Anda di halaman 1dari 33

REFreshing

SEPSIS NEONATORUM

DOKTER PEMBIMBING:
dr. Desiana, Sp.A

DISUSUN OLEH:
Dera Seta Saputri
2013730024
DEFINISI

Sepsis neonatorum adalah


sindrom klinis yang terjadi akibat
invasi mikroorganisme ke dalam
aliran darah, dan timbul pada
satu bulan pertama kehidupan.
EPIDEMIOLOGI
Angka kejadian sepsis di negara yang sedang
berkembang masih cukup tinggi (1,8-18/1000
kelahiran) dibanding dengan negara maju.

Kejadian meningkat pada BKB dan BBLR.


Sepsis pada BBLAR (<1000 gram), yaitu 26
per 1000 kelahiran.

Di RS Cipto Mangunkusumo, angka kejadian


sepsis neonatal memperlihatkan angka yang
tinggi (13,01%) dan kematian mencapai 14%.
ETIOLOGI
Sepsis Neonatorum Awitan Dini (SNAD) 
umumnya bakteri berasal dari traktus
genitalia maternal yang tidak menyebabkan
penyakit pada ibu.

Sepsis Neonatorum Awitan Lambat (SNAL)


 disebabkan oleh infeksi nosokomial,
seperti Staphylococcus coagulase negatif,
Enterococcus sp., Staphylococcus aureus,
Streptococcus grup-B, E.coli, dan Listeria
monocytogenes.
KLASIFIKASI
SEPSIS

Sepsis
EOS LOS Nosokomial

Timbul dalam 3 hari


Timbul setelah umur 3
pertama, berupa gangguan Ditemukan pada bayi
hari, lebih sering diatas
multisistem dengan gejala risiko tinggi yang
1 minggu. Pada sepsis
pernapasan yang dirawat, berhubungan
awitan lambat,
menonjol; ditandai dengan dengan monitor invasif
biasanya ditemukan
awitan tiba-tiba dan cepat dan berbagai teknik
fokus infeksi dan sering
berkembang menjadi syok yang digunakan
disertai dengan
septik dengan mortalitas diruang rawat intensif.
meningitis
tinggi.
KLASIFIKASI
Sepsis neonatorum awitan dini
• Terjadi pada usia ≤ 72 jam
• Biasanya disebabkan oleh mikroorganisme
yang berasal dari ibu, baik saat kehamilan
maupun selama proses persalinan
Sepsis neonatorum awitan lambat
• Terjadi pada usia ≥ 72 jam
• Disebabkan oleh mikroorganisme yang berasal
dari lingkungan sekitar bayi, termasuk infeksi
nosokomial.
Kecurigaan besar sepsis:
• Bayi umur sampai dengan usia 3 hari
Riwayat ibu dengan infeksi rahim,
demam dengan kecurigaan infeksi
berat, atau ketuban pecah dini.
Bayi memiliki dua atau lebih gejala
yang tergolong dalam kategori A, atau
tiga atau lebih gejala pada kategori B.
• Bayi usia lebih dari 3 hari
Bayi mempunyai dua atau lebih
temuan kategori A atau tiga atau lebih
temuan kategori B.
Kelompok temuan yang berhubungan dengan
sepsis
PATOFISIOLOGI
Mikroorganisme atau kuman penyebab infeksi dapat
mencapai neonatus melalui beberapa cara yaitu:

1. Pada masa antenatal atau sebelum lahir


Pada masa antenatal kuman dari ibu setelah
melewati plasenta dan umbilikus masuk ke dalam
tubuh bayi melalui sirkulasi darah janin. Penyebab
infeksi adalah virus yang dapat menembus plasenta,
antara lain: virus rubella dan influenza. Bakteri yang
melalui jalur ini adalah Treponema pallidum (sifilis).
Parasit yang melalui jalur ini, antara lain Toxoplasma
gondii (toksoplasma) dan Plasmodium (malaria).
PATOFISIOLOGI
2. Pada masa intranatal atau saat persalinan
Infeksi saat persalinan terjadi karena kuman yang
ada pada vagina dan serviks naik mencapai korion
dan amnion. Akibatnya terjadi amnionitis dan
korionitis, selanjutnya kuman melalui umbilikus
masuk ke tubuh bayi. Cara lain yaitu pada saat
persalinan, infeksi pada janin dapat terjadi melalui
kulit bayi atau port de entre, saat bayi melewati
jalan lahir yang terkontaminasi oleh kuman
(misalnya: Herpes simplex virus (Herpes genetalia),
Candida albicans (candidiasis), dan Neisseria
gonorrhoeae (gonorrhea).
FAKTOR RISIKO
FAKTOR RISIKO MINOR
FAKTOR RISIKO
MAYOR • Usia gestasi < 34
minggu
• Ketuban pecah >24 • Nilai APGAR rendah
jam (menit ke-5 <3)
• Ibu demam saat • Ketuban pecah > 18
intrapartum, suhu >38 jam
˚C • Bayi berat lahir sangat
• Korioamnionitis rendah (BBLSR) <1500
• Denyut jantung janin gram
menetap >160 • Keputihan yang tidak
kali/menit diobati*
• Ketuban berbau • Infeksi saluran kemih
(ISK) atau tersangka
GEJALA KLINIS
Gejala klinis sepsis neonatorum tidak spesifik,
berhubungan dengan karakteristik kuman
penyebab dan respon tubuh terhadap masuknya
kuman, seperti :
• Hipertermia
• Distres pernapasan
• Hepatomegali
• Letargi
• Muntah
• Diare
• Distensi abdomen
DIAGNOSIS
ANAMNESIS
 Riwayat ibu mengalami infeksi interauterin,
demam dengan kecurigaan infeksi berat atau
ketuban pecah dini
 Riwayat persalinan tindakan, penolong
persalinan, lingkungan persalinan yang kurang
higienis
 Riwayat lahir asfiksia berat, bayi kurang bulan,
berat lahir rendah
 Riwayat air ketuban keruh, purulen, atau
bercampur mekonium
 Riwayat bayi malas minum, penyakitnya cepat
memberat
PEMERIKSAAN FISIK
Keadaan umum Kulit
• Suhu tubuh tidak normal • Sianosis, petekie, purpura,
(lebih sering hipotermia) ruam, sklerema, ikterik
• Letargi atau lunglai,
mengantuk atau aktivitas Kardiopulmonal
berkurang • Takipneu, distress respirasi
• Malas minum setelah (napas cuping hidung,
sebelumnya minum dengan merintih, retraksi), takikardi,
baik hipotensi
• Iritabel atau rewel
• Kondisi memburuk secara Neurologis
cepat dan dramatis • Iritabilitas, penurunan
kesadaran, kejang,ubun-
Gastrointestinal ubun membonjol, kaku
• Muntah, diare, perut kuduk sesuai dengan
kembung, hepatomegali meningitis.
PEMERIKSAAN PENUNJANG
1. Kultur
• Pemeriksaan kultur bisa diambil dari
darah, urin, cairan serebrospinal
• Hasil kultur sampai saat ini menjadi baku
emas dalam menentukan diagnosis,
tetapi hasil pemeriksaan membutuhkan
waktu minimal 2-5 hari
• Hasil kultur dipengaruhi juga oleh
kemungkinan pemberian antibiotik
sebelumnya atau adanya kemungkinan
kontaminasi kuman nosokomial. Pastikan
kedua hal tidak terjadi, maka kultur positif
(kuman) berarti sepsis.
PEMERIKSAAN PENUNJANG
2. Pemeriksaan darah perifer lengkap
• Leukositosis (leukosit N; 5000/ʯL –
30.000/ʯl), 60 % pasien sepsis terjadi
perubahan hitung neutrofil: sensitifitas
rasio neutrofil imatur/total (I/T) (N <0,2).
Usia 1 hari 3 hari 7 hari 14 hari 1 bulan
IT rasio 0,16 0,12 0,12 0,12 0,12

• Trombositopenia (trombosit < 100.000) 


terjadi 1-3 minggu setelah diagnosis sepsis
ditegakkan. (Trombosit N > 150.000 /ʯl)
PEMERIKSAAN PENUNJANG

3. CRP (C- reactive protein)


Terjadi peningkatan CRP pada 24 jam setelah terjadi
sepsis, meningkat pada hari 2-3 sakit dan menetap
tinggi sampai infeksi teratasi. Peningkatan kadar
tersebut menandakan adanya kerusakan jaringan
akibat infeksi. Nilai CRP normal, yaitu 1 mg/dL atau
10 mg/L).

4. Procalcitonin (PCT)
Procalcitonin sangat berguna untuk menentukan
terjadinya sepsis pertama kali karena biasanya
procalcitonin akan meningkat pada 48 jam setelah
PENATALAKSANAAN
Penatalaksanaan Infeksi Bakteri
• Pemberian antibiotik kombinasi terhadap pasien yang
mempunyai sensitifitas baik terhadap kuman gram (+)
dan (-).
• Lini I : Ampisilin sulbactam dan gentamisin
• Lini II : Piperazillin-Tazobactam dan amikasin
• Lini III : Meropenem

Penatalaksanaan Infeksi Jamur


• Amphotericin B IV, 14-21 hari. 0,25-0,5 mg/kg/hari
• Fluconazol IV, ±14 hari . 6-12 mg/kg/dosis
PENATALAKSANAAN
Penatalaksanaan Tambahan
1. Pemberian Imunoglobulin secara intravena (IVIG)
Dosis anjuran : 500-750 mg/kgBB IVIG dosis tunggal

2. Transfusi tukar
a. Prosedur untuk menukarkan sel darah dan plasma
resipien dengan sel darah merah dan plasma
donor.
b. Darah yang digunakan :
• Whole blood
• Segar (optimalnya < 3 hari, max 5-7 hari), bebas
CMV
• Ht minimal 45-50 %, antikoagulan = CPD
Algoritma Sepsis Neonatorum

Gejala klinik Gejala klinik


sepsis (+) sepsis (-)

Antibiotik (+)
(Sebelumnya dilakukan Faktor risiko (+) Faktor risiko (-)
Septic Workup) 1 mayor atau 2 minor

Periksa Septic Marker


Observasi

Normal Meragukan Abnormal


Abnormal
Normal Meragukan (minimal 2
septic marker)

Ulang Septic Ulang Septic


Kultur
Marker Marker
12-24 jam 12-24 jam

Normal Abnormal Antibiotik


Normal

Stop bila
kultur (-)
Observasi
PROGNOSIS
Dengan diagnosis dan pengobatan dini
pada bayi, maka dapat meghindari sepsis
yang berkepanjangan, namun bila tanda
klinis dan/atau adanya faktor risiko yang
berpotensial menimbulkan infeksi tidak
terdeteksi, maka angka kesakitan dan
kematian dapat meningkat.
REFreshing
Hipotermia pada neonatus

DOKTER PEMBIMBING:
dr. Desiana, Sp.A

DISUSUN OLEH:
Dera Seta Saputri
2013730024
DEFINISI

Hipotermia adalah keadaan


dimana bayi dengan suhu badan
dibawah normal. Adapun suhu
normal pada neonatus
adalah 36,5o-37,5oC.
KLASIFIKASI
• Hipotermia Ringan : Suhu <36o C
• Hipotermia Sedang : Suhu 320-36o C
• Hipotermia Berat : Suhu <32o C
diperlukan termometer ukuran rendah
yang dapat mengukur sampai 25o C.
ETIOLOGI
• Jaringan lemak subkutan tipis
• Kehilangan panas yang berlebihan seperti
lingkungan atau cuaca dingin
• Luas permukaan tubuh pada bayi baru lahir
relatif besar sehingga penguapannya
bertambah.
• Kurangnya metabolisme untuk menghasilkan
panas tubuhnya
• Otot bayi masih lemah
• Asfiksia yang hebat
• Resusitasi yang ekstensif
• Distress pernafasan
Mekanisme perpindahan panas pada
Hipotermia
TANDA DAN GEJALA
Hipotermi memiliki gejala sebagai berikut :
a. Bayi tidak mau menetek.
b. Bayi tampak lesu atau mengantuk saja.
c. Tubuh bayi teraba dingin.
d. Dalam keadaan berat, denyut jantung
bayi menurun dan kulit tubuh bayi mengeras
(sklerema).
e. Bayi menggigil.
f. Suhu (aksila) bayi turun dibawah 36 ̊C
g. Kulit pucat
Anamnesis Pemeriksaan Klasifikasi
Fisik
• Bayi terpapar • Suhu tubuh 32- Hipotermia
suhu lingkungan 36,4 ̊C sedang
yang rendah • Gangguan
napas
• Waktu timbulnya • Denyut jantung
< 2 hari < 100x/menit
• Malas minum
• Letargi
• Bayi terpapar • Suhu tubuh Hipotermia berat
suhu lingkungan 32 ̊C
yang rendah • Tanda
hipotermia
• Waktu timbulnya sedang
< 2 jam • Kulit teraba
PENANGANAN HIPOTERMIA
• Mengeringkan tubuh bayi dengan cepat mulai dari
kepala dan seluruh tubuh.
• Tubuh bayi segera dibungkus dengan selimut, topi
atau tutup kepala, kaos tangan dan kaki.
• Bayi diletakkan telungkup di dada ibu agar terjadi
kontak kulit langsung ibu dan bayi (metode
kanguru)
• Bila tubuh bayi masih dingin, segera
menghangatkan bayi di dalam inkubator atau
melalui penyinaran lampu.
• Periksa suhu bayi setiap jam.
• Pemberian ASI sedini dan sesering mungkin.
AKIBAT YANG DAPAT DITIMBULKAN
•Kebutuhan oksigen yang meningkat
•Metabolisme meningkat sehingga metabolisme
terganggu
•Gangguan pembekuan darah sehingga
meningkatkan pulmonal yang menyertai
hipotermi berat
•Syok
•Apnea
•Perdarahan Intra Ventrikuler
•Hipoksemia dan berlanjut dengan kematian
PENCEGAHAN HIPOTERMIA
• Keringkan bayi dengan seksama.
• Selimuti bayi dengan selimut atau kain bersih dan
hangat, serta segera mengganti handuk atau kain
yang dibasahi oleh cairan ketuban.
• Selimuti bagian kepala
• Tempatkan bayi pada ruangan yang panas. Suhu
ruangan atau kamar hendaknya dengan suhu
28 ̊C – 30 ̊C untuk mengurangi kehilangan panas
karena radiasi.
• Anjurkan ibu untuk memeluk dan menyusui
bayinya.
• Jangan segera menimbang atau memandikan bayi
TERIMA KASIH