Anda di halaman 1dari 23

GARUDA

PANCASILA
 Garuda Pancasila merupakan
lambang negara Indonesia dan nama
sebuah lagu nasional Indonesia.
 Garuda merupakan burung dalam
mitologi Hindu, sedangkan Pancasila
merupakan dasar filosofi negara
Indonesia.
 Lambang negara Garuda diatur
penggunaannya dalam
Peraturan Pemerintah No. 43/1958
 Burung garuda sejenis dengan rajawali
 garuda merupakan tokoh rekaan yang hanya
ada dalam dunia wayang atau dongeng.
 Tokoh garuda muncul dalam epos Ramayana
dan cerita Garudeya.
 Baik elang maupun rajawali merupakan
burung perkasa yang sering dijadikan
lambang negara. Sejak tahun 1989 misalnya,
pemerintah DKI Jakarta menetapkan elang
bondol sebagai lambang Kota Jakarta.
 Selain elang bondol, ada pula burung rajawali Haliaetus
leucocephalus atau elang besar yang menjadi lambang
Amerika Serikat karena penampilannya yang perkasa,
dan ukurannya yang besar.
 Di Eropa ada juga rajawali laut berekor putih. Tubuhnya
lebih kekar, dengan bentangan sayap 2,5 m. Kebasan
sayap burung ini memiliki kekuatan yang luar biasa.
Kalau sedang berburu mangsa, ia terbang tanpa kebasan
sayap. Dari tempat yang tinggi, ia berputar-putar
melingkar, lalu menukik pesat ke arah mangsa seraya
mendorongkan kuku kakinya ke depan. Kehebatan inilah
yang mendorong warga Jerman memilih rajawali laut
berekor putih sebagai lambang negara, hingga saat ini.
 Kisah kegagahan rajawali laut berekor putih itu pun
tersebar sampai ke pantai barat India. Keperkasaannya
menerkam ulang juga terdengar oleh para pujangga India
di masa lalu. Maka, dalam cerita-cerita yang mereka
buat, burung rajawali pun tampil sebagai Resi Garuda,
yakni makhluk berkepala burung dan bertubuh manusia.
Menurut cerita, burung garuda itu merupakan kendaraan
yang biasa dipergunakan Batara Wisnu.
 Dari mitos India inilah, para pujangga Jawa zamannya
Dharmawansa Anantawikrama Uttunggadewa mengenal
dan menyebarkan nama garuda di Jawa Timur tahun 991-
1016. Meskipun tidak melihat sendiri wujud burung itu,
mereka berhasil membayangkan dan mengabadikannya
dalam pahatan relief Candi Kedaton dan Kidal.
 Burung ini terdapat dalam lukisan di candi-candi
Dieng yang dilukiskan sebagai manusia berparuh
dan bersayap, lalu di candi Prambanan, dan
Panataran berbentuk menyerupai raksasa,
berparuh, bercakar dan berrambut panjang.
 Beberapa kerajaan di pulau jawa menggunakan
Garuda sebagai materai/stempel kerajaan,
seperti yang disimpan di Museum Nasional,
adalah stempel milik kerajaan Erlangga.
 Kemudian, garuda yang setengah orang
setengah burung diabadikan lebih nyata
sebagai arca Airlangga (titisan Wisnu) di
Candi Belahan.
 Dan, sejak proklamasi kemerdekaan RI
tahun 1945, burung garuda dilukiskan
sebagai burung rajawali seutuhnya.
Kepalanya pun menengok ke kanan
seperti semua lambang elang negara
lain.
 Burung Garuda ditetapkan sebagai
lambing Negara RI sejak diresmikan
penggunaannya pada 11 Februari 1950,
dan dituangkan dalam Perautan
Pemerintah no 66 tahun 1951.
 Penggagasnya adalah Sultan
Abdurrahman Hamid Alkadrie II atau
dikenal dengan Sultan Hamid II, yang
saat itu sebagai Mentri Negara Republik
Indonesia Serikat (RIS).
 Sultan Hamid II yang terlahir dengan nama 'Syarif
Abdul Hamid Alkadrie, putra sulung
Sultan Pontianak;
Sultan Syarif Muhammad Alkadrie (lahir di
Pontianak, Kalimantan Barat, 12 Juli 1913
 – meninggal di Jakarta, 30 Maret 1978 pada umur 64
tahun) adalah Perancang Lambang Negara
Indonesia, Garuda Pancasila.
 Dalam tubuhnya mengalir darah Arab-Indonesia --
walau pernah diurus ibu asuh berkebangsaan Inggris
. Istri beliau seorang perempuan Belanda yang
kemudian melahirkan dua anak --keduanya sekarang
di Negeri Belanda.
 Sewaktu Republik Indonesia Serikat dibentuk, dia
diangkat menjadi Menteri Negara Zonder Porto Folio dan
selama jabatan menteri negara itu ditugaskan Presiden
Soekarno merencanakan, merancang dan merumuskan
gambar lambang negara.
 Tanggal 10 Januari 1950 dibentuk Panitia Teknis dengan
nama Panitia Lencana Negara di bawah koordinator
Menteri Negara Zonder Porto Folio Sultan Hamid II
dengan susunan panitia teknis Muhammad Yamin
sebagai ketua, Ki Hajar Dewantoro , M. A. Pellaupessy ,
Mohammad Natsir , dan RM Ngabehi Purbatjaraka sebagai
anggota. Panitia ini bertugas menyeleksi usulan
rancangan lambang negara untuk dipilih dan diajukan
kepada pemerintah
 Menteri Priyono melaksanakan sayembara
untuk merancang Lambang Negara.
 Terpilih dua rancangan lambang negara
terbaik, yaitu karya Sultan Hamid II dan
karya M. Yamin. Pada proses selanjutnya
yang diterima pemerintah dan DPR adalah
rancangan Sultan Hamid II. Karya M. Yamin
ditolak karena menyertakan sinar-sinar
matahari dan menampakkan pengaruh
Jepang.
 Setelah rancangan terpilih, dialog intensif antara perancang
(Sultan Hamid II), Presiden RIS Soekarno dan Perdana Menteri
Mohammad Hatta, terus dilakukan untuk keperluan
penyempurnaan rancangan itu. Terjadi kesepakatan mereka
bertiga, mengganti pita yang dicengkeram Garuda, yang
semula adalah pita merah putih menjadi pita putih dengan
menambahkan semboyan "Bhineka Tunggal Ika ".
 Pada tanggal 8 Februari 1950, rancangan final lambang
negara yang dibuat Menteri Negara RIS, Sultan Hamid II
diajukan kepada Presiden Soekarno. Rancangan final
lambang negara tersebut mendapat masukan dari Partai
Masyumi untuk dipertimbangkan, karena adanya keberatan
terhadap gambar burung garuda dengan tangan dan bahu
manusia yang memegang perisai dan dianggap bersifat
mitologis.
 Sultan Hamid II kembali mengajukan rancangan
gambar lambang negara yang telah disempurnakan
berdasarkan aspirasi yang berkembang, sehingga
tercipta bentuk Rajawali Garuda Pancasila dan
disingkat Garuda Pancasila. Presiden Soekarno
kemudian menyerahkan rancangan tersebut kepada
Kabinet RIS melalui Moh Hatta sebagai perdana
menteri.
 Rancangan lambang negara karya Sultan Hamid II
akhirnya diresmikan pemakaiannya dalam Sidang
Kabinet RIS. Ketika itu gambar bentuk kepala Rajawali
Garuda Pancasila masih “gundul” dan “tidak
berjambul” seperti bentuk sekarang ini.
 Presiden Soekarno kemudian memperkenalkan
untuk pertama kalinya lambang negara itu
kepada khalayak umum di Hotel Des Indes,
Jakarta pada 15 Februari 1950.
 Penyempurnaan kembali lambang negara itu
terus diupayakan. Kepala burung Rajawali
Garuda Pancasila yang “gundul” menjadi
“berjambul” dilakukan. Bentuk cakar kaki yang
mencengkram pita dari semula menghadap ke
belakang menjadi menghadap ke depan juga
diperbaiki, atas masukan Presiden Soekarno.
 Tanggal 20 Maret 1950, bentuk akhir gambar
lambang negara yang telah diperbaiki
mendapat disposisi Presiden Soekarno, yang
kemudian memerintahkan pelukis istana, Dullah
, untuk melukis kembali rancangan tersebut
sesuai bentuk akhir rancangan Menteri Negara
RIS Sultan Hamid II yang dipergunakan secara
resmi sampai saat ini.
 Hamid II diberhentikan pada 5 April 1950 akibat
diduga bersengkokol dengan Westerling dan
APRA (Angkatan Perang Ratu Adil )-nya.
 Untuk terakhir kalinya, Sultan Hamid II menyelesaikan
penyempurnaan bentuk final gambar lambang negara,
yaitu dengan menambah skala ukuran dan tata warna
gambar lambang negara di mana lukisan otentiknya
diserahkan kepada H. Masagung, Yayasan Idayu Jakarta
pada 18 Juli 1974.
 Sedangkan Lambang Negara yang disposisi Presiden
Soekarno dan foto gambar lambang negara yang
diserahkan ke Presiden Soekarno pada awal Februari
1950 masih tetap disimpan oleh Kraton Kadriyah,
Pontianak.
 Sultan Hamid II wafat pada 30 Maret 1978 di Jakarta
dan dimakamkan di pemakaman Keluarga Kesultanan
Pontianak di Batulayang.
 BurungGaruda
melambangkan
kekuatan
 Warna emas pada
burung Garuda
melambangkan
kejayaan
 Perisai
di tengah
melambangkan
pertahanan bangsa
Indonesia
 Bintang melambangkan sila Ketuhanan
Yang Maha Esa (sila ke-1)
 Rantai melambangkan sila Kemanusiaan
yang Adil dan Beradab (sila ke-2)
 Pohon Beringin melambangkan sila
Persatuan Indonesia (sila ke-3)
 Kepala banteng melambangkan sila
Kerakyatan Yang Dipimpin Oleh Hikmat
Kebijaksanaan Dalam
Permusyawaratan/Perwakilan (sila ke-4)
 Padi dan Kapas melambangkan sila
Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat
Indonesia (sila ke-5)
 Warna merah-putih
melambangkan warna bendera
nasional Indonesia. Merah berarti
berani dan putih berarti suci
 Garis hitam tebal yang melintang
di dalam perisai melambangkan
wilayah Indonesia yang dilintasi
Garis Khatulistiwa
 Jumlahbulu melambangkan hari
proklamasi kemerdekaan Indonesia
(17 Agustus 1945), antara lain:
 Jumlah bulu pada masing-masing sayap
berjumlah 17
 Jumlah bulu pada ekor berjumlah 8
 Jumlah bulu di bawah perisai/pangkal
ekor berjumlah 19
 Jumlah bulu di leher berjumlah 45
 Garuda pancasila
Akulah pendukungmu
Patriot proklamasi
Sedia berkorban untukmu
Pancasila dasar negara
Rakyat adil makmur
sentosa
Pribadi bangsaku
Ayo maju maju Pencipta /Pengarang Lirik
Ayo maju maju dan
Ayo maju maju Lagu Garuda Pancasila :
SUDHARNOTO