Anda di halaman 1dari 45

BIOPSI

Ilmiah PRABU
Surabaya, 13 Februari 2017
Asep Nasrullah
Pembimbing : dr. Nurudin Syahadat
Definisi

Bahasa latin

Bios = Hidup Opsi = Tampilan

Biopsi adalah pengambilan sejumlah


kecil jaringan dari tubuh manusia
untuk pemeriksaan patologis
mikroskopik.
Syarat Biopsi

1. Tidak boleh membuat flap


2. Dilakukan secara tajam
3. Tidak boleh memasang drain
4. Letaknya dibagian tumor yang dicurigai
5. Garis insisi harus memperhatikan
rencana terapi definitif (diletakkan
dibagian yang akan diangkat saat operasi
definitif)
Tujuan Biopsi
 Diagnosis pasti lesi yang dicurigai (Morfologi
Tumor)
 Merencanakan terapi : lokal, radikal, surgery atau
radiasi
 Faktor prognosis
 Evaluasi kemajuan dan efektivitas pengobatan
 Mengetahui ekstensi penyakit
 Evaluasi akhir terapi : apakah sudah tidak ada sisa
penyakit atau kekambuhan.
 Mencocokan jaringan organ sebelum dilakukan
transplantasi organ
Indikasi Biopsi
Neoplasma yang ganas atau dicurigai ganas
 Ulkus yang tidak membaik setelah terapi >3
minggu
 Benjolan >3 minggu
 Lesi yang mengganggu fungsi organ
 Lesi curiga pre-malignan
 Adanya daerah pada intra-oseus yang
menghasilkan rarefaction dan
menyebabkan ekspansi cortical plates
 Pada lesi kecil, eksisi selain sebagai sarana
diagnostik juga bersifat kuratif
Kontra Indikasi
Infeksi pada
lokasi yang
akan dibiopsi
(relatif)
Biopsi diluar daerah
yang direncanakan Gangguan faal
akan dieksisi saat hemostasis
operasi berat (relatif)

• Tidak ada kontraindikasi absolut


• Keadaan yang perlu menjadi pertimbangan :
Keadaan umum jelek
Infeksi akut yang mengancam jiwa
PERTIMBANGAN PRE-BIOPSI

 Kondisi umum pasien


 Penyakit komorbiditas
 Lokasi tumor
 Ukuran tumor
 Jenis anestesi
 Lokal
 Regional
 GA
 Komplikasi
 Kompetensi klinisi dalam melakukan biopsi
Jenis- jenis Biopsi

FNAB (fine needle aspiration


Biopsi Insisional biopsy)

Biopsi Eksisional Punch biopsy

Core needle biopsy

Shave biopsy

Curettage biopsy
Biopsi Insisional
 Biopsi Insisional adalah pengambilan
sebagian jaringan yang sakit.
 Biopsi ini dilakukan bila jaringan yang sakit
terlalu besar (ukuran lebih dari 2 cm),
sehingga tidak dapat dilakukan
pengangkatan seluruh jaringan yang sakit
tanpa tindakan rekonstruksi untuk
menutup defeknya.
Biopsi Insisional

Biopsi Insisional
Biopsi Eksisional
 Biopsi Eksisional adalah pengangkatan seluruh
jaringan yang sakit sampai tepi yang sehat.
Biopsi ini biasa dilakukan bila jaringan yang
sakit kecil (kurang dari 2 cm), sehingga defek
masih bisa ditutup primer.
 Teknik no touch tumor
 mencegah kontaminasi tumor ke jaringan normal
 Mencegah rekurensi penyakit
 Tidak menyulitkan bila dibutuhkan pembedahan
ulang kembali
Biopsi Eksisional

Biopsi Eksisional
 Bentuk yang paling sederhana dari biopsi
adalah pengambilan sebagian potongan
tumor yang viable seperti pada kulit atau
permukaan lain yang mudah dijangkau
dengan tang pemotong yang sesuai.
 Prosedur semacam ini umumnya tidak
menimbulkan rasa sakit dan biasanya
dilakukan tanpa pemberian Novocain
selama kanker tidak disuplai oleh saraf.
 Namun, kadang diperlukan biopsi yang
melibatkan jaringan sehat serta yang
dicurigai sakit untuk mendapatkan sel
yang hidup. Dalam hal ini , tentu
diperlukan anastesi lokal.
FNAB
(fine needle aspiration biopsy).
 Satu jenis biopsi khusus yang dapat
mengetahui sitologi dari lesi adalah FNAB
(fine needle aspiration biopsy).
 Untuk beberapa jenis keganasan,
sensitifitas dan spesifisitas FNAB sama
atau lebih baik dari biopsi konvensional
 Biopsi aspirasi dengan jarum halus (fine
needle aspiration biopsy/FNAB) meliputi
aspirasi sel-sel dan fragmen jaringan
melalui jarum yang telah dipandu ke dalam
suspect tissue.
 FNAB mudah, atraumatik, dan relatif aman.
Untuk tumor yang dalam dapat dilakukan
dengan panduan CT atau USG.
 Kekurangan teknik ini antara lain tidak
memberikan informasi mengenai
arsitektur jaringan.
Sebagai contoh, FNAB pada massa
payudara dapat mendiagnosis keganasan,
tetapi tidak dapat membedakan antara
tumor yang invasif atau tidak invasif.
FNAB --- sitopatologis yang terlatih untuk
interpretasi spesimen.
FNAB
Core needle biopsy

 Core biopsy seperti aspirasi jarum halus,


relatif aman dan dapat dilakukan dengan
palpasi langsung (contoh, massa payudara
atau massa jaringan lunak) atau dapat
dipandu dengan pencitraan (contoh
stereotactic core biopsy of the breast).
 Core biopsy seperti aspirasi jarum halus,
memiliki kekurangan sampling error. Core
needle biopsy menghasilkan jaringan tipis
(kurang lebih 1x10 mm).
 Ukuran sampel yang kecil dapat
menyulitkan patologis untuk mendiagnosis
tumor secara akurat, atau jaringan
mungkin tidak representatif untuk seluruh
tumor, menyebabkan kesulitan dalam
gradasi tumor.
 Biopsi ini memakai jarum yang dirancang
khusus seperti True-cut, Core-cut, dan lain-
lain.
 Pada sumbu jarum terdapat kait terbalik,
setelah sumbu masuk ke dalam jaringan
barulah sarung jarum dimasukkan, lalu
sumbu dan sarung dikeluarkan secara
bersamaan, sehingga diperoleh suatu pita
kecil jaringan untuk pemeriksaan patologi,
maka disebut juga biopsi potong.
 Karena tabung jarum lebih besar,
kemungkinan terjadi implantasi tumor
sepanjang jalur jarum lebih besar
dibandingkan aspirasi jarum halus.
Core needle biopsy

Core needle biopsy


JARUM CORE BIOPSY
Shave biopsy

 Shave biopsy dilakukan pada lesi kulit yang


menonjol seperti BCC nodular, SCC, atau
tumor yang berasal dari folikel.
 Dilakukan tindakan antiseptik, lalu
dilakukan anestesi lokal di bawah lesi.
 Dengan menggunakan jari telunjuk dan ibu
jari, kulit diregang agar stabil.Lalu, gunakan
ujung scalpel no. 15 untuk membatasi
batas lesi.
 Dengan perut scalpel parallel dengan kulit,
lakukan shave biopsy.
 Gunakan forceps atau ujung jarum untuk
mengambil lesi.Untuk hemostasis dapat
dilakukan kauterisasi elektrik atau kimia.
 Perawatan post operasi mudah. Luka
harus dicuci satu sampai dua kali sehari
dengan sabun ringan dan dibiarkan lembab
dengan mengoleskan petroleum jelly pada
balutan sampai menyembuh.
Shave biopsy

Shave biopsy
Punch biopsy

 Punch biopsy : Sampel pada lesi yang datar


dan lebar, dan efektif untuk meraih sampel
subkutan, dan mendapatkan informasi
mengenai kedalaman invasi tumor.
 Biopsi ini menggunakan anestesi lokal dan
trephine.Operator membuat insisi sirkular
sampai tingkat lemak superfisial,
menggunakan trephine yang berputar.
 Traksi yang dilakukan tegak lurus terhadap
garis kulit yang relaks meminimalisir
redundansi saat penutupan.
 Spesimen diambil dengan forceps atau jarum.
 Hemostasis dilakukan dengan jahitan
nonabsorbable yang dapat diangkat 7-14 hari.
 Luka harus dicuci satu sampai dua kali sehari
denhan sabun ringan dan dibiarkan lembab
dengan mengoleskan petroleum jelly pada
balutan sampai menyembuh.
Punch biopsy

Punch biopsy
Curettage biopsy
Biopsi dengan “Bantuan Alat”
 Pada beberapa keadaan, biopsi dari
kelenjar getah bening menentukan staging
dari keganasan.
 Tepi dari specimen (pada biopsi
eksisional) juga diperiksa untuk
mengetahui apakah seluruh lesi sudah
terangkat (tepi bebas dari infiltrasi tumor)
Endobronchial Biopsy (EBBX)/Needle Aspiration (EBNA)
 Pada lesi di endobronkial
 Lesi yang lebih dalam atau peribronkial -- transbronchial needle aspiration
(TBNA) untuk biopsi KGB
TIPS & TRICKS BIOPSI
 Track jarum atau scars harus diletakkan
sedemikian rupa sehingga tidak menyulitkan saat
pembedahan
 Pilih tempat garis insisi yang tepat
 Hati-hati terjadi kontaminasi tumor ke jaringan
sekitar
 Lakukan hemostasis yang baik untuk mencegah
hematom luas
 Gunakan torniket untuk mengurangi perdarahan
 Hindari penggunaan klem berlebihan pada jaringan
yang dibiopsi

35
TIPS & TRICKS BIOPSI
 Gunakan elektrokauter setelah spesimen diperoleh
 Jaringan untuk sampel harus adekuat
 Fiksasi jaringan sampel dengan formalin 10%
 Pemberian marker pada bahan biopsi sebagai
orientasi letak tumor pada organ

Formalin 10% untuk


fiksasi jaringan

36
TIPS & TRICKS BIOPSI

Pemberian marker pada


bahan biopsi

Container larutan Michael sebagai


transporter jaringan
untuk pemeriksaan IHK
37
Langkah setelah Biopsi

Pemeriksaan
Jaringan PA atau
Terapi
Hasil Fiksasi Imunohistoki
Definitif
Lanjutan
Biopsi mia

Tujuan pemeriksaan patologi ini adalah untuk menentukan


apakah lesi tersebut ganas atau jinak, dan membedakan jenis
histologisnya.

Spesimen yang diperoleh difiksasi dalam larutan formalin 10% dengan


perbandingan volume minimal 1:5, dan semua bagian spesimen harus
terendam dalam larutan formalin
 Kondisi ideal : (pathologist ada pada setiap
rumah sakit : macroscopic evaluation in fresh
(unfixed) tissue.
 Pemeriksaan spesimen segar sebaiknya < 30
minutes
 Durasi fiksasi: minimum 8 Jam (biopsy tissue),
maximum 48 Jam – 72 Jam (large specimen)
Pemeriksaan Penunjang
 Darah lengkap
 Faal hemostasis
Komplikasi Biopsi
a. Perdarahan
 Bila hemostasis tidak baik, dapat terjadi
perdarahan di daerah operasi.
 Pada insisional biopsi tumor, mudah terjadi
perdarahan. Bila perdarahan merembes dan tidak
dapat dijahit (jaringan rapuh), dilakukan penekanan
dan balut tekan diatas titik perdarahan.

b.Infeksi
 Infeksi dapat muncul bila tehnik aseptik tidak
dilaksanakan dengan tepat, atau sudah ada infeksi
di daerah yang di biopsi
Perawatan Pasca Bedah

 Awasi tanda – tanda perdarahan.


 Perawatan Luka – terutama jika terjadi
infeksi.
Follow - Up

 Evaluasi atas hasil pemeriksaan patologi


anatomi
DAFTAR PUSTAKA
 Modul Panduan Kolegium Ilmu Bedah Indonesia,KIBI. 2016
 Sjamsuhidajat ; de Jong . Buku Ajar Ilmu Bedah . Jakarta. EGC. 2010
 Gershenwald Jeffrey E and Ross Merrick I. Sentinel-Lymph-Node
Biopsy for Cutaneous Melanoma. The New England Journal of
Medicine. October. 2016.
 Melempati Suman et all. Bone marrow aspiration and biopsy. The New
England Journal of Medicine. January. 2015
 Krans Brian and Kim Steven, Biopsy Overview , Publisher :
December 9, 2015
http://www.healthline.com/health/biopsy#Overview1
TERIMA KASIH