Anda di halaman 1dari 24

1

 Klasifikasitingkat resiko kebakaran


berdasarkan bahan bangunan, banyaknya
bahan yang disimpan di dalamnya, serta sifat
dan kemudahan terbakarnya. Juga
ditentukan oleh jumlah penghuninya.
 Kategori :
- Bahaya kebakaran ringan
- Bahaya kebakaran sedang
- Bahaya kebakaran berat

2
 Terjadi pada hunian dan pada lokasi dimana
jumlah bahan mudah terbakar (kelas A)
sedikit (minoritas), mayoritas bahan di ruang
tersebut adalah bahan yang sukar terbakar
(lantai, besi, beton, kaca).
 Dapat juga terjadi pada kondisi terdapat
bahan kelas B sangat sedikit dan bahan
tersebut disimpan pada tempat yang tertutup
dengan aman (tidak terbuka, tidak tercecer).
 Termasuk di dalamnya adalah bahan berupa
perabotan, bangunan atau ruangan yang
dihuni seperti kantor, ruang kelas, ruang
pertemuan dan lainnya.
3
 Terjadi pada hunian dan terjadi pada lokasi
dimana jumlah bahan mudah terbakar kelas A
dan B lebih banyak dari bahaya kebakaran
ringan dan mayoritas bahan di ruang tersebut
sukar terbakar, maka bahaya kebakarannya
meningkat.
 Hunian ini dapat berada di toko tata niaga
dan penyimpanan gabungan, showroom
mobil, parkir garasi, workshop atau
warehouse.

4
 Lokasi dimana jumlah bahaya kelas A dan B
berada di gudang, tempat produksi dan di
barang yang sudah selesai.
 Hunian ini dapat berupa tempat perbaikan
kendaraan, berisi pesawat terbang dan
tempat melakukan perbaikan/maintenance
kapal laut dan lainnya.

5
PERATURAN MENTERI TENAGA KERJA DAN
TRANSMIGRASI No : PER.04/MEN/1980 TENTANG
SYARAT-SYARAT PEMASANGAN DAN PEMELIHARAN
ALAT PEMADAM API RINGAN

6
 Alat yang ringan serta mudah dilayani oleh
satu orang untuk memadamkan api pada
mula terjadinya kebakaran.
 Jenis APAR menurut bahan dasarnya terdiri
dari :
a. Bahan dasar cair: air, foam (busa);
b. Bahan dasar padat: dry chemical;
multipurpose dry chemical;
c. Bahan dasar gas atau Hidrokarbon
berhalogen: CO2, N2, Ar

7
SAFETY PIN LEVER (tuas)
(kunci pengaman)
PRESSURE GAUGE
HOSE (indikator tekanan)
(selang)
LABEL

NOZZLE CYLINDER
(corong) (tabung)

8
 APAR diklasifikasikan sesuai dengan tujuan
penggunaannya pada empat kelas api/empat kelas
kebakaran (A, B, C, D).
 Semua APAR berperan dengan suatu daya padam yang
menunjukkan kecocokan pemadamannya untuk
digunakan pada suatu kelas api tertentu.
 Penggunaan APAR disesuaikan dengan kelas
api/golongan kebakarannya, yaitu :
a. APAR jenis A untuk pemadaman kebakaran kelas A
b. APAR jenis B untuk pemadaman kebakaran kelas B
c. APAR jenis C untuk pemadaman kebakaran kelas C
d. APAR jenis D untuk pemadaman kebakaran kelas D

9
 Kelas A adalah kebakaran dari jenis bahan padat kecuali
logam. Ciri jenis kebakaran meninggalkan arang dan abu.
Unsur bahan terbakar biasanya mengandung karbon.
- Contoh : Kayu, kertas, karton/kardus, kain, kulit, plastik
- Aplikasi media pemadaman yang cocok adalah bahan jenis
basah yaitu “AIR”.
 Kelas B adalah kebakaran dari jenis bahan cair atau gas
yang mudah terbakar. Unsur bahan terbakar mengandung
hidrokarbon dari produk minyak bumi dan turunan
kimianya.
- Contoh : bahan bakar, bensin, lilin, gemuk, minyak tanah,
thinner.
- Aplikasi media pemadaman yang cocok untuk bahan cair
adalah bahan jenis “BUSA”, atau Tepung kimia kering atau
Gas CO2.

10
 Kelas C adalah kebakaran pada listrik yang
bertegangan.
- Aplikasi media pemadam yang cocok untuk kelas C
adalah bahan jenis kering yaitu “Tepung kimia kering,
gas CO2”.
 Kelas D adalah kebakaran dari bahan logam.
Prinsipnya semua benda dapat terbakar termasuk
logam, hanya tergantung pada nilai titik nyalanya.
- Contoh logam seperti : Magnesium, Titanium,
Zirconium, Sodium, Lithium dan Potassium.
- Bahan pemadam untuk kebakaran logam tidak dapat
menggunakan air dan bahan pemadam umumnya.
Aplikasi media pemadaman yang cocok prinsip
kerjanya menutup permukaan bahan yang terbakar
dengan cara menimbun dengan “dry powder”.
11
GUNAKANLAH APAR YANG TEPAT DENGAN KELAS KEBAKARAN
AIR KIMIA HALON
BUSA CO2
KERING 1211

Kayu, kertas, kain,   


A  
plastik, sampah, dll. TEPAT SEKALI API AWAL
Bahan cair yang
mudah terbakar B     
yang tak larut
Bahan cair yang
mudah terbakar  
yang larut di air :
B   
aceton, alkohol, dll. BUSA KHUSUS
Bahan gas : LPG,     
C
LNG
Peralatan yang D     
bermuatan listrik
Kendaraan bermotor     
INTERIOR INTERIOR & MESIN INTERIOR & MESIN INTERIOR & MESIN INTERIOR & MESIN
12
13
 Apar harus ditempatkan di tempat yang memenuhi syarat
sebagai berikut :
a. Dipasang pada tempat yang mudah dilihat, mudah
dijangkau, mudah diambil serta menggantung pada
dinding;
b. Dipasang pada ketinggian 1,2 m dari handle pegangan
APAR ke muka lantai (kecuali jenis CO2 dan tepung
kering (dry chemical) dapat ditempatkan lebih rendah
dengan syarat, jarak antara dasar alat pemadam api
ringan tidak kurang 15 cm dan permukaan lantai)
c. Ditempatkan setiap jarak 15 m;
d. Berada pada jalan keluar evakuasi dan dekat area
berbahaya;
e. Tidak terkena sinar matahari langsung, hujan dan
disimpan pada suhu ≥ -44 ºC sampai ≤49 ºC;
f. Tidak terkunci;
14
g. Memperhatikan jenis dan sifat bahan yang dapat
terbakar;
h. Efek terhadap keselamatan dan kesehatan orang yang
menggunakannya;
i. Tiap APAR diberi tanda yang seragam di atasnya agar
mudah diketahui orang;
j. Area bawah sekitar APAR harus bebas dari benda-benda,
dapat dengan memberikan garis strip-strip kuning;
k. Setiap alat pemadam api ringan harus diperiksa 2 (dua)
kali dalam setahun, yaitu:pemeriksaan dalam jangka 6
(enam) bulan & pemeriksaan dalam jangka 12 (dua
belas) bulan;dengan dilengkapi bukti pemeriksaan
berupa tag/kartu periksa berwarna;
l. Alat pemadam beroda tidak perlu ditempatkan di
dinding, handle pembawanya juga tidak ditempel di
dinding serta dibuat menghadap keluar agar mudah
diambil.

15
Pemeliharaan APAR secara umum dilakukan dengan
melakukan pemeriksaan/pengecekan rutin dan
penggantian isi.
Pemeriksaan /pengecekan meliputi:
 Isi Tabung
 Tekanan Tabung
 Segel APAR
 Kondisi Bagian Luar Tabung: Handle, Label, Nozzle,
Hose/selang
 Kondisi Petunjuk Cara Pemakaian APAR
Setiap jenis APAR dilakukan pemeriksaan yang secara
teknis berbeda setiap 6 bulan dan dilakukan pemeriksaan
tambahan pada setiap 12 bulan.
16
Pengisian ulang APAR :
a.Untuk jenis asam soda, busa, bahan kimia, harus
diisi setahun sekali;
b.Untuk jenis cairan busa yang dicampur lebih dahulu
harus diisi 2 (dua) tahun sekali;
c.Untuk jenis tabung gas hydrocarbon berhalogen,
tabung harus diisi 3 (tiga tahun sekali, sedangkan
jenis Iainnya diisi selambat-lambatnya 5 (lima)
tahun

 Teknis pengisian masing-masing jenis APAR


dilakukan dengan cara yang berbeda-beda

17
 Semua alat pemadam api ringan (APAR) sebelum
diisi kembali, harus dilakukan pemeriksaan sesuai
ketentuan dan kemungkinan harus dilakukan
tindakan sebagai berikut:
- Isinya dikosongkan secara normal;
- Setelah seluruh isi tabung dialihkan keluar, katup
kepala dibuka dan tabung serta alat-alat
diperiksa.
 Tanggal, bulan dan tahun pengisian, harus dicatat
pada badan alat pemadam api ringan tersebut.
 Alat pemadam api ringan ditempatkan kembali
pada posisi yang tepat.

18
a. Pemadaman harus dari arah angin, jangan melawan arah
angin;
b. Dry chemical disemprotkan ke pusat api dengan
mengibaskan ujung nozel;
c. Air bertekanan, disemprotkan ke sumber api (untuk
listrik tidak boleh digunakan sebelum aliran stroom
diputuskan);
d. Busa/foam, disemprotkan ke dinding atau bagian pinggir
luar tempat kebakaran, untuk menutup permukaan yang
terbakar dengan sempurna sekali (tertutup seluruhnya).
Jangan sekali menyemprotkan busa ke permukaan cairan
yang terbakar;
e. Gas CO2 disemprotkan ke sumber api dengan
menggerakkan nozel agar dapat menutup seluruh
permukaan yang terbakar sampai nyala api padam;
f. Yang memadamkan api harus dekat dengan pintu keluar
untuk menyelamatkan diri serta menggunakan sarana
alat pelindung diri yang cukup.

19
1. Untuk setiap alat pemadam api ringan dilakukan
percobaan secara berkala dengan jangka waktu
tidak melebihi 5 (lima) tahun sekali dan harus
kuat menahan tekanan coba menurut ketentuan
ayat (2),(3), dan ayat (4), pasal ini selama 30 (tiga
puluh) detik.
2. Untuk alat pemadam api jenis busa dan cairan
harus tahan terhadap tekanan coba sebesar 20 kg
per cm2.
3. Tabung gas pada alat pemadam api ringan dan
tabung bertekanan tetap (stored pressure) harus
tahan terhadap tekanan coba sebesar satu
setengah kali tekanan kerjanya atau sebesar 20 kg
per cm2 dengan pengertian. kedua angka tersebut
dipilih yang terbesar untuk dipakai sebagai
tekanan coba.
20
Untuk alat pemadam api ringan jenis Carbon Dioxida (CO2)
harus dilakukan percobaan tekan dengan syarat:
a. percobaan tekan pertama satu setengah kali tekanan
kerja;
b. percobaan tekan ulang satu setengah kali tekanan kerja;
c. jarak tidak boleh dari 10 tahun dan untuk percobaan kedua
tidak lebih dari 10 tahun dan untuk percobaan tekan
selanjutnya tidak boleh lebih dari 5 tahun.
Apabila alat pemadam api jenis carbon dioxida (CO2) setelah
diisi dan oleh sesuatu hal dikosongkan atau dalam keadaan
dikosongkan selama lebih dan 2 (dua) tahun terhitung dan
setelah dilakukan percobaan tersebut pada ayat (4),
terhadap alat pemadam api tersebut harus dilakukan
percobaan tekan ulang sebelum diisi kembali dan jangka
waktu percobaan tekan berikutnya tidak boleh lebih dari 5
(lima) tahun.

21
(6) Untuk tabung-tahung gas (gas containers)
tekanan cobanya harus memenuhi ke tentuan
seperti tersebut ayat (4) pasal ini.
(7) Jika karena sesuatu hal tidak mungkin
dilakukan percobaan tekan terhadap tabung
alat pemadam api dimaksud pasal 15 ayat (6)
di-atas, maka tabung tersebut tidak boleh
digunakan sudah 10 (sepuluh) tahun
terhitung tanggal pembuatannya dan
selanjutnya dikosongkan.

22
(8) Tabung-tabung gas (gas containers) dan
jenis tabung yang dibuang setelah digunakan
atau tabungnya telah terisi gas selama 10
(sepuluh) tahun tidak diperkenankan dipakai
lebih lanjut dan isinya supaya dikosongkan.
(9) Tabung gas (tabung gas containers) yang
telah dinyatakan tidak memenuhi syarat
untuk dipakai lebih lanjut harus
dimusnahkan.

23
24