Anda di halaman 1dari 32

dr. David Santoso T.

SpKJ, MARS
MEKANISME PENYESUAIAN DIRI
Dalam dunia yang terus-menerus berubah-ubah ini,
manusia harus senantiasa berusaha menyesuaikan diri. Yang
akan dibicarakan berikut ini adalah mekanisme penyesuaian
diri secara psikologik. Dan hal yang mempengaruhi perilaku
manusia adalah “kebutuhan” dan “dorongan”.
KEBUTUHAN
Untuk dapat hidup layak sebagai seorang manusia
mempunyai beberapa syarat antara lain : kebutuhan ;
manusia mempunyai kebutuhan badaniah atau somatik
antara lain : makan, minum, pakaian, rumah, sex,
perlindungan dan pergerakan.
Kebutuhan psikologik antara lain : keamanan, kasih sayang, rasa
harga diri, rasa masuk hitungan dalam kelompoknya.

DORONGAN
Untuk menjamin agar manusia itu berusaha untuk
memenuhi kebutuhannya, maka perlu ada dorongan. Dorongan
badaniah atau somatik dapat berupa rasa lapar, haus, nyeri, rasa
lemah dan sebagainya. Mengenai dorongan psikologis yang khas
untuk suatu kebutuhan psikologis tidak ada, akan tetapi ada emosi,
rasa tegang, senang, puas, takut dan cemas yang dapat berfungsi
sebagai dorongan untuk mendapat kebutuhan psikologis maupun
somatik. Makin besar keterlibatan pribadi manusia itu dalam
usahanya mencapai tujuan atau kebutuhan, makin besar pula
dorongannya.
STRESS
Apabila semua kebutuhan kita dapat diperoleh
dengan mudah dan segera, tentunya kita merasa
kehidupan ini sangat mudah, tetapi juga mungkin
malah membosankan. Misalnya bila suatu masyarakat
sudah mengatur dan mengurus segala-galanya untuk
para anggotanya, maka tidak ada lagi tantangan hidup
sehari-hari. Mungkin hal tersebut dapat merupakan
salah satu faktor timbulnya fenomena hippies atau
hidup bermalas-malasan.
Akan tetapi bila kita harus berusaha dengan susah
payah untuk mencapai tujuan, ditambah lagi dengan
bermacam penghalang, kesukaran atau kebimbangan,
maka keadaan ini menuntut dari kita penyesuaian diri,
yang menimbulkan stress pada kita.
Jadi stress adalah segala masalah dan tuntutan
penyesuaian diri yang dapat mengganggu keseimbangan
kita. Apabila kita tidak berhasil mengatasinya dengan
baik, akan timbul gangguan jiwa atau gangguan badan.
Keadaan stress dapat bersumber pada frustasi, konflik,
tekanan dan krisis.
1. Frustasi
Apabila individu sedang berusaha mencapai
tujuan, tapi mendapat halangan, block,
menyebabkan frustasi ini menimbulkan stress.
Frustasi bersumber dari luar maupun dari dalam;
dari luar : bencana alam, kematian orang yang
dicintai, norma-norma adat istiadat,
peperangan (perang), goncangan
ekonomi dan lain-lain.
dari dalam:cacat badaniah, kecelakaan, penyakit
dan lain-lain.
2. Konflik
Terjadi bila kita tidak dapat memilih antara dua
atau lebih macam kebutuhan atau tujuan. Bila
memilih yang satu berarti frustasi yang lain.
a). Konflik pendekatan-penolakan
Individu diharuskan mengambil suatu
keputusan tapi ia tidak dapat :
- maju, karena tidak berani tuju-
an
- mundur, tidak menyenangkan
b). Konflik pendekatan-ganda (pendekatan
ganda)
Individu berusaha mencapai kedua tujuannya,
ia harus merubah sikapnya atau
melepaskan salah satunya. Misalnya
melanjutkan pendidikan atau menikah.

tuju
an

Tuj
tuju
u
an
c). Konflik penolakan ganda
Individu tidak menghendaki kedua-duanya, tidak
menyenangkan baginya, akan tetapi ia harus
memilih salah satunya.
Misalnya: Ia harus memilih pekerjaan yang tidak
disenangi atau mengganggur.
Berbuat sesuatu yang berbahaya atau dicap
pengecut. tuju
an
tuju
an
3. Tekanan
Tekanan sehari-hari yang walaupun kecil, akan
tetapi bila bertumpuk-tumpuk dapat
menimbulkan stress yang hebat. Juga terdiri dari
tekanan dari luar dan tekanan dari dalam.
4. Krisis
Menghadapi suatu operasi suatu penyakit, desa
yang kena bencana dan sebagainya.
Reaksi manusia terhadap stress ada 3 macam :
a). Langsung menghadapi dengan segala konsekuensinya.
b). Menarik diri dan tidak mau tahu tentang persoalannya
serta ancaman-ancaman yang mungkin timbul akibat
daripadanya.
c). Mengadakan kompromi antara kedua cara tersebut.
Ego merupakan salah satu struktur daripada
kepribadian, egolah yang menghadapi realita. Ancaman
terhadap ego berarti kepribadian individu terancam.
Untuk menanggulangi/melindungi ego terhadap ancaman
ancaman baik dari luar maupun dari dalam individu
sendiri maka terjadilah mekanisme pembelaan yang
pada hakekatnya bertujuan untuk melindungi ego.
Guna mekanisme pembelaan ini adalah :
a). melindungi individu dari kecemasan.
b). meringankan penderita yang menyakitkan apabila
mengalami suatu kegagalan.
c). menjaga harga diri, mempertahankan perasaan
layak.
Ada beberapa mekanisme pembelaan untuk
menanggulangi/melindungi ego terhadap ancaman.
1. Identifikasi
Apabila ada keinginan seseorang untuk menyamai
orang yang dikagumi itu ditransfer pada diri individu itu.
Dengan demikian, ia merasa harga dirinya bertambah
tinggi.
Misalnya :
- seorang pemuda berlagak dan merasa dirinya
seperti seorang bintang film yang dikagumi.
- seorang anak perempuan yang bersolek
seperti ibunya.
2. Introjeksi
Merupakan bentuk sederhana dari identifikasi.
Norma-norma luar dimasukkan kedalam susunan ego,
sehingga ego tidak lagi terganggu oleh ancaman dari luar.
Misalnya : Seorang anak dalam perkembangannya
secara berangsur-angsur belajar dan
menerima aturan-aturan masyarakat
lingkungannya, misalnya bersopan
santun, bertata susila, menghormati
orang tua dan sebagainya. Dengan
berbuat demikian dia tidak akan
tercela atau dimarahi sebagai orang
yang tidak tahu sopan santun.
3. Projeksi
Ialah berlawanan dari introjeksi, mempunyai
tujuan :
a). Menyalahkan orang lain atas kesalahan-
kesalahan, kekurangan-kekurangan dan
kelalaian serta kekeliruan dirinya sendiri.
b). menyalahkan orang lain atas impuls-impuls
keinginan dan pikiran sendiri yang tidak dapat
diterima oleh masyarakat.
Misalnya : Seorang mahasiswa yang gagal
ujian, menyalahkan dosennya
yang bersikap tidak adil yang
menyebabkan kegagalannya.
4. Repressi
Secara tidak sadar (unconcious) mencegah jangan
sampai keinginan atau pikiran-pikiran
yang menyakitkan hati atau berbahaya atau masuk
kedalam (conscious). Dalam hal ini repressi berguna
dalam membantu individu mengontrol keinginan-
keinginannya yang berbahaya.
Contoh : Seorang anak yang melihat dengan mata
kepala seorang kawannya dianiaya dan dibunuh oleh
kawanan penjahat yang amat mengerikan. Sejak
peristiwa itu anak tersebut mengalami amnesia, lupa
akan segala peristiwa tersebut yang baginya
menyakitkan hati. Melalui hipnose, hal yang direpressi
dapat diceritakan kembali seluruh kejadian.
5. Regressi
Kembali ke tingkat perkembangan yang
terdahulu dengan menggunakan cara-cara yang
kurang matang, serta bertingkah laku yang
sifatnya primitif dan kekanak-kanakan.
Contoh : Seorang dewasa apabila mendapat
rintangan keinginannya, menjadi marah serta
mengamuk seprti halnya dengan marah-marah
sewaktu kecil, melempar barang dan sebagainya.
6. Reaction Formation
Bersikap atas bertingkah laku yang berlebih-lebihan
yang langsung bertentangan dengan keinginan dan
perasaan yang tidak disadari. Reaction formation
mudah dikenal karena sifatnya yang extrim dan sukar
diterima, karena tidak sesuai dengan situasinya.
Misalnya : - terlalu banyak protes equivalent dengan
mengakui kesalahan sendiri.
- terlalu malu-malu terhadap sex adalah
pembelaan dorongan sex yang kuat dan
sebagainya.
7. Undoing
Yakni meniadakan pikiran-pikiran, impuls-impuls
yang tidak baik, seperti halnya seolah-olah menghapus
sesuatu kata yang telah tertulis salah.
- Seorang suami yang tidak setia pada isterinya, pada
suatu hari ia membawa oleh-oleh yang mahal-
mahal untuk isterinya. Dengan melakukan ini
seolah-olah ia meniadakan ketidaksetiaannya tadi.
- Seorang usahawan yang tidak jujur
menyumbangkan sejumlah besar uang atau
barang-barang yang sangat berharga kepada badan
sosial.
8. Displacement
Mengalihkan emosi, arti simbolik, atau fantasi dari
sumber yang sebenarnya benda, orang dan keadaan
kepada benda, orang atau keadaan lain.
Misalnya : - seorang pegawai yang dimarahi atasannya,
sepulang ke rumah ia marah-marah pada
isterinya atau pada pegawai bawahannya
yang tidak tahu apa-apa.
9. Sublimasi
Mengganti keinginan atau tujuan yang terhalang
dengan cara yang dapat diterima oleh masyarakat.
Misalnya : - impuls-impuls yang agresif yang harus
disalurkan misalnya melalui jalan
olahraga, berusaha dalam perdagangan
dan sebagainya.
- seorang pemuda yang kehilangan pacar
menjadi seorang penyair dan pengarang
tentang kasih cinta.
10. Acting-out
Mengurangi rasa cemas yang timbul karena
keinginan yang terhalang, dengan jalan mencetuskan
keluar perasaannya itu.
- Seorang yang mengatasi rasa jengkelnya karena
dimarahi dan timbul rasa cemasnya, ini dikurangi
dengan jalan paling sedikit bertengkar mulut.
11. Denial
Menolak untuk menerima atau menghadapi
kenyatan yang tidak enak baginya dengan
mengemukakan macam-macam alasan.
Misalnya : - seorang gadis yang baru saja patah
hati, selalu menghindarkan diri
dari pembicaraan mengenai
pacar, perkawinan atau
kebahagiaan rumah tangga.
12. Kompensasi
Menutup-nutupi kelemahan dengan
menonjolkan dan membesar-besarkan
kemenangan yang lain.
Misalnya : - seorang anak yang cacat jasmaninya
berusaha sekuat tenaga untuk
mnjadi murid no. 1 di kelasnya.
13. Rasionalisasi
Berusaha memberi keterangan, bahwa
sikap/tingkah lakunya adalah lebih banyak disebabkan
oleh hasil pikiran yang logis daripada keinginannya
yang tidak disadari.
Misalnya : ia tidak lulus karena ia sakit dan kurang
belajar.
14. Fiksasi
Ialah berhenti pada tingkatan perkembangan
emosi yang terdahulu karena perkembangan
selanjutnya oleh suatu sebab yang tak jelas menjadi
terhalang.
Misalnya : - seorang anak yang berumur 11 tahun
berbicara kekanak-kanakan.
- seorang dewasa tidak dapat berdiri
sendiri, segala-galanya masih
bergantung pada orang lain atau pada
ibunya.
15. Simbolisasi (berlambangan)
Penggunaan benda atau gagasan sebagai ganti
dari gagasan atau benda sebenarnya. Simbol atau
perlambang ini merupakan bahasa dari alam tak
sadar (unconscious) menampakkan diri dalam
bentuk impian atau fantasi dan dapat dilihat
dalam berbagai upacara atau pikiran yang
obsessional.
- Seorang prajurit dalam kegelisahan selalu
membanting-banting tangannya seperti
gerakan orang yang melempar sesuatu.
Gerakan-gerakan bila dilihat sepintas lalu tidak
dimengerti artinya. Dengan hipnose
prajurit itu mengungkapkan bahwa pada
suatu alam dalam pertempuran yang seru ia
membunuh kawannya sendiri dengan
senjata otomatisnya. Dengan dikejar-kejar oleh
perasaan dosa yang hebat ia ingin sekali
melemparkan senjatanya dan melarikan diri
dari keadaan yang mengerikan itu.
16. Dissosiasi
Keadaan dimana terdapat dua atau lebih
kepribadian pada diri seorang individu. Kepribadian
primer adalah yang asli. Kepribadian sekunder berasal
dari unsur-unsur atau kegiatan individu yang terlepas
dari kontrol kesadaran individu tersebut. Kepribadian
sekunder ini mempunyai consciousness sendiri dan
berdiri sendiri, tidak menggantungkan diri pada
kepribadian primer. Terjadinya kepribadian sekunder
ini terbentuk dari material yang telah tertekan ke alam
tak sadar atau yang tidak diakui oleh
kepribadian primer karena tidak memberi kepuasan.
- Somnambulisme, dimana kepribadian primer
tidur, sedang yang sekunder bangun dan
melakukan tindakan-tindakan yang kompleks.
- Multiple personality, dimana terdapat lebih dari
satu kepribadian sekunder, masing-masing
memiliki ciri khasnya dan disposisi tersendiri,
berlainan satu sama lain serta berlainan dengan
yang primer.
17. Conversi
Ialah transformasi konflik emosional kedalam
bentuk gejala-gejala jasmani.
- Pengalaman-pengalaman yang tidak dapat disetujui
dan diterima lalu dilakukan repressi (ke
unconscious), kemudian dapat muncul kembali
dalam bentuk fisik yang tidak dapat diketahui lagi
oleh si penderita hubungan antara kedua fenomena
tersebut.
- seorang gadis yang tiba-tiba tidak dapat bersuara
lumpuh pada corda vocalisnya) yang bila ditelusuri,
gadis tersebut mempunyai suatu latar belakang
perbuatan yang harus ia pertanggung jawabkan.
TERIMA KASIH