Anda di halaman 1dari 41

Laporan Kasus

EMPIEMA
Oleh:
Aida Fitri
1607101030230

Pembimbing:
dr. Dewi Behtri, Sp, P (K)

PULMONOLOGY DEPARTEMENT OF SYIAH KUALA UNIVERSITY


dr. ZAINOEL ABIDIN GENERAL HOSPITAL
BANDA ACEH - 2017
BAB I
PENDAHULUAN
Penyakit Paru Obstruktif Kronik (PPOK)  hambatan aliran udara yang tidak sepenuhnya
reversibel, bersifat progresif, dan berhubungan dengan respon inflamasi paru terhadap
partikel atau gas yang beracun/berbahaya

• Empiema merupakan • mortalitas pasien


nanah (pus) yang dengan empiema
terdapat dalam sebesar 15 - 20%
rongga pleura.
Penyebab utama • Infeksi pleura merupakan dan lebih tinggi
masalah klinis umum yang pada pasien
empiema adalah
penundaan berhubungan dengan imunokompromais
pengobatan pada mortalitas dan morbiditas
pasien pneumonia, yang tinggi.
infeksi pleura • drainase pleura tertutup
progesif dan merupakan terapi yang
penyebab yang paling banyak digunakan
sangat jarang untuk mengobati empiema
adalah manajemen parapneumonik
klinis yan tidak
sesuai.

Perhimpunan Dokter Paru Indonesia. Pedoman Diagnosis dan Penatalaksanaan PPOK di Indonesia. Jakarta: Perhimpunan Dokter Paru Indonesia; 2011. 5-57 p.
World Health Organization. Global Status Report on Noncommunicable Diseases 2010: Description of the Global Burden of NCDs, Their Risk Factors and Determinants. 2011.
RI Kementrian Kesehatan. Riset Kesehatan Dasar (RISKESDAS). Badan Penelitian dan Pengembangan; 2013.
Rahmatika A. Karakteristik Penderita PPOK yang dirawat inap di RSUD Aceh Tamiang: Universitas Sumatra Utara. 2010.
BAB II
LAPORAN KASUS
IDENTITAS PASIEN

 Nama : Tn. S
 Umur : 60 tahun
 Alamat : Geudong Kec. Kota Juang Kab. Bireun
 Pekerjaan : Swasta
 Agama : Islam
 Status : Menikah
 CM : 1-13-16-78
 Masuk : 8 Juni 2017
 Pemeriksaan : 9 Juni 2017
ANAMNESIS

Keluhan Utama

• Sesak napas

Keluhan Tambahan

• Nyeri dada kanan


• Batuk
Riwayat Penyakit Sekarang

• Pasien merupakan rujukan RS Bireun datang ke IGD


dengan keluhan sesak napas sejak 3 hari SMRS.
Sesak nafas tidak dipengaruhi oleh aktivitas, cuaca
maupun makanan dan tidak disertai suara mengi.
Riwayat sesak sebelumnya (-). Pasien juga
mengeluhkan nyeri dada sebelah kanan sejak 1
minggu yang lalu. Nyeri dada yang dikeluhkan
pasien seperti ditusuk-tusuk dan tidak menjalar.
Nyeri dada makin memberat saat pasien menarik
nafas dan pasien lebih nyaman tidur miring ke kiri.
Pasien juga mengeluhkan batuk sesekali sejak 6
bulan yang lalu, batuk tidak berdahak. Riwayat
batuk berdahak (-). Demam (-), penurunan berat
badan (-), mual (+), muntah (-), BAK dan BAB
pasien normal tidak ada keluhan.
RPD RPO RPK RKS

Riwayat TB p - IVFD RL 20 gtt/i Tidak ada Pasien merokok s


aru, hiperten - Inj. Ceftriaxone 1 gr/ anggota udah 45 tahun.
12 jam keluarga Pasien merokok
si, dan diabe - Drip Levoloxacin /24 pasien ± 2 bungkus/hari
tes mellitus di jam
yang
sangkal. - Inj. Ondansetron 1 a
mp/8 jam menderita
- Paracetamol 3x500 penyakit Indeks Brinkman:
mg yang 45 tahun x 24
sama. batang/hari =
1080 (berat).
VITAL SIGN

Compos 120/80 82 kali 26 kali /


36,6 C
Mentis mmHg /menit menit
PEMERIKSAAN FISIK
Kulit : sawo matang, ikterik (-), sianosis (-), edema (-),
Kepala : rambut hitam, distribusi merata, sukar dicabut
Wajah : simetris, edema (-), deformitas (-)
Mata : anemis (-/-), sklera ikterik (-/-), sekret (-/-), refleks
cahaya langsung (+/+), refleks cahaya
tidak langsung (+/+), pupil isokor
Telinga : kesan normotia
Hidung : sekret (-/-), cavum nasi hiperemis (-), napas cuping
hidung (-)
Mulut : sianosis (-), tremor (-), hiperemis (-), tonsil hiperemis
(-/-), T1 – T1.
Leher : retraksi suprasternal (-), pembesaran KGB axila(-)
retroauricula (-) suprasternal (-).
Pemeriksaan Fisik
Thorax Dekstra Thorax Sinistra
Paru
Inspeksi Statis : Normochest
Dinamis : Asimetris saat statis dinamis, kanan lebih cembung da
n tertinggal jejas (-)
Palpasi
THORAX ANTERIOR

Atas Fremitus taktil: normal Fremitus taktil: normal


Tengah Fremitus taktil: < Fremitus taktil: normal

Bawah Fremitus taktil: < Fremitus taktil: normal

Perkusi
Atas Sonor Sonor
Tengah Redup Sonor
Bawah Redup Sonor
Auskultasi
Atas vesikuler (+), rhonki (+), wheezi vesikuler (+), rhonki (-), wheezing (
ng (-) +)
Tengah vesikuler melemah (+), rhonki ( vesikuler (+), rhonki (-), wheezing (-
-), wheezing (-) )
Bawah vesikuler melemah (+), rhonki ( vesikuler (+), rhonki (-), wheezing (-
-),wheezing (-) )
Pemeriksaan
Thorax Dekstra Thorax Sinistra
Fisik Paru

Inspeksi Statis :Normochest


THORAX POSTERIOR

Dinamis : Simetris, jejas (-)

Palpasi
Atas Fremitus taktil: normal Fremitus taktil: normal

Tengah Fremitus taktil: < Fremitus taktil: normal

Bawah Fremitus taktil: < Fremitus taktil: normal


PEMERIKSAAN FISIK

JANTUNG
BJ I > BJ II, regular (+) bising (-)

ABDOMEN
Inspeksi : simetris, distensi (-)
Palpasi : soepel, organomegali (-), nyeri tekan (-)
Perkusi : timpani, shifting dullness (-), undulasi (-)
Auskultasi : Peristaltik (+) normal
Pemeriksaan
18 Mei 2017
Laboratorium
HEMATOLOGI
PEMERIKSAAN LABORATORIUM Darah Rutin
Hemoglobin 9,5 14-17 gr/dl
Hematokrit 28 45-55 %
Eritrosit 3,5 4,7-6,1. 103/mm3
Leukosit 17,3 4,5-10,5. 103/mm3
Trombosit 344 150-450. 103/mm3
MCV 80 80-100 fL
MCH 27 27-31 pg
MCHC 34 32-36 %
RDW 14,6 11,5-14,5%
MPV 8,5 7,2-11,1fL
Eosinofil 0 0-6 %
Basofil 0 0-2%
N. Batang 1 2-6%
N. Segmen 84 50-70%
Limfosit 6 20-40%
Monosit 9 2-8%
KIMIA KLINIK
Gula Darah Sewaktu 99 <200 mg/dL
IMUNOSEROLOGI
Negatif Negatif
HbsAg
Ureum 24 13-43 mg/dl
Kreatinin 1,20 0,51-0,95 mg/dl
Foto Thorax AP (8 Juni 2017)

Kesan:
Efusi pleura dextra + susp massa paru
kanan
USG Thorax (8 Juni 2017)
Pemasangan WSD (8 Juni 2017)

Keluar cairan berjumlah 50 cc


yang berwarna kuning
kehijauan.

Kesan efusi pleura dextra


Analisa cairan pleura (8 Juni 2017)
DIAGNOSA BANDING

1) Dyspneu dd/
- Empiema
- Efusi Pleura Dextra
- Susp Massa Paru Dextra
2) syndrom dispepsia
3) Anemia
DIAGNOSA

1) Empiema
2) Syndrom Dispepsia
3) Anemia
TATALAKSANA

 O2 2 LPM nasal kanul (K/P) Planning:


 IVFD Asering 15 gtt/i  Mantoux test
 Inj. Natrium Fosfomicin 1  MO gram dan K/R
amp/12 jam  Genexpert sputum
 Drip Metronidazole /8 jam  CT Scan Thorax Kontras/
 Inj. Omeprazole 1 vial/24 jam Non Kontras
 Curcuma 3x1
 Vitamin B1,B6,B12 2x1
BAB III
TINJAUAN PUSTAKA
• Empiema merupakan akumulasi nanah dalam rongga
pleura yang biasanya merupakan kelanjutan proses
efusi parapneumonia. Efusi parapneumonia adalah
efusi pleura yang menyertai pneumonia bakteri, abses
Definisi paru dan bronkiektasis

• Empiema dapat mengenai semua kelompok usia,


jenis kelamin dan etnis dan lebih dari 65.000 pasien
menderita infeksi pleura setiap tahun di Inggris dan
Epidimiologi Amerika Serikat
Etiologi

 Bakteri
- komunitas: Streptococcus sp , S. aureus,
Enterobacteriaceae, Escherichia coli
- Rumah sakit: Methicillin-resisten S aureus (MRSA),
E.coli, Enterobacter spp. Dan Pseudomonas spp.
 Empiema Tuberkulosis
 Jamur: Candida sp
GEJALA KLINIS

 Demam akut
 Nyeri dada
 Batuk
 Sesak napas

Perhimpunan Dokter Paru Indonesia. Pedoman Diagnosis dan Penatalaksanaan PPOK di Indonesia. Jakarta: Perhimpunan Dokter Paru Indonesia; 2011. 5-57 p.
DIAGNOSIS
• Gambaran klinis empiema biasanya gabungan tanda dan gejala
pneumonia seperti
• batuk, badan lemah dan panas sampai menggigil, nyeri dada, sesak
Anamnesis napas

• Inspeksi: asimeri statis dan dinamis


• Palpasi: fremitus melemah
• Perkursi: redup
PF • Auskultasi: ves melemah

• Leukositosis.
• Foto toraks, gambaran berkantong yang terlokalisir
P. • Pemasangan WSD
Penunjang • Analisa cairan pleura
TATALAKSANA

 Antibiotik
pengobatan dengan aminopenisilin (misalnya,
amoxicillin) akan mencakup organisme seperti S
pneumonia dan H influenzae, tapi penghambat β-
laktamase seperti Co-amoxiclav atau metronidazol
juga akan diberikan karena sering adanya aerob
penisilin-resisten termasuk S aureus dan bakteri
anaerobik.
Drainase cairan pleura
Pembeahan
BAB IV
ANALISA KASUS
Teori
Anamnesis:
• Sesak napas . Hal ini sesuai dengan teori
• nyeri dada kanan bahwa manifestasi klinis
• Riwayat batuk kurang
empiema berupa demam akut,
lebih 6 bulan yll
nyeri dada (pleuritic chest
pain), batuk, dan sesak.
Inflamasi pada pleura dapat
memberi gejala nyeri pada
dada dan abdomen.
Kasus
Teori
Pemeriksaan fisik: •Berdasarkan teori pemeriksaan
•Asimetris, dada kanan . fisik pada empiema akan
tertinggal didapatkan gerakan dinding
• perkusi terdengar suara dada yang asietris saat statis dan
redup pada lapangan dinamis, vokal fremitus pada sisi
dada kanan bawah, dan yang terkena juga menurun,
auskultasi terengar suara pada perkusi lapangan paru
vesikuler melmah akan terdengar suara pekak
•Auskulasi vesikulerr pada sisi yang sakit, dan
melemah pada dada auskultasi akan terdengar suara
kanan vesikuler melemah pada sisi
dada yang sakit.
Kasus
Teori
Pemeriksaan foto thorax  .
tampak perselubungan Pada pemeriksaan radiologis
homogen di hemithoraks akan ditemukan:
kanan tengah, dan Foto toraks dengan diafragma
perselubungan normal tetapi tampak
inhomogen pada gambaran berkantong yang
hemithoraks dekstra terlokalisir sebaiknya juga
bawah diperiksa ultrasonografi (USG)
toraks atau computed
tomography scan (CT scan),
Kasus terlebih bila terlihat gambaran
efusi
Teori
pemasangan WSD .
invasi kuman ke pleura akan
keluar airan berwarna mmenimbulkan peradangan
kuning kehijauan akut yang diikuti dengan
pembebentukan eksuat serous.
Bila volume cairan pleura
melebihi kemampuan limfatik
untuk mengalirkannya maka
akan terbentuk efusi. Efusi
parapnemonia merupakan
sebab umum empiema.
Kasus
Terapi yang diberikan: Teori
• O2 2 LPM nasal kanul (K/P) .
• Inj. Ranitidin 1 amp/12 jam Prinsip penatalaksanaan
• N. combivent 1 resp/6 jam untuk infeksi pleura adalah
• N. pulmicort 1 resp/12 jam antibiotik yang sesuai,
• Domperidone 3x1 mengeluarkan cairan pleura,
• Vectrin 3x1 dan asupan gizi yang
• Cefixime 2x100 memadai kepada pasien.
• Curcuma 3x1 infeksi yang didapat di
komunitas , penghambat
Kasus β-laktamase seperti Co-
amoxiclav atau
metronidazol
TERIMA KASIH
Journal Reading

Risk Factors for the Development of


Pleural
Empyema in Children

Mohamed A. Elemraid, PhD,1,2* Matthew F. Thomas, PhD,3,4 Alasdair P. Blain,


PhD,3 Stephen P. Rushton, PhD,3 David A. Spencer, MD,4 Andrew R. Gennery,
MD,1,2 Julia E. Clark, FRCPCH,5 and On behalf of the North East of England
Pediatric Respiratory Infection Study Group Newcastle upon Tyne, UK

PULMONOLOGY DEPARTEMENT OF SYIAH KUALA UNIVERSITY


dr. ZAINOEL ABIDIN GENERAL HOSPITAL
BANDA ACEH - 2017
INTRODUCTION
 The incidence of pediatric pleural empyema has
increased substantially over the past 20 years in
developed countries leading to considerable
research focus on this infection
 Factors that might determine the progression
from uncomplicated community-acquired
pneumonia (CAP) to complicated pneumonia or
empyema remain uncertain.
 We therefore used a nested case-control analysis
to explore possible risk factors into the etiology of
empyema among hospitalized children with
CAP.
METHODS
Participants
 A prospective etiological study of pneumonia
was conducted from October 2009 to March
2011. Eligible children were aged16 years who
were hospitalized with clinical and radiological
features suggestive of pneumonia.
 Exclusion criteria included clinical diagnosis of
bronchiolitis, hospitalization in the preceding 3
weeks, or normal chest radiograph after formal
reporting by a radiologist.
Laboratory and Radiological
Procedures and Case Definition
RESULTS

 Lobar consolidation was reported in 61% of


children, perihilar in (21%) and patchy changes
(18%). Pleural fluid (including empyema) was
noted in 68 (42.5%) children: 55 (80.9%) together
with lobar changes, 10 (14.7%) with patchy and 3
(4.4%) with perihilar.
 Empyema occurred in 40 (25%) children; with 36
lobar, 3 patchy, and 1 perihilar changes. There
were no significant differences in age
Result
DISCUSSION
 Our findings are broadly consistent with previous
data. Byington et al. found in a retrospective study
empyema was associated with older age >3 years,
recent varicella infection, pneumococcal infection
with serotype 1, longer febrile illness and likely to
receive antibiotics, and Ibuprofen before
hospitalization. In England and Wales non-PCV7
serotypes are now associated with invasive
pneumococcal disease and an increase in
pneumococcal serotype 19A is associated with
complicated pneumonia with empyema
Thank you