Anda di halaman 1dari 40

SEMINAR GEOLOGI

TIPE I

IDENTIFIKASI GERAKAN TANAH


DI DAERAH BANJARASRI DAN SEKITARNYA,
KECAMATAN KALIBAWANG, KABUPATEN KULON PROGO,
DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA

OLEH:
ANTONIA DYAH AYU WIDYANA R.A
410014087
OUTLINE
I. PENDAHULUAN
LATAR BELAKANG

RUMUSAN MASALAH

LOKASI PENELITIAN

II. TINJAUAN PUSTAKA


PENGERTIAN LONGSOR
FAKTOR PENYEBAB LONGSOR

III.MAKSUD, TUJUAN DAN MANFAAT PENELITIAN

IV. METODE PENELITIAN


PEMETAAN LANGSUNG

PEMETAAN TIDAK LANGSUNG

V. HASIL DAN PEMBAHASAN

VI. KESIMPULAN
BAB I PENDAHULUAN
1.1 LATAR BELAKANG
Tanah longsor merupakan salah satu fenomena alam yang sering kali terjadi
di Indonesia. Selain merubah bentuk lahan, fenomena alam ini termasuk ke dalam
salah satu bencana yang paling banyak menimbulkan kerugian harta benda atau
korban jiwa.
Desa Banjarasri, Kecamatan Kalibawang, Kabupaten Kulon Progo secara
fisiografi memiliki morfologi yang beragam dan diduga memiliki tingkat kerawanan
longsor yang bervariasi karena sebagian daerahnya memiliki kelerengan yang terjal.
Dengan kondisi geologi demikian, menyebabkan Desa Banjarasri, Kecamatan
Kalibawang, Kabupaten Kulon Progo berpotensi terjadi tanah longsor. Sebagai salah
satu daerah yang sedang berkembang, khususnya di bidang pariwisata maka
penelitian tentang tanah longsor dan investigasi geologi teknik awal sangat
diperlukan pada daerah ini. Oleh karena itu kajian tentang tanah longsor dari sudut
pandang geologi menarik untuk dilakukan di daerah ini.
PARIWISATA BANJARASRI YANG SEDANG BERKEMBANG
BAB I PENDAHULUAN

1.2 RUMUSAN MASALAH


Adapun rumusan masalah dalam penelitian gerakan tanah ini adalah sebagai
berikut:
• Parameter apa saja yang mempengaruhi gerakan tanah di Desa Banjarasri,
Kecamatan Kalibawang, Kabupaten Kulon Progo?
• Bagaimana tingkat kerentanan gerakan tanah di Desa Banjarasri, Kecamatan
Kalibawang, Kabupaten Kulon Progo?
• Bagaimana persebaran daerah tingkat kerentanan gerakan tanah di Desa
Banjarasri, Kecamatan Kalibawang, Kabupaten Kulon Progo?
BAB I PENDAHULUAN
1.4 LOKASI PENELITIAN
Daerah penelitian terletak ± 35 km sebelah
barat laut Kota Yogyakarta, secara administratif
termasuk dalam wilayah Kecamatan Kalibawang,
Kabupaten Kulon Progo, DIY. Lokasi penelitian dapat
dijangkau dengan kendaraan bermotor roda dua/empat
selama ±1 jam dari Kota Yogyakarta.
Secara geografis Kecamatan Kalibawang,
merupakan salah satu kecamatan paling timur laut di
Kabupaten Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta.
Sebelah Selatan berbatasan dengan Kecamatan
Girimulyo dan Nanggulan, sebelah timur dan utara
berbatasan dengan Kecamatan Muntilan, Kabupaten
Magelang, Jawa Tengah, serta sebelah barat
berbatasan dengan Kecamatan Samigaluh, Kulon
Progo.
BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.1 PENGERTIAN GERAKAN TANAH


Gerakan tanah adalah proses alami terjadinya perubahan struktur
muka bumi, yakni adanya gangguan kestabilan pada tanah atau batuan
penyusun lereng. Gangguan kestabilan lereng ini dipengaruhi oleh kondisi
geomorfologi terutama faktor kemiringan lereng, kondisi batuan ataupun
tanah penyusun lereng, dan struktur geologi. Meskipun gerakan tanah
merupakan gejala fisik alami, namun beberapa hasil aktifitas manusia yang
tidak terkendali dalam mengeksploitasi alam, dapat mempengaruhi
ketidakstabilan lereng dan dapat memicu terjadinya longsor. Faktor-faktor
aktivitas manusia antara lain pola tanam, pemotongan lereng, konstruksi
bangunan, kepadatan penduduk dan lain-lain. Maka dalam upaya
pembangunan berkelanjutan melalui penciptaan keseimbangan lingkungan,
diperlukan pedoman penataan ruang kawasan rawan bencana longsor.
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
• Indonesia sebagian wilayahnya berupa daerah
perbukitan dan pegunungan, hal ini
menyebabkan sebagian wilayah di Indonesia
menjadi daerah rawan gerakan tanah.
Intensitas curah hujan yang tinggi dan kejadian
gempa yang sering muncul, secara alami akan
memicu terjadinya gerakan tanah (Subowo,
2003).
• Menurut Subowo (2003), ada enam jenis tanah
longsor, yaitu: longsoran translasi, rotasi,
pergerakan blok, runtuhan batu, rayapan tanah,
dan aliran bahan rombakan. Jenis longsor
translasi dan rotasi paling banyak terjadi di
Indonesia, hal ini karena tingkat pelapukan
batuan yang tinggi.
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
2.2 FAKTOR-FAKTOR BERPENGARUH TERHADAP GERAKAN TANAH
2.2.1 Faktor Internal
a. Parameter Litologi (Rusli, 2013)

b. Parameter Struktur Geologi (Rusli, 2013)


BAB II TINJAUAN PUSTAKA
2.2 FAKTOR-FAKTOR BERPENGARUH TERHADAP GERAKAN TANAH
2.2.2 Faktor Eksternal
a. Parameter Kelerengan (Rusli, 2013)

b. Parameter Tataguna Lahan (Rusli, 2013)


BAB II TINJAUAN PUSTAKA
2.3 ZONA KERENTANAN GERAKAN TANAH
Zona kerentanan gerakan tanah yang dimaksud di dalam kajian ini didasarkan pada
Permen PU No.22/PRT/M/2007, yaitu:
• Zona kerentanan gerakan tanah sangat tinggi, merupakan daerah dengan penjumlahan
parameter kemiringan lereng, geologi, struktur geologi dan penggunaan lahan yang memiliki
nilai skor dan bobot kepentingan berkisar antara 24 – 29.
• Zona kerentanan gerakan tanah tinggi, merupakan daerah dengan penjumlahan parameter
kemiringan lereng, geologi, struktur geologi dan penggunaan lahan yang memiliki nilai skor
dan bobot kepentingan berkisar antara 19 – 23.
• Zona kerentanan gerakan tanah sedang, merupakan daerah dengan penjumlahan
parameter kemiringan lereng, geologi, struktur geologi dan penggunaan lahan yang memiliki
nilai skor dan bobot kepentingan berkisar antara 13 – 18.
• Zona kerentanan gerakan tanah rendah, merupakan daerah dengan penjumlahan
parameter kemiringan lereng, geologi, struktur geologi dan penggunaan lahan yang memiliki
nilai skor dan bobot kepentingan berkisar antara 6 - 12.
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
2.4 GEOLOGI DAERAH PENELITIAN
2.4.2 Stratigrafi 2.4.1 Fisiografi
Stratigrafi Regional Kalibawang Kulon Progo (Cahyo, 2011)
BAB III MAKSUD, TUJUAN DAN MANFAAT PENELITIAN
Maksud Penelitian
• Mendata faktor litologi, struktur geologi, tata guna lahan dan kelerengan di Daerah Banjarasri dan
sekitarnya, Kecamatan Kalibawang, Kabupaten Kulon Progo.
• Memetakan daerah-daerah yang berpotensi akan terjadinya gerakan tanah khususnya di Daerah
Banjarasri dan sekitarnya, Kecamatan Kalibawang, Kabupaten Kulon Progo.

Tujuan Penelitian
• Melakukan studi zonasi kerawanan gerakan tanah di daerah penelitian dan membagi daerah penelitian
tersebut dalam beberapa zona berdasarkan faktor internal dan eksternal.
• Membuat peta zonasi kerentanan gerakan tanah daerah penelitian.

Manfaat Penelitian
Dengan adanya peta zonasi kerawanan gerakan tanah akan menjadi langkah awal dalam usaha
mitigasi bencana alam khususnya bencana tanah longsor serta untuk meningkatkan kewaspadaan
masyarakat akan adanya bahaya gerakan tanah di daerah tersebut.
BAB IV METODE PENELITIAN
4.1 Metode Pendekatan 4.2 Tahap Penyajian Data

Perhitungan skor dan pembobotan dilakukan


dengan menggunakan formula menurut Rusli (2013)
sebagai berikut:

H (BOBOT) = (3xA) + (2xB) + (1xC) + (1xD)

Keterangan :
H = Bobot
A = Faktor Kemiringan Lereng
B = Faktor Litologi
C = Faktor Struktur Geologi
D = Tataguna Lahan
BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN

5.1 HASIL (Data dan Analisa)


5.1.1 Faktor Internal
Faktor Litologi
Data litologi daerah penelitian didapat dari
observasi langsung di lapangan. Litologi daerah
penelitian tersusun oleh batuan sedimen dengan ciri
litologi berwarna coklat tua kehitaman, warna lapuk
cokelat kemerahan, tekstur klastika gunungapi, dengan
kemas terbuka (matrix supported), bentuk butir menyudut
tanggung-membulat, ukuran fragmen 2-20 cm, sortasi
buruk, struktur masif, kekompakan sedang, tersusun oleh
fragmen berupa batuan beku andesit, matrik material
piroklastik, batupasir tufan dan semen silika, batuan ini
termasuk dalam satuan breksi andesit Formasi Andesit
Tua. Penyebaran satuan breksi andesit Formasi Andesit
Tua ini dapat dijumpai di bagian barat laut-utara
penelitian, yaitu di Boro, Desa Banjarsari bagian utara Gambar 5.1 Breksi andesit Formasi Andesit Tua dijumpai di Boro, Desa Banjarasri
dengan arah foto N 60o E
BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN

Litologi yang kedua masih sama, yaitu


breksi andesit dengan ciri litologi warna segar abu-
abu kehitaman, warna lapuk cokelat keabuan,
tekstur klastika gunungapi, dengan kemas terbuka
(matrix supported), bentuk butir menyudut-membulat
tanggung, ukuran fragmen 3-25 cm, sortasi buruk,
struktur masif, kompak, permeabilitas rendah,
tersusun oleh fragmen yang berupa batuan beku
andesit dan matrik berupa batupasir tufan, serta
semen silika. Litologi tersebut masuk dalam Formasi
Andesit Tua.
Gambar 5.2 Breksi andesit Formasi Andesit Tua dijumpai di Boro, Desa
Banjarasri dengan arah foto N 47o E
BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN

Litologi ketiga berupa batupasir dengan


ciri berwarna segar putih keabuan, warna
lapuk abu-abu kehitaman, tekstur klastik,
ukuran butir pasir sedang, bentuk butir
membulat tanggung – membulat, sortasi
baik, porositas sedang, kemas tertutup,
struktur masif, komposisi lithik, tuf. Batuan
ini masuk dalam Formasi Sentolo.
Penyebaran satuan batupasir tufan
Formasi Sentolo ini dapat dijumpai di
bagian utara-timur laut daerah penelitian,
Gambar 5.3 Batupasir Formasi Sentolo dijumpai di bagian utara daerah penelitian, di dekat
yaitu di Geblak dan Sawir, Desa
jalan penghubung Dusun Geblak dan Sawir, Desa Banjarasri dengan arah foto N 100o E
Banjarsari, Kalibawang.
BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN

Kemudian litologi yang keempat berupa batugamping


pasiran dengan ciri litologi berwarna segar putih
kekuningan, warna lapuk kuning kecokelatan,
memperlihatkan struktur berlapis dengan kedudukan
batuan N260oE/21o, tekstur klastik, ukuran butir pasir
sedang, bentuk butir membulat tanggung –
membulat, sortasi baik, kemas tertutup, komposisi
mineral kalsit. Batuan ini masuk dalam Formasi
Sentolo, dapat dijumpai di daerah tinggian di
lapangan, menumpang secara tak selaras pada
Formasi Andesit Tua. Penyebarannya dapat
dijumpai di timur laut - timur daerah penelitian yaitu di
dekat jalan penghubung antara Dusun Sawir, Desa
Banjarasri dan Dusun Penewon di Desa Banjarharjo
bagian barat.
Gambar 5.4 Batugamping pasiran Formasi Sentolo dijumpai di bagian timur laut
daerah penelitian, di dekat jalan penghubung Sawir, Desa Banjarasri dengan
Penewon, Desa Banjarharjo, arah foto N 152o E
BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN
Litologi kelima berupa batupasir tufan dengan ciri berwarna segar Terakhir adalah endapan koluvium
putih kekuningan, warna lapuk abu-abu kehitaman, tekstur klastik, Yogyakarta yang banyak dijumpai pada Kali
ukuran butir pasir kasar, bentuk butir membulat tanggung – membulat,
sortasi buruk, porositas sedang, struktur berlapis dengan kedudukan Tlegung. Satuan ini terdiri dari material
batuan N210oE/45o, komposisi pasir, lithic, tuf. Batuan ini masuk lepas berwarna abu-abu kehitaman,
dalam Formasi Sentolo. berukuran kerikil-berangkal, berbentuk
menyudut tanggung-membulat tanggung,
berstruktur gradasi, tersusun oleh pecahan
batuan (andesit), hasil transportasi sungai.
Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada peta
geologi daerah penelitian (Lampiran 1).

Gambar 5.5 Batupasir Formasi Sentolo dijumpai di bagian utara-timur laut


daerah penelitian, di Penewon, Banjarharjo, arah foto N205oE
LAMPIRAN 1
BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN
5.1 HASIL (Data dan Analisa)

5.1.1 Faktor Internal

Faktor Struktur Geologi

Untuk faktor struktur geologi pengolahannya hanya berdasar dari


analisis pola kelurusan yang ada, karena kenampakan struktur geologi di
lapangan susah untuk dijumpai. Pola kelurusan struktur geologi didapat dari
analisis citra SRTM (Shuttle Radar Topography Mission) (Gambar 5.6), yang
kemudian diolah menggunakan Rose Net Diagram untuk mengetahui arah
relatifnya (Gambar 5.7). Dari hasil pengolahan tersebut didapatkan bahwa arah
dominan struktur geologi daerah penelitian mengarah ke tenggara – barat laut.
Kemudian dari pola kelurusan yang ada dibuat peta buffer struktur
menggunakan aplikasi ArcGis 10.3.

Untuk parameternya mengacu pada Rusli (2013), dibagi 4 kategori


yaitu: intensitas kepentingan sangat tinggi dengan jarak <100 meter, intensitas
kepentingan tinggi dengan jarak 100-200 meter, intensitas kepentingan sedang
dengan jarak 200-300 meter, intensitas kepentingan rendah dengan jarak 300-
400 meter. Lebih jelasnya dapat dilihat pada peta buffer struktur daerah
Gambar 5.6 Pola kelurusan struktur geologi regional dari citra SRTM
penelitian (Lampiran 2).
BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN
5.1 HASIL (Data dan Analisa)
5.1.1 Faktor Internal
Faktor Struktur Geologi

Gambar 5.7 Hasil pengolahan diagram mawar pola kelurusan struktur geologi
Arah dominan struktur geologi daerah penelitian mengarah ke tenggara-barat laut.
LAMPIRAN 2
BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN
5.1 HASIL (Data dan Analisa)
5.1.2 Faktor Eksternal

Faktor Kelerengan
Pada daerah penelitian untuk faktor kelerengan dibagi menjadi 4 kategori (Rusli,
2013) zona kelerengan rendah (0º-15º) berwarna orange seluas ±50% menyebar
hampir merata di semua desa daerah penelitian, zona kelerengan sedang (16º-30º)
berwarna merah jambu seluas ±25% menyebar di bagian barat daya, utara-tenggara
daerah penelitian, zona kelerengan tinggi (31º-40º) berwarna biru seluas ±15%
menyebar di bagian barat laut – tenggara pada daerah penelitian, dan zona kelerengan
sangat tinggi (>41º) berwarna merah seluas ±10% dijumpai di bagian barat laut - utara
pada daerah penelitian. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada peta kelerengan daerah
penelitian (Lampiran 3).
LAMPIRAN 3
BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN
5.1 HASIL (Data dan Analisa)
5.1.2 Faktor Eksternal

Faktor Tataguna Lahan


Berdasarkan dari data Indonesia.tanahairku.go.id tataguna lahan untuk Daerah Banjarasri dan
sekitarnya digunakan sebagai pemukiman 25% (berwarna orange) menempati topografi dengan kelerengan
0-15⁰, sebagian juga ada yang menempati kelerengan >30⁰ dengan metode memotong lereng, pemukiman
Daerah Banjarasri dan sekitarnya menumpang di atas breksi andesit Formasi Andesit Tua, kemudian
perkebunan menyebar seluas 20% (berwarna hijau tosca) berada pada topografi dengan kelerengan 0-15⁰,
sebagian juga dijumpai pada kelerengan >30⁰ berada di atas Formasi Andesit Tua maupun Formasi Sentolo,
lahan pertanian/sawah sebesar 20% (berwarna kuning) berada pada topografi dengan kelerengan 0-15⁰ di
atas Formasi Andesit Tua sebagian besar berada di bagian selatan daerah penelitian, dan semak
belukar/ilalang sebesar 30% (berwarna biru) menempati sebagian besar daerah penelitian yaitu di bagian
barat laut, utara-tenggara daerah penelitian pada topografi dengan kelerengan 16⁰-41⁰. Untuk lebih jelasnya
dapat dilihat pada peta tata guna lahan daerah penelitian (Lampiran 4).
LAMPIRAN 4
BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN
5.1 HASIL (Data dan Analisa)
Tabel 5.1 Tingkat Kerentanan Gerakan Tanah berdasarkan pembobotan
5.1.3 Peta Zona Kerentanan Gerakan Tanah
(Rusli, 2013)

Pada Peta Zona Kerentanan Gerakan Tanah Daerah Banjarasri


dan sekitarnya, dibuat dengan metode pembobotan dari masing-
masing parameter yaitu litologi, struktur geologi, kelerengan, dan
tata guna lahan. Setelah keempat peta tersebut jadi, kemudian
dilakukan pembobotan total & dioverlay menggunakan bantuan
software ArcGis10.3. Setelah dilakukan pembobotan total &
dioverlay maka dapat terbagi ke dalam 4 zona, yaitu: zona
kerentanan gerakan tanah sangat tinggi (berwarna merah tua)
dengan bobot 24-27, zona kerentanan gerakan tanah tinggi
(orange) dengan bobot 19-23, zona kerentanan gerakan tanah
sedang (hijau tosca) dengan bobot 14-18, zona kerentanan
gerakan tanah rendah (biru) dengan bobot 1-13. Untuk lebih
jelasnya dapat dilihat pada peta zona kerentanan gerakan tanah
daerah penelitian (Lampiran 5) dan tabel pembobotan.
LAMPIRAN 5
BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN
5.2 PEMBAHASAN
Berdasarkan observasi lapangan, pada daerah penelitian juga
sudah terdapat 6 titik gerakan tanah yang mengakibatkan longsor.
Jika diplotkan pada peta, ke-enam titik tersebut masuk dalam empat
zona kerentanan gerakan tanah yaitu zona kerentanan rendah,
sedang, tinggi dan sangat tinggi yang dapat diuraikan sebagai
berikut:
1. Zona kerentanan gerakan tanah rendah
Parameter:
• Kelerengan 0⁰ - 15⁰ bobot 1 (A)
• Litologi batuan beku endapan G.Merapi Muda bobot 1 (B)
• Struktur Geo buffer 300 – 400 meter bobot 1 (C)
• TTL persawahan bobot 1 (D) Zona ini memiliki luas ± 30 % dari daerah penelitian (berwarna
hijau tosca pada peta). Secara umum daerah ini dikontrol oleh
Perhitungan : H (BOBOT) = (3xA) + (2xB) + (1xC) + (1xD)
litologi endapan koluvial, kemiringan lereng 0-15o, tataguna
= (3x1) + (2x1) + (1x1) + (1x1) = 7 lahan sebagai daerah pertanian meliputi sebagian Dusun
Kalijeruk, Boro, Tlango, Jetis dan Jamus, Desa Banjarasri,
Berdasar pada Permen PU No.22/PRT/M/2007 daerah yang Kecamatan Kalibawang. Daerah inilah yang sebenarnya dapat
memiliki bobot kepentingan berkisar antara 6 – 12 masuk dalam dikembangkan sebagai daerah pemukiman, kecuali zona yang
zona kerentanan gerakan tanah rendah. berada di bantaran Kali Tlegung.
BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN
5.2 PEMBAHASAN

2. Zona kerentanan gerakan tanah sedang


Parameter:
• Kelerengan 15⁰ - 30⁰ bobot 2 (A)
• Litologi batuan sedimen bobot 3 (B)
• Struktur Geo buffer 200 – 300 meter bobot 2 (C)
• TTL pemukiman bobot 3 (D)
Perhitungan: H (BOBOT) = (3xA) + (2xB) + (1xC) + (1xD) Zona ini memiliki luas ± 40 % dari daerah penelitian. Secara
umum daerah ini dikontrol oleh breksi andesit, batugamping
= (3x2) + (2x3) + (1x2) + (1x3) = 17
pasiran, dan batupasir tufan, kemiringan lereng antara 16–
30o, tingkat pelapukan batuan sedang, dan tata guna lahan
Berdasar pada Permen PU No.22/PRT/M/2007 daerah yang dimanfaatkan sebagai pemukiman, pertanian, dan
memiliki bobot kepentingan berkisar antara 13 – 18 masuk perkebunan. Meliputi Desa Banjarasri (Dusun Tosari, Tirip
dalam zona kerentanan gerakan tanah sedang. dan Kalisoko), Desa Banjarharjo (Dusun Penewon, Beku,
dan Cikalan). Daerah ini dapat dikembangkan sebagai
daerah pemukiman atau kawasan perkebunan.
BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN
5.2 PEMBAHASAN

Longsoran yang terjadi di zona kerentanan gerakan tanah sedang

Longsoran translasi pada kelerengan 28º dengan tinggi ± 3 m, Longsoran translasi pada kelerengan 15º dengan tinggi ± 1 m, lebar ± 1 m, &
lebar ± 1.5 m, & panjang ± 4 m di Dusun Kembangsari, Banjarasri. panjang ± 4m di dekat selokan Kalibawang, Dusun Kalisoko, Banjarasri.
Zona kerentanan tanah sedang diambil pada koordinat UTM49 Zona kerentanan tanah sedang diambil pada koordinat UTM49 415773
9148686 dengan arah foto N 210º E dan arah longsor N 30º E
415040 9149992 arah foto N 220º E
BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN
5.2 PEMBAHASAN

3. Zona kerentanan gerakan tanah tinggi Zona ini memiliki luas ± 20 % dari daerah penelitian. Secara
Parameter: umum daerah ini dikontrol oleh jenis litologi breksi andesit
dan batupasir, mempunyai kemiringan lereng antara 31-45o,
• Kelerengan 30⁰- 40⁰ bobot 3 (A) tingkat pelapukan batuan yang sedang, tataguna lahan
• Litologi batuan sedimen bobot 3 (B) sebagian besar pemukiman (paling banyak dijumpai pada
Dusun Kembangsari dan Geblak) dan sebagian kecil
• Struktur Geo buffer 100 – 200 meter bobot 3 (C)
perkebunan. Pada zona ini lebih cocok dikembangkan
• Tataguna Lahan semak belukar bobot 2 (D) sebagai kawasan penyangga (hutan produksi).
Perhitungan : H (BOBOT) = (3xA) + (2xB) + (1xC) + (1xD)
= (3x3) + (2x3) + (1x3) + (1x2) = 20

Berdasar pada Permen PU No.22/PRT/M/2007 daerah yang


memiliki bobot kepentingan berkisar antara 19 – 23 masuk dalam
zona kerentanan gerakan tanah tinggi.
BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN
5.2 PEMBAHASAN

Longsoran yang terjadi di zona kerentanan gerakan tanah tinggi

Longsoran rayapan pada kelerengan 26º di Dusun Cikalan, Desa


Longsoran translasi pada kelerengan 32º dengan tinggi ± 3 m, lebar ± 1 m, &
Banjarasri. Zona kerentanan tanah tinggi diambil pada koordinat UTM49
panjang ± 2 m di Dusun Tirip, Banjarasri.
416049 9148636 dengan arah foto N 108º E dan arah longsor N 288º E
Zona kerentanan tanah tinggi diambil pada koordinat UTM49 416064
9149335 dengan arah foto N25ºE dan arah longsor N80ºE
BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN
5.2 PEMBAHASAN

4. Zona kerentanan gerakan tanah sangat tinggi Zona ini memiliki luas ± 10 % dari daerah penelitian. Secara
umum daerah ini dikontrol oleh jenis litilogi breksi andesit,
Parameter : mempunyai kemiringan lereng > 41o, tingkat pelapukan
• Kelerengan > 40⁰ bobot 4 (A) batuan yang sedang, tataguna lahan sebagian besar semak
belukar, perkebunan dan sebagian lain pemukiman. Meliputi
• Litologi batuan vulkanik (breksi andesit) bobot 4 (A)
daerah bukit utara Dusun Boro dan sebagian kecil Dusun
• Struktur Geo buffer < 100 meter bobot 4 (C) Geblak. Kawasan ini dapat dikembangkan sebagai kawasan
• Tataguna Lahan semak belukar bobot 2 (D) penyangga maupun fungsi lindung untuk kelestarian
sumberdaya alam, flora dan fauna seperti hutan lindung,
Perhitungan : H (BOBOT) = (3xA) + (2xB) + (1xC) + (1xD) hutan suaka, hutan wisata, serta kawasan lindung lainnya.
= (3x4) + (2x4) + (1x4) + (1x2) = 26

Berdasar pada Permen PU No.22/PRT/M/2007 daerah yang


memiliki bobot kepentingan berkisar antara 24 – 29 masuk dalam
zona kerentanan gerakan tanah sangat tinggi.
BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN
5.2 PEMBAHASAN

Longsoran yang terjadi di zona kerentanan gerakan tanah sangat tinggi

Longsoran rayapan sejauh ± 2 m & lebar ± 8 m, di bukit Boro


Zona kerentanan tanah sangat tinggi diambil pada koordinat UTM49 413986 9149781
KESIMPULAN
• Faktor-faktor yang berpengaruh dalam gerakan tanah dikelompokkan menjadi faktor internal (litologi dan
struktur geologi), serta faktor eksternal (kelerengan dan tataguna lahan). Selain faktor-faktor tersebut
terdapat faktor lain yang berperan sebagai pemicu dari gerakan tanah yaitu iklim. Iklim bersifat global dan
menyeluruh, keberadaan iklim sangat berpengaruh pada tingkat curah hujan yang ada. Sebagian besar
longsor yang terjadi di daerah tersebut terjadi pada saat hujan atau sesaat setelah hujan berhenti. Hal ini
menunjukan penambahan air yang infiltrasi ke dalam tanah menjadi salah satu faktor pemicu terjadinya
gerakan tanah. Selain itu iklim juga berpengaruh kepada tingkat pelapukan dari litologi yang ada di daerah
tersebut. Iklim tropis yang ada cukup berperan dalam proses pelapukan yang terjadi. Namun untuk daerah
Banjarasri dan sekitarnya, pelapukan batuan bukan menjadi penyebab utama terjadinya longsor. Gerakan
tanah di daerah ini lebih dipengaruhi karena pemukiman yang dibangun oleh penduduk memang
menempati kelerengan yang tidak layak untuk dijadikan pemukiman, yaitu rata-rata menempati pada
kelerengan >30º, sehingga menambah beban pada batuan dan mengurangi daya dukungnya. Selain itu
pada daerah tertentu longsor justru terjadi pada batuan yang cukup resisten (breksi andesit), hal ini terjadi
karena breksi andesit tersebut menempati lereng-lereng yang cukup terjal, ditambah pengaruh iklim yaitu
panas dan hujan yang menyebabkan batuan tersebut berkurang daya dukungnya sehingga mudah
tergelincir.
KESIMPULAN
Berdasarkan hasil analisis dan pembahasan, maka didapatkan empat zona kerentanan gerakan tanah di Daerah
Banjarasri dan sekitarnya Kecamatan Kalibawang Kabupaten Kulon Progo, yaitu:
1. Zona kerentanan gerakan tanah rendah
Zona ini meliputi sebagian Dusun Kalijeruk, Boro, Tlango, Jetis dan Jamus, Desa Banjarasri,
Kecamatan Kalibawang.
2. Zona kerentanan gerakan tanah sedang
Zona ini meliputi Desa Banjarasri (Dusun Tosari, Tirip dan Kalisoko), dan Desa Banjarharjo (Dusun
Penewon, Beku, dan Cikalan).
3. Zona kerentanan gerakan tanah tinggi
Zona ini meliputi Dusun Kembangsari dan Geblak.
4. Zona kerentanan gerakan tanah sangat tinggi
Zona ini meliputi daerah bukit utara Dusun Boro dan sebagian kecil di Dusun Geblak.

Terdapat enam titik gerakan tanah yang semuanya terletak di zona kerentanan tanah rendah – sangat
tinggi. Diperlukan kajian lebih lanjut berupa kajian penataan ruang dalam rangka mitigasi bencana gerakan
tanah untuk menghindari kerugian material dan korban jiwa dimasa yang akan datang.
CARA PENANGGULANGAN: SARAN:
• PEMASANGAN PILAR-PILAR PADA SELOKAN • KAJIAN GERAKAN TANAH ATAU PEMETAAN
DETAIL LEBIH DITINGGKATKAN
• DALAM PEMBERIAN IMB, PEMERINTAH HARUS
LEBIH SELEKTIF MELIHAT KONDISI GEOLOGI
SEKITAR
• PEMBANGUNAN BERKELANJUTAN MELALUI
PENCIPTAAN KESEIMBANGAN LINGKUNGAN,
DIPERLUKAN PEDOMAN, PENATAAN RUANG
KAWASAN BENCANA LONGSOR
TERIMA KASIH