
kebisingan
Kemajuan industri dan teknologi antara lain ditandai dengan pemakaian
mesin-mesin yang dapat mengolah dan memproduksi bahan maupun barang
yang dibutuhkan oleh manusia secara cepat (Wisnu, 2004). Pemakaian mesin-
mesin tersebut seringkali menimbulkan kebisingan, baik kebisingan rendah
kebisingan sedang maupun kebisingan tinggi. Kebisingan adalah bunyi yang
dapat mengganggu dan merusak pendengaran manusia. Oleh karena
kebisingan dapat mengganggu lingkungan dan merambatnya melalui udara
walaupun susunan udara tidak mengalami perubahan.
Cara Kerja Toksik
Cara kerja dari toksik berhubungan dengan ekokinetika, yaitu pergerakan suatu racun
dalam ekosistem. Karena adanya pergerakan dari suatu racun maka, kerja toksik pun
terjadi dan memberikan dampak terhadap organisme sekitar. Proses ini umumnya
dikelompokkan ke dalam tiga fase yaitu: fase eksposisi, toksokinetik dan fase toksodinamik.
 Fase eksposisi
Merupakan kontak suatu organisme dengan xenobiotika, pada umumnya, kecuali radioaktif,
hanya dapat terjadi efek toksik/farmakologi setelah xenobiotika terabsorpsi. Dalam fase ini
terjadi kontak antara xenobiotika dengan organisme atau dengan lain kata, terjadi paparan
xenobiotika pada organisme. Paparan ini dapat terjadi melalui kulit, oral, saluran
pernafasan (inhalasi) atau penyampaian xenobiotika langsung ke dalam tubuh organisme
(injeksi). Misalnya paparan xenobiotika melalui oral (misal sediaan dalam bentuk padat:
tablet, kapsul, atau serbuk), maka terlebih dahulu kapsul/tablet akan terdistegrasi
(hancur), sehingga xenobiotika akan telarut di dalam cairan saluran pencernaan. Dalam hal
ini laju absorpsi dan jumlah xenobitika yang terabsorpsi akan menentukan potensi efek
biologik/toksik.
Eksposisi melalui
kulit

Jalur
eksposisi Eksposisi melalui
toksik ke jalur inhalasi
dalam tubuh

Eksposisi melalui
jalur saluran cerna
 Fase toksikinetik disebut juga dengan fase farmakokinetik.
Setelah xenobiotika berada dalam ketersediaan farmasetika, pada
mana keadaan xenobiotika siap untuk diabsorpsi menuju aliran
darah atau pembuluh limfe, maka xenobiotika tersebut akan
bersama aliran darah atau limfe didistribusikan ke seluruh tubuh
dan ke tempat kerja toksik (reseptor). Pada saat yang bersamaan
sebagian molekul xenobitika akan termetabolisme, atau tereksresi
bersama urin melalui ginjal, melalui empedu menuju saluran cerna,
atau sistem eksresi lainnya. Proses biologik yang terjadi pada fase
toksokinetik umumnya dikelompokkan ke dalam proses invasi dan
evesi. Proses invasi terdiri dari absorpsi, transpor, dan distribusi,
sedangkkan evesi juga dikenal dengan eleminasi.
 Fase toksodinamik
Adalah interaksi antara tokson dengan reseptor (tempat kerja
toksik) dan juga proses-proses yang terkait dimana pada akhirnya
muncul efek toksik/farmakologik. Interaksi ini didasari oleh
interaksi kimia antara xenobiotika dengan subtrat biologi dimana
terjadi ikatan kimia kovalen yang bersifat irreversibel. Efek
irrevesibel diantaranya dapat mengakibatkan kerusakan sistem
biologi, seperti: kerusakan saraf, dan kerusakan sel hati (serosis
hati), atau juga pertumbuhan sel yang tidak normal, seperti
karsinoma, mutasi gen. Jadi konsentrasi suatu tokson/obat pada
tempat kerja ”tempat sasaran” umumnya menentukan kekuatan
efek biologi yang dihasilkan.
 Reseptor
Sejak lama telah diamati bahwa sejumlah racun menimbulkan efek biologik yang
khas. Ternyata reaksi demikian hampir selalu berlangsung di tempat spesifik, yaitu
reseptor atau enzim.
 Interaksi tokson dengan reseptor
Interaksi obat-reseptor umumnya dapat disamakan dengan prisip kunci-anak
kunci. Letak reseptor (hormon) umumnya di membrane sel dan terdiri dari suatu
protein yang dapat merupakan komplemen ”kunci” daripada struktur ruang dan
muatan-ionnya dari hormon bersangkutan ”anak-kunci”. Setelah hormon ditangkap
dan terikat oleh reseptor, terjadilah interaksi yang mengubah rumus dan
pembagian muatannya. Akibatnya adalah suatu reaksi dengan perubahan aktivitas
sel yang sudah ditentukan (prefixed) dan suatu efek fisiologik.
 Mekanisme kerja efek toksik
Interaksi xenobiotika terhadap enzim yang mungkin dapat mengakibatkan
menghambat atau justru mengaktifkan kerja enzim. Tidak jarang interaksi
xenobiotika dengan sistem enzim dapat menimbulkan efek toksik. Inhibisi
(hambatan) enzim dapat menimbulkan blokade fungsi saraf (Wirasuta, 2006).
Gbr. diagram proses
kerja toksik (Wirasuta,
2006)
Kesimpulan
 Pengertian ekokinetik
Ekokinetik merupakan gabungan dari kata “eko” yang berarti ekosistem dan “kinetik” yang
berarti gerak. Jadi, ekokinetik adalah pergerakan suatu zat racun dalam ekosistem. Proses
biotik maupun abiotik (fisik, kimia dan enzim) merupakan proses ekokinetik. Ekokinetik
menyebabakan efek toksik secara lokal atau regional. (Cunningham, 2008).
 Pencemaran lingkungan oleh limbah berbahaya
Bahan pencemar yang terbanyak adalah limbah, terutama dari kawasan industri. Beberapa
cara penggolongan pencemaran lingkungan hidup, seperti;
 Menurut jenis lingkungan, yaitu; pencemaran air, pencemaran laut, pencemaran udara,
pencemaran tanah dan pencemaran kebisingan (bunyi).
 Menurut sifat bahan pencemar, yaitu; pencemaran biologis, pencemaran kimia, dan
pencemaran fisik.
 Menurut lamanya bahan pencemar bertahan dalam lingkungan, yaitu; bahan pencemar
yang lambat atau sukar diuraikan seperti bahan kaleng, plastik, deterjen, serta bahan
pencemar yang mudah diuraikan (degradable) seperti bahan-bahan organik.
 Cara Kerja Toksik
Proses ini umumnya dikelompokkan ke dalam tiga fase
yaitu: fase eksposisi, toksokinetik dan fase toksodinamik.
 Fase eksposisi merupakan kontak suatu organisme
dengan xenobiotika.
 Fase toksikinetik disebut juga dengan fase
farmakokinetik. Setelah xenobiotika berada dalam
ketersediaan farmasetika, pada mana keadaan
xenobiotika siap untuk diabsorpsi menuju aliran darah
atau pembuluh limfe.
 Fase toksodinamik adalah interaksi antara tokson
dengan reseptor (tempat kerja toksik) dan juga proses-
proses yang terkait dimana pada akhirnya muncul efek
toksik/farmakologik.
TERIMA KASIH