Anda di halaman 1dari 37

FITOKIMIA

Oleh:
SEDIARSO

1 Fitokimia - Sediarso
PENYARIAN

2
1. Baca FHI tentang ekstraksi
2. Baca acuan lain yang berkaitan dengan
ekstraksi khususnya maserasi
3. Rangkum dua sumber hingga diperoleh hasil
ekstrak yang baik
4. Termasuk cara uji bahwa penyarian telah
sempurna

3
 Cara penyarian dpt dibedakan menjadi
infundasi, maserasi, perkolasi dan penyarian
berkesinambungan.
 dr keempat cara tersebut sering dilakukan
modifikasi utk memperoleh hasil yg lebih baik.

4
 Infus adalah sediaan cair yg dibuat dg menyari
simplisia dg air pd suhu 90° selama 15 menit.
 Infundasi adalah proses penyarian yg umumnya
digunakan utk menyari zat kandungan aktif yg
larut dlm air dr bahan-bahan nabati. Penyarian
dg cara ini menghasilkan sari yg tdk stabil dan
mudah tercemar oleh kuman dan kapang.
 Oleh sebab itu sari yg diperoleh dg cara ini tdk
boleh disimpan lebih dr 24 jam. Cara ini sangat
sederhana dan sering digunakan oleh
perusahaan obat tradisional. Dg beberapa
modifikasi, cara ini sering digunakan utk
membuat ekstrak.

5
Infus dibuat dg cara:
1. Membasahi bahan bakunya, biasanya dg air 2
kali bobot bhn, utk bunga 4 kali bobot bhn
dan utk karagen 10 kali bobot bahan.
2. Bahan baku ditambah dg air dan dipanaskan
selama 15 menit pd suhu 90°-98° C.
Umumnya utk 100 bagian sari diperlukan 10
bagian bahan.

6
 pd simplisia tertentu tdk diambil 10 bagian.
Hal ini disebabkan karena:
 Kandungan simplisia kelarutannya terbatas,
misalnya kulit kina digunakan 6 bagian.
 Disesuaikan dg cara penggunaannya dlm
pengobatan, misalnya daun kumis kucing,
sekali minum infus 100 cc, karena itu
diambil ½ bagian.
 Berlendir, misalnya karagen digunakan 1½
bagian.
 Daya kerjanya keras, misalnya digitalis
digunakan ½ bagian.

7
3. utk memindahkan penyarian kadang-
kadang perlu ditambah bahan kimia
misalnya:
 Asam sitrat utk infus kina.
 Kalium atau Natrium karbonat utk infus
kelembak.
4. Penyaringan dilakukan pd saat cairan masih
panas, kecuali bahan yg mengandung
bahan yg mudah menguap.

8
Gambar 3. Alat infundasi
(pembuatan infus)

A. Panci berisi bahan dan air


B. Tangas air
9
Pembuatan
 Simplisia yg telah dihaluskan sesuai dg derajat
kehalusan yg ditetapkan dicampur dg air
secukupnya dlm sebuah panci.
 Kmd dipanaskan di dlm tangas air selama 15
menit, dihitung mulai suhu di dlm panci
mencapai 90° C, sambil sekali-sekali diaduk.
 Infus diserkai sewkt masih panas melalui kain
flanel. Utk mencukupi kekurangan air,
ditambahkan air mendidih melalui ampasnya.
 Infus simplisia yg mengandung minyak atsiri hrs
diserkai setelah dingin.
10
 Infus asam jawa dan simplisia yg berlendir tdk
boleh diperas.
 Infus kulit kina biasanya ditambah dg asam
sitrat sepersepuluh dr bobot simplisia.
 Infus simplisia yg mengandung glikosida
antrakinon ditambahkan natrium karbonat
sebanyak sepersepuluh dr bobot simplisia.
 Asam jawa sebelum dipakai dibuang bijinya dan
sebelum direbus dibuat massa seperti bubur.
 Buah adas dan buah adas manis hrs dipecah
terlebih dahulu.

11
Derajat halus.
Simplisia yg digunakan utk pembuatan infus
hrs mempunyai derajat kehalusan tertentu.
a. Derajat kehalusan (2/3), misalnya Daun
kumis kucing, Daun sirih, Akar manis
b. Derajat kehalusan (3/6), misalnya Rimpang
jaringau, Akar kelembak
c. Derajat kehalusan (6/8), misalnya Rimpang
langkuas, Rimpang temu lawak., Rimpang
jahe
d. Derajat kehalusan (8/24), misalnya Kulit kina.

12
MASERASI

13
 Maserasi merupakan cara penyarian yg
sederhana. Maserasi dilakukan dg cara
merendam serbuk simplisia dlm cairan
penyari.
 Cairan penyari akan menembus dinding sel
dan masuk ke dlm rongga sel yg mengandung
zat aktif, zat aktif akan larut dan karena
adanya perbedaan konsentrasi antara larutan
zat aktif di dlm sel dg yg di luar sel, maka
larutan yg terpekat didesak ke luar.
 Peristiwa tsb berulang sehingga terjadi
keseimbangan konsentrasi antara larutan
diluar sel dan di dlm sel.

14
 Maserasi digunakan utk penyarian simplisia yg
mengandung zat aktif yg mudah larut dlm
cairan penyari, tdk mengandung zat yg mudah
mengembang dlm cairan penyari, tdk
mengandung benzoin, stirak dll.
 Cairan penyari yg digunakan dpt berupa air,
etanol, air-etanol atau pelarut lain.
 Bila cairan penyari digunakan air maka utk
mencegah timbulnya kapang, dpt
ditambahkan bhn pengawet, yg diberikan pd
awal penyarian.
 Keuntungan cara penyarian dg maserasi
adalah cara pengerjaan dan peralatan yg
digunakan sederhana dan mudah diusahakan.
15
 Kerugian cara maserasi adalah pengerjaannya
lama dan penyariannya kurang sempurna.
 Maserasi pd umumnya dilakukan dg cara: 10
bag simplisia dg derajat halus yg cocok
dimasukkan ke dlm bejana, kmd dituangi dg
75 bag cairan penyari, ditutup dan dibiarkan
selama 5 hr terlindung dan cahaya, sambil
berulang-ulang diaduk.
 Setelah 5 hari sari diserkai, ampas diperas.
 Ampas ditambah cairan penyari secukupnya
diaduk dan diserkai, shg diperoleh seluruh
sari sebanyak 100 bag.
 Bejana ditutup, dibiarkan ditempat sejuk,
terlindung dr cahaya, selama 2 hari.
 kmd endapan dipisahkan.
16
.
Gambar 4. Alat maserasi
A. Bejana untuk maserasi
berisi bahan yang sedang
dimaserasi
B. Tutup
C. Pengaduk yang digerakkan
secara mekanik
D. Bejana tempat hasil
maserasi
E. Penyerkai

17
 Gambar 4 menunjukkan skema alat maserasi, td
bejana A yg terbuat dr gelas, baja tahan karat
atau bhn logam lain yg dilapisi email. Sejauh
mungkin dihindr penggunaan logam berat
tanpa lapisan karena dpt membtk senyawa
kompleks dg kandungan kimia tanaman yg
mempunyai gugus ortodihidroksi atau hidroksi-
karbonil dlm molekulnya, misal flavonoid,
antosianin, tanin dan senyawa fenol lain.
 Bejana A berpasangan dg tutup bejana B yg dpt
sekaligus dilengkapi dg pengaduk C atau dibuat
terpisah dg setiap kali hrs membuka tutup
bejana pd wkt akan mengaduk. Pengaduk C dpt
dibuat dr kayu atau baja tahan karat.

18
 Selain itu dibutuhkan pula bejana lain yaitu
bejana D utk menampung dan mengendapkan
cairan hasil maserasi dr bejana A setelah
disaring atau dituang. Btk, ukuran dan bhn
bejana D pd dasarnya sama dg bejana A tetapi
tanpa dilengkapi dg pengaduk.
 Cara ini utk pembuatan tingtur. Jika yg dibuat
adalah ekstrak, pengerjaannya dilanjutkan dg
pemekatan sari tadi. Pemekatan dilakukan dg
cara penyulingan atau penguapan pd tekanan
rendah dan suhu 50° C hingga diperoleh
konsentrasi yg dikehendaki.

19
 Pd penyarian dg cara maserasi, perlu
dilakukan pengadukan. Pengadukan
diperlukan utk meratakan konsentrasi larutan
di luar butir serbuk simplisia, shg dg
pengadukan tsb tetap terjaga adanya derajat
perbedaan konsentrasi yg sekecil-kecilnya
antara larutan di dlm sel dg larutan di luar sel.
 Hasil penyarian dg cara maserasi perlu
dibiarkan selama wkt tertentu. wkt tersebut
diperlukan utk mengendapkan zat-zat yg
tidak diperlukan tetapi ikut terlarut dlm cairan
penyari seperti malam dll.

20
MODIFIKASI MASERASI
 Pada maserasi dapat dilakukan modifikasi
misalnya:
1. Digesti
 Digesti adalah cara maserasi dg menggunakan
pemanasan lemah, yaitu pada suhu 40°-50° C.
Cara maserasi ini hanya dpt dilakukan utk
simplisia yg zat aktifnya tahan thd
pemanasan.
 Jika cairan penyari mudah menguap pd suhu
yg digunakan, maka perlu dilengkapi dg
pendingin balik, shg cairan penyari yg
menguap akan kembali ke dlm bejana.
21
MODIFIKASI MASERASI ...

 Dg pemanasan akan diperoleh keuntungan al:


 Kekentalan pelarut berkurang, yg dpt
mengakibatkan berkurangnya lapisan-
lapisan batas.
 Daya melarutkan cairan penyari akan
meningkat, shg pemanasan tsb mempunyai
pengaruh yg sama dg pengadukan.

22
 Koefisien difusi berbanding lurus dengan
suhu absolut dan berbanding terbalik
dengan kekentalan, hingga kenaikan suhu
akan berpengaruh pada kecepatan difusi.
 Umumnya kelarutan zat aktif akan
meningkat bila suhu dinaikkan.

23
Gambar 5. Alat digesti Gambar 6. Alat maserasi melingkar
A = Alat pendingin A = Bejana penyari
B = Tutup (dari gabus) B = Pipa penghubung
C = Panci Digesti C = Pompa
D = Tangas air D = Alat penyembur
E = Sumber panas E = Saringnan
F = Serbuk simplisia dan cairan penyari
24
2. Maserasi dengan mesin pengaduk.
Penggunaan mesin pengaduk yg berputar
terus menerus, waktu proses maserasi dpt
dipersingkat menjadi 6 sampai 24 jam.
3. Remaserasi
Cairan penyari dibagi 2. Seluruh serbuk
simplisia dimaserasi dg cairan penyari
pertama, sesudah dienap tuangkan dan
diperas, ampas dimaserasi lagi dg cairan
penyari yg kedua.

25
 4. Maserasi Melingkar
 Maserasi dapat diperbaiki dengan
mengusahakan agar cairan penyari selalu
bergerak dan menyebar. Dengan cara ini
penyari selalu mengalir kembali secara
berkesinambungan melalui serbuk simplisia
dan melarutkan zat aktifnya.
 Cairan penyari dipompa dari bawah bejana
penyari (A) melalui pipa penghubung (B),
masuk ke bejana penyari.

26
 Cairan penyari oleh alat penyembur (D)
disemburkan ke permukaan serbuk simplisia.
Dengan cara ini diharapkan cairan penyari
akan membasahi seluruh butir serbuk yang
disari. Cairan penyari akan turun kebawah
sambil melarutkan zat aktifnya. Saringan (E)
berfungsi untuk menghalangi serbuk simplisia
turun ke bawah. Cairan penyari kemudian
dipompa kembali ke bejana penyari.
 Proses tsb dilakukan berulang-ulang, shg
cairan penyari jenuh terhadap zat aktif.

27
 Keuntungan cara ini:
 Aliran cairan penyari mengurangi lapisan
batas.
 Cairan penyari akan didistribusikan secara
seragam, sehingga akan memperkecil
kepekatan setempat.
 Waktu yang diperlukan lebih pendek.

28
 5. Maserasi Melingkar Bertingkat
 Pada maserasi melingkar penyarian tidak
dapat dilaksanakan secara sempurna, karena
pemindahan massa akan berhenti bila
keseimbangan telah terjadi. Masalah ini dapat
diatasi dengan maserasi melingkar bertingkat
(M.M.B.).

29
A = Bejana penyari C. Pompa E. Bejana penampung
B = Pipa penghubung D. Alat penyembur

30
 Maserasi melingkar betingkat peralatannya
hampir sama dengan maserasi melingkar.
Bejana penyari (A) dihubungkan dengan
pompa (C) dan bejana penampung (E) melalui
pipa-pipa penghubung (B) dan kelep-kelep.
Bejana penampung (E) jumlahnya disesuaikan
dengan keperluan, di sini diambil 3 buah.

31
Cara kerja:
1. Bejana penyari (A) diisi dengan serbuk
simplisia yang akan disari, kemudian
ditambahkan cairan penyari dan dialirkan
seperti pada proses maserasi melingkar. Sari
dialirkan ke bejana penampung pertama (E 1).
2. Bejana penyari (A) diisi kembali dengan cairan
penyari dan dialirkan. Sari dialirkan ke bejana
penampung kedua (E 2).
3. Bejana penyari (A) diisi kembali dengan cairan
penyari dan dialirkan. Sari dialirkan ke bejana
penampung keliga (E 3).
32
Cara kerja:
4. Serbuk simplisia pertama selelah dilakukan
penyarian beberapa kali (disini untuk ke liga
kali) dianggap sudah menjadi ampas. Ampas
dibuang. Bejana penyari (A) diisi kembali
dengan serbuk simplisia yang baru. Hasil
penyari pada bejana penampung pertama (E1)
dialirkan kedalam bejana penyari. Sari
dialirkan ke bejana penampung lainnya (E 4)
untuk diuapkan.

33
5. Bejana penyari (A) diisi kembali dg hasil
penyarian pd bejana penampung kedua (E2)
kmd dialirkan. Sari dialirkan ke dlm bejana
penampung pertama (E 1).
6. Bejana penyari (A) diisi kembali dg hasil
penyarian pd bejana penampung ketiga (E 3),
kemudian dialirkan. Sari dialirkan ke dalam
bejana penampung kedua (E 2).
7. Bejana penyari (A) diisi kembali dengan cairan
penyari baru, kmd dialirkan. Sari dialirkan ke
dlm bejana penampung ketiga (E 3).

34
Cara kerja:
8. Serbuk simplisia kedua dianggap sudah
tersari sempurna. Ampas dibuang, kmd
diganti dg serbuk simplisia ketiga. Ulangi
proses seperti diatas dimulai dari proses
nomor 4.
 Pada proses ini tiap "batch" serbuk simplisia
disari beberapa kali dg sejumlah cairan
penyari (disini dilakukan tiga kali). Pada
bejana penampung E1 berisi sari yg paling
pekat dan pada bejana penampung E3 berisi
sari yg paling encer.
35
Dari percobaan diatas dapat disimpulkan:
1. Serbuk simplisia mengalami proses penyarian
beberapa kali, sesuai dg jml bejana penampung.
Pada contoh di atas dilakukan 3 kali, jml tsb dpt
diperbanyak sesuai dg keperluan.
2. Serbuk simplisia sebelum dikeluarkan dari bejana
penyari, dilakukan penyarian dg cairan penyari
baru. Dg ini diharapkan agar memberikan hasil
penyarian yg maksimal.
3. Hasil penyarian sebelum diuapkan digunakan dulu
utk menyari serbuk simplisia yg baru, hingga
memberikan sari dg kepekatan yg maksimal.
4. Penyarian yg dilakukan berulang-ulang akan
mendptkan hasil yg lbh baik daripada yg dilakukan
sekali dg jml pelarut yg sama.
36
Wassalamu alaikum
w.w.
.

Fitokimia - Sediarso 37