Anda di halaman 1dari 30

Pengujan Efisiensi Pasar

Kelompok:
1. Nur Alfiani (B 200140204)
2. Nur Ulfiati (B 200140205)
Pendahuluan
Ide dari pengujian pasar yang efisen dituangkan dalam suatu hipotesis yang dsebut dengan hipotesis
pasar efisien (HPE) atau efficient market hypothesis (EMH).
Fama (1970) membagi pengujian efisiensi pasar menjadi tiga kategori yang dihubungkan dengan
bentuk-bentuk efisiensi pasarnya sebagai berikut :
1. Pengujian-pengujian bentuk lemah (weak form tests),yaitu seberapa kuat informasi masa lalu dapat
memprediksi return masa depan.
2. Pengujian-pengujian bentuk setengah kuat (semi-strong-form test),yaitu seberapa cepat harga
sekuritas merefleksikan informasi yang dipublikasikan.
3. Pengujian-pengujian bentuk kuat (strong-form test), yatu untuk menjawab pertanyaan apakah
investor mempunyai informasi privat yang tidak terefleksi di harga sekuritas.
Fama (1991) mengusulkan untuk mengubah nama ketiga macam kategori pengujian bentuk efisiensi pasar
tersebut. Nama-nama pengujian yang diusulkan adalah sebagai berikut :
1. Pengujian-pengujian efisensi pasar bentuk lemah diganti menjadi pengujian-pengujian terhadap
pendugaan return (tests for return predictability)
2. Pengujian-pengujian efisiensi pasar bentuk setengah kuat dirubah menjadi studi-studi peristiwa
(event studie)
3. Pengujian-pengujian efisiensi pasar bentuk kuat diusulkan menjadi pengujian-pengujian terhadap
informasi privat (tests for private information)
Pengujian-pengujian pendugaan return
Sebelum tahun 1970, pengujian dari efisiensi pasar bentuk lemah difokuskan pada predksi
return atau harga sekuritas berdasarkan return atau harga masa lalu. Pengujian pasar bentuk lemah
melibatkan pertanyaan apakah informasi yang terkandung di harga-harga sekuritas masa lalu yang
berurutan sudah secara penuh mencerminkan harga sekarang. Hipotesis untuk menguji bentuk
lemah berhubungan dengan hipotesis langkah acak (random walk hipotesis). Jika harga-harga
mengikuti pola langkah acak (random walk), maka perubahan harga dari waktu ke waktu sifatnya
adalah random atau acak yang independen.
Setelah tahun 1970, pengujian dari efisiensi pasar bentuk lemah tidak hanya difokuskan pada
variabel return atau harga masa lalu untuk memprediksi return atau harga sekarang atau masa
depan, tetapi juga melibatkan variabel yang lainnya. Variabel-variabel yang digunakan untuk
memprediksi return atau harga sekuritas diantaranya adalah dividend yield,rasio P/E,suku bunga
dan lain sebagainnya.
Pengujian dari efisiensi pasar bentuk lemah ini dapat dilakukan dengan cara pengujian statistic
atau dengan cara pengujian menggunakan aturan-aturan perdagangan teknis (technical trading
rules).
Pengujan secara Statistik

Pengujian secara statistic dapat dilakukan dengan menguji


independensi dari perubahan-perubahan harga sekuritas, Jika hasil
pengujian menunjukkan independensi harga-harga, maka implikasinya
adalah investor tidak dapat menggunakan nilai-nilai masa lalu dari
variabel-variabel penduga untuk memprediksi harga atau return
sekarang. Untuk pasar yang efisien secara bentuk lemah, perubahan
harga sekuritas adalah idependen terhadap nilai masa lalu variabel-
variabel penduga.
Pengujian Menggunakan Korelas atau
Regresi Linier
Pengujian pasar efisensi bentuk lemah ini dilakukan untuk menguj tidak
adanya hubungan antara harga atau return sekuritas masa lalu dengan harga atau
return sekarang atau mendatang. Pengujian seperti ini sangat sulit, alasannya
adalah bahwa harga atau return sekuritas masa lalu yang mana yang akan
digunakan untuk memprediksi harga atau return mendatang. Misalnya suatu studi
menggunakan data harga tahun kemarin untuk memprediksi harga tahun
sekarang dan menemukan bukti tidak ada hubungan secara statistic.
Pertanyaannya apakah hasil ini dapat dgunakan untuk menyimpulkan bahwa
pasar sudah efisien secara lemah padahal kemungkinan lain misalnya jika harga
dua tahun kemarin digunakan mungkin akan didapatkan hubungan dengan harga
sekuritas tahun ini. Studi yang pernah dilakukan menggunakan perubahan harga
periode sekarang dengan model sebagai berikut:
Koefisen β0 di persamaan (16-1) mengukur perubahan harga yang diekspektasi dan yang tidak
berhubungan dengan perubahan harga periode lalu. Koefisien β1 mengukur hubungan antara
perubahan harga periode lalu dengan perubahan harga periode selanjutnya. Jika T=0, maka
hubungan perubahan harga adalah antara periode ke-t dengan t-1 sebagai berikut:
Atau

Untuk T=1, maka hubungan perubahan harga adalah antara periode ke-t dengan ke t-2 sebagai berikut:

Dan seterusnya untuk nilai T=2 dan selanjutnya.


Dalam penerapannya,beberapa peneliti menggunakan pengukuran perubahan
harga yang bervariasi. Beberapa peneliti juga menggunkan return,yaitu
perubahan harga relative terhadap harga periode lalu dan juga memasukkan nilai
dividen ke dalamnya sebagi berikut :

Peneliti yang lainnya juga menggunakan pengukuran logaritma dari return relatif
sebagai berikut:
Hubungan linier antara dua periode perubahan harga ini dapat diestimasikan
dengan menggunakan koefisien korelasi atau dengan menggunakan teknik
regresi. Cootner (1974) misalnya, menggunakan 45 perusahaan yang tercatat di
NYSE. Dia menggunakan pengukuran logaritma dari return relative. Korelasi
logaritma return relative periode ke-t dengan logaritma return relatf periode
seminggu sebelumnya dan 14 minggu sebelumnya adalah sebesar -0,047 dan 0,31.
Hasil empiris ini menunjukkan bahwa pasar modal NYSE adalah sudah efisien
dalam bentuk lemah, karena koleras antara perubahan harga antar periode tidak
signifkan yang menunjukkan adanya independensi harga sekuritas dari satu
periode ke periode yang lain.
Pengujian Run

Runtun(run) adalah urutan tanda yang sama dari perubahan-perubahan nilai.


Misalnya perubahan-perubahan harga sekuritas yang meningkat dber tanda
positif(+), perubahan harga yang menurun diberi tanda negative(-) dan harga
sekuritas yang tidak berubah diberi tanda nol (0).Jika perubahan harga sekuritas
berkorelasi secara postif dari waktu ke waktu, maka diharapkan terjadi sedikit
perubahan tanda atau akan terjadi runtun yang sedikit.Begitu pula sebaliknya.
Pengujian runtun telah dilakukan oleh Fama (1965) dan juga Ball dan
Watts(1972). Fama menguji runtun perubahan harga saham, sedang Ball dan
Watts menguji runtun perubahan laba akuntansi. Biasanya laba akuntansi
mengalami kenaikan atau penurunan. Ball dan Watts hanya melihat runtun
perubahan laba akuntansi “+”dan”-”. Jika perubahan runtun sifatnya adalah
acak, maka jumlah runtun yang diharapkan adalah sebesar :
Notasi:
E(NR ) = jumlah runtun ekspektasian
N1 = jumlah perubahan “+”
N2 = jumlah perubahan “-”
N = jumlah dari perubahan atau sebesar N1+N2
Devisiasi standar dari jumlah runtun adalah sebesar :

Nilai Z hitung adalah :

Notasi:
NR = Jumlah sesungguhnya dari seluruh runtun
Contoh:
Runtun perubahan laba akuntansi untuk suatu perusahaan selama 20 periode adalah :
++--++-+++--+++--+++
Jumlah dari perubahan laba yang positif (N1) adalah sebanyak 13 buah dan jumlah dari perubahan laba
yang negative (N2)adalah sebanyak 7 buah. Jumlah seluruh perubahan laba (N) adalah sebanyak 20
buah.Dengan menggunakan rumus (16-4),jumlah runtun ekspektasian adalah sebanyak:

Jumlah runtun yang terjadi sesungguhnya adalah sebanyak 9 runtun, yaitu ++,--,++,-,+++,--,+++,--dan+++.
Untuk mengetahui jumalh runtun sesungguhnya secara signifikan, maka perlu dilakukan pengujian secara
statistic

Z-hitung menunjukkan bahwa runtun perubahan laba sfatnya tidak acak.


Pengujian Cyclical
Pola pergerakan harga atau sekuritas yang tertentu dapat terjadi untuk pasar yang tidak efisien
bentuk lemah.Pola yang mungkin dapat terjadi jika pasar tidak efisien bentuk lemah adalah pola
siklikal (cyclical). Misalnya French (1980)menunjukkan bahwa return pada hari Senin lebih rendah
dibandingkan dengan return di hari lainnya dalam satu munggu. Hasil dari French menunjukkan
bahwa return sekuritas mempunyai pola siklkal dengan return terendah di hari Senin.
Efek lain yang di teliti adalah efek Januari. Rozeff dan kinney (1976) menunjukkan bahwa
return sekuritas pada bulan Januari secara signifikan lebih besar dari return bulan yang lain.Return
yang mereka gunakan adalah raw return. Ketika mereka menggunakan abnormal return yang
didasarkan pada model market-based pricng,efek Januari menjad hilang
Pengujian secara Aturan Perdagangan Teknis
Salah satu strategi perdagangan yang memanfaatkan pola perubahan harga sekuritas ini adalah strategi
aturan saringan(filter rule)
Strategi aturan saringan merupakan strategy waktu (timming trategy)yaitu trategi tentang kapan
investor harus membeli atau menjual suatu sekuritas. Dengan strategi ni investor akan membeli sekuritas
jika harga dari sekuritas meningkat melibihi batas atas yang sudah ditentukan dan menjual jika harganya
turun lebih rendah dari batas bawah yang sudah ditentukan.Harga sekuritas yang berada di antara dua
batas ini dianggap masih merupakan harga sekurtas yang wajar (fair price) yang sekuritasnya belum perlu
dibeli atau dijual.

Gambar diatas terlihat bahwa harga sekuritas sampai waktu ke t* masih berada di dalam batas atas dan
batas bawah yang sudah ditentukan. Mulai saat t*, harga sekurtas beranjak naik melibihi batas atasnya.
Strategi yang menggunakan filter rule akan menyarankan investor untuk membeli sekuritas tersebut pada
saat waktu t*. Alasannya adalah sekuritas sudah memecah dan mulai menembus batas
atasnya,kemungkinan besar harga sekuritas ini akan terus meningkat,sehngga merupakan saat yang tepat
untuk membelinya pada waktu ke t*tersebut.
Saringan (filter)untuk batas atas harga dan batas bawah harga dapat ditentukan sebesar nilai
absolut atau nilai relative terhadap harga sebelumnya.
Pengujian strategi filter rule telah dilakukan oleh Alexander (1961) dan menemukan return
yang cukup besar terutama untuk saringan yang kecil (misalnya 5%).Akan tetapi,jika biaya transaksi
diperhitungkan ,maka kelebihan return akan hilang.
Demikian juga dengan penelitian yang dilakukan Fama dan Blume(1969). Mereka
membandingkan strategi flter rule dengan strategi lainnya, yaitu strategi buy and hold. Hasil
penelitian mereka bahwa strategi filter rule menghasilkan rat-rata rule yang lebih baik untuk
saringan yang kecil(yaitu denga saringan 0,5%) dibandingkan dengan strategi buy and hold. Akan
tetapi selisih return yang dihasilkan tidaklah besar.
Dalam penelitian Beaver dan Landsman (1981), strategy filter rule dengan menggunakan
periode saringan yang lebih lama, yaitu selama 20 bulan. Selama periode mereka membagi
sekuritas ke dalam dua portofolio,yaitu sebuah untuk sekuritas-sekuritas pemenang dan yang lain
untuk sekuritas kalah. Dengan mengamati abnormal return kedua portofolio untuk periode
selanjutnya, mereka tidak menemukan perbedaan antara kedua portofolio. Hasil mereka
menunjukkan bahwa hasil saringan tidak menghasilkan return lebih baik.
Studi peristiwa
Studi peristiwa merupakan studi yang mempelajari reaksi pasar terhadap suatu peristiwa
(event) yang informasinya dipublikasikan sebagai suatu pengumuman. Event study dapat digunakan
untuk menguji kandungan informasi dari suatu pengumuman dan dapat juga digunakan untuk
menguji efisiensi pasar bentuk setengah kuat.
Pengujian kandungan informasi dan pengujian efisensi pasar bentuk setengah kuat merupakan
dua pengujian yang berbeda. Pengujian kandungan informasi dimaksudkan untuk melihat reaksi dari
suatu pengumuman.Jika pengumuman mengandung informasi (information content), maka
diharapkan pasar akan bereaksi pada waktu pengumuman tersebut diterima. Reaksi pasar
drunjukkan dengan adanya perubahan harga sekuritas dari yang bersangkutan. Reaksi ini dapat
diukur dengan menggunakan abnormal return. Jika digunakan abnormal return, maka dapat
dikatakan bahwa suatu pengumuman yang mempunyai kandungan informasi akan memberikan
abnormal return kepada pasar. Sebaliknya yang tidak mengandung informasi tidak memberikan
abnormal return kepada pasar.
Pengujian kandungan informasi hanya menguji reaksi dari pasar,tetapi tidak menguji seberapa cepat
pasar itu bereaksi.Pasar dikatakan efisien bentuk setengah kuat jika investor bereaksi dengan cepat
(quckly) untuk menyerap abnormal retuen untuk menuju ke harga keseimbangan yang baru. Jika investor
menyerap harga abnormal return dengan lambat, maka pasar dikatakan tidak efisien bentuk setengah
kuat secara informasi.
Pengumuman peristiwa tidak menimbulkan abnormal return karena investor tidak mendapatkan
keuntungan lar biasa yang merugikan orang lain(fair game).Pengujian efisiensi pasar secara informasi
bentuk setengah kuat seharusnya dilakukan setelah pengujian kandungan informasi dan urutannya dapat
dilihat di Gambar 16.3
Efisiensi pasar bentuk setengah kuat yang hanya ditinjau dari informasi yang dipublikasikan disebut
dengan efisiensi pasar secara informasi (informationally efficient market). Pengujian untuk efisiensi pasar
secara informasi tidak memperhatikan kecanggihan dari pelaku pasar di dalam menginterpretasikan dan
menganalisis nformasi lebh lanjut. Pelaku pasar yang canggih akan dapat membedakan antara “lemon”
dan “orange” yaitu pelaku pasar yang canggih akan menganalisis lebih dalam informasi yang
diterima.Efisiensi pasar disebut efisiensi pasar keputusan(secisionally efficient market)yang dapat dilihat
pada Gambar 16.4
Gambar 16.4 menunjukkan efisiensi pasar secara keputusan lebih tinggi tingkatannya dibandingkan dengan efisiensi
pasar secara informasi. Pasar yang efisien bentuk setengah kuat secara informasi belum tentu efisien secara keputusan
dan begitupun sebaliknya.Pengujian efisiensi pasar secara keputusan akan melibatkan empat factor : (1)abnormal
return,(2) kecepatan reaksi,(3)nilai ekonomis,(4)ketepatan reaksi.
Hasil empiris studi peristiwa
Pemecahan saham
Pemecahan saham (stock split)adalah memecahan selembar saham menjadi lembar saham. Harga per lembar saham
baru setelah stock split adalah sebesar 1/n dari harga sebelumnya.Stock split tidak menambah nilai dari perusahaan
dengan kata lain stock split tidak mempunyai nilai ekonomis. Perusahaan umumnya melakukan stock split supaya harga
sahamnya tidak terlalu tinggi,Copeland (1979) menemukan hal yang sebaliknya dengan alasan dengan alasan likuiditas
pasar akan semakin rendah setelah stock split.
Fama, Fsher,Jensen, dan Roll (FFJR) mempelajari 940 stock split yang terjadi diantara Januari 1927 –Desember 1959.
FFJR menghitung cumulative abnormal return -30 bulan sampai bulan +30 . FFJR menemukan adanya abnormal return
30 bulan sebelum pengumuman stock split dilakukan.
Studi yang dilakukan FFJR merupakan studi pertama yang menguji hipotesis pasar efsien bentuk setengah kuat. Studi
FFJR menggunakan data bulanan.Studi-studi selanjutnya berusaha meningkatnkan kekurangan-kekurangan dari studi
FFJR.
Charest(1978) mengembangkan stusi yang dilakukan FFJR dengan mengunakan data harian dan mengamati tidak
hanya pada waktu stock split diumumkan, tetapi juga pada hari stock split diusulkan oleh manajemen dan pada hari
waktu stock split disetujui pemegang saham .Dia menemukan abnormal return hanya terjadi pada hari setelah stock
split diusulkan, tetapi secara umum pasar tampaknya efisien terhadap stock split.
Pengumuman stock split dianggap sebagai sinyal yang positif karena manajer perusahaan akan menyampaikan prospek
masa depan yang baik dari perusahaan ke public yang belum mengetahuinya.Jika pasar bereaksi pada waktu
pengumuman stock split ,bukan berart bahwa pasar bereaksi karena informasi stock splt yang tidak mempunyai nilai
ekonomis,tetapi mengetahui prospek perusahaan dimasa depan yang disinyalkan melalui stock split. Sesuai dengan yang
ditemukan Copeland bahwa stock split mengandung biaya yang harus ditanggung , maka hanya perusahaan yang
mempunyai prospek bagus saja yang mampu menanggung biaya dan sebagai akibatnya pasar bereaksi positif
terhadapnya.
Penawaran Perdana
Perusahaan yang pertama kali melemparkan sahamnya ke pasar saham disebut melakukan
penawaran perdana (initial public offering atau IPO). Karena belum pernah tercatat di bursa saham
, maka harga sekuritasnya belum diketahui. Writer yang menjamin pelemparan perdana akan
menanggung risiko untuk menjualkan saham disebabkan nilai sebenarnya dari sekuritas belum
diketahui. Oleh karena itu underwrter cenderung untuk menjualkannya dengan harga yang murah
(undervalued). Investor yang dapat kesempatan untuk membeli sekuritas yang undervalue akan
dapat menikmati abnormal return. Akan tetapi jika pasar sifatnya adalah efisien, abnormal return
yang ada hanya terjadi dengan waktu yang cepat dan tidak berkepanjangan.
Pengumuman deviden
Miller dan Midigliani (1961) menunjukkan bahwa dividen sifatnya adalah tdak relevan di dalam
menentukan nilai dari perusahaan. Hasil dari studi-studi tentang apakah dividen mengandung
informasi yang berguna untuk pasar juga menghasilkan kesimpulan yang masih tercampur.
Watt(1973,1976),Ang(1975) dan Gonedes(1978) tidak menemukan bukti bahwa dividen mengandung
informasi. Hasil studi yang terbaru lebih mendukung bahwa dividen mengandung informasi. Hasil-
hasil studi yang menentukan kandungan informasi dari penumuman deviden misalnya Laub(1976),
charest (1978) , Aharony dan Swary(1980), Woolridge(1982), Asquith dan Mullins(1983)
Beberapa pendekatan telah digunakan untuk menguji kandungan informasi dari deviden. Pendekatan
yang pertama adalah memasukkan variabel dividen ke modal laba untuk memprediksi laba masa depan
(misalnya adalah Laub 1976). Dividen mempunyai informasi jika kekuatan prediksi model laba menjadi
meningkat. Pendekatan yang kedua adalah menguji hubungan antara variabel dviden dan variabel laba,
apakah dividen menyebabkan laba atau laba menyebabkan deviden . pendekatan yang ketiga dilakukan
dengan mengamati pergerakan harga sekuritas sekitar pengumuman dari perubahan deviden yang tidak
diekspetasi. Pendekatan ketiga ini dilakukan dengan melakukan study peristiwa (event study). Penelitian –
penelitian yang menggunakan pendekatan ketiga ini misalnya adalah Watts (1974), Gonedes (1978),
Aharony dan Swary (1980), Woolridge (1982), Asquith dan Mullins (1983), Healy dan Palepu (1988), Kane,
Lee, dan Marcus (1984), Chang dan Chen (1991) dan Eddy dan Seifert(1992).
Watts (1976) menggunakan sempel sebanyak 310 perusahan dalam periode 1946-1967 untuk menguji
kndungan informasi dari dekiden. Dengan menggunakan model ekspektasi difiden oleh Linter,watts
menemukan nilai upnormal return ( di hitung dengan menggunakan model pasar ) yang tidak siknifikan
nlai upnormal return tidak melibhi biaya transaksi yang harus d tanggung.
Menggunakan model ekspektasi oleh Linteer,gonedes (1978) membetuk 12 portofolio di dasarkan pada
kombinasi kesalahan peramalan standarisasi. Rendah dan tinggi dari perubahan laba, perubahan
defdenkas dan item-item luar biasa dari 285 perusahaan selama periode 1946-1972 Gonedes menemukan
bahwa defiden tidak membawa informasi
.
Aharony dan swary (1980) menggunakan model ekspektasi defiden sederhana dan model
ekspektasi Litneer yang di kembangkan. Sempel mereka adalah defiden kuartalan yang meliputi 149
perusahaan industri yang tercatat di NYSE pada periode 1963-1976. Hasil ini menunjukkan bahwa
defiden mengandung informasi dan pasar sudah cukup efisien dalam bentuk setengah kuat terhadap
informasi defiden ini yang terlihat bahwa pasar menyerap informasi tersebut dengan cepat.
Woolridge (1982) menggunakan 376 pengumuman defiden selama tahun 1971 sampai dengan
1976. Dia juga mendukung bahwa pasar bereaksi terhadap perubahan positif dan negatif dari nilai
defiden secara cepat dengan waktu sehari setelah pengumuman.
Asquith dan Mullins (1983) mempelajari sample-sample dari perusahaan-perusahaan yang tidak
pernah membayar defiden selama paling sedikit 10 tahun. Sample mereka terdiri dari 168
perusahaan dari tahun 1954-1980 sama dengan dilakukan oleh Aharony dan Swary, perusahaannya
mengumumkan laba dan defiden bersamaan dalam waktu 10 hari, tidak di gunakan sebagai sample.
Mereka menemukan bahwa pembayaran defiden pertama kali meningkatkan kekayaan memegang
saham sebesar 3,7% dalam 2hari. Hasil ini menunjukkan bahwa defiden mengandung informasi.
Healy dan Palepu (1988) mempelajari 131 perusahaan yang membayar defiden pertama kali dan
172 perusahaan yang tidak membayar defiden yang pertama kali.
Informasi Akuntansi
Nilai pasar dari perusahaan merupakan nilai sekarang dari aliran-aliran khas masa datang. Selain arus
kas informasi akuntansi yang lain juga di gunakan oleh pasar. Misalnya, Hughes (1986) menunjukkan
bahwa nilai laporan keuangan seperti laba bersih keuangan dianggap sebagai sinyal yang menunjukkan
nilai dari perusahaan.
Metode akuntansi persediaan merupakan ilustrasi yang baik untuk menggambarkan dampak perbedaan
terhadap informasi arus kas dan informasi laba. Berikut ini merupakan contoh data persediaan suatu
barang.
Tanggal beli Harga pokok
6/5/97 Rp 100
17/11/97 Rp 120
13/12/97 Rp 150
18/12/97 Rp 200

Harga pokok diatas menunjukkan harga pada kondisi ekonomi inflasi, yaitu harga selalu meningkat dari
waktu ke waktu dari barang masuk awal Rp 100 sampai dengan barang yang masuk terakhir Rp 200.
Pada tanggal 20/02/98, sebuah barang dijual dengan harga jual Rp 250.
Jika perusahaan menggunakan metode FIFO, maka barang yang dijual
adalah barang yang masuk pertama kali yaitu barang yang di beli pada
tanggal 06/05/97 dengan harga pokok sebesar Rp 100, sebaliknya jika
perusahaan menggunakan metode LIFO maka barang yang dijual barang
yang masuk terakhir kali yaitu barang yang dibeli pada tanggal 18/12/97
dengan harga pokok Rp 200. Dengan demikian untuk metode akuntansi
yang berbeda kemungkinan harga pokok yang berbeda dapat terjadi dan
akan berakibat pada perbedaan laba dan arus kas yang terjadi sebagai
berikut:
Metode Metode
FIFO LIFO
Pendapatan Rp 250 Rp 250
Harga pokok 100 - 100 -
penjualan
Laba kotor Rp 150 Rp 50
operasi
Pajak (30%) 45 - 25 -
Laba bersih Rp 105 Rp 35
Arus Kas Rp 105+ Rp 35+
Rp 100 Rp 200
=Rp 205 =Rp 235

Untuk metode FIFO,laba bersh perusahaan (Rp 105) lebih besar dibandngkan dengan laba yang
menggunakan metode LIFO (Rp 35).Hal yang sebaliknya terjadi yaitu untuk metode FIFO,arus kas
perusahaan (Rp 205)lebih kecil dibandingkan dengan arus kas yang menggunakan LIFO (Rp 235)
Ada 2 hipotesis yang berhubungan dengan dampak dari perubahan metode akuntansi yang digunakan.
Hipotesis yang pertama disebut dengan “No-effect Hypothesis”. Hipotesis ini menyatakan bahwa tidak
ada perubahan harga sekuritas disebabkan oleh perubahan dari metode atau prosedur akuntansi.
Hipotesis yang kedua dikenal dengan nama “mechanistic hypothesis” atau “monopolistic hypothesis” atau
“functional hypothesis”. Hipotesis ini menyatakan bahwa ada perubahan harga sekuritas karena pasar
secara sistematis dikelabui oleh prosedur akuntansi. Pasar dikatakan efisien bentuk setengah kuat secara
keputusan jika pasar bereaksi dengan benar terhadap perubahan prosedur akuntansi yang mempunyai
dampak terhadap arus kas. Pasar juga dikatakan efisien bentuk setengah kuat secara keputusan jika pasar
tidak bereaksi terhadap perubahan prosedur akuntansi yang tidak mempunyai dampak terhadap arus kas.
Sunder (1973) meneliti 110 perusahaan yang berpindah dari metode FIFO ke LIFO dan 22 perusahaan
yang berpindah dari LIFO ke FIFO selama periode 1946-1966. Hasil yang diperoleh menunjukan bahwa
saham – saham di perusahaan yang berpindah dari FIFO ke LIFO mengalami kenaikan abnormal return
mulai 12 bulan sebelum pengumuman. Untuk perubahan dari metode LIFO ke FIFO akan menurunkan nilai
arus kas, sehingga akan didapatka reaksi yang negative terhadap harga sekuritas.
Pengujian Informasi Privat
Pengujian informasi privat merupakan pengujian pasar efisien bentuk kuat. Permasalahannya
adalah informasi privat yang akan di uji merupakan informasi yang tidak dapat diobservasi secara
langsung. Oleh karena tu pengujian ini harus dilakukan secara tdak langsung dengan menggunakan
proksi. Proksiyang digunakan adalah return yang diperoleh oleh corporate insider dan return yang
diperoleh oleh portofolio reksadana . alasannya adalah corporate insider dan reksa dana dianggap
mempunyai informas privat di dalam perdagangan sekuritas.
Insider Trading
Insider trading merupakan perdagangan sekuritas yang dilakukan oleh corporate insider.
corporate insider pejabat perusahaan, menejemen nya, deriksanya atau pemegang saham
mayoritasnya mempunyai informasi private. Security Exchange Commision (SEC) mengharuskan
insider yang mempunyai kepemilikan lebih besar 10% dari saham perusahaan harus melaporkan
kegiatan transaksi sekuritasnya ke SEC secara bulanan. Informasi ini dipublikasikan secara bulanan
oleh SEC dalam publikasi “ official summary of security transactions and holdings “
Pendekatan yang umum dilakukan untuk menguji kegiatan insider trading adalah dengan
membuat portofolio bulanan berdasarkan sekuritas – sekuritas yang diperdagangkan oleh insider
tersebut
Finnerty (1976) menggunakan data populasi semua kegiatan transaksi yang dilakukan oleh insider
selama bulan januari 1969 sampai desember 1972. Jumlah sample sebanyak 30.000 transaksi oleh
insider. Hasil penelitian ini menunjukkan adanya abnormal return baik untuk transaksi pembelian
atau penjualan sekuritas.
Givoly dan Palmon (1985) melakukan pengujian dengan mengkorelasikan kegiatan insider dengan
informasi yang diumumkan setelah nya untuk mengetahui apakah insider menggunakan informasi
tersebut dalam perdagangannya. Hasil menunjukkan bahwa ternyata tidak ada hubungan antara
insider trading dengan pengumuman tersebut.
Return dari Reksa Dana
Reksa dana merupakan portofolio yang dibentuk oleh perusahaan reksa dana dan dijual kembali
kepada masyarakat dalam bentuk unit penyertaan. Tujuan reksa dana adalah untuk meminimumkan
resiko tidak sistematik dan untuk menghasilkan return yang tinggi.
Study yang meneliti kinerja dari reksa dana diantaranya adalah yang dilakukan oleh sharpe (1966)
dan Jensen (1968). Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa reksa dana tidak mendapatkan
abnormal return yang berlebihan.
Anomali Pasar
Jones (1996) mendefinisikan anomaly pasar sebagai teknik atau startegi yang
tampaknya bertentangan dengan pasar efisien. Beberapa anomali yang banyak mendapat
perhatian adalah anomali karena startegi PER rendah dan anomaly efek ukuran
perusahaan.
Basu (1977) melakukan penelitian dengan merangking PER dan membantingkan hasil
dari grup dengan PER tinggi dengan PER rendah selama 12 bulan setelah terjadi pembelian
sekuritas. Hasil yang diperoleh menunjukkan bahwa dengan sekuritas PER rendah
mengalahkan sekuritas PER tinggi. Jika banyak infestor menggunakan strategi ini
seharusnya penggunaan strategi ini tidak akan menghasilkan abnormal return.
Anomali pasar juga terjadi untuk perusahaan yang kecil. Banz (1981) menemukan bahwa
perusahaan – perusahaan NYSE yang berukuran kecil memberikan return yang lebih besar
dibandingkan dengan return yang diberikan oleh perusahaan – perusahaan besar.