Anda di halaman 1dari 30

REAKSI TRANSFUSI

Pembimbing :
dr. Ami
dr. Putri
Disusun oleh :
dr. Sabrina
IDENTITAS PASIEN
Nama Pasien : Ny. N
RM : 068543
Jenis Kelamin : Perempuan
Tanggal Lahir : 31/12/35 (82 tahun)
Status : Menikah
Suku Bangsa : Jawa
Agama : Islam
Tanggal masuk: 5 Januari
Ny. N (82 tahun)

KELUHAN UTAMA :
Nyeri dada sebelah kiri
sejak 3 hari SMRS Datang dengan keluhan nyeri
dada sebelah kiri sejak 3 hari
SMRS, sesak (+) batuk (-).
Tidur malam nyaman
RPD :
menggunakan 2 bantal. Nyeri
Riwayat jantung (+) HT (+)
perut (-). BAB dan BAK
Riw asma (-) Riwayat alergi obat (-) normal.
RPK :
(-)
RP.Sos:
Pasien menggunakan BPJS
PEMERIKSAAN FISIK

Kesadaran : Compos Mentis


Keadaan Umum : Tampak sakit sedang
Vital Sign
TD : 156/68 mmHg
HR : 85 x/menit
RR : 20 x/menit
Suhu : 36,90 C per axilla
STATUS GENERALIS
Kepala : Normocephal, distribusi rambut merata
Mata : Konjungtiva anemis (-/-), Sklera ikterik (-/-)
Hidung: Nafas cuping hidung (-), perdarahan (-), lendir (-)
Mulut : Dalam batas normal
Telinga: Nyeri tekan mastoid (-), sekret (-)
Leher : Tampak simetris, deviasi trakea (-), KGB tidak
teraba, JVP 5-2 cmH2O
Thoraks
Paru
I : gerak dada simetris saat statis dan dinamis, venektasi (-),
spider naevi (-)
P : taktil fremitus kedua paru simetris, nyeri tekan (-),
P : sonor pada kedua paru
A : vesicular kedua lapang paru, ronkhi -/- , wheezing -/-
Jantung
I : iktus kordis tidak terlihat
P : iktus kordis teraba di ICS V Linea midclavicularis
P:
• Batas kanan : ICS V linea sternalis dextra
• Batas kiri : ICS V 1 jari medial linea midclavicula sinistra
• Batas atas : ICS III linea parasternal sinistra
A : Bunyi Jantung I dan II reg, murmur (-) gallop (–)
Abdomen
I : datar, sikatriks (-), Ascites (-),
A : bising usus (+) normal
P : timpani pada seluruh kuadran abdomen, shifting
dullnes(-)
P : supel, nyeri tekan epigastrium (-), hepar dan lien tidak
teraba massa (-), turgor baik, ascites (-)
Pinggang : Nyeri ketuk CVA (-/-)
Ekstremitas : Akral hangat , edema (-), CRT <2 detik
Pemeriksaan Laboratorium
JENIS PEMERIKSAAN HASIL NILAI RUJUKAN

Hematologi rutin:
Hb 7,32 12 – 16 g/dl
Ht 20 37 – 47 %
Erythrocyte 2.07 4.3 - 6.0 juta /ul
Leukocyte 6900 4800 - 10800/ul
Thrombocyte 251.000 150000 - 400000/ul
Diff count
Eusinofil, basofil, 5,5 6-0
monosit
neutrofil 71,8 40-60
limposit 22,7 20-45
Setelah dilakukan cek lab darah lengkap, Hb pasien 7,23 yang
merupakan indikasi untuk dilakukan transfusi darah. Kemudian
dilakukan tranfusi prc 1 kolf. Pada saat dilakukan transfusi sekitar
15 menit, pasien mengeluhkan menggigil dan badan terasa
panas, kulit agak kemerahan. Kemudian saya menelpon DPJP
untuk konsul dan memberitahukan kondisi pasien saat itu, dan
mengusulkan untuk pemberian dexamethason 1 amp dan
paracetamol 1 tablet extra. Menanyakan juga apakan transfusi
perlu di stop atau tetap lanjut. Kemudian advis dari dr DPJP acc
obat yang diusulkan dan menginstruksikan untuk tetap
melanjutkan transfusi.
KU = tampak sakit sedang
K = Compos mentis
Tanda-tanda vital :
TD 156/70
HR 85 x/menit
RR 20 x/menit
Suhu 38 C
Ka -/- , si -/-
BJ I-II reguler, m (-) g (-)
Ves +/+ , rh -/-, wh -/-
Abdomen soepel, BU (+) normal, NT (-)
Ekstremitas : akral hangat, CRT < 2 detik
Penatalaksanaan :
Injeksi dexametason 1 amp
Paracetamol 1 tab ekstra
Transfusi lanjut
TINJAUAN PUSTAKA
Reaksi transfuse merupakan Semua kejadian yang
tidak menguntungkan penderita , yang timbul selama atau
setelah transfusi , dan memang berhubungan dengan transfuse
tersebut.

Reaksi akut adalah reaksi yang terjadi selama transfusi


atau dalam 24 jam setelah transfusi. Dibagi menjadi 3 kategori :
1. Reaksi ringan
2. Reaksi sedang-berat
3. Reaksi yang membahayakan nyawa
Reaksi Ringan
• Reaksi ringan ditandai dengan timbulnya pruritus, urtikaria
dan rash.
• Reaksi ringan diatasi dengan pemberian antipiretik,
antihistamin atau kortikosteroid, dan pemberian transfusi
dengan tetesan diperlambat.
Reaksi Sedang-berat
• Reaksi sedang-berat ditandai dengan adanya gejala gelisah,
lemah, pruritus, palpitasi, dispnea ringan dan nyeri kepala.
• Pada pemeriksaan fisis dapat ditemukan adanya warna
kemerahan di kulit, urtikaria, demam, takikardia, kaku otot.
• Reaksi sedang-berat biasanya disebabkan oleh
hipersensitivitas sedang-berat, demam akibat reaksi transfusi
non-hemolitik (antibodi terhadap leukosit, protein, trombosit),
kontaminasi pirogen dan/atau bakteri.
• Pada reaksi yang membahayakan nyawa ditemukan gejala
gelisah, nyeri dada, nyeri di sekitar tempat masuknya infus,
napas pendek, nyeri punggung, nyeri kepala, dan dispnea.
• Terdapat pula tanda-tanda kaku otot, demam, lemah,
hipotensi (turun ≥20% tekanan darah sistolik), takikardia (naik
≥20%), hemoglobinuria dan perdarahan yang tidak jelas.
• Reaksi ini disebabkan oleh hemolisis intravaskular akut,
kontaminasi bakteri, syok septik, kelebihan cairan, anafilaksis
dan gagal paru akut akibat transfusi.
Hemolisis Intravaskular akut
• Reaksi hemolisis intravaskular akut adalah reaksi yang
disebabkan inkompatibilitas sel darah merah.
• Antibodi dalam plasma pasien akan melisiskan sel darah
merah yang inkompatibel.
• Meskipun volume darah inkompatibel hanya sedikit (10-50
ml) namun sudah dapat menyebabkan reaksi berat.
Kelebihan Cairan
• Kelebihan cairan menyebabkan gagal jantung dan edema paru.
• Hal ini dapat terjadi bila terlalu banyak cairan yang
ditransfusikan, transfusi terlalu cepat, atau penurunan fungsi
ginjal.
• Kelebihan cairan terutama terjadi pada pasien dengan anemia
kronik dan memiliki penyakit dasar kardiovaskular.
Reaksi Anafilaksis
• Risiko meningkat sesuai dengan kecepatan transfusi. Sitokin
dalam plasma merupakan salah satu penyebab
bronkokonstriksi dan vasokonstriksi pada resipien tertentu.
• Selain itu, defisiensi IgA dapat menyebabkan reaksi anafilaksis
sangat berat. Hal itu dapat disebabkan produk darah yang
banyak mengandung IgA. Reaksi ini terjadi dalam beberapa
menit awal transfusi dan ditandai dengan syok (kolaps
kardiovaskular), distress pernapasan dan tanpa demam.
• Anafilaksis dapat berakibat fatal bila tidak ditangani dengan
cepat dan agresif dengan antihistamin dan adrenalin.
Cedera paru akut akibat transfusi
(Transfusion-associated acute lung injury =
TRALI)
• Cedera paru akut disebabkan oleh plasma donor yang
mengandung antibodi yang melawan leukosit pasien.
• Kegagalan fungsi paru biasanya timbul dalam 1-4 jam sejak
awal transfusi, dengan gambaran foto toraks kesuraman yang
difus.
• Tidak ada terapi spesifik, namun diperlukan bantuan
pernapasan di ruang rawat intensif.
Reaksi Hemolitik
Reaksi Hemolitik Akut

• Reaksi hemolitik kekebalan akut terjadi ketika golongan darah


donor dan pasien tidak cocok. Antibodi pasien menyerang sel-
sel darah merah yang ditransfusikan, menyebabkan mereka
menghemolisiskan dan melepaskan zat-zat berbahaya ke
dalam aliran darah.
• Pasien mungkin menggigil, demam, nyeri dada dan punggung
bawah, serta mual. Ginjal dapat rusak parah, dan dialisis
mungkin diperlukan
Penatalaksanaan rx hemolitik segera :
• Hentikan transfusi
• Pertahankan status hidrasi
• Pertahankan produksi urine 100 ml/jam, dapat diberikan
furosemid 80 – 120 mg IV
• Obat vasoaktif : dopamin
• Bila didapatkan koagulopati : heparin, transfusi
komponen (FFP, Kriopresipitat, trombosit)
• Terapi gagal ginjal ; restriksi cairan, keseimbangan
elektrolit, dialisis
Reaksi Hemolitik Tertunda
• Reaksi ini terjadi ketika tubuh perlahan-lahan menyerang
antigen (antigen selain ABO) pada sel-sel darah yang
ditransfusikan.
• Biasanya tidak ada gejala, tetapi sel-sel darah merah yang
ditransfusikan hancur dan dan jumlah sel darah merah pasien
mengalami penurunan.
Reaksi Alergi
Biasanya gejala hanya gatal-gatal, yang dapat diobati dengan
antihistamin seperti diphenhydramine (Benadryl).
Gejala yang timbul :
• Ringan : urtikaria
• Berat Seasak nafas , Cyanosis , Hypotensi, Shock .
Tindakan :
• STOP Transfusi, infus NaC1 0,9%
• Beri antihistamin
• Beni kortikosteroid bila perlu
• Bila terjadi lharynk oedem berikan adrenaline.
Reaksi Demam
• Orang yang menerima darah mengalami demam mendadak
selama atau dalam waktu 24 jam sejak transfusi. Sakit kepala,
mual, menggigil, atau perasaan umum ketidaknyamanan
mungkin bersamaan dengan demam. Acetaminophen
(Tylenol) dapat meredakan gejala-gejala ini.
• Reaksi-reaksi tersebut terjadi sebagai respon tubuh terhadap
sel-sel darah putih dalam darah yang disumbangkan. Hal ini
lebih sering terjadi pada orang yang pernah mendapat
transfusi sebelumnya
KESIMPULAN :
• Transfusi darah  transfusi komponen darah dari donor 
resipien
• Reaksi transfusi adalah komplikasi / efek samping yang terjadi
akibat pemberian transfusi
• Reaksi transfusi dapat melalui proses imunologik / non imunologik
• Reaksi imunologi dapat terjadi cepat / lambat
• Manifestasi reaksi transfusi dapat menjadi fatal

SARAN :
Kenali / waspadai adanya kemungkinan reaksi transfusi
TERIMA KASIH