Anda di halaman 1dari 53

AKUNTANSI SYARIAH

SEJARAH, PERKEMBANGAN DAN


PROSPEK DI MASA DEPAN

Erika Takidah, SE, Ak, M.Si C.A.


Disampaikan pada Kuliah Umum
Universitas Bina Nusantara
APAKAH AKUNTANSI SYARIAH ?

 Ilmu Akuntasi yang “disyariahkan?”

 Ilmu syariah yang dihubung-hubungkan dengan akuntansi

 Kedua ilmu yang digabungkan?


Pertanyaan selanjutnya

 Sejak kapan ada ilmu syariah?


 Sejak kapan ada ilmu akuntansi?
 Sejak kapan akuntansi syariah berkembang?
SYARIAH
• Syariah atau syariat berarti hukum Islam, hukum
tersebut berlaku sejak diturunkannya Al Qur’an
kepada Nabi Muhammad sehingga agama Islam
lahir.

• Al Qur’an memuat ayat-ayat yang berkaitan


dengan hukum terutama hukum yang terkait
dengan aturan muamalah.
Al Baqarah 282
• “Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu bermuamalah tidak secara tunai untuk waktu
yang ditentukan, hendaklah kamu menuliskannya. Dan hendaklah seorang penulis di antara
kamu menuliskannya dengan benar. Dan janganlah penulis enggan menuliskannya
sebagaimana Allah telah mengajarkan-nya, maka hendaklah dia menulis, dan hendaklah
orang yang berhutang itu mengimlakkan (apa yang akan ditulis itu), dan hendaklah dia
bertakwa kepada Allah Rabbnya, dan jangan-lah dia mengurangi sedikitpun daripada
hutangnya. Jika yang berhutang itu orang yang lemah akalnya atau lemah (keadaannya)
atau dia sendiri tidak mampu mengimlakkan, maka hendaklah walinya mengimlakkan
dengan jujur. Dan persaksikanlah de-ngan dua orang saksi dari orang-orang lelaki (di
antaramu). Jika tak ada dua orang lelaki, maka (boleh) seorang lelaki dan dua orang
perempuan dari saksi-saksi yang kamu ridhai, supaya jika seorang lupa maka yang seorang
mengingatkannya. Janganlah saksi-saksi itu enggan (memberi keterangan) apabila mereka
dipanggil; dan janganlah kamu jemu menulis hutang itu, baik kecil maupun besar sampai
batas waktu membayarnya. Yang demikian itu, lebih adil di sisi Allah dan lebih menguatkan
persaksian dan lebih dekat kepada tidak (menimbulkan) keraguanmu. (Tulis-lah
muamalahmu itu), kecuali jika muamalah itu perdagangan tunai yang kamu jalankan di
antara kamu, maka tidak ada dosa bagi kamu, (jika) kamu tidak menulisnya. Dan
persaksikanlah apabila kamu berjual beli; dan janganlah penulis dan saksi saling sulit
menyulitkan. Jika kamu lakukan (yang demikian), maka sesungguhnya hal itu adalah suatu
kefasikan pada dirimu. Dan bertakwalah kepada Allah; Allah mengajarmu; dan Allah Maha
Mengetahui segala sesuatu.
ISLAM DAN AKUNTANSI
Pengertian Akuntansi Syari’ah jika ditinjau secara etimologi , kata
akuntansi berasal dari bahasa inggris, accounting, dalam bahasa
Arabnya disebut “ Muhasabah” yang berasal dari kata hasaba,
hasiba, muhasabah atau wazan yang lain adalah hasaba, hasban,
hisabah, yang artinya menimbang, memperhitungkan
mengkalkulasikan, mendata, atau menghisab, yakni menghitung
dengan seksama atau teliti yang harus dicatat dalam pembukuan
tertentu
MUHASABAH
yaitu suatu aktifitas yang teratur berkaitan dengan pencatatan
transaksi-transaksi, tindakan-tindakan, keputusan-keputusan yang
sesuai dengan syari’at dan jumlah-jumlahnya, di dalam catatan-
catatan yang representatif, serta berkaitan dengan pengukuran
dengan hasil-hasil keuangan yang berimplikasi pada transaksi-
transaksi, tindakan-tindakan, dan keputusan-keputusan tersebut
untuk membentu pengambilan keputusan yang tepat.
DEFINISI AKUNTANSI ISLAM
” Akuntansi Islam atau Akuntansi syariah pada hakekatnya adalah penggunaan
akuntansi dalam menjalankan syariah Islam. Akuntansi syariah ada dua versi,
Akuntansi syariah yang yang secara nyata telah diterapkan pada era dimana
masyarakat menggunakan sistem nilai Islami khususnya pada era Nabi SAW,
Khulafahurrasyidiin, dan pemerintah Islam lainnya. Kedua Akuntansi syariah yang saat
ini muncul dalam era dimana kegiatan ekonomi dan sosial dikuasai ( dihegemony) oleh
sistem nilai kapitalis yang berbeda dari sistem nilai Islam. Kedua jenis akuntansi itu
bisa berbeda dalam merespon situasi masyarakat yang ada pada masanya. Tentu
akuntansi adalah produk masanya yang harus mengikuti kebutuhan masyarakat akan
informasi yang disajikan (Sofyan S Harahap)
RUKUN ISLAM : ZAKAT

Kewajiban membayar
zakat

Kewajiban memungut
zakat

Ketentuan kepada siapa


zakat itu diwajibkan dan
apa-apa saja yang wajib
dikeluarkan zakatnya
Kewajiban membayar zakat, tercantum dalam Al-Quran
antara lain Surat Al-Baqarah ayat 110 :

Dan dirikanlah sholat dan tunaikanlah zakat. Dan kebaikan


apa saja yang kamu usahakan bagi dirimu, tentu kamu akan
mendapat pahalanya pada sisi Allah. Sesungguhnya Allah
Maha Melihat apa-apa yang kamu kerjakan.
Kewajiban memungut zakat, tercantum dalam Al-Quran
Surat At-Taubah ayat 103 :

Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat


itu kamu membersihkan dan mensucikan mereka, dan
mendoalah untuk mereka, sesungguhnya doa kamu itu
(menjadi) ketenteraman jiwa bagi mereka. Dan Allah
Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.
Ketentuan kepada siapa zakat itu diwajibkan dan apa-apa saja yang
wajib dikeluarkan zakatnya, tercantum dalam Al-Quran Surat Al
Baqarah ayat 267 :

Hai orang-orang yang beriman, nafkahkanlah (di Jalan Allah) sebahagian dari

hasil usahamu yang baik-baik dan sebahagian dari apa yang Kami keluarkan

dari bumi untuk kamu. Dan janganlah kamu memilih yang buruk-buruk lalu

kamu nafkahkan daripadanya, padahal kamu sendiri tidak mau

mengambilnya melainkan dengan memicingkan mata terhadapnya. Dan

ketahuilah bahwa Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji.


Bagaimana menghitung Zakat?
Menghitung zakat harta?
Menghitung zakat penghasilan?

Menghitung harta sendiri


Menghitung penghasilan sendiri

Statement of Financial Position dan Income Statement


ILMU AKUNTANSI
 Bagaimana ilmu akuntansi berkembang?

 Siapa yang merumuskan awalnya?

 Kapan dimulai?
Luca pacioli (1445-1517)
Mengapa disebut sebagai Bapak Akuntansi?
Sekitar tahun 1490 (umur 49 tahun), Pacioli menerbitkan sebuah buku yang menjadi hit
secara langsung yakni Summa de arithmetica, geometria, proportioni et proportionalita
(Kumpulan Pengetahuan Aritmatika, Geometri, Proporsi, dan Proporsional).

Dalam bukunya ia menyebutkan suatu praktek dagang baru yang dikenal bahkan
hingga saat ini dipakai jutaan perusahaan di dunia dengan nama double-entry
system.

Buku ini bisa menjadi terkenal juga didukung oleh lokasi dibuatnya buku tersebut yakni di
Venesia yang pada prinsipnya adalah ibukota perdagangan Eropa pada saat itu. Di
Venesia inilah praktik perdagangan ramai dilakukan dan pasar (saat itu pasar adalah
pusat informasi karena disinilah pedagang dari seluruh dunia bertemu) juga semakin
mempercepat penyebaran praktik baru yang diperkenalkan oleh Luca Pacioli.
Pertentangan tentang Paciolli

Zaid (2001)
“Pacioli bukanlah penemu melainkan
Pencatat kejadian pada saat itu”

Have (1976) dalam Zaid (2001)


“perkembangan akuntansi tidak Belkaoui (2000)
Terjadi di Itali kuno” “Pacioli bukanlah penemu double
Entry bookkeping”
Peta pusat perdagangan antara Eropa dan
Timur Tengah
Kemiripan Praktek akuntansi Kekalifahan
Islam dengan buku Pacioli
Istilah Zornal (sekarang journal) telah lebih dahulu digunakan oleh
kekhalifahan Islam dengan Istilah Jaridah untuk buku catatan keuangan

Penggunaan kalimat “In the name of God” diawal buku catatan keuangan,
telah lebih dahulu digunakan oleh kekhalifahan Islam dengan kalimat “In
the name of Allah, the Most Gracious, the Most Merciful”

Double Entry yang ditulis oleh Pacioli, telah dipraktekkan dalam


pemerintahan Islam
Pengaruh Islam Terhadap Perkembangan
Akuntansi
 Sebelum berdirinya peradaban Islam, hanya ada dua peradaban
besar yaitu bangsa romawi dan bangsa persia.
 Pada saat itu telah digunakan akuntansi dalam bentuk perhitungan
barang dagangan oleh para pedagang. Dari sejak pergi berdagang
sampai pulang kembali (Adnan dan Labatjo, 2006).
 Perhitungan dilakukan untuk mengetahui perubahan-perubahan,
untung dan rugi. Selain itu orang yahudi banyak melakukan
perdagangan menetap dan mencatat piutang mereka (Syahatah,
2001).
 Pada masa Rasulullah praktik akuntansi mulai berkembang setelah
ada perintah Allah melalui Alqur’an untuk mencatat transaksi tidak
tunai (Alqur’an 2:282) dan membayar zakat (Alqur’an 2:10)
Pengaruh Islam terhadap
Perkembangan Akuntansi
Kondisi setelah berdiri dan berkembangnya Pemerintahan Islam

A. Penyebaran Islam telah memperluas penggunaan angka arab (ditandai


dengan adanya angka nol) ke berbagai wilayah di dunia.

B. Kewajiban mencatat transaksi tidak tunai (lihat QS 2:282) telah


mendorong umat Islam peduli terhadap pencatatan dan menimbulkan
tradisi pencatatan transaksi dikalangan umat. Ini juga mendorong
berkembangnya partnership.
Pengaruh Islam terhadap
Perkembangan Akuntansi
C. Kewajiban membayar zakat telah:
• Mendorong pemerintah Islam untuk membuat laporan keuangan
Baitul Maal secara periodik, dan

• Mendorong pedagang Muslim untuk mengklasifikasikan hartanya


sesuai ketentuan zakat dan membayarkan zakatnya jika telah
memenuhi nishab (batas minimal kena zakat) dan haul (1 th)
Pengaruh Islam terhadap
Perkembangan Akuntansi
D. Peran akuntan menjadi penting dalam pengambilan keputusan
berkaitan dengan kekayaan pemerintah dan pedagang.
“….he who learnt accounting will make an appropriate decision …This
means that the trader or any other person cannot express an
appropriate opinion or make the right decision without the
assistance of the information recorded in the books” Imam Ash-
Shafi’ie dalam Shahata (1993)
Praktek Akuntansi Pemerintahan Islam
Zaid (2000) menyatakan
bahwa pada zaman Hawary (1988)
Rasululullah cikal bakal menungkapkan bahwa
pengembangan akuntansi pemerintahan Rasulullah
dimulai dari fungsi-fungsi memiliki 42 pejabat yang
pemerintahan agar digaji yang terspesialisasi
mencapai tujuannya, dan dalam peran dan tugas
penunjukkan orang-orang tersendiri.
yang kompeten.
Praktek Akuntansi Pemerintahan Islam
Perkembangan
pemerintahan
Islam hingga
Para sahabat Khalifah Umar Bin
meliputi Timur
merekomendasikan Khatab
Tengah, Afrika
perlunya pencatatan mendirikan
dan Asia di zaman
untuk lembaga yang
Khalifar Umar bin
pertanggungjawaba bernama Diwan
Khatab, telah
n penerimaan dan (dari kata
meningkatkan
pengeluaran negara dawwana=tulisan)
penerimaan dan
pengeluaran
negara.
Praktek Akuntansi Pemerintahan Islam

Reliabilitas laporan
Kalifah Al Waleed bin
keuangan pemerintahan
Abdul Malik (705-715 M)
dikembangkan oleh
mengenalkan catatan
Kalifah Umar bin Abdul
dan register yg terjilid
Aziz (681-720M) dengan
dan tidak terpisah
kewajiban mengeluarkan
seperti sebelumnya
bukti penerimaan uang
(Lasheen, 1973)
(Imam, 1951)
Praktek Akuntansi Pemerintahan Islam
Akuntansi diklasifikasikan
Evolusi pada beberapa
spesialisasi a.l:
perkembangan
akuntansi peternakan,
pengelolaan buku akuntansi pertanian,
akuntansi mencapai akuntansi bendahara,
tingkat tertinggi pada akuntansi konstruksi,
akuntansi mata uang,
masa Daulah dan pemeriksaan buku
Abbasiah. (auditing) (Al-
Kalkashandy, 1913)
Evolusi perkembangan pengelolaan akuntansi mencapai tingkat tertinggi pada masa Daulah
Abbasiah. Akuntansi dikelompokkan menjadi beberapa spesialisasi antara lain : akuntansi
peternakan, akuntansi pertanian, akuntansi bendahara, akuntansi konstruksi, akuntansi mata
uang dan sistem pembukuan menggunakan model buku besar.

Jaridah Al-Kharaj (merupakan pembukuan pemerintah


Terhadap hutang pada individu).

Jaridah An Nafaqat (merupakan pembukuan yang


digunakan untuk mencatat pengeluaran negara).

Buku Besar
Jaridal AL Mal (merupakan pembukuan yang digunakan
untuk mencatat penerimaan dan pengeluaran zakat).

Jaridah Al Musadareen (merupakan pembukuan yang


Digunakan penerimaan sita/denda tidak sesuai syariah).
Berbagai laporan akuntansi yang ikut dikembangkan
pada masa Daulah abbasiah

Al Khitmah (menunjukkan total pendapatan dan pengeluaran


yang dibuat setiap bulan (Bin Jaffar, 1981 dalam zaid, 2001).

Al Khitmah Al Jame’ah (Laporan Keuangan komprehensif


Laporan Berisikan laporan laba rugi dan neraca yang dilaporkan
Pada akhir tahun.

Dalam perhitungan dan penerimaan zakat. Utang zakat


Diklasifikasikan dalam tiga (3) laporan keuangn yaitu :
collectable debts, doubtful debts, uncolectable debts
(Lasyin, dalam zaid, 2001).
Perbandingan
Islam Paciolli
Tahun 622 M 1490 M
Pencatatan berkembang karena : Percatatan berkembang karena
1. Perintah Allah SWT Kepentingan bisnis dan pengambilan
2. Kepentingan Bisnis keputusan
3. Kepentingan zakat
4. Pertanggung jawaban
Cash Basis Accrual Basis
PERKEMBANGAN AKUNTANSI SYARIAH
Pendekatan-Pendekatan dalam
Mengembangkan akuntansi Syariah
1. Pendekatan berbasis Akuntansi Kontemporer (induktif)

2. Pendekatan deduktif dari ajaran Islam

3. Pendekatan hybrid
Pendekatan berbasis Akuntansi Kontemporer (Induktif)

Berdasarkan AAOIFI(2003), pendekatan ini menggunakan tujuan akuntansi keuangan barat yang sesuai dengan
organisasi bisnis orang Islam dan mengeluarkan bagian yang bertentangan dengan ketentuan syariah.

Tujuan akuntansi Islam berdasarkan pendekatan ini adalah untuk pengambilan keputusan (decision usefulness)
dan memelihara kekayaan institusi (stewardship).

Tujuan decision Tujuan


usefulness Stewardship

AAOIFI dalam SFA AAOIFI dalam


no.1 SFA no.1
Paragraf 25 Paragraf 33-34

IAI dalam KDPP – IAI dalam KDPP


LKS tahun – LKS tahun
2007 paragraf 30 2007 paragraf 30
Pendekatan Induktif
 Argumen yang mendukung:
Pendekatan ini pada dapat diterapkan dan relevan dengan institusi yang
memerlukan (Rashid, 1987)
Sesuai dengan prinsip Ibaha (Abdelgader, 1994)

X Argumen yang menentang :


Ini tidak bisa diterapkan pada masyarakat yang kehidupannya mesti
berlandaskan pada wahyu. (Gambling & Karim, 1991)
Ini merusak karena mengandung asumsi yang tidak Islami (Anwar, 1987)
Pendekatan Deduktif dari ajaran Islam

Pendekatan ini diawali dengan menentukan tujuan berdasarkan prinsip Islam


yang terdapat dalam Alqur’an dan Sunah.

Pendekatan deduktif dipelopori oleh beberapa pemikir akuntansi syariah antara


lain Iwan Triyuwono, Akhyar Adnan, Gaffikin dan beberapa pemikir lainnya.

Adnan & Gaffikin (1997) serta Triyuwono (2000) berpandangan


Bahwa tujuan akuntansi syariah adalah pemenuhan kewajiban zakat
(pertanggungjawaban melalui zakat)
Pendekatan Deduktif
 Argumen yang mendukung :
ini akan meminimalisir pengaruh pemikiran
sekular terhadap tujuan dan akuntansi yang
dikembangkan (Karim ,1995)

X Argumen yang menentang :


pendekatan ini sulit dikembangkan dalam bentuk
praktisnya (Rashid, 1987)
Pendekatan Hybrid
Pendekatan ini didasarkan pada prinsip syariah yang sesuai dengan ajaran Islam
dan persoalan masyarakat yang akuntansi syariah mungkin dapat membantu
menyelesaikannya (Hameed, 2000)

Tujuan akuntansi syariah dalam pendekatan ini menurut Hameed


adalah mewujudkan pertanggungjawaban Islam.
Penerapan Pendekatan Hybrid
 Pendekatan hybrid secara parsial telah diterapkan di lingkungan
beberapa perusahaan konvensional.
 Hal ini dapat dilihat dari laporan keuangan dan non keuangan
perusahaan maupun disclosure perusahaan yang memperhatikan
tidak hanya masalah ekonomi melainkan juga masalah sosial dan
lingkungan.
 Lembaga yang memperhatikan ini adalah GRI dan ACCA.
 GRI bergerak dalam mengkaji dan membuat standar pelaporan
perusahaan dengan konsep triple bottom line (ekonomi, sosial dan
lingkungan) (lihat www.globalreporting.org)
 ACCA adalah organisasi profesi akuntan di UK yang banyak
mendorong pengungkapan lebih luas hal-hal yang berkaitan
dengan lingkungan hidup.
Penerapan Pendekatan Hybrid
Pendekatan hybrid mengapresiasi apa yang telah dikembangkan di
Barat, dan menganggap itu perlu diaplikasikan dalam akuntansi
syariah (Yaya & Hameed, 2003)

Pendekatan hybrid mengapresiasi apa yang telah dikembangkan di


Barat, dan menganggap itu perlu diaplikasikan dalam akuntansi
syariah (Yaya & Hameed, 2003)
Lahirnya lembaga keuangan syariah
dimulai tahun 1975
1. Bank Syariah

2. Asuransi Syariah

3. Pegadaian Syariah

4. Pasar Modal Syariah dll

Akuntansi syariah lahir untuk memenuhi kebutuhan sekarang


Kebutuhan?
• Dibutuhkan standar baru untuk
mengakomodir transaksi-transaksi berbasis
syariah
• Bagaimana membuat standar?
• Siapa saja yang terlibat didalamnya?
• Bagaimana implementasi nya di lapangan?
AAOIFI
• The Accounting and Auditing Organization for Islamic Financial
Institutions(AAOIFI) is an Islamic international autonomous non-for-
profit corporate body that prepares accounting, auditing,
governance, ethics and Shari'a standards for Islamic financial
institutions and the industry. Professional qualification programs
(notably CIPA, the Shari’a Adviser and Auditor "CSAA", and the
corporate compliance program) are presented now by AAOIFI in its
efforts to enhance the industry’s human resources base and
governance structures.
• As an independent international organization, AAOIFI is supported
by institutional members (200 members from 40 countries, so far)
including central banks, Islamic financial institutions, and other
participants from the international Islamic banking and finance
industry, worldwide.
• AAOIFI has gained assuring support for the implementation of its
standards, which are now adopted in the Kingdom of Bahrain, Dubai
International Financial Centre, Jordan, Lebanon, Qatar, Sudan and Syria.
The relevant authorities in Australia, Indonesia, Malaysia, Pakistan,
Kingdom of Saudi Arabia, and South Africa have issued guidelines that are
based on AAOIFI’s standards and pronouncements.
• Total of 88 standards issued: (a) 48 on Shari’a, (b) 26 accounting, (c) 5
auditing standards, (d) 7 governance, (e) 2 codes of ethics.
• In addition, new standards are being developed and existing standards
reviewed.
• AAOIFI standards are followed – as part of regulatory requirement or IFIs’
internal guidelines – in jurisdictions that offer Islamic finance across
Middle East, Asia Pacific, South Asia, Central Asia, Africa, Europe, and
North America; and Islamic Development Bank Group.
• Consequently, AAOIFI standards have introduced greater harmonisation
of Islamic finance practices across the world.
Objectives of AAOIFI
• To develop accounting and auditing thoughts relevant to Islamic financial
institutions;
• To disseminate accounting and auditing thoughts relevant to Islamic financial
institutions and its applications through training, seminars, publication of
periodical newsletters, carrying out and commissioning of research and
other means;
• To prepare, promulgate and interpret accounting and auditing standards for
Islamic financial institutions; and
• To review and amend accounting and auditing standards for Islamic financial
institutions.
• AAOIFI carries out these objectives in accordance with the precepts of Islamic
Shari’a which represents a comprehensive system for all aspects of life, in
conformity with the environment in which Islamic financial institutions have
developed. This activity is intended both to enhance the confidence of users of
the financial statements of Islamic financial institutions in the information that
is produced about these institutions, and to encourage these users to invest or
deposit their funds in Islamic financial institutions and to use their services
History
• AAOIFI was established in accordance with the
Agreement of Association which was signed by
Islamic financial institutions on 1 Safar, 1410H
corresponding to 26 February, 1990 in Algiers. Then,
it was registered on 11 Ramadan 1411 corresponding
to 27 March, 1991 in the State of Bahrain.
ACCOUNTING STANDARDS
Conceptual Framework FOR Financial Reporting by Islamic Financial Institutions
• FAS 1- General Presentation and Disclosure in the Financial Statements of
Islamic Banks and Financial Institutions
• FAS 2- Murabaha and Murabaha to the Purchase Orderer
• FAS 3- Mudaraba Financing
• FAS 4 - Musharaka Financing
• FAS 5- Disclosure of Bases For Profit Allocation Between Owners’ Equity and
Investment Account Holders
• FAS 6- Equity of Investment Account Holders and their Equivalent
• FAS 7- Salam and Parallel Salam
• FAS 8- Ijarah and Ijarah Muntahia Bittamleek
• FAS 9-Zakah
• FAS 10-Istisna'a and Parallel Istisna’a
• FAS 11- Provisions and Reserves
• FAS 12-General Presentation and Disclosure in the Financial Statements of
Islamic Insurance Companies
ACCOUNTING STANDARDS
• FAS 13- Disclosure of Bases for Determining and Allocating Surplus or Deficit in
Islamic Insurance Companies
• FAS 14- Investment Funds
• FAS 15- Provisions and Reserves in Islamic Insurance Companies
• FAS 16- Foreign Currency Transactions and Foreign Operations
• FAS 17- Investments
• FAS 18- Islamic Financial Services offered by Conventional Financial Institutions
• FAS 19- Contributions in Islamic Insurance Companies
• FAS 20- Deferred Payment Sale
• FAS 21- Disclosure on Transfer of Assets
• FAS 22- Segment Reporting
• FAS 23- Consolidation
• FAS 24- Investments in Associates
• FAS 25- Investment in Sukuk, Shares and Similar Instruments
• FAS 26 - Investments in Real Estate
Perkembangan Akuntansi Syariah di Indonesia
• Lembaga Keuangan Syariah pertama lahir tahun 1993
tanpa ada standar akuntasi,
• Akhirnya lahir PSAK no 59 pada 1 Mei 2002.
• Disyahkan PSAK 101 tanggal 27 Juni 2007
Hasil Dewan Standar Akuntansi Syariah
1. Kerangka Dasar Penyajian dan Pelaporan
Lembaga Keuangan Syariah
2. PSAK 101 Penyajian Laporan Keuangan Syariah
3. PSAK 102 Akuntansi Murabahah
4. PSAK 103 Akuntansi Salam
5. PSAK 104 Akuntansi Istishna
6. PSAK 105 Akuntansi Mudharabah
7. PSAK 106 Akuntansi Musyarakah
8. PSAK 107 Akuntansi Ijarah
9. PSAK 108 Transaksi Akuntansi Syariah
10. PSAK 109 Akuntansi Zakat Infaq Sedekah
Tantangan di masa yang akan datang
• Makin beragamnya lembaga keuangan dan transaksi
syariah maka dibutuhkan standar-standar baru
• Berkembangnya lembaga keuangan syariah harus
diiringi dengan bertambahnya tenaga akuntan yang
memahami akuntansi syariah
• Harus mengiringi Perkembangan standar akuntasi
internasional
Penutup
• Saatnya kita bergerak
• Kita adalah para akuntan harus memahami
berkembangnya pasar syariah
• Karena akuntan adalah nadi dari suatu
bisnis
• Maka mulailah untuk menikmati akuntansi
dari sisi yang lain….
• Semoga Bermanfaat
erikatakidah@yahoo.com