Anda di halaman 1dari 21

JOURNAL READING

Aspirin plus Heparin or Aspirin Alone


in Women with Recurrent Miscarriage

Oleh :
Alief Mandala Utama-30101306861
Pembimbing Klinik : Kolonel Ckm dr. Rahmat Saptono, Sp.OG
KEPANITERAAN ILMU OBSETRI DAN GINEKOLOGI
RST MAGELANG
FK UNISSULA SEMARANG
Identitas Jurnal
Judul : Aspirin plus Heparin or Aspirin Alone in Women with
Recurrent Miscarriage

Peneliti : Stef P. Kaandorp, M.D., Mariëtte Goddijn, M.D., Ph.D., Joris A.M. van der Post, M.D., Ph.D.,
Barbara A. Hutten, Ph.D., Harold R. Verhoeve, M.D., Karly Hamulyák, M.D., Ph.D., Ben Willem Mol, M.D.,
Ph.D., Nienke Folkeringa, M.D., Ph.D., Marleen Nahuis, M.D., Dimitri N.M. Papatsonis, M.D., Ph.D., Harry R.
Büller, M.D., Ph.D., Fulco van der Veen, M.D., Ph.D., and Saskia Middeldorp, M.D., Ph.D.

Tanggal Publikasi : 24 Maret 2010

Publikasi oleh : The New England Journal of Medicine (NEJM)


Abstrak
Latar Belakang : data penelitian RCT tentang aspirin dan
molekul rendah dapat meningkatkan angka kelahiran hid
dg riwayat keguguran berulang masih terbatas.

Metode : 364 wanita antara usia 18 dan 42 tahun yang memiliki


riwayat keguguran berulang yang tidak diketahui penyebabnya
dan diusahakan untuk hamil atau hamil kurang dari 6 minggu.
Secara acak mereka mendapatkan 80 mg aspirin ditambah nadroparin
secara subkutan (dengan dosis dari 2.850 IU,segera setelah adanya
tanda kehamilan), 80 mg aspirin tunggal, atau plasebo.

Hasil : Rerata kelahiran hidup tidak berbeda secara signifikan


antara ketiga kelompok penelitian.

Kesimpulan : Aspirin dikombinasikan dengan nadroparin atau aspirin


tunggal tidak dapat meningkatkan angka kelahiran hidup,
dibandingkan dengan plasebo pada wanita dengan keguguran berulang
yang tidak diketahui penyebabnya
Latar Belakang

Intervensi telah diusulkan pada wanita dengan


keguguran berulang dan sindrom antifosfolipid,
pengobatan dengan aspirin dan heparin dapat
memperbaiki hasil kehamilan, meskipun ditemukan
dari penelitian RCT yang ada hasilnya tidak
konsisten.
Metode Penelitian
Duble blind, Multi Center Trial, RCT
Sebanyak 364 wanita dilakukan pengacakan secara
terpusat oleh program komputer dengan minimalisasi
untuk usia ibu (<36 atau ≥36 tahun) dan jumlah
keguguran (2 atau ≥3), dikelompokkan menurut pusat
penelitian

Sebanyak 123 kelompok kombinasi terapi, 120 kelompok


aspirin tunggal, dan 121 kelompok plasebo

Secara acak mendapatkan 80 mg aspirin ditambah


nadroparin secara subkutan (dengan dosis dari 2.850
IU,segera setelah adanya tanda kehamilan), 80 mg aspirin
tunggal, atau plasebo.
Kriteria Inklusi

Memiliki riwayat
Berusaha hamil
Wanita usia keguguran
atau hamil atau
berulang (minimal
18 hingga 42 2x sebelumnya)
umur kehamilan
kurang dari 6
tahun yang tak diketahui
minggu.
penyebabnya
Pemeriksaan faktor V Leiden
dan mutasi protrombin G20210A
dan aktivitas plasma protein C,
protein S, dan antitrombin

Informed Consent tertulis


Kriteria Ekslusi

Wanita yang memiliki Wanita dengan diabetes


trombolisme arteri mellitus atau disfungsi
atau vena, tiroid tanpa pengobatan
Hasil
Diskusi

Efek samping paling utama adalah memar


dan bengkak atau gatal di tempat suntikan,
terjadi di hampir setengah wanita pada
kelompok terapi kombinasi.
Hipotesis bahwa wanita dengan keguguran berulang yang tak
diketahui penyebabnya akan mendapatkan manfaat dari
aspirin, heparin, atau keduanya didasarkan pada sebuah
presumpsi bahwa kondisi ini mungkin disebabkan oleh
trombosis pada pembuluh desidua.

Dalam perkembangan jaringan vili


plasenta yang diperoleh dari wanita, baik
aspirin dan heparin dilaporkan dapat
melemahkan apoptosis trofoblas.
Penelitian lain

Peneliti menilai manfaat heparin berat molekul rendah pada wanita


dengan keguguran berulang.

170 wanita dengan keguguran berulang, angka kelahiran


hidup secara signifikan lebih tinggi pada wanita yang
menerima enoxaparin daripada yang menerima plasebo
(81% vs 48%).
Kesimpulan

Baik aspirin dikombinasikan dengan nadroparin atau aspirin tunggal


tidak dapat meningkatkan angka kelahiran hidup,
dibandingkan dengan plasebo pada wanita dengan keguguran berulang
yang tidak diketahui penyebabnya.
CRITICAL APPRAISAL
• JUDUL:
Aspirin plus Heparin or Aspirin Alone in
Women with Recurrent Miscarriage

Judul sesuai ketentuan < 20 kata, tidak terlalu


panjang dan tidak terlalu pendek, tidak ada
kalimat yang disingkat dan mewakili isi penelitian
ABSTRAK
 Abstrak > 250 kata
dan sudah
menggambarkan isi
jurnal.
 Terdiri dari 4
paragraf meliputi :
– Background
– Methods
– Results
– Conclusion
 Tidak
mencantumkan kata
kunci.
METODE PENELITIAN DAN
SAMPLING

• Sampling

Metode • Sebanyak 364 wanita


dilakukan pengacakan
Penelitian secara terpusat oleh
program komputer
dengan minimalisasi
Randomized untuk usia ibu (<36 atau
Controlled Trial ≥36 tahun) dan jumlah
keguguran (2 atau ≥3),
dikelompokkan menurut
pusat penelitian.
• POPULATION
P • Sebanyak 364 wanita yang terdaftar, dengan 123
kelompok kombinasi terapi, 120 kelompok aspirin
tunggal, dan 121 kelompok plasebo.

• INTERVENTION

I • Heparin berat molekul rendah dibentuk dari


nadroparin (Fraxiparine, GlaxoSmithKline)
diberikan secara subkutan dengan dosis harian
2850 IU
• COMPARATION

C
• Aspirin tunggal dalam bentuk kalsium
carbasalate (Ascal, Meda Pharma) dosis
harian 100 mg, yang setara dengan 80 mg
asam asetilsalisilat.
• OUTCOME
• Aspirin dikombinasikan dengan nadroparin

O
atau aspirin tunggal tidak dapat
meningkatkan rata – rata angka kelahiran
hidup, dibandingkan dengan plasebo pada
wanita dengan keguguran berulang yang
tidak diketahui penyebabnya.
BUKTI VALID
Pertanyaan
Apakah alokasi pasien pada Ya
penelitian ini dilakukan secara
acak?
Apakah pengamatan pasien Ya
dilakukan secara cukup panjang
dan lengkap?
Apakah semua pasien dalam Tidak
kelompok yang diacak, dianalisis?
Apakah pasien dan dokter tetap Tidak
blind dalam melakukan terapi,
selain dari terapi yang diuji?
Apakah kelompok terapi dan kontrol Tidak
sama?
BISA DITERAPKAN
Dapat Diterapkan
Apakah pada pasien kita terdapat Ya
perbedaan bila dibandingkan
dengan yang terdapat pada
penelitian sebelumnya?

Apakah terapi tersebut mungkin Tidak


dapat diterapkan pada pasien
kita?
Apakah pasien memiliki potensi Menguntungkan
yang menguntungan atau
merugikan bila terapi tersebut
diterapkan?