Anda di halaman 1dari 35

Dinas Kesehatan Provinsi DKI Jakarta

2017
GAMBARAN SITUASI TERKINI
KASUS DIFTERI DI PROVINSI DKI
JAKARTA TAHUN 2017
Trend Kasus Difteri di Prov DKI
Jakarta Th 2014-2017
Trend Kasus Difteri di Provinsi DKI Jakarta Tahun 2014-2017
JUMLAH

2014 2015 2016 2017


TAHUN
2016: 17 kasus
2015: 10 kasus
2014: 4 kasus
2017 : 92 kasus
terkonfirmasi
Distribusi Difteri di Provinsi DKI Jakarta Tahun 2017
JUMLAH

Jakarta Pusat Jakarta Utara Jakarta Barat Jakarta Selatan Jakarta Timur Kep. Seribu
WILAYAH KOTA/KAB
DISTRIBUSI KASUS DIFTERI DKI JAKARTA PER KECAMATAN
MENURUT HASIL PEMERIKSAAN LAB (SD 13-12-2017)

KASUS PROBABLE DIFTERI KLINIS KASUS KONFIRMASI


DIFTERI :
DIAGNOSIS & TATA LAKSANA
Difteri
Kuman Penyebab Corynebacterium diphtheriae
Sumber penularan Manusia (Penderita/Carrier)

Cara penularan Kontak dengan penderita pada masa


inkubasi
Kontak dengan Carrier
Melalui pernafasan (droplet infection,
muntahan, luka (difteri kulit)- Mencemari
tanah sekitarnya, kulit
Masa Inkubasi 2 – 5 hari (1 – 5 hr)
Masa penularan  Dari penderita : 2 – 4 minggu (sejak masa
inkubasi)
 Dari Carrier bisa sampai 6 bulan
Kematian  Komplikasi (Myocarditis)
 Rata2: 5-10%
Klasifikasi Difteri :
• Kasus probable (klinis) adalah kasus yang
menunjukkan gejala-gejala demam, sakit
menelan dan selaput (pseudomembran) putih
keabu-abuan, yang tidak mudah lepas dan mudah
berdarah
• Kasus konfirmasi adalah :
a) kasus konfirmasi laboratorium adalah kasus
probable disertai hasil lab positif,
b) Kasus konfirmasi hub epidemiologi adalah
kasus probable yang ada hub epidemiologi
dengan kasus konfirmasi lab
GEJALA KLINIS
•Variasi gejala: tanpa gejala  hipertoksik &
fatal
•Faktor-faktor:
•primer: imunitas, virulensi
•toksinogenesitas., lokasi anatomis
•lain-lain: umur, peny sistemik penyerta,
kepadatan hunian, peny pada
nasofaring
•tanda klinik :
•Demam <38,50 C , tidak tinggi
• nyeri telan
•Membaik dalam 5 hari
Difteri hidung biasanya ringan dan kronis dengan
salah satu rongga hidung tersumbat dan terjadi
ekskoriasi

Pada kasus sedang dan berat ditandai dengan :

• Bullneck (pembengkakan dan edema di leher)


• Pseudomembran pada trakea secara ekstensif sehingga terjadi
obstruksi jalan nafas
Scanned by CamScanner
Scanned by CamScanner
Scanned by CamScanner
Laboratorium
• Diambil sampel di bawah membran
• Spesimen harus langsung ditransportasikan ke
lab (media transportasi Amie’s)
Diagnosis banding
• Faringitis membranosa
– Nyeri tenggorok streptokokus berat, vincent’s
angina atau demam glandular, faringitis
streptokokus, infeksi mononukleosis
• Laringitis membranosa
• adanya benda asing,
komplikasi
1. Obstruksi jalan nafas
2. miokarditis
3. Palatum molle paralisis
4. Paralisis saraf kranial: diplopia, strabismus
5. Paralisis saraf perifer: tangan, kaki
6. Acute kidney injury
7. Endocarditis
8. Arthritis
9. osteomileitis
Alur tatalaksana kasus susp. Difteri
(update terkini kemenkes & rapim
dinkes dki)
Susp. difteri

probable Klinis bukan difteri

Puskesmas :
Tata laksana sesuai diagnosis
- Melakukan swab
- Rujuk RS
- Lapor sudinkes
- Melaksanakan PE
NOTE :
Pasien difteri pulang
RS : rawat inap, 1 bulan
- Melakukan swab kemudian mendapatkan
- Tata laksana difteri imunisasi difteri
- Lapor sudin
Tatalaksana Kasus

• Difteri Laring/Faring/Tonsil
– Diisolasi
– Anti toksin: ADS (test sensitivitas lebih dulu)
– Terapi Curative selama 14 hari:
• Eritromysin 40 - 50 mg/kgbb/hr mak 2 g/hr
• Atau PP-G 25rb – 50rb U/kgbb/hr max 1.2 jt dibagi dalam 2
dosis
– Suportif
• Difteria kulit
– cleansing dan terapi antimikrobial 10 hari
1. antitoksin; serum anti difteri (ADS) segera secara intramuskuler (kadar
maksimal tercapai setelah 4 hari) atau intravena diencerkan dalam 200
ml garam faali dan diberikan selama 4 jam, sediakan adrenalin 1:1000
dalam semprit, kortikosteroid; didahului tes kulit/tes konjungtiva
Dosis ADS: 20.000 – 120.000 KI :
•20.000 ringan difteri nasal dan permukaan
•60.000 sedang : beslag sedang
•100.000-120.000 berat: beslag luas, bullneck,toksik
Dosis anti-toksin
Type of diphtheria Dose (units) Route
Nasal 10 - 20 000 IM
Tonsillar 15 - 25 000 IM/IV
Pharyngeal or laryngeal 20 - 40 000 IM/IV
Combined or delayed 40 - 60 000 IV
Severe diphtheria 40 - 100 000 IV/both

Details in HPA Immunoglobulin handbook available at:


http://www.hpa.org.uk/infections/topics_az/immunoglobulin/pdfs/
diphtheria.pdf
• Resiko lama Pemberian:
– 24-48 jam kematian : 4%
– Hari ke-3 kematian : 16,1%
– >3 hari kematian : 29,9%
2. antimikrobial: untuk menghentikan produksi toksin
Procain penic 50.000 – 100.000 KI/Kg/hari atau
eritomisin 50 mg/Kg/hari selama 10 hari

* ERITROMISIN
• dosis : 50 mg/kg BB/hari
• waktu pemberian : 4xsehari
• lama pemberian : 7 – 10 hari
• cara pemberian : sehabis makan
• anak-anak : sirup 250 mg x 4 /hari
• dewasa : 500 mg x /hari
• pantauan : PMO
• side efek : mual dan diare
3. kortikosteroid: kontroversi
4. pengobatan penyulit/komplikasi
terutama ditujukan menjaga hemodinamika tetap baik
mengatasi gangguan fungsi pompa jantung
NGT pada paralisis palatum mole
Mengatasi gangguan fungsi ginjal
Pengobatan paralisis perifer
Tatalaksana bedah

Sumbatan jalan nafas berat


• O2 100%
• Trakeostomi dan perawatannya

Sumbatan jalan nafas sedang


• Deksametason 1 mg/kgBB/kali
• inhalasi

Sumbatan jalan nafas ringan


• Inhalasi
Surgical management
PENCEGAHAN :
• Bayi dan Baduta :
Bayi (0-11 bulan) wajib mendapatkan 3 dosis
imunisasi dasar DPT-HB-Hib pada usai 2, 3
dan 4 bulan. Kemudian dilanjutkan dengan 1
dosis DPT-HB-Hib pada usia 18 bulan
• Anak SD/sederajat :
Kelas 1 wajib mendapatkan 1 dosis imunisasi
DT. Kelas 2 dan 5 mendapatkan imunisasi
Td.
• Dewasa :
Imunisasi ulang tiap 10 tahun sekali. Dengan
vaksin Td
Jadwal imunisasi anak
• Sekian dan terimakasih