Anda di halaman 1dari 26

Bentuk Pelayanan

esensial Kesehatan
PelKes pada Bayi
pada Bayi
Jenis Pengertian
Pelayan Pelayanan
Kesehatan
Kesehata pada Bayi
n pada Pelaksana
BBL pelayanan Jenis Pelayanan
kesehatan Kesehatan pada
Bayi Pelayanan
Balita
Kesehatan
pada Balita Pengertian
Pelayan
Kesehatan pada
Balita
Pelayanan Kesehatan pada Bayi

untuk meningkatkan akses bayi terhadap pelayanan kesehatan

dasar, mengetahui sedini mungkin bila terdapat kelainan pada bayi

sehingga cepat mendapat pertolongan, pemeliharaan kesehatan dan

pencegahan penyakit melalui pemantauan pertumbuhan, imunisasi,

serta peningkatan kualitas hidup bayi dengan stimulusi tumbuh

kembang. Dengan demikian hak anak mendapatkan pelayanan

kesehatan terpenuhi.
Pelaksanaan
pelayanan
kesehatan
Bayi

Pelaksana pelayanan kesehatan Bayi :

• Kunjungan bayi satu kali pada umur 29 hari – 2 bulan

• Kunjungan bayi satu kali pada umur 3 – 5 bulan

• Kunjungan bayi satu kali pada umur 6 – 8 bulan

• Kunjungan bayi satu kali pada umur 9 – 11 bulan


Pelayanan kesehatan tersebut meliputi :

• Pemberian imunisasi dasar lengkap (BCG, Polio 1, 2,3, 4, DPT/HB 1, 2, 3, Campak)

sebelum bayi berusia 1 tahun

• Stimulasi deteksi intervensi dini tumbuh kembang bayi (SDIDDTK)

• Pemberian vitamin A 100.000 IU (6 – 11 bulan)

• Konseling ASI ekskulusif, pemberian makanan pendamping ASI, tanda –tanda sakit

dan perawatan kesehatan bayi di rumah menggunakan Buku KIA

• Penanganan dan rujukan kasus bila di perlukan Tenaga kesehatan yang dapat

memberikan pelayanan kesehatan bayi adalah dokter spesialis anak, dokter, bidan

dan perawat.
Pelaksanaan asuhan bayi baru lahir mengacu pada
pedoman Asuhan Persalinan Normal yang tersedia di
puskesmas, pemberi layanan asuhan bayi baru lahir dapat
dilaksanakan oleh dokter, bidan atau perawat. Pelaksanaan
asuhan bayi baru lahir dilaksanakan dalam ruangan yang
sama dengan ibunya atau rawat gabung (ibu dan bayi dirawat
dalam satu kamar, bayi berada dalam jangkauan ibu selama
24 jam).
Asuhan bayi baru lahir meliputi:

• Pencegahan infeksi (PI)

• Penilaian awal untuk memutuskan resusitasi pada bayi

• Pemotongan dan perawatan tali pusat

• Inisiasi Menyusu Dini (IMD)

• Pencegahan kehilangan panas melalui tunda mandi selama 6 jam, kontak kulit
bayi dan ibu serta menyelimuti kepala dan tubuh bayi.

• Pencegahan perdarahan melalui penyuntikan vitamin K1 dosis tunggal di paha


kiri.

• Pemberian imunisasi Hepatitis B (HB 0) dosis tunggal di paha kanan

• Pencegahan infeksi mata melalui pemberian salep mata antibiotika dosis tunggal.

• Pemeriksaan bayi baru lahir.

• Pemberian ASI eksklusif


Bentuk
esensial
PelKes pada
Bayi

IMD adalah memberikan pelayanan kesehatan pada anak dengan


mendekapkan bayi diantara kedua payudara ibunya segera setelah lahir.
Memberikan kesempatan bayi menyusui sendiri segera setelah lahir dengan
meletakkan bayi di dada atau perut dan kulit bayi melekat pada kulit ibu (skin to
skin contact) setidaknyaselama 1-2 jam sampai bayi menyusui sendiri. (mitaya,
2010 : 23)

Hal ini dapat menghindari kematian bayi dan penyakit yang menyerang
bayi, karena kandungan antibodi yang ada pada colostrom dan ASI.
Bentuk
esensial
PelKes pada
Bayi

Pemeriksaan BBL bertujuan untuk mengetahui sedini mungkin


kelainan pada bayi. Risiko terbesar kematian BBL terjadi pada 24 jam
pertama kehidupan, sehingga jika bayi lahir di fasilitas kesehatan sangat
dianjurkan untuk tetap tinggal di fasilitas kesehatan selama 24 jam
pertama. Pemeriksaan bayi baru lahir dilaksanakan di ruangan yang sama
dengan ibunya, oleh dokter/ bidan/ perawat. Jika pemeriksaan dilakukan
di rumah, ibu atau keluarga dapat mendampingi tenaga kesehatan yang
memeriksa.
Bentuk
esensial
PelKes pada
Bayi

Pemotongan tali pusat pada BBL normal dilakukan


sekitar 2 menit setelah bayi baru lahir atau setelah
penyuntikan oksitosin 10 IU intramuskular kepada ibu.
Hindari pembungkusan tali pusat atau jika di bungkus
tutupi dengan kassa steril dalam keadaan longgar, agar
tetap terkena udara dan akan lebih mudah kering.
Bentuk
esensial
PelKes pada
Bayi

Pastikan bayi selalu dalam keadaan hangat

dan hindari bayi terpapar langsung dengan

suhu lingkungan.
Bentuk
esensial
PelKes pada
Bayi

Adalah pelayanan kesehatan kepada neonatus


sedikitnya 3 kali yaitu:
Kunjungan neonatal I (KN1) pada 6 jam sampai
dengan 48 jam setelah lahir.
Kunjungan neonatal II (KN2) pada hari ke 3 s/d 7
hari
Kunjungan neonatal III (KN3) pada hari ke 8 – 28
hari
Pelayanan Kesehatan
pada Balita
Pengertian
Pelayan
Kesehatan pada
Balita
Anak balita (bawah lima tahun), merupakan kelompok tersendiri yang dalam
perkembangan dan pertumbuhannya memerlukan perhatian yang lebih khusus.
Bila perkembangan dan pertumbuhan pada masa BALITA ini mengalami
gangguan, hal ini akan berakibat terganggunya persiapan terhadap pembentukan
anak yang berkualitas. Untuk mencapai hal diatas, maka tujuan pembinaan
kesejahteraan anak adalah dengan menjamin kebutuhan dasar anak secara wajar,
yang mencakup segi-segi kelangsungan hidup, pertumbuhan dan perkembangan
dan perlindungan terhadap hak anak yang menjadi haknya [hak anak]. Disamping
itu diperlukan juga suatu lingkungan hidup yang menguntungkan untuk proses
tumbuh kembang anak. (Chairuddin P. Lubis, 2004).
Pelayanan Kesehatan
pada Balita
Jenis Pelayanan
Kesehatan pada
Balita

Dalam pertumbuhan dan perkembangan fisik seorang anak,


pemberian makanan yang bergizi mutlak sangat diperlukan. Anak dalam
pertumbuhan dan perkembangannya mempunyai beberapa fase yang
sesuai dengan umur si anak, yaitu fase pertumbuhan cepat dan fase
pertumbuhan lambat. Bila kebutuhan ini tidak dapat dipenuhi, maka
akan terjadi gangguan gizi pada anak tersebut yang mempunyai dampak
dibelakang hari baik bagi pertumbuhan dan perkembangan fisik anak
tersebut maupun gangguan intelegensia.
Pelayanan Kesehatan
pada Balita
Jenis Pelayanan
Kesehatan pada
Balita

Vitamin A adalah salah satu zat gizi dari golongan vitamin yang sangat
diperlukan oleh tubuh yang berguna untuk kesehatan mata ( agar dapat melihat
dengan baik ) dan untuk kesehatan tubuh yaitu meningkatkan daya tahan
tubuh, jaringan epitel, untuk melawan penyakit misalnya campak, diare dan
infeksi lain. Upaya perbaikan gizi masyarakat dilakukan pada beberapa sasaran
yang diperkirakan banyak mengalami kekurangan terhadap Vitamin A, yang
dilakukan melalui pemberian kapsul vitamin A dosis tinggi pada bayi dan balita
yang diberikan sebanyak 2 kali dalam satu tahun. (Depkes RI, 2007)
Vitamin A terdiri dari 2 jenis :

Kapsul vitamin A biru ( 100.000 IU ) diberikan pada bayi


yang berusia 6-11 bulan satu kali dalam satu tahun.

Kapsul vitamin A merah ( 200.000 IU ) diberikan kepada


balita Kekurangan vitamin A disebut juga dengan xeroftalmia
( mata kering ).Hal ini dapat terjadi karena serapan vitamin A
pada mata mengalami pengurangan sehingga terjadi
kekeringan pada selaput lendir atau konjungtiva dan selaput
bening( kornea mata ).
Pelayanan Kesehatan
pada Balita
Jenis Pelayanan
Kesehatan pada
Balita

Posyandu merupakan salah satu bentuk Upaya Kesehatan


Bersumberdaya Masyarakat (UKBM) yang dikelola dan
diselenggarakan dari, oleh, untuk dan bersama masyarakat dalam
penyelenggaraan pembangunan kesehatan guna memberdayakan
masyarakat dan memberikan kemudahan kepada masyarakat
dalam memperoleh pelayanan kesehatan dasar untuk
mempercepat penurunan angka kematian ibu dan bayi.
Adapun jenis pelayanan yang diselenggarakan Posyandu
untuk balita mencakup :

• Penimbangan berat badan

• Penentuan status pertumbuhan

• Penyuluhan

• Jika ada tenaga kesehatan Puskesmas dilakukan


pemeriksaan kesehatan, imunisasi dan deteksi dini tumbuh
kembang, apabila ditemukan kelainan, segera ditunjuk ke
Puskesmas.
Pelayanan Kesehatan
pada Balita
Jenis Pelayanan
Kesehatan pada
Balita

Konseling yang dapat diberikan adalah :

• Pemberian makanan bergizi pada bayi dan balita

• Pemberian makanan bayi

• Mengatur makanan anak usia 1-5 tahun.

• Pemeriksaan rutin/berkala terhadap bayi dan balita

• Peningkatan kesehatan pola tidur, bermain, peningkatan pendidikan seksual


dimulai sejak balita (sejak anak mengenal idenitasnya sebagai laki-laki atau
perempuan
Pelayanan Kesehatan
pada Balita
Jenis Pelayanan
Kesehatan pada
Balita

Imunisasi adalah upaya pencegahan penyakit infeksi dengan


menyuntikkan vaksin kepada anak sebelum anak terinfeksi. Anak
yang diberi imunisasi akan terlindung dari infeksi penyakit-penyakit:
sebagai berikut: TBC, Difteri, Tetanus, Pertusis (batuk rejan), Polio,
Campak dan Hepatitis B. Dengan imunisasi, anak akan terhindar
dari penyakit-penyakit, terhindar dari cacat, misalnya lumpuh karena
Polio, bahkan dapat terhindar dari kematian.
Vaksin yang di gunakan adalah :

BCG : Untuk mencegah penyakit tuberculosis

Imunisasi BCG (Bacicile Calmette Guerin) untuk mencegah terjadinya penyakit


TBC yang berat sebab TBC yang primer atau ringan dapat terjadi walaupun sudah
dilakukan imunisasi BCG. Contohnya: TBC pada selaput otak, TBC milier pada
lapang paru ,TBC tulang . Vaksin BCG merupakan vaksin yang mengandung kuman
TBC yang dilemahkan, diberikan melalui intradermal dengan dosis 0,05 ml

Efek samping imunisasi BCG yaitu terjadinya ulkus pada daerah suntikan,reaksi panas.

Rekomendasi :

• Imunisasi BCG diberikan saat bayi berusia ≤ 2 bulan

• Jangan melakukan imunisasi pd bayi dg imunodefisiensi (HIV,gizi buruk).

• Pada bayi yg kontak erat dg penderita TB,diberi INH profilaksis,jika kontak sdh
tenang dpt diberi BCG
Polio oral vaksin : Untuk mencegah penyakit polio

Imunisasi polio digunakan untuk mencegah terjadinya penyakit


poliomyelitis yang dapat menyebabkan kelumpuhan pada anak.
Kandungan vaksin adalah virus yang dilemahkan. Imunisasi polio
diberikan melalui oral bersamaan dengan suntikan vaksin DPT &
hepatitis B. Vaksin yang digunakan secara rutin sejak bayi lahir
dengan dosis 2 tetes oral yang menempatkan diri di usus & memacu
pembentukan system baik dalam darah maupun pada epitelium
usus yang menghasilkan pertahanan terhadap virus polio liar yang
datang masuk kemudian.
• DPT : Untuk mencegah penyakit Difteri, Pertuis, dan
Tetanus

Vaksin mengandung racun kuman difteri yang telah


dihilangkan sifat racunnya, namun masih dapat merangsang
pembentukan zat anti (toksoid). Imunisasi DPT diberikan
melalui system scular dengan dosis 0,5 ml & dapat
menimbulkan efek samping ringan, terajdi pembengkakan,
nyeri & demam. Efek samping berat : terjadi menangis hebat,
kesakitan ± 4 jam, kesadaran menurun, kejang & syok.
• Hepatitis B : Untuk mencegah penyakit Hepatitis B

Penyakit Hepatitis B sering menyebabkan hepatitis kronik


yang dalam kurun waktu 10-20 tahun dapat berkembang
menjadi hepatitis akut. Penularan penyakit melalui: hubungan
seksual, dari ibu kepada bayinya, melalui alat-alat kedokteran.
Imunisasi diberikan melalui system scular dengan dosis 0,5 ml
dan dapat menimbulkan efek samping yang pada umumnya
ringan, hanya berupa nyeri, bengkak, panas, mual & nyeri
sendi maupun otot.
• Campak : Untuk mencegah penyakit Campak

Imunisasi bermanfaat untuk memberikan


kekebalan pada bayi dan anak sehingga tidak mudah
tertular penyakit:TBC, tetanus, difteri, pertusis (batuk
rejan), polio, campak dan hepatitis.Imunisasi dapat
diperoleh di Posyandu, Puskesmas, Puskesmas
Pembantu, Puskesmas Keliling, Praktek dokter atau
bidan, dan di Rumah sakit.
THANKYOU
FOR YOUR
ATTENTION