Anda di halaman 1dari 13

Angiofibroma

nasofaring juvenile
via ariani 220112170050
DEFINISI

Juvenile Nasopharyngeal Angiofibroma


(JNA) adalah tumor jinak pembuluh darah di
nasofaring yang secara histologis jinak namun
secara klinis bersifat ganas.
ETIOLOGI

Penyebab tumor ini belum diketahui secara jelas.


▸ Teori jaringan asal tumbuh
▸ Teori hormonal
KLASIFIKASI

▸ Klasifikasi menurut Session adalah :


▸ Stadium IA : Tumor terbatas di nares posterior
dan atau nasofaringeal voult.
▸ Stadium IB : Tumor meliputi nares posterior
dan atau nasofaringeal voult dengan meluas
setidaknya satu sinus paranasal.
▸ Stadium IIA : Tumor meluas sedikit ke fossa
pterigomaksila.
▸ Stadium IIB : Tumor memenuhi
pterigomaksila tanpa mengerosi tulang
orbita.
▸ Stadium IIIA : Tumor telah mengerosi
dasar tengkorak dan meluas sedikit ke
intrakranial.
▸ Stadium IIIB : Tumor telah meluas ke
intrakranial dengan atau tanpa meluas
ke sinus kavernosus.
Manifestasi klinis

- Hidung tersumbat yang bersifat progresi


- Epistaksis berulang dan rinore kronik.
- Rinolalia,
- Anosmia,
- Sefalgia,
- Tuli konduktif,
- Deformitas wajah,
- Proptosis
- Diplopia.
- Sumbatan jalan nafas.
PENATALAKSANAAN TUNA DAKSA




Operasi
Radioterapi
Hormonal

 Sitostatika
 Embolisasi
 Ligasi arteri karotis eksterna
Pemeriksaan penunjang

▸ Radiologi
▸ Ct-scan
▸ Mri
▸ Arteriografi
▸ Angiografi
komplikasi

Teknik operasi dengan menggunakan


transpalatal yang dilakukan untuk tumor
stadium I dan II dapat mengakibatkan
gangguan fungsi palatum. Pendekatan
rinotomi lateral memberikan lapangan
pandang operasi yang lebih baik, tetapi dapat
mengakibatkan sikatrik yang mengganggu
kosmetik.
PENGKAJIAN

a. Data umum
b. Riwayat kesehatan
c. Faktor herediter atau riwayat kanker pada
keluarga
d. Lingkungan
e. Kebiasaan memasak
f. Golongan sosial ekonomi yang rendah
Diagnosa keperawatan

▸ Nyeri berhubungan dengan kompresi/destruksi


jaringan saraf
▸ Gangguan sensori persepsi berubungan dengan
gangguan status organ sekunder
▸ Nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan
dengan anoreksia, mual muntah sekunder
▸ Resiko infeksi berhubungan dengan
ketidakadekuatan pertahanan sekunder
imunosupresi
▸ Resiko terhadap perdarahan berhubungan dengan
gangguan sistem hematopoetik
Daftar pustaka
Doenges, Marilynn E. (2000). Rencana Asuhan Keperawatan :
Pedoman untuk Perencanaan dan pendokumentasian
Perawatan Pasien. Alih bahasa I Made Kariasa. Ed. 3.
Jakarta : EGC
Efiaty Arsyad Soepardi & Nurbaiti Iskandar.(2001). Buku Ajar Ilmu
Kesehatan : Telinga Hidung Tenggorok Kepala Leher.
Jakarta : Balai Penerbit FKUI
NANDA International. (2012). Diagnosis Keperawatan: Definisi, Dan
Klasifikasi 2012-2014/Editor, T. Heather Herdman; Alih
Bahasa, Made Sumarwati, Dan Nike Budhi Subekti ; Editor
Edisi Bahasa Indonesia, Barrah Bariid, Monica Ester, Dan
Wuri Praptiani. Jakarta; EGC.
Smeltzer Suzanne C. (2012). Buku Ajar Keperawatan Medikal
Bedah Brunner & Suddarth. Jakarta : EGC