Anda di halaman 1dari 20

NIKEL LATERIT

OLEH :
RISKHY JUMADIL AKHIR
121101087
NIKEL
unsur kimia metalik dalam tabel periodik yang memiliki
simbol Ni dan nomor atom 28. Nikel mempunyai sifat tahan
karat. Dalam keadaan murni, nikel bersifat lembek, tetapi jika
dipadukan dengan besi, krom, dan logam lainnya, dapat
membentuk baja tahan karat yang keras.
SEJARAH NIKEL

Nikel ditemukan oleh F. Cronstedt pada tahun


1751 dalam mineral yang disebutnya kupfernickel
(nikolit).
SIFAT-SIFAT NIKEL
Simbol : Ni
Volume Atom : 6.6 cm3/mol
Massa Atom : 58.6934
Titik Didih : 3005 K
Massa Jenis : 8.9 g/cm3
Konduktivitas Listrik : 14.6 x 106 ohm-1cm-1
Elektronegativitas : 1.91
Konfigurasi Elektron : [Ar]3d8 4s2
Formasi Entalpi : 17.2 kJ/mol
Konduktivitas Panas : 90.7 Wm-1K-1
Potensial Ionisasi : 7.635 V
Titik Lebur : 1726 K
Bilangan Oksidasi : 2,3
Kapasitas Panas : 0.444 Jg-1K-1
Entalpi Penguapan : 377.5 kJ/mol
KARAKTERISTIK/SIFAT FISIK
Warna : Putih kebiruan
Simbol : Ni
Kilap : Logam (metallic)
Transparansi : Opak
Sistem kristal : Isometrik
Morfologi kristal : Sangat jarang membentuk kristal, kadang ditemukan
Berbentuk kubik, tetapi biasanya granular atau masif
Belahan :-
Pecahan : Hackly (begerigi)
Kekerasan :4–5
Berat jenis : 7,8 – 8,2 (berat meskipun untuk mineral logam)
Cerat : Abu-abu metallic
Karakteristik lain : Malleable dan sedikit magnetik
Asosiasi mineral : Olivine, pyroxenes, emas, platina, beberapa mineral yang hanya ditemukan
pada meteorit, dan mineral bijih sulfida lainnya
Lokasi ditemukan : Meliputi new caledonia; australia; kuba; indonesia; kanada; rusia; dan
meteor crater, arizona, san diego county, california, USA
Lingkungan geologi : Terbentuk pada batuan ultramafik yang terserpentinisasi dari aktifitas
hidrotermal bertemperatur rendah dan tempat jatuhnya meteor
PROSES PEMBENTUKAN NIKEL LATERIT

1. Laterit
Bahasa Latin “later” yang berarti batubata merah,
yang dikemukakan oleh M. F. Buchanan (1807).
Digunakan sebagai bahan bangunan
di Mysore, Canara dan Malabryang merupakan wilayah
India bagian selatan.
laterit merupakan regolith atau tubuh batuan yang
mempunyai kandungan Fe yang tinggi dan telah
mengalami pelapukan, termasuk di dalamnya profil
endapan material hasil transportasi yang masih tampak
batuan asalnya. Sebagian besar endapan laterit mempunyai
kandungan logam yang tinggi dan dapat bernilai ekonomis
tinggi, sebagai contoh endapan besi, nikel, mangan dan
bauksit. Smith (1992)
Endapan laterit mempunyai kandungan logam yang
tinggi dan dapat bernilai ekonomis tinggi, sebagai contoh
endapan besi, nikel, mangan dan bauksit.

Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa laterit


merupakan suatu material dengan kandungan besi dan
aluminium sekunder sebagai hasil dari proses pelapukan yang
terjadi pada iklim tropis dengan intensitas pelapukan tinggi.

Di dalam industri pertambangan nikel jenis ini dikatakan


sebagai nikel sekunder.
2. Ganesa Pembentukan Endapan Nikel Laterit
Proses pembentukan nikel laterit diawali dari proses
pelapukan batuan ultrabasa adalah batuan harzburgit atau
ultramafik (peridotit, dunit, serpentinit), yang
mengandung olivin, piroksen, magnesium silikat dan besi.
umumnya mengandung 0,30 % nikel, batuan tersebut sangat
mudah dipengaruhi oleh pelapukan lateritik. (Boldt ,1967).
Proses laterisasi adalah proses pencucian pada mineral
yang mudah larut dan silika dari profil laterit pada
lingkungan yang bersifat asam, hangat dan lembab serta
membentuk konsentrasi endapan hasil pengkayaan proses
laterisasi pada unsur Fe, Cr, Al, Ni dan Co (Rose et al.,
1979 dalam Nushantara 2002).
Pada pelapukan kimia khususnya, air tanah yang kaya akan
CO2 berasal dari udara dan pembusukan tumbuh-tumbuhan
menguraikan mineral-mineral yang tidak stabil (olivin dan
piroksin) pada batuan ultra basa, akan menghasilkan Mg, Fe, Ni Si
yang larut.
Endapan besi (Fe) yang bersenyawa dengan oksida akan
terakumulasi dekat dengan permukaan tanah dan mengendap
sebagai ferri-hydroksida, akhirnya membentuk mineral-mineral
seperti geothit, limonit, dan haematit.
Di dalam larutan Si cenderung membentuk koloid dari
partikel-partikel silika yang sangat halus.
Lebih lanjut magnesium (Mg), Silika (Si), dan Nikel (Ni)
akan tertinggal di dalam larutan selama air masih bersifat asam .
Tetapi jika dinetralisasi karena adanya reaksi dengan batuan dan
tanah, maka zat – zat tersebut akan cenderung mengendap sebagai
mineral hidrosilikat (Ni-magnesium hidrosilicate) yang disebut
mineral garnierit [(Ni,Mg)6Si4O10(OH)8] atau mineral pembawa Ni
(Boldt, 1967).
Adanya suplai air dan saluran untuk turunnya air, dalam hal
berupa kekar, maka Ni yang terbawa oleh air turun ke bawah,
lambat laun akan terkumpul di zona air sudah tidak dapat turun
lagi dan tidak dapat menembus batuan dasar (bedrock).
Ikatan dari Ni yang berasosiasi dengan Mg, SiO dan H akan
membentuk mineral garnierit dengan rumus kimia (Ni, Mg)
Si4O5(OH)4. Apabila proses ini berlangsung terus menerus, maka
yang akan terjadi adalah proses pengkayaan supergen/supergen
enrichment. Zona pengkayaan supergen ini terbentuk di zona
Saprolit.
Penampang vertikal profil laterit dapat juga terbentuk zona
pengkayaan yang lebih dari satu.
Di bawah zona pengkayaan supergen terdapat zona
mineralisasi primer yang tidak terpengaruh oleh proses oksidasi
maupun pelindihan, yang sering disebut sebagai zona batuan dasar
(bed rock).
. Unsur-unsur lainnya seperti Ca dan Mg yang terlarut
sebagai bikarbonat akan terbawa kebawah sampai batas
pelapukan dan akan diendapkan sebagai dolomit, magnesit
yang biasa mengisi celah-celah atau rekahan-rekahan pada
batuan induk.
Urat-urat ini dikenal sebagai batas petunjuk antara
zona pelapukan dengan zona batuan segar yang disebut
dengan akar pelapukan (root of weathering).
PROFIL NIKEL LATERIT KESELURUHAN TERDIRI
DARI 5 ZONA GRADASI

1. Iron Capping (Lapisan tanah penutup).


Komposisinya adalah akar tumbuhan, humus, oksida besi
dan sisa-sisa organik lainnya. Warna khas adalah coklat tua
kehitaman dan bersifat gembur. Kadar nikelnya sangat
rendah sehingga tidak diambil dalam penambangan.
Ketebalan lapisan tanah penutup rata-rata 0,3 s/d 6 m.
Berwarna merah tua, merupakan kumpulan massa goethite
dan limonite. Terkadang terdapat mineral-mineral
hematite, chromiferous.
2. Limonite Layer,
pelapukan lanjut dari batuan beku ultrabasa.
Komposisinya meliputi oksida besi lebih dominan, goethit,
dan magnetit. Kemunculan bongkah-bongkah batuan beku
ultrabasa pada zona ini tidak dominan atau hampir tidak
ada, umumnya mineral-mineral di batuan beku basa-
ultrabasa telah terubah menjadi serpentin akibat hasil dari
pelapukan yang belum tuntas. Lapisan ini tipis pada daerah
terjal, dan sempat hilang karena erosi. Sebagian dari nikel
pada zona ini hadir di dalam mineral manganese oxide,
lithiophorite. Terkadang terdapat mineral talc, tremolite,
chromiferous, quartz, gibsite, maghemite.
3. Silika Boxwork,
putih – orange chert, quartz, mengisi sepanjang
fractured dan sebagian menggantikan zona terluar dari
unserpentine fragmen peridotite, sebagian mengawetkan
struktur dan tekstur dari batuan asal. Terkadang terdapat
mineral opal, magnesite. Akumulasi dari garnierite-pimelite
di dalam boxwork mungkin berasal dari nikel ore yang kaya
silika. Zona boxwork jarang terdapat pada bedrock yang
serpentinized.
4. Saprolite,
Zona ini merupakan zona pengayaan unsur Ni
Kemunculan bongkah-bongkah sangat sering dan pada
rekahan-rekahan batuan asal dijumpai magnesit, serpentin,
krisopras dan garnierit. Bongkah batuan asal yang muncul
pada umumnya memiliki kadar SiO2 dan tinggi MgO serta
Ni dan rendah Fe. Struktur dan tekstur batuan asal masih
terlihat
5. Bedrock,
Bagian terbawah dari profil laterit. Tersusun atas
bongkah yang secara umum sudah tidak mengandung
mineral ekonomis (kadar logam sudah mendekati atau sama
dengan batuan dasar)
Batuan dasar merupakan batuan asal dari nikel laterit
pada umumnya merupakan batuan beku ultrabasa yaitu
harzburgit dan dunit
FAKTOR-FAKTOR YANG MEMENGARUHI
PEMBENTUKAN BIJIH NIKEL LATERIT
1. Batuan asal.
2. Iklim.
3. Reagen-reagen kimia dan vegetasi.
4. Struktur.
5. Topografi.
6. Waktu.
PENAMBANGAN
NIKEL LATERIT
SEKIAN DAN TRIMAKSIH

(+) (-)