Anda di halaman 1dari 37

TREND DAN ISSUE KOMUNIKASI

DALAM PELAYANAN KEPERAWATAN

OLEH:
HAMIDAH RETNO WARDANI
(11 110 110 24)
Apa perlunya Komunikasi

?
Dasar

• KEBUTUHAN ~ HUBUNGAN (homo


socius)

• PERILAKU ~ Komunikasi
alasan

• Menurunkan Ketidakpastian
• Memperkuat keyakinan
• Ungkap perasaan
• Informasi
Pengertian
• Dance (1967)
Usaha untuk menimbulkan respons melalui
lambang-lambang verbal

• Ramon Ross (1974)


Proses transaksional melalui pemilihan dan
pemindahan lambang-lambang untuk
menimbulkan respons bagi orang lain
Pengertian

• Oxford Dictionary
Pengiriman informasi, ide, dan lain
sebagainya

• Effendy
Komunikasi mencakup ekspresi wajah,
sikap, gerak suara, kata, tulisan, dll
simpulan

Komunikasi adalah
• Dilakukan 2 orang atau lebih
• Penyampaian ide, pikiran, fakta,
pendapat
• Lambang-lambang yang
dimengerti
LALU BAGAIMANA DENGAN
KOMUNIKASI DALAM KEPERAWATAN?
• Komunikasi di lingkungan rumah sakit diyakini sebagai
modal utama untuk meningkatkan kualitas pelayanan
yang akan ditawarkan kepada konsumennya.

• Konsumen dalam hal ini juga menyangkut dua sisi yaitu


konsumen internal & konsumen eksternal.

• Konsumen internal melibatkan unsur hubungan antar


individu yang bekerja di rumah sakit, baik hubungan
secara horisontal ataupun hubungan secara vertikal.

• Hubungan yang terjalin antar tim multidisplin termasuk


keperawatan, unsur penunjang lainnya, unsur
adminitrasi merupakan gambaran dari sisi konsumen
internal.
• Sedangkan konsumen eksternal lebih mengarah
pada sisi menerima jasa pelayanan, yaitu klien
baik secara individual, kelompok, keluarga
maupun masyarakat yang ada di rumah sakit.

• Seringkali hubungan buruk yang terjadi pada


suatu rumah sakit, diprediksi penyebabnya
adalah buruknya sistem komunikasi antar individu
yang terlibat dalam sistem tersebut.

• Keperawatan yang menjadi unsur terpenting


dalam memberikan pelayanan.
TELE NURSING SEBAGAI TREND DAN ISSU PELAYANAN
KEPERAWATAN INDONESIA DITAHUN 2020

• Kemajuan teknologi informasi serta teknologi dibidang


kesehatan berdampak terhadap tingginya pemahaman
masyarakat terhadap dunia kesehatan,

• sehingga tenaga kesehatan dituntut u/ memberikan


pelayanan kesehatan berkualitas, profesional dan
mengedepankan perkembangan teknologi dibidang
kesehatan itu sendiri.

• Salah satu bentuk pemanfaatan teknologi informasi


dibidang kesehatan adalah penggunaan metode
Telenursing
• Telenursing sudah sejak lama digunakan dalam
pelayanan keperawatan di negara-negara maju,

• di Indonesia sendiri model ini belum


berkembang, namun seiring dengan peningkatan
prekembangan teknologi informasi di Indonesia
terutama tingginya angka penggunaan jaringan
internet di Indonesia maka Telenursing juga dapat
berkembang sebagai trend pelayanan
keperawatan di tahun 2020
• Telenursing dapat diartikan sebagai pemakaian
teknologi informasi dibidang pelayanan
keperawatan untuk memberikan informasi dan
pelayanan keperawatan jarak jauh.
Model pelayanan ini memberikan keuntungan
antara lain :
1) mengurangi waktu tunggu dan mengurangi
kunjungan yang tidak perlu,
2) mempersingkat hari rawat dan mengurangi
biaya perawatan,
3) membantu memenuhi kebutuhan kesehatan,
1) memudahkan akses petugas kesehatan yang
berada di daerah yang terisolasi,
2) berguna dalam kasus-kasus kronis atau kasus
geriatik yang perlu perawatan di rumah
dengan jarah yang jauh dari pelayanan
kesehatan,
3) mendorong tenaga kesehatan atau daerah
yang kurang terlayani untuk mengakses
penyedia layanan melalui mekanisme seperti :
konferensi video dan internet (American
Nurse Assosiation, 1999).
kekurangan, antara lain :
1. tidak adanya interaksi langsung perawat dengan klien
yang akan mengurangi kualitas pelayanan kesehatan.
Kekawatiran ini muncul karena anggapan bahwa kontak
langsung dengan pasien sangat penting terutama
untuk dukungan emosional dan sentuhan terapeutik.
2. kemungkinan kegagalan teknologi seperti gangguan
koneksi internet atau terputusnya hubungan
komunikasi akibat gangguan cuaca dan lain sebagainya
sehingga menggangu aktifitas pelayanan yang sedang
berjalan,
3. risiko terhadap keamanan dan kerahasiaann dokumen
klien
Trend & Issue komunikasi antara
perawat & dokter
 Hubungan perawat-dokter adalah hubungan
interaksi yang telah cukup lama dikenal ketika
memberikan bantuan kepada pasien.
 Perspektif yang berbeda dalam memandang
pasien,dalam prakteknya menyebabkan munculnya
hambatan-hambatan teknik dalam melakukan proses
kolaborasi.
 Kendala psikologi keilmuan dan individual, factor sosial,
serta budaya menempatkan kedua profesi ini
memunculkan kebutuhan akan upaya kolaborsi yang
dapat menjadikan keduanya lebih solid dengan
semangat kepentingan pasien.
 Hambatan kolaborasi dokter dan perawat sering
dijumpai pada tingkat profesional dan institusional.
 Perbedaan status dan kekuasaan tetap menjadi
sumber utama ketidaksesuaian yang membatasi
pendirian profesional dalam aplikasi kolaborasi.
 Dokter cenderung pria, dari tingkat ekonomi lebih
tinggi dan biasanya fisik lebih besar dibanding
perawat, sehingga iklim dan kondisi sosial masih
mendukung dominasi dokter.
 Inti sesungguhnya dari konflik perawat dan dokter
terletak pada perbedaan sikap profesional mereka
terhadap pasien dan cara berkomunikasi diantara
keduanya.
 berkaitan dengan issue kolaborasi dan soal menjalin
kerjasama kemitraan dokter, perawat perlu
mengantisipasi konsekuensi perubahan dari
vokasional menjadi professional.
 Status yuridis seiring perubahan perwat dari
perpanjangan tangan dokter menjadi mitra dokter
sangat kompleks.
 Tanggung jawab hukum juga akan terpisah untuk
masing-masing kesalahan atau kelalaian.
 Yaitu, malpraktek medis, dan mal praktek
keperwatan.
 Perlu ada kejelasan dari pemerintah
maupun para pihak yang terkait
mengeni tanggung jawab hukum
dari perawat, dokter maupun
rumah sakit.
 Organisasi profesi perawat juga
harus berbenah dan memperluas
sruktur organisasi agar dapat
mengantisipasi perubahan.
 Komunikasi dibutuhkan untuk mewujudkan
kolaborasi yang efektif, hal tersebut perlu
ditunjang oleh saran komunikasi yang dapat
menyatukan data kesehatan pasien secara
komprenhensif sehingga menjadi sumber
informasi bagi semua anggota team dalam
pengambilan keputusan.
 Oleh karena itu perlu dikembangkan catatan
status kesehatan pasien yang memungkinkan
komunikasi dokter dan perawat terjadi secara
efektif.
 Pendidikan perawat perlu terus ditingkatkan
untuk meminimalkan kesenjangan professional
dengan dokter melalui pendidikan berkelanjutan.
 Peningkatan pengetahuan dan keterampilan
dapat dilakukan melalui pendidikan formal
sampai kejenjang spesialis atau minimal melalui
pelatihan-pelatihan yang dapat meningkatkan
keahlian perawat.
Interprofesional Education & Interprofesional Colaboration

Belajar Bersama untuk praktik bersama demi


kesehatan yang lebih baik (WHO-2010)
Transcultural dalam Komunikasi
Keperawatan
• Komunikasi antara perawat dengan klien
merupakan komunikasi lintas budaya.
• Komunikasi lintas budaya dapat dimulai dengan
proses diskusi dan bila perlu dapat dilakukan
identifikasi melalui bagiamana cara masyarakat
dari berbagai budaya di Indonesia berkomunikasi.
• Komunikasi lintas budaya dapat dilakukan dengan
menggunakan bahasa Indonesia sebagai bahasa
pengantar atau bahasa daerah sebagai bahasa ibu
• Hal ini harus dipahami perawat agar komunikasi
tidak terputus.
Transcultural dalam Komunikasi
Keperawatan
• Misalnya : Seseorang yang bersuku madura
menjenguk keluarganya yang akan dibiopsi.
• Perawat menjelaskan bahwa biopsi adalah salah
satu tindakan operasi untuk mengetahui lebih
lanjut status kesehatan pasien.
• Mendengar kata ‘Operasi’, bila tidak jelas akan
menyebabkan kesalahpahaman hingga
terputusnya komunikasi.
• Dalam beberapa kasus, komunikasi non verbal
seringkali lebih bermakna dibandingkan
komunikasi verbal.
Hambatan Transcultural dalam
Komunikasi Keperawatan
• Ada delapan hambatan penting untuk komunikasi
lintas budaya dalam keperawatan:
(1) kurangnya pengetahuan,
(2) ketakutan dan ketidakpercayaan,
(3) rasisme,
(4) bias dan etnosentrisme,
(5) stereotip, perilaku,
(6) ritual,
(7) hambatan bahasa, dan
(8) perbedaan dalam persepsi dan harapan
Kurangnya Pengetahuan
• Tidak diterimanya pesan dari perawat kepada
klien umumnya disebabkan karena kurangnya
pengetahuan.
• Baik dari isi pesan atau cara penyampaian
pesan yang tidak dapat dicerna dengan baik.
• Kurangnya pengetahuan dapat menyebabkan
penerimaan yang salah baik dari pemberi
pesan maupun penerima pesan.
Ketakutan dan Ketidakpercayaan
• Rothenburger (1990) telah mengidentifikasi
enam tahap penyesuaian bahwa individu
melewatinya pada pertemuan awal mereka
dengan orang dari budaya yang berbeda
yang mereka tidak tahu atau mengerti.
Ketakutan dan Ketidakpercayaan
• Ketakutan: Setiap orang memandang orang lain sebagai
berbeda dan, oleh karena itu, berbahaya. Biasanya ketika
orang-orang menjadi lebih baik mengenal satu sama lain,
ketakutan secara bertahap menghilang, hanya untuk
digantikan oleh suka.

• Tidak menyukai: Orang-orang dari budaya yang berbeda


sering curiga dari masing-masing orang lain tindakan
dan motif karena mereka kurang informasi

• Penerimaan: Biasanya jika dua orang dari berbagi budaya


yang berbeda pengalaman cukup baik selama periode
waktu
Ketakutan dan Ketidakpercayaan
• Respect: Jika individu dari beragam budaya berpikiran
terbuka, mereka akan memungkinkan mereka untuk
melihat dan mengagumi kualitas dalam satu sama lain

• Percaya: Orang setelah dari beragam budaya telah


menghabiskan cukup berkualitas waktu bersama, mereka
biasanya mampu saling percaya.

• Menyukai: Untuk mencapai tahap akhir, individu-


individu dari beragam budaya harus mampu berkonsentrasi
pada kualitas manusia yang mengikat orang bersama-sama,
bukan perbedaan yang menarik orang terpisah
Rasisme
• Rasisme dalam keperawatan dapat menjadi
penghalang komunikasi transkultural antara perawat
dan pasien, dan antara perawat dan penyedia
perawatan kesehatan lainnya
• Tipe-tipenya:
– Rasisme Individu: Diskriminasi karena karakteristik biologis
– Rasisme Budaya: Menganggap budaya sendiri lebih
superior
– Rasisme Kelembagaan: Lembaga (universitas, bisnis,
rumah sakit, sekolah keperawatan) memanipulasi atau
mentolerir kebijakan yang tidak adil membatasi peluang
ras tertentu, budaya, atau kelompok.
Bias dan Etnosentrisme
• Apapun latar belakang budaya
mereka, beberapa orang memiliki
kecenderungan untuk menjadi bias terhadap
nilai-nilai budaya mereka sendiri, dan merasa
bahwa nilai-nilai mereka benar dan nilai-
nilai dari orang lain adalah salah atau tidak
baik.
Stereotipe
• Sebuah stereotip budaya adalah
asumsi beralasan bahwa semua orang dari kelompok
ras dan etnis tertentu yang sama.
• Sindrom buta tempat/budaya adalah bentuk stereotip
yang menjadi masalah untuk banyak perawat dan
dokter.
• Sindrom buta tempat/budaya adalah keyakinan bahwa
"Hanya karena klien terlihat dan berperilaku dengan
cara yang Anda lakukan, Anda berasumsi bahwa tidak
ada perbedaan budaya atau hambatan potensial
untuk perawatan " (Buchwald, 1994).
Perilaku Ritualistik
• Ritualisme adalah sikap seseorang menerima
cara-cara yang diperkenalkan sebagai bagian
dari bentuk upacara (ritus) tertentu, namun
menolak tujuan-tujuan kebudayaannya.
Hambatan Bahasa
• Bahasa menyediakan alat-alat (kata) yang
memungkinkan orang untuk
mengekspresikan pikiran dan perasaan mereka
• Ketika perawat dan
pasien berbicara bahasa yang
sama, kesalahpahaman dapat muncul.
• Ketika pasien datang dari negara atau rumah
tangga dengan bahasa yang berbeda, hambatan
bahasa yang dihasilkan dapat mengakibatkan
komunikasi berhenti, bahkan menghasilkan
frustrasi dan konflik.
Konflik Persepsi dan Hambatan
• Di bidang kesehatan dalam situasi perawatan
kesalahpahaman seringkali muncul ketika perawat dan
pasien memiliki persepsi dan harapan yang berbeda,
akibatnya salah menafsirkan pesan satu sama lain .
• Harapan bahwa pasien memiliki perawat dan dokter juga
dapat menyebabkan masalah komunikasi lintas budaya.
• Sebagai contoh, pasien Jepang pada umumnya
mengandalkan anggota keluarga mereka untuk sebagian
besar perawatan mereka, daripada kepada perawat.
TERIMA KASIH