Anda di halaman 1dari 17

Refraksi & Sistem Optik Mata

Dr. Atik Rahmawati, SpM


Media refrakta
 Media pembias
 Kornea
 sistem lensa cembung, n=1,33→ fokus sinar
 Humor akuos
 indeks bias = kornea → diteruskan
 Lensa
 indeks bias n=1,42 → difokuskan
 Vitreus
 indeks bias =1,33 → sedikit disebarkan
 P=1/f → 1/0,024 =42D
Visus
perbandingan jarak seseorang thd optotip Snellen yg dpt dilihat
jelas dgn jarak seharusnya oleh mata normal
 Berdasar daya pisah konus di retina
 2 titik terpisah dapat dibedakan jika 2 konus diselingi 1
konus terangsang
 lebar konus 2 mikron → jarak 4 mikron → dipantulkan
kembali → sudut 1 menit
 jarak 60m = Ø jari telunjuk (1,8cm)
 jarak 300m = Ø tangan (9cm)
 ruang periksa 6 meter → 6/.....
 Emetrop
sinar sejajar dari jarak ≥6m terfokus pd retina
→ panjang aksis anteroposterior 100/42 =2,4cm
 Hipermetrop
aksis lebih pendek → prefokus di retina
 Miop
aksis lebih panjang → paska fokus di retina
Ametropia/anomali refraksi
faktor genetik & lingkungan
 penyebab:
 aksis anteroposterior
 kurvatura kornea
 indeks bias media refrakta
 posisi lensa
 mengukur:
 triall & erorr
 celah stenopik, jam astigmat
 retinoskopi
 refraktometer
Akomodasi
 kesanggupan mata memperbesar daya bias dgn
menambah kecembungan lensa
 mekanisme: kontraksi m siliaris → iris & badan silier ke
depan → zonula Zinii kendor → lensa mencembung
 punctum remotum: titik terjauh yg terlihat jelas
tanpa akomodasi
 emetrop: takterhingga
 miop: 1/ miop di depan mata
 hipermetrop: 1/hipermetrop di blkg mata
 punctum proksimum: titik terdekat yg terlihat jelas
dgn akomodasi maksimal ( umur & status refraksi)
Hipermetrop/hiperopia
 kompensasi: akomodasi
 akibatnya: astenopia akomodativa, KOA dangkal, pupil
kecil → faktor risiko glaukoma, strabismus konvergen
 papil kecil, seolah batas kabur & merah
 Macam:
 laten - dpt diatasi dgn tonus otot siliaris
 manifes:
 fakultatif- dpt diatasi dgn akomodasi

 absolut - tdk dpt diatasi dgn akomodasi

 total
 koreksi: hilangkan akomodasi
Miopia
 membaca terlalu dekat → konvergensi
berlebihan → bola mata terjepit → polus
post memanjang
 kompensasi: menggosok mata, menyempitkan
celah mata
 tanda: bola mata besar/menonjol, KOA
dalam, pupil besar
 peregangan retina → miopic cresent, deg
tigroid, deg lattice, stafiloma post, macular
hole, ntg, floater
 koreksi: lensa negatif terkecil
Astigmat
 status refraksi yg berbeda pd berbagai meridian
(meridian utama dgn kekuatan refraksi terbesar
& terkecil)
 perbedaan kelengkungan kornea
 fokus berupa garis
 astigmat
 reguler: meridian saling tegak lurus
 ireguler → tdk dpt dikoreksi dgn lensa silinder
Astigmat
 bisa bersama miop/hipermetrop
 macam astigmat:
 astigmat miop simpleks
 astigmat miop kompositus
 astigmat hipermetrop simpleks
 astigmat hipermetrop kompositus
 astigmat mixtus
Astigmat
 gejala:
 kabur saat melihat jauh/dekat
 diplopia monokuler
 nyeri kepala
 astenopia
 tatalaksana: lensa silinder (gb aksis)
Anisometropia
 perbedaan derajat anomali refraksi kedua mata
 antimetropia
 →anisekonia, anisoforia, ambliopia
 gejala:
 <1,5D → bs bekerjasama
 1,5-3 → bs bekerjasama/ supresi mata yg buruk
 >3D → supresi mata yg buruk
Presbiopia
 proses degenerasi lensa → kehilangan
elastisitas → akomodasi turun
 mulai umur 40 tahun
 gejala: astenopia, lakrimasi, sukar melihat
dekat
 ukuran sesuai umur & status refraksi
 maksimal S+3 → jarak baca 33cm
Afakia
 ketiadaan lensa
 → hiperopia +10D
 ditambah +3 (kehilangan daya akomodasi)
 kacamata afakia: tebal, berat, anisekonia, objek
seakan lebih dekat, “jack in the box” (gerakan benda
berlawanan dgn arah lirikan), skotoma cincin
 monokular: lensa kontak