Anda di halaman 1dari 43

PEREKAHAN HIDRAULIK

Difinisi : Suatu teknik stimulasi untuk memperbaiki atau meningkatkan


produktivitas sumur

Materi Kuliah :
1. Mekanika batuan
2. Fluida perekah dan additive
3. Proppant
4. Model Geometri perekahan
5. Analisa perekahan
PENENTUAN SUMUR-SUMUR UNTUK
HYDRAULIC FRACTURING
1. Volume hidrokarbon (cadangan hidrokarbon) dalam formasi
yang akan direkahkan tersebut masih cukup besar (ekonomis)
untuk dilakukannya pekerjaan tersebut.

2. Sumur yang akan dilakukan pekerjaan hydraulic fracturing masih


mempunyai tekanan reservoar yang cukup untuk mengalirkan
fluida reservoar ke dalam rekahan kemudian masuk ke dalam
lubang sumur.

3. Sumur yang diproduksikan dari lapisan yang permeabilitasnya


rendah

4. Sumur dengan kerusakan formasi yang disebabkan oleh proses


pemboran (invasi padatan lumpur, invasi filtrat lumpur), proses
penyemenan (invasi filtrat semen), proses perforasi (pecahan
formasi)
  F/A

I. Mekanika Batuan
Batuan yang ada di alam akan mengalami tegangan-tegangan yang diakibatkan
oleh gaya-gaya yang bekerja atau dikenakan terhadapnya

Gaya-gaya yang bekerja dalam batuan


a. Stress
Stress didefinisikan sebagai perbandingan antara gaya yang bekerja dengan
bidang kontak gaya tersebut (gaya persatuan luas).

 =F/A F1

Keterangan : = Normal stresses


 = Stress, (psi) = Shear stresses

F = Gaya yang bekerja, (lb)


F2 A
A = Luas bidang kontak, (inch2)

F3
b. Strain
Strain didefinisikan sebagai besarnya deformasi suatu material ketika sebuah stress
diterapkan pada material tersebut.
c. Overburden strees
Tekanan overburden merupakan tekanan yang dialami batuan yang terjadi
sebagai akibat tekanan lapisan batuan di atasnya dan tekanan fluida dalam pori
yang mendesak.

H
 v  g   z dz  gh
0

Gradien rata-rata = 0,95 – 1,1 psi/ft


Harga 1,1 jika semua formasi dengan berat jenis 165 lb/ft3 atau 165/144 =1,1
c. Efektif stress
Effective stress (σ’v) yaitu stress yang dialami oleh pori-pori batuan

 ' v   v   .Pres
α = konstanta poroelastic biot (1956) yang kebanyakan reservoir mempunyai harga
sekitar 0.7.

d. Stress horizontal efektif Poisson’s ratio =


Lateral strain
Longitudinal strain
P1

v = poisson ratio X L
Y
2 X
X=

Undeformed Deformed Y=
Y
d. Stress horizontal

e. stress minimum absolutnya

f. Stress hor max absolut

σtect = kontribusi dari gaya tektonik bumi


Tekanan Perekahan

Besarnya tekanan di permukaan yang diperlukan untuk perekahan batuan


adalah :

Dimana :

Pwh.i = Tekanan perekah di permukaan, (psi)


Pw = Tekanan perekah di dasar sumur, (psi)
Pf = Kehilangan tekanan akibat friksi dalam pipa, (psi)
Ppf = Kehilangan tekanan akibat friksi antara fluida perekah dengan perforasi, (psi)
Ph = Tekanan hidrostatik fluida perekah, (psi)
Kehilangan tekanan akibat friksi dalam pipa yang dilalui fluida perekah
(Pf) dihitung dengan persamaan :

dimana :
ff = Fanning friction factor = 16/NRe (aliran laminar)
= (aliran turbulen)
n = Power law index, n’ Newtonian = 1
ρ = Densitas fluida perekah, (lb/ft3)
L = Panjang pipa yang dilalui fluida perekah (tubing/casing), (ft)
U = Supervicial velocity, 17.17 qi/d2
Kehilangan tekanan akibat friksi antara fluida perekah dengan lubang
perforasi (Ppf) :

Dimana :
qi = Laju injeksi,bpm (q<0.5 bpm, Ppf dapat diabaikan)
N = Jumlah lubang perforasi, (spf)
Dp = Diameter perforasi, (inch)

Tekanan hidrostatik fluida perekah :


Arah rekahan :
Persamaan-persamaan di atas menerangkan bahwa terdapat tiga stress utama yaitu
: stress vertikal (σv ), stress horisontal minimum (σHmin ) , dan stress horisontal
maksimum (σHmax ); dimana arah rekahan akan tegak lurus dengan harga stress
terkecil dari ketiganya
Holden & Graves : Stress tangensial sepanjang tepian sumur adalah dua kali
stress horizontal didekatnya. Dengan demikian jika akan membuat rekahan stress
ini dan tensile stress harus dilawan.

Tekanan frakture = Pbf = 2 σ h + To = (2v/(1-v)) x σ v + σ tec

Rekahan horizontal terjadi jika : Pbf > σ v atau

(2v/(1-v)) x σ v + σ tec > σ v

Dengan anggapan gradien tekanan = 1 psi/ft, v = 0,25, σ tec = 1000 psi

Tentukan kedalaman maksimum rekahan horizontal


FLUIDA PEREKAH
FLUIDA PEREKAH
Fungsi fluida perekah :
Menyalurkan tenaga pompa ke formasi batuan.
Memulai perekahan dan memperluas rekahan.
Membawa dan menempatkan proppant.

Sifat fluida perekah yang diinginkan :


Memiliki harga viskositas cukup besar, yaitu 100 – 1000 cp pada
temperatur normal.
Cocok dengan formasi batuan dan fluidanya.
Dapat menciptakan lebar rekahan yang cukup untuk ditempati
proppant (terutama di dekat lubang bor : lebar rekahan minimum
3 kali diameter proppant).
Dapat mempertahankan viskositasnya selama perekahan dan
dapat pecah setelah proses selesai.
Mudah dibersihkan dari formasi.
Harganya relatif murah.
Rheologi fluida perekah
Tujuan : Untuk mendapatkan viscositas yang cukup memadai
Berdasarkan hubungan shear stress () dan shear rate (), fluida di alam
dapat dikelompokan menjadi tiga macam :
1. Newtonian
2. Bingham Plastic
3. Power Law.

Fluida Newtonian
 = (δu/ δy) = μ 
Fluida Non Newtonian
Fluida jenis ini besarnya viscositas tergantung laju alirannya

Bingham plastic :  = μ  +  
  = yield point (untuk fluida newtonian = 1)

Power low
 = K n
Dimana :

K = Consistensi indeks, lbf sec/ft2


n = Power low indeks (untuk newtonisn, n = 1)

n = 3,32 log (Ǿ600/Ǿ300)


K = (Ǿ300/511n)
Hubungan Shear Stress dan Shear Rate Fluida Power Law pada Log-log Plot
Contoh:
Berdasarkan pengukuran dengan viscometer didapatkan hasil sbb :

Ǿ600 = 64, Ǿ300 = 35

Hitung : PV, Yp, n, K

Penyelesaian :
PV = Ǿ600 - Ǿ300 = 64 -35 = 29 cp
Yp = Ǿ300 – PV = 35 – 29 = 6 lb/100 ft2
N = 3,32 log (Ǿ600/Ǿ300) = 3,32 log (64/35) = 0,870
K = Ǿ300/511n = 35/5110,870 = 0,154
Jenis – Jenis Additive pada perekahan hidrolik

1. Thickener , berupa polimer yang ditambahkan sebagai pengental


fluida dasar. Contohnya adalah guar, HPG (Hydroxypropyl Guar
Gum), CMHPG (Carboxymethyl Hydroxypropyl Guar), HEC
(Hydroxyethylcellulose) dan Xantan gum.

2. Crosslinker , (pengikat molekul agar rantai menjadi panjang)


diperlukan untuk meningkatkan viskositas. Biasanya organometalic
atau transition metal compounds yang biasanya borate, titan dan
zircon

3. Buffer , (pengontrol pH) pH harus berkisar 9, yang didapat dari


pencampuran dengan basa seperti NaOH, NH4OH, asam asetat
dan asam sulfamic (HSO3NH3).
4. Bactericides/biocides , (anti bakteri) dimana bakteri penyerang
polimer merusak ikatan polimer dan mengurangi viskositasnya,
perlu ditambahkan anti bakteri seperti glutaraldehyde,
chlorophenate squaternaryamines dan isothiazoline. Bactericides
tidak dipergunakan apabila fluida dasarnya minyak.

5. Gelling agent , (pencampur gel) untuk menghindari mengumpulnya


gel, gel dicampur terlebih dahulu dengan 5% methanol atau
isopropanol
6. Fluid Loss additive , fluid loss harus diperkecil. formasi
homogen, biasanya sudah cukup dengan filter cake yang
terbentuk di dinding formasi.Material yang umum dipakai
antara lain : pasir 100-mesh, silica fluor (325-mesh)

7. Breakers , untuk memecahkan rantai polimer sehingga menjadi


encer (viskositasnya kecil) setelah penempatan proppant
FLUIDA PEREKAH BERBAHAN DASAR AIR

Beberapa keuntungan manggunakan fluida perekah


berbahan dasar air yaitu :
1. Tidak ada resiko kebakaran
2. Tersedia dalam jumlah yang banyak dan harganya
murah
3. Dapat menggurangi friction loss
4. Viskositasnya rendah (mudah untuk dipompakan)
5. Specific gravity air yang tinggi akan memberikan
kekuatan penopang yang lebih besar propping agent.
FLUIDA PEREKAH BERBAHAN DASAR
MINYAK

Oil base fluid digunakan sebagai fluida perekah mempunyai


keuntungan sebagai berikut :
1. Mempunyai viscositas yang tinggi sebagai sifat
alamiahnya.
2. Rate injeksi yang rendah untuk peretakan dangkal
atau dalam.
3. Dapat dijual kembali setelah pemakaian.
FLUIDA PEREKAH BERBAHAN DASAR ASAM

Acid base fluid secara umum mengikuti pola dari water


base fluid, beberapa keuntungan yang diperoleh antara
lain :
1. Reaksinya lamban.
2. Tidak terlalu mahal.
3. Viscositasnya tinggi dan mudah didapat.
PEMOMPAAN FLUIDA PEREKAH

PREPAD yaitu fluida dengan


viscositas rendah dan tanpa
proppant, berfungsi untuk memulai
membuat rekahan, serta
mendinginkan formasi.

PAD yaitu fluida dengan viskositas


yang lebih tinggi dan tanpa
proppant, sebagai pembuka rekahan
sebab viskositas yang tinggi dapat
mengurangi leak-off.

SLURRY yaitu fluida dengan


viskositas lebih tinggi, membawa
proppant hingga ke dalam rekahan.

FLUSH merupakan fluida pendesak


slurry untuk masuk keformasi dan
merupakan fluida bervikositas
tinggi.
PEMOMPAAN FLUIDA PEREKAH
Tahapan
Membuat rekahan pada formasi
Pre-pad
Pad
Slury
Flush
PROPPANT
Merupakan material berbentuk butiran-butiran seperti pasir alam,
ceramic proppant, resin coated proppant, yang digunakan untuk
mengganjal rekahan agar tidak menutup kembali.
Jenis-jenis proppant :
Pasir Alam
Ottawa (Jordan, White)sands
Brady (Texsan, Hickory) Sands
Ceramic Proppant
Sintered Bauxite,
Intermediate Density Ceramics
Low Density Ceramics
Resin Coated Proppant
Pre-cured Resins
Curable Resins
DASAR PEMILIHAN PROPPANT

Beberapa hal penting yang dapat dijadikan acuan dalam pemilihan


proppant adalah :
Mempunyai compressive strength yang cukup dan dapat menahan
beban formasi untuk memastikan rekahan yang baik
Ukuran maksimal dan jarak partikel yang kecil sehingga
memudahkan injeksi ke dalam rekahan
Berukuran “bola” seragam
Sesuai dengan semua jenis fluida formasi dan semua zat kimia
yang digunakan selama proses berlangsung
Mempunyai SG antara 0.8-3.0
Banyak tersedia dan harga terjangkau
SIFAT FISIK PROPPANT YANG
MEMPENGARUHI KONDUKTIVITAS
REKAHAN
 Kekuatan proppant, proppant harus dapat menahan closure
stress.
 Ukuran proppant, dimana semakin besar ukuran proppant,
biasanya memberikan permeabilitas yang semakin baik.
 Kualitas proppant, dimana prosentase kandungan impurities
yang besar dapat memberikan pengaruh pada proppant pack.
 Bentuk butiran proppant, Semakin bulat dan halus
permukaannya, semakin tahan tekanan.
 Konsentrasi (densitas proppant), yang akan berpengaruh dalam
transportasi proppant dan penempatannya dalam rekahan,
dimana proppant dengan densitas yang tinggi akan
membutuhkan fluida berviskositas tinggi untuk mentransport ke
dalam rekahan.
Pasir alami yang dipakai sebagai material pengganjal
adalah pasir Ottawa dan pasir Brady.

Ottawa (Jordan, White)sands, dengan spesifikasi:


1. Bundar sekali (well rounded), kadar quartz tinggi.
2. Sanggup menahan berat
3. SG =2.65

B. Brady (Texsan, Hickory) Sands, dengan spesifikasi:


1. Agak tak rata bulatnya (angularity), kadar quartz tinggi
2. Sanggup menahan berat
3. SG = 2.65
Proppant jenis ini merupakan Proppant buatan yang
difungsikan untuk dapat menahan stress batuan
yang tinggi.
A. Sintered Bauxite, dengan spesifikasi:
1. Bisa dipakai untuk temperatur tinggi, sumur dalam dan sour
(mengandung H2S)
2. Untuk Stress sampai di atas 1200 psi
3. SG = 3.65

B. Intermediate Density Ceramics (keramik berdensitas sedang), dengan


spesifikasi:
1. Lebih ringan, lebih murah dari Sintered Bauxite
2. Dipakai sampai Stress 10000 psi
3. SG = 3.15

C. Low Density Ceramics (keramik berdensitas rendah), dengan spesifikasi:


1. Berat hampir sama dengan pasir (SG =2.7)
2. Stress sampai dengan 6000 psi
3. Banyak digunakan di Alaska
Macam-macam proppant ini adalah pre-cure resins
dan curable resins.

Pre-cured Resins
1. Mengurangi kerusakan karena brittle (mudah pecah)
2. SG = 2.55
3. Resin dapat menahan pasir yang hancur (sehingga fines sedikit)
4. Proppant abrasiveness (kekasaran) agak berkurang

B. Curable Resins
1. Digunakan terutama untuk bagian belakang membuntuti slurry
Proppant untuk mencegah Proppant mengalir balik ke sumur
2. Setelah membeku akan membentuk masa yang terkonsololidasi
dengan daya tahan besar
GEOMETRI PEREKAHAN

Volume rekahan dibatasi oleh besarnya kehilangan tekanan


dalam peralatan dalam sumur.
Luas rekahan tergantung kepada besarnya laju injeksi serta
terutama pada sifat fluida perekah (koefisien fluida perekahan, C)
Model rekahan 2 Dimensi :
Model untuk panjang rekahan yang lebih besar dari tinggi
rekahan (xf > hf), model Perkin dan Kern (1961) dan Nordgren
(1972) atau yang lebih dikenal dengan model PKN.
Model dengan (xf < hf) yang digunakan adalah Khristianovic
dan Zheltov (1955) dan Geertsma dan de Klerk (1969) atau yang
lebih dikenal dengan model KGD.
MODEL PKN
Panjang rekahan satu sayap:
 
 w 2 S  q
 p i
x   
 2 )erfc(  )  2  1
 exp( 
f 2
4h f C L   

Lebar rekahan rata-rata:


Dengan asumsi bahwa
shape faktor : w = /5 w(0)

 
E'  w 
Pnet  Pf  
(0) 
(2h )
f
1
1 n' n' 1  n' 1  n' .x  (2n' 2)
(2n' 2) (2n' 2) 1  2.14n'  (2n' 2) (2n' 2)  q i .h f f 
w  9.15  3.98    K' 
(0)  n'   E' 
 
MODEL KGD

Dengan asumsi bahwa

shape faktor : w = /4 w(0)

 
E'  w 
Pnet  Pf   (0) 
(4X )
f

Lebar rekahan rata-rata

n' 1
1 n' 1
 q n' .x 2  ( 2n'2)
 11 .1
2n'2   3.24
2n'2  1  2n'  2n' 2  K' 2n' 2   i f 
w
( 0)  n'   h n' .E ' 
 f 
TINJAUAN KEBERHASILAN
HYDRAULIC FRACTURING
Ukuran atau parameter indikator yang menunjukkan ada tidaknya
peningkatan produktivitas formasi :
Faktor skin (S),
Permeabilitas formasi rata-rata (Kavg),
Inflow Performance Relationship curve (IPR),
Perbandingan Productivity Index (PI), dan perbandingan laju alir
(q) sebelum dan sesudah perekahan dengan tekanan alir dasar
sumur (Pwf) yang sama.
KERUSAKAN FORMASI

Kerusakan di sekitar lubang sumur dapat disebabkan oleh


proses pemboran ( invasi lumpur, adanya clay dalam formasi),
proses penyelesaian sumur (invasi filtrat semen, perforasi),
proses produksi (clay, scale, parafin), proses workover dan
kerusakan akibat bakteri di formasi di sekitar lubang sumur
Pengaruh skin dapat dihitung dengan persamaan :
P1hr  Pwf k
S  1.151(  log( )  3.23)
m crw2
Pskin  0.87mS

Skin berharga positif (+) berarti ada kerusakan (damage)


Skin berharga negatif (–) berarti menunjukkan adanya
perbaikan
PERHITUNGAN PERMEABILITAS FORMASI
RATA-RATA SETELAH PEREKAHAN

 Dengan asumsi terdapat suatu rekahan


horizontal yang simetris pada zona dengan
permeabilitas yang seragam, maka
permeabilitas formasi rata-rata dapat dihitung

 re 
Log  
K avg   rw 
1 Xf  1  re 
log   Log  
 k Xf 
kf  w 
r for  
INFLOW PERFORMANCE
RELATIONSHIP (IPR)

KURVA IPR SEBELUM & SETELAH PEREKAHAN


SUMUR "X"

sebelum perekahan setelah perekahan

4000
3500
3000
2500
Pwf, psi

2000
1500
1000
500
0
0 100 200 300 400 500
Qo, BPD
METODE PERBANDINGAN PI
1. Metode Prats
Metode ini adalah salah satu metode yang
digunakan untuk melihat perbandingan indeks
produktivitas sebelum dan sesudah perekahan

 re 
ln 
r  
J
  w 

Jo  re 
ln  
 0,5 L 
 f 
2. Metode McGuire Dan Sikora