Anda di halaman 1dari 19

REFERAT

DISMENORE

Ibnu Fajar Sidik

Pembimbing : dr. Helmina, Sp. OG

Kepaniteraan Klinik Ilmu Kebidanan & Kandungan


Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Jakarta
RS Islam Jakarta Cempaka Putih
2017
Definisi
 Dismenore berasal dari kata Yunani dys, yang berarti sulit / menyakitkan /
tidak normal, meno, berarti bulan, dan rrhea, yang berarti aliran.

 Dismenore menurut American Congress of Obstetricians and Gynecologists


(ACOG) didefinisikan sebagai kondisi nyeri selama menstruasi yang dapat
mengganggu aktivitas sehari-hari.

 Dismenore adalah nyeri kram daerah perut mulai terjadi pada 24 jam
sebelum terjadinya perdarahan haid dan dapat bertahan selama 24-36 jam.
Kram tersebut terutama dirasakan didaerah perut bagian bawah tetapi
dapat menjalar kepunggung atau permukaan dalam paha
Epidemiologi

 Amerika Serikat
Dismenore dapat mempengaruhi lebih dari setengah wanita
haid, dan prevalensi yang dilaporkan telah sangat bervariasi.
Sebuah survei dari 113 pasien dalam praktek pengaturan
keluarga menunjukkan prevalensi dismenore dari 29-44%,
tetapi angka prevalensi setinggi 90% pada wanita berusia 18-45
tahun.

 Indonesia
Di Indonesia angka kejadian dismenore sebesar 64.25 % yang
terdiri dari 54,89% dismenore primer dan 9,36 % dismenore
sekunder (Info sehat, 2014).
Klasifikasi

Dismenore Primer Dismenore Sekunder

(esensial,intrinsik,idiopatik) (ekstrinsik,yang
tidak terdapat hububungan diperoleh,acquired)
dengan kelainan disebabkan oleh kelainan
ginekologik ginekologik.
Dismenore Primer
Etiologi

 Etiologinya belum jelas tetapi umumnya berhubungan dengan


siklus ovulatorik. Beberapa faktor yang diduga berperan dalam
timbulnya dismenore primer yaitu:

 Prostaglandin
 Hormon steroid seks
 Sistim saraf (neurologik)
 Vasopresin
 Psikis
 penyebab dismenore sekunder yang besifat intrauterin:

 Adenomyosis
 Myomas
 Polyps
 Penggunaan Intrauterine Devices (IUD)
 Infeksi
 penyebab dismenore sekunder yang bersifat ekstrauterin :
 Endometriosis
 Tumor
 Inflamasi
 Adhesions
 Psikogenik
 Pelvic congestive syndrome
 Non–gynecology
Diagnosis
 Sejarah sangat penting dalam menentukan diagnosis
dismenore dan harus mencakup penilaian dari awal,
lama, jenis, dan keparahan nyeri. Sejarah menstruasi
menyeluruh juga penting dan harus mencakup :
 usia menarche
 keteraturan siklus
 lama siklus
 periode menstruasi terakhir
 durasi
 dan jumlah aliran menstruasi
Perbandingan gejala Dismenore Primer dengan Dismenore
Sekunder
Dismenore Primer Dismenore Sekunder
 Usia lebih muda  usia lebih tua
 timbul segera setelah terjadinya  tidak tentu
siklus haid yang teratur
 sering pada nulipara  tidak berhubungan dengan paritas
 nyeri sering terasa sebagai kejang  nyeri terus-menerus
uterus dan spastik
 nyeri timbul mendahului haid,
meningkat pada hari pertama dan  nyeri mulai pada saat haid dan
kemudian dengan keluarnya darah meningkat bersamaan dengan
menghilang bersamaan haid keluarnya darah haid.
 sering memberikan
responsterhadap pengobatan  sering memerlukan tindakan
medika mentosa operatif
 sering disertai mual, muntah, diare,
kelelahan dan nyeri kepala.  Tidak
Penatalaksanaan
 Obat-obatan
Wanita dengan dismenore primer banyak yang dibantu dengan
mengkonsumsi obat anti peradangan bukan steroid (NSAID) yang
menghambat produksi dan kerja prostaglandin. Obat itu termasuk aspirin,
formula ibuprofen yang dijual bebas, dan naproksen.

 Rileksasi
Dalam kondisi rileks tubuh juga menghentikan produksi hormon adrenalin
dan semua hormon yang diperlukan saat kita stress. Karena hormon seks
esterogen dan progesteron serta hormon stres adrenalin diproduksi dari
blok bangunan kimiawi yang sama, ketika kita mengurangi stres kita juga
telah mengurangi produksi kedua hormon seks tersebut.
 Hipnoterapi
Salah satu metode hipnoterapi adalah mengubah
pola pikir dari yang negatif ke positif. Pendekatan
yang umumnya dilakukan adalah memunculkan
pikiran bawah sadar agar latar belakang
permasalahan dapat diketahui dengan tepat.
Instruksikan diri sendiri dengan mengubah pola pikir
bahwa Menstruasi itu tidak harus sakit. Selama ini
jika pikiran terpola bahwa menstruasi itu sakit, maka
benar-benar sakit.
 Alternatif pengobatan
 Suhu panas merupakan ramuan tua yang patut dicoba.
Gunakan heating pad (bantal pemanas),serta minum
minuman yang hangat. Mandi air hangat juga dapat
membantu.
 Tidur dan istirahat yang cukup, serta olah raga teratur
(termasuk banyak jalan).
 Pada kasus yang sangat jarang dan ekstrim, kadang
diperlukan eksisi pada saraf uterus.
 Sebagai tambahan, aroma terapi dan pemijatan juga dapat
mengurangi rasa tidak nyaman. Mendengarkan musik,
membaca buku atau menonton film juga dapat menolong.6
Komplikasi

 Jika diagnosis dismenore sekunder tidak diketemukan,


patologi yang mendasari dapat menyebabkan morbiditas
meningkat, termasuk kesulitan untuk hamil
Prognosis
 Prognosis untuk dismenore primer sangat baik dengan
penggunaan NSAID.
 Prognosis untuk dismenore sekunder bervariasi,
tergantung pada proses penyakit yang mendasarinya.
Kesimpulan
 Dismenore primer diderita oleh sekitar 50% wanita
usia reproduksi dengan siklus ovulatorik. Titik tolak
dismenore primer menurut kedokteran barat adalah
ketidakseimbangan hormon seks steroid (E2/P) yang
menimbulkan rangkaian perubahan patologik sistemik
dengan hasil akhir terjadinya peningkatan kadar PG.
 Nyeri haid atau dismenore merupakan suatu keadaan medis yang nyata dan
dapat mengganggu wanita jika tidak diatasi dengan benar.

 Nyeri haid atau dismenore dapat dibagi menjadi beberapa bagian.

Berdasarkan jenis nyeri: Dismenore spasmodik atau kejang; Dismenore


kongestif atau pegal menyiksa.

Berdasarkan ada tidaknya kelainan atau sebab yang dapat dikenali:


Dismenore primer; Dismenore sekunder.

 Beberapa pengobatan yang dapat menghilangkan atau minimal mengurangi


nyeri haid antara lain: Obat-obatan; Relaksasi; Hipnoterapi; Dan beberapa
alternatif atau pengobatan tambahan seperti : kompres air hangat, olah raga
teratur, terapi visualisasi, aroma terapi, pemijatan, dan lain-lain.
DAFTAR PUSTAKA

1. Wiknjosastro H, Saifuddin B, Rachimhadi, Trijatmo. Gangguan Haid dan


Siklusnya. Edisi kedua, cetakan ketiga.Yayasan Bina Pustaka Sarwono
Prawirodiharjo. Jakarta. 1999. Hal 229-231
2. Junizar Galya, Sulianingsih, K Dharma, Widya. Pengobatan Dismenore Secara
Akupuntur. KSMF Akupuntur Rumah Sakit Umum Pusat Nasional Dr.
Ciptomangunkusumo Jakarta. Cermin Dunia Kedokteran No. 133, 2001.
3. Ayu Debrytha, dismenore sekunder pada endometrosis
.http://debrythaayu.blogspot.com/2009/04/tentang-dismenore-
sekunder.html. retrieved from the web in april 24, 2009.
4. http://www.acog.org/publications/patient_education/bp046.cfm Retreived
from the web in December 2006
5. Andre, MD. Dismenore http://emedicine.medscape.com/article/795677.
Retreived from the web in jan 28,2009.
6. Kingston, Beryl. 1991. Mengatasi Nyeri Haid. Jakarta. Arcan