Anda di halaman 1dari 23

ASUHAN KEPERAWATAN GAWAT DARURAT

DENGAN PASIEN ILEUS OBSTRUKTIF DI


RUANG IGD SANJIWANI GIANYAR

OLEH :
I PUTU AGUS BAYU PRATAMA

PROGRAM PROFESI NERS


STIKES WIRA MEDIKA BALI
2017
ILEUS OBSTRUKTIF
• Obstruksi ileus adalah kerusakan atau hilangnya
pasase isi usus yang disebabkan oleh sumbatan
mekanik.

• Obstruksi ileus adalah kerusakan komplet atau


parsial aliran ke depan dari usus. Kebanyakan
terjadi pada usus halus khususnya di ileum,
segmen paling sempit.
PENYEBAB/ FAKTOR PREDISPOSISI
1. Penyebab Obstruksi Mekanikal
a) Adhesi (Perlekatan usus)
b) Hernia (obstruksi apabila hernia mengalami
strangulasi dari kompresi)
c) Tumor (Tumor yang makin membesar akan
menyumbat lumen usus)
d) Volvulus (Usus yang terpelintir)
e) Intussusceptions (Intussusepsi adalah
invaginasi atau masuknya sebagian dari usus ke
dalam lumen usus yang berikutnya)
2. Penyebab obstruksi non-mekanikal
a) Paralitic ileus (Tidak ada gerakan peristaltis)
b) Mesenteric vascular occlusion infarct
(Penyumbatan pembuluh darah yang member
supply pada usus akan mengganggu fungsi usus)
KLASIFIKASI
1. Letak sumbatan
• Obstruksi tinggi, bila mengenai usus halus
(duodenum-jejenum)
• Obstruksi rendah, bila mengenai usus besar (colon-
sigmoid-rectum)

2. Sifat sumbatan
• parsial : menyumbat lumen sebagian
• simple/ komplit : menyumbat lumen total
• Strangulated obstruction : sumbatan disertai
gangguan aliran darah sehingga timbul nekrosis,
gangren dan perforasi
GEJALA KLINIS

• Pasien dengan suatu obstruksi mekanik pada


umumnya datang dengan keluhan sakit/nyeri
abdomen, muntah, konstipasi absolut, dan
distensi abdomen
PEMERIKSAAN FISIK
• Inspeksi
Perut distensi, dapat ditemukan kontur dan steifung. Benjolan pada
regio inguinal, femoral dan skrotum menunjukkan suatu hernia
inkarserata. Pada Intussusepsi dapat terlihat massa abdomen
berbentuk sosis. Adanya adhesi dapat dicurigai bila ada bekas luka
operasi sebelumnya.
• Auskultasi
Hiperperistaltik, bising usus bernada tinggi, borborhygmi. Pada fase
lanjut bising usus dan peristaltik melemah sampai hilang.
• Perkusi
Hipertimpani
• Palpasi
Kadang teraba massa seperti pada tumor, invaginasi, hernia
• Rectal Toucher: Isi rektum menyemprot, Adanya darah dapat
menyokong adanya strangulasi, neoplasma. Feses yang mengeras :
skibala, Feses negatif : obstruksi usus letak tinggi. Ampula rekti
kolaps : curiga obstruksi. Nyeri tekan : lokal atau general peritonitis
PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK

• Foto polos abdomen


• Pemeriksaan radiologi dengan Barium
Enema mempunyai suatu peran terbatas pada
pasien dengan obstruksi usus halus
• CT–Scan. Pemeriksaan ini dikerjakan jika secara
klinis dan foto polos abdomen dicurigai adanya
starngulasi. CT–Scan akan mempertunjukkan
secara lebih teliti adanya kelainan-kelainan dinding
usus, mesenterikus, dan peritoneum.
• USG
ASUHAN KEPERAWATAN PASIEN NY.KG
DENGAN ILEUS OBSTRUKTIF
IDENTITAS Status : Menikah
Nama : Ny. KG Penanggung jawab : Tn.
Jenis Kelamin : P KB
Umur : 61 tahun
Agama : Hindu
Hubungan : Anak
Pendidikan : SD
Pekerjaan : Petani
1. Kesadaran pasien : Pain
2. Keluhan Utama : Pasien mengeluh nyeri di
bagian perut.
nyeri perut yang dirasakan dengan skala nyeri 7
(0-10)
Airway
1. Jalan nafas : paten
2. Obstruksi Pernafasan : Tidak ada
3. Reflek muntah : ada
Breathing
1. Nafas : Spontan
2. Gerakan dinding dada : Simetris
3. RR : 20 x/m
4. Sesak nafas : tidak ada
5. Deviasi Trakea : Tidak ada
6. Retraksi otot bantu nafas : tidak ada
7. Pernafasan cuping hidung : tidak ada
8. Irama nafas : normal
9. Pola nafas : teratur
10. Perkusi : sonor
11. Suara nafas : vesikuler
Circulation
Nadi : Teraba di radialis, Nadi : 88x/menit,
Tekanan darah 120/80 mmhg, Pucat : Tidak,
sianosis : tidak, CRT : < 2 detik, akral : hangat, S
: 36,5 C, Perdarahan : Tidak, Turgor : elastis
Disability
Kesadaran : composmentis, GCS : E=4 V=5
M=6, Pupil : Isokor, reflek cahaya : ada,
Five Intervensi
Kateter urin : ada, saturasi o2 : 98%
Terapi medis
1. IVFD RL 20 tpm, rute IV, indikasi terapi cairan
2. Flet enema 133 ml, rute supositoria, indikasi
mengencerkan feses untuk konstipasi
3. Cefotaxime 2x1 g, rute IV, antibiotik
4. Ranitidine 2x1 ampul, rute IV
5. Ketorolac 2x1 ampl (30mg/ml), meredakan nyeri

Give Comfort
O : Nyeri dirasakan pasien 1 jam yang lalu
P : Nyeri akibat sumbatan pada usus
Q : Kualistas nyeri seperti ditusuk-tusuk
R : Nyeri dirasakan di bagian perut kiri melebar ke
bawah perut
S : Nyeri dengan skala 7
T : Nyeri dirasakan hilang timbul sejak 1 jam yang lalu
1. ANALISA DATA
1. Ds : Pasien mengatakan nyeri dibagian perut sejak 4
hari yang lalu
O : nyeri dirasakan pasien 1 jam yang lalu, terakhir pukul
07.30 wita, nyeri dirasakan kembali pukul 08.35 wita
P : Nyeri akibat sumbatan pada usus
Q : Kualistas nyeri seperti ditusuk-tusuk
R : Nyeri dirasakan di bagian perut kiri melebar kebawah
perut
S : Nyeri dengan skala 7 dari (0-10)
T : Nyeri dirasakan hilang timbul sejak 1 jam yang lalu
Do :
- Pasien tampak meringis kesakitan
TTV : N =88x/menit, TD : 120/80 mmhg, S = 36,5 RR=
20x/m
Diagnosa keperawatan : Nyeri Akut
ANALISA DATA (LANJUTAN)
2. Ds : pasien mengatakan susah untuk BAB,
pasien tidak BAB sejak 4 hari yang lalu

Do :
- Distensi abdomen
- Bising usus menurun
Diagnosa Keperawatan : Konstipasi
ANALISA DATA (LANJUTAN)
3. DS : Px mengatakan tidak nafsu makan, pasien
mengeluh mual

Do : - px makan terakhir 3 sendok makan karena mual dan


tidak nafsu makan
-berat badan pasien turun dari 68kg menjadi 61 kg
A: antropometri
BB = 61 kg
TB = 169 cm
B : Biokimia
Hb = 10,8 (normal 11,0-16,0)
C : Clinis
-kulit : sedikit kering
-mata : sklera anikterik, konjungtiva anemis
- Mukosa bibir : kering, tidak ada sariawan
D : Diet
2. Prioritas diagnosa
1. Nyeri akut b/d agen cidera biologis, iritasi intestinal, distensi
abdominal, d/d px mengatakan nyeri perut sejak 4 hari yang
lalu, nyeri dirasakan seperti ditusuk-tusuk, nyeri dirasakan
dibagian perut kiri melebar ke bawah perut, skala nyeri 7
dari (0-10), nyeri dirasakan hilang timbul, px tampak
meringis kesakitan, N 88x/m, TD 120/80mmhg, s 36,5, RR
20x/m
2. Konstipasi b/d hipomotilitas atau kelumpuhan intestinal
d/d px mengatakan sejak 4 hari yang lalu tidak BAB, bising
usus menurun, distensi abdomen
3. Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh
b/d gangguan absorpsi nutrien , intake tidak adekuat, d/d px
mengeluh tidak nafsu makan , px mengeluh mual, berat
badan pasien turun dari 68 menjadi 61 kg
3. Rencana keperawatan

N Tujuan Kreteria Hasil Intervensi Rasional


o
D
x
1 Setelah 1. Px mampu 1. Kaji nyeri secara 1. Pengkajian nyeri
komprehensif, lokasi, dilakukan untuk
dilakukan mengontrol karakteristik, durasi, mengetahui kualitas
asuhan nyeri, mampu frekuensi, kualitas, dan nyeri px
keperawa menggunakan predisposisi 2. Utk mengetahui
tan teknik non 2. Kaji tanda-tanda vital keadaan umum pasien
3. Gunakan teknik 3. Komunikasi terapeutik
selama farmakologis, komunikasi terapeutik dapat meningkatkan
1x2 jam untuk untuk mengkaji nyeri respon positif pasien
diharapka mengontrol pasien 4. Dpat meredakan nyeri
4. Ajarkan px teknik px
n nyeri nyeri relaksasi nafas dalam 5. Kebisingan dapat
berkuran 2. Melaporkan 5. Kontrol lingkungan memperparah nyeri
g/ nyeri berkurang yang dapat 6. Analgetik berfungsi
teratasi 3. Menyatakan mempengaruhi nyeri mengurangi nyeri
6. Delegatif dlam ringan sampai berat
rasa nyaman, pemberian analgetif
setelah nyeri
berkurang
N Tujuan Kreteria Hasil Intervensi Rasional
o
D
x
2 Setelah 1. Px mampu 1. Monitor tanda dan 1. Utk mengetahui
dilakukan mempertahanka gejala konstipasi tanda dan gejala
asuhan n bentuk feses 2. Monitor bising konstipasi
2. Utk mengetahui
keperawa 2. Pasien bebas usus pasien
bising usus pasien
tan dari 3. Anjurkan px untuk normal 5-
selama ketidaknyamana mencatat warna , 30x/menit
1x2 jam n dan konstipasi volume frekuensi 3. Untuk mengetahui
diharapka 3. Feses lunak dan dan konsistensi konsistensi feses
n klien berbentuk feses pasien
tidak 4. Berikan intake 4. Untuk memperlncr
mengala cairan oral penyerapan dan
absorpsi usus
mi adekuat
5. Pemberian obat
konstipas 5. Delegatif dalam laksatif dpt
i pemberian laksatif melunakan feses
enema
N Tujuan Kreteria Hasil Intervensi Rasional
o
D
x
3 Setelah 1. Px tidak 1. Monitor adanya 1. Bb turun indikasi
diberikan mengeluh mual’ penurunan berat ketidakseimbangan
n asuhan 2. Nafsu makan px badan nutrisi
2. Mual dan muntah
keperawa meningkat 2. Monitor mual dan
menyebabkan
tan 3. Px menunukan muntah pasien absorpsi nutrisi
selama 1 x peningkatan 3. Kaji kemampuan tidak adekuat
2 jam fungsi intake pasien 3. Untuk mengontrol
diharapka pengecapan dan 4. Berikan makanan masukan nutrisi
n menelan yang mengandung oral
kebutuha serat dan buah 4. Makanan
n nutrisi 5. Anjurkan px mengandung serat
mudah dicerna
terpenuhi makan sedikit tapi
5. Menambah intake
sering masukan makanan
6. Delegatif dgn ahli bertahap
gizi untuk 6. Utk menentukan
menentukan status nutrisi pasien
kalori dan nutrisi
yg dibutuhkan px
4. Implementasi
Tindakan keperawatan dilakukan sesuai dgn intervensi
5. Evaluasi
No Diagnosa Keperawatan Evaluasi

1 Nyeri Akut S : Px mengatakan nyeri yang dirasakan


sudah berkurang
O : skala nyeri pasien 5 dari (0-10)
-Pasien tampak lebih nyaman

A : masalah teratasi sebagian

P : lanjutkan intervensi
-kaji skala nyeri pasien secara komprehensif
-kaji vital sign
-ajarkan teknik relaksasi nafas dalam
No Diagnosa Keperawatan Evaluasi

2. Konstipasi S : Px mengatakan belum bisa BAB

O :distensi perut +
-bising usus pasien menurun 4x /menit

A : masalah belum teratasi

P : lanjutkan intervensi
-Monitor bising usus pasien
-Berikan intake cairan oral adekuat
-Delegatif dalam pemberian flet enema
No Diagnosa Keperawatan Evaluasi

3. Ketidakseimbangan nutrisi S : Px mengatakan sudah makan ¼ porsi


kurang dari kebutuhan -px mengatakan sudah tidak mual
tubuh

O : BB pasien 61 kg
Ttv : s 36,5, N 88 x/m , TD 120/80 mmhg,
RR 20x/m

A : masalah teratasi sebagian

P : lanjutkan intervensi
-kaji kemampuan intake pasien
-anjurkan px makan sedikit tapi sering

Anda mungkin juga menyukai