Anda di halaman 1dari 57

Pemicu Agama 2

AKU TAK SANGGUP LAGI


Pitri Erlina Lay
405110177
LO
1. Mengetahui Definisi, Penyebab, Mekanisme (prosedur)
Euthanasia
2. Mengetahui dan menjelaskan konsep (pro & kontra)
Euthanasia
3. Mengetahui dan menjelaskan
A. Kedudukan jiwa dlm agama tentang Euthanasia
B. Ajaran 5 agama
5. Mengetahui dan menjelaskan Pandangan hukum
tentang Euthanasia & Contoh-contoh kasus Euthanasia
6. Mengetahui dan menjelaskan kode etik dokter
terhadap pasien Euthanasia
7. Solusi
Sejarah euthanasia
• Sekitar tahun 400 sebelum Masehi, sebuah sumpah
yang terkenal dengan sebutan “The Hippocratic Oath”
yang dinyatakan oleh seorang Fisikawan Hipokrates
Yunani, dengan jelas mengatakan:
• “Saya tidak akan memberikan obat mematikan pada
siapapun, atau menyarankan hal tersebut pada
siapapun.”- The Hippocratic Oath

• Sekitar abad ke-14 sampai abad ke-20, Hukum Adat


Inggris yang dipetik oleh Mahkamah Agung Amerika
tahun 1997 dalam pidatonya:
• “Lebih jelasnya, selama lebih dari 700 tahun, orang
Hukum Adat Amerika Utara telah menghukum atau
tidak menyetujui aksi bunuh diri individual ataupun
dibantu.” – Chief Justice Rehnquist
Sejarah euthanasia
• Tahun 1920, terbitnya buku berjudul “Permitting the Destruction of Life not Worthy
of Life”. Dalam buku ini, Alfred Hoche, M.D., Dosen Psikologi dari Universtas
Freiburg, dan Karl Binding, Dosen Hukum dari Universitas Leipzig, memperdebatkan
bahwa seorang pasien yang meminta untuk diakhiri hidupnya harus, dibawah
pengawasan ketat, dapat memperolehnya dari seorang pekerja medis. Buku ini
men-support euthanasia non-sukarela yang dilakukan oleh Nazi Jerman

• Tahun 1935, The Euthanasia Society of England, atau Kelompok Euthanasia Inggris,
dibentuk sebagai langkah menyetujui euthanasia.

• Tahun 1939, Nazi Jerman memberlakukan euthanasia secara non-sukarela. Hal ini
akan dibahas pada bab selanjutnya.

• Tahun 1955, Belanda sebagai negara pertama yang mengeluarkan Undang-Undang


yang menyetujui euthanasia, dan diikuti oleh Australia yang melegalkannya di
tahun yang sama.

• Setelah dua negara itu mengeluarkan undang-undang yang sah tentang euthanasia,
beberapa negara masih menganggapnya sebagai konflik, namun ada juga yang ikut
mengeluarkan undang-undang yang sama. Hal ini akan dibahas lebih lanjut di bab
berikutnya.
LO 1

Definisi Euthanasia
Penyebab Euthanasia
Mekanisme Euthanasia
Definisi Euthanasia

Secara Umum (Etimologis)


• Berasal dari bahasa Yunani eu = baik dan
thanatos yang berarti “kematian”
• Kematian yang membahagiakan atau mati cepat
tanpa derita.
• Mercy killing dan Mercy death
Dorland edisi 29
 Kematian secara mudah atau tanpa rasa sakit
 Membunuh berdasarkan rasa kasihan, dengan sengaja
mengakhiri hidup seseorang yang menderita penyakit
dengan rasa sakit yang hebat dan tidak bisa
disembuhkan

Kamus Besar Bahasa Indonesia


 Tindakan mengakhiri dng sengaja kehidupan makhluk
(orang ataupun hewan piaraan) yg sakit berat atau luka
parah dng kematian yg tenang dan mudah atas dasar
perikemanusiaan
Secara Terminologis
• Berpindah ke alam baka dengan tenang dan
aman,tanpa penderitaan,untuk yang beriman dengan
nama Allah di bibir
• Waktu hidup akan berakhir,diringankan penderitaan
si sakit dengan memberikan obat penenang
• Mengakhiri penderitaan & hidup seseorang yang sakit
dengan sengaja atas permintaan pasien sendiri dan
keluarganya
Dari sudut cara atau bentuk, euthanasia dapat dibedakan dalam tiga hal :
a. Euthanasia aktif, artinya mengambil keputusan untuk melaksanakan dengan
tujuan menghentikan kehidupan. Tindakan ini secara sengaja dilakukan oleh dokter
atau tenaga kesehatan lainnya untuk memperpendek atau mengakhiri hidup si pasien.
Misalnya, melakukan injeksi dengan obat tertentu agar pasien terminal meninggal.
EUTHANASIA AKTIF SUKARELA  Dokter persetujuan pasien/keluarga
EUTHANASIA AKTIF TERPAKSA  Dokter – tanpa persetujuan pasien/keluarga
b. Euthanasia pasif, artinya memutuskan untuk tidak mengambil tindakan atau tidak
melakukan terapi. Dokter atau tenaga kesehatan lain secara sengaja tidak (lagi)
memberikan bantuan medis yang dapat memperpanjang hidup kepada pasien.
Misalnya, terapi dihentikan atau tidak dilanjutkan karena tidak ada biaya, tidak ada
alat ataupun terapi tidak berguna lagi. Pokoknya menghentikan terapi yang telah
dimulai dan sedang berlangsung.
EUTHANASIA PASIF SUKARELA  Atas permintaan keluarga/pasien
EUTHANASIA PASIF TERPAKSA  Dokter – harapan sembuh tidak ada, Pasien/kel. tahu
c. Auto-euthanasia, artinya seorang pasien menolak secara tegas dengan sadar untuk
menerima perawatan medis dan ia mengetahui bahwa hal ini akan memperpendek
atau mengakhiri hidupnya. Dari penolakan tersebut ia membuat sebuah codicil
(pernyataan tertulis tangan). Auto-euthanasia pada dasarnya adalah euthanasia pasif
atas permintaan.
Euthanasia ditinjau dari sudut cara pelaksanaannya :

 Euthanasia agresif : atau suatu tindakan euthanasia aktif yaitu suatu


tindakan secara sengaja yang dilakukan oleh dokter atau tenaga
kesehatan lain untuk mempersingkat atau mengakhiri hidup si pasien
. Misalnya dengan memberikan obat-obatan yang mematikan,
ataupun melepas alat pembantu medik, spt : pemacu jantung,
resipirator, dsb

• EUTHANASIA AKTIF tidak LANGSUNG  Dokter terlibat – pemberian


obat
• EUTHANASIA AKTIF LANGSUNG
Dokter langsung terlibat :
• Memberi obat tidak sesuai dosis
• Memberi obat tidak untuk peruntukannya
 Eutanasia non agresif : disebut autoeuthanasia
(eutanasia otomatis)yang termasuk kategori
eutanasia negatif yaitu dimana seorang pasien
menolak secara tegas dan sadar untuk
menerima perawatan medis dan ia menyadari
dampak yang akan ditimbulkan.

Dengan penolakan tersebut ia membuat


sebuah "codicil" (pernyataan tertulis tangan).
Autoeutanasia pada dasarnya adalah suatu
praktek eutanasia pasif atas permintaan.
 Eutanasia pasif :
Dikategorikan sebagai tindakan eutanasia
negatif.
Tindakan pada eutanasia pasif ini adalah
dengan secara sengaja tidak (lagi)
memberikan bantuan medis yang dapat
memperpanjang hidup pasien.
Euthanasia ditinjau dari sudut pemberian izin

 Voluntary euthanasia :
Dilakukan atas persetujuan si pasien sendiri
pasien dengan stadium lanjut yang sudah sangat menderita kesakitan meminta
dokter atau keluarganya melakukan euthanasia

 Non Voluntary euthanasia :


pasien dianggap/diandaikan akan memilih meminta mati jika ia dpt menyatakan
keinginannya. pada kasus kalau pasien dibiarkan pulang oleh dokternya

 Involuntary euthanasia :
pembunuhan pada pasien yang sadar tetapi tidak diminta persetujuan
pasien yang masih punya harapan sembuh tapi dipaksa untuk diakhiri hidupnya
Euthanasia ditinjau dari sudut tujuan
Beberapa tujuan pokok dari dilakukannya
eutanasia antara lain yaitu :
• Pembunuhan berdasarkan belas kasihan
(mercy killing)
• Euthanasia hewan
• Euthanasia berdasarkan bantuan dokter, ini
adalah bentuk lain daripada euthanasia
agresif secara sukarela .
Syarat melakukan euthanasia :
Perkembangan Euthanasia di Jepang dapat dilihat dari Yurisprudensi sebuah
Pengadilan Tinggi di Nagoya yang mengajukan enam syarat untuk melakukan
Euthanasia, yaitu:
1. Pasien atau calon korban harus masih dapat membuat keputusan dan
mengajukan permintaan tersebut dengan serius.
2. Ia harus menderita suatu penyakit yang terobati pada stadium terakhir
atau dekat dengan kematiannya.
3. Tujuannya adalah sekedar untuk melepaskan diri dari rasa nyeri.
4. Ia harus menderita rasa nyeri yang tak tertahankan.
5. Dilakukan oleh dokter yang berwenang atau atas petunjuknya.
6. Kematian harus melalui cara kedokteran dan secara manusiawi.
Prosedur / mekanisme euthanasia :
Tindakan euthanasia dapat dilakukan melalui beberapa cara, yakni:

• a. Langsung dan sukarela: memberi jalan kematian dengan cara yang


dipilih pasien. Tindakan ini dianggap sebagai bunuh diri.

• b. Sukarela tetapi tidak langsung: pasien diberitahu bahwa harapan


untuk hidup kecil sekali sehingga pasien ini berusaha agar ada orang lain
yang dapat mengakhiri penderitaan dan hidupnya.

• c. Langsung tetapi tidak sukarela: dilakukan tanpa sepengetahuan


pasien, misalnya dengan memberikan dosis letal pada anak yang lahir
cacat.

• d. Tidak langsung dan tidak sukarela: merupakan tindakan euthanasia


pasif yang dianggap paling mendekati moral.
LO 2

Konsep Pro vs Kontra thd Euthanasia


Keterkaitan Aspek Ilmu Pengetahuan
dan sosial ekonomi
Iptekdok dapat memperkirakan kemungkinan
keberhasilan upaya tindakan medis untuk
mencapai kesembuhan atau pengurangan
penderitaan pasien. Apabila secara iptekdok
hampir tidak ada kemungkinan untuk mendapat
kesembuhan ataupun pengurangan penderitaan,
apakah seseorang tidak boleh mengajukan
haknya untuk tidak diperpanjang lagi hidupnya?
Segala upaya yang dilakukan akan sia-sia, bahkan
sebaliknya dapat dituduhkan suatu kebohongan,
karena di samping tidak membawa kesembuhan,
keluarga yang lain akan terseret dalam habisnya
keuangan
Aspek Kedokteran

Dalam Sumpah Hippokrates ada tiga kalimat


pendek, “Aku tidak akan memberikan obat
yang mematikan kepada siapa pun bila orang
memintanya, dan juga tidak akan
menyarankan hal serupa itu. Demikian juga
aku tidak akan memberikan kepada seorang
wanita sarana abortif (pesson phthoron).
Dalam kemurnian dan kesucian akan kujaga
kehidupan dan seniku”.
Aspek Hak Azasi
Hak azasi manusia (HAM) selalu dikaitkan dengan
hak hidup, hak damai, & sebagainya. Tapi tidak
tercantum jelas adanya hak seseorang untuk mati.
Mati sepertinya justru dihubungkan dengan
pelanggaran HAM, terbukti dari aspek hukum
euthanasia yang cenderung menyalahkan tenaga
medis dalam pelaksanaan euthanasia. Sebenarnya,
dengan dianutnya hak untuk hidup layak &
sebagainya, secara tidak langsung seharusnya
terbersit adanya hak untuk mati, apabila dipakai
untuk menghindarkan diri dari segala
ketidaknyamanan atau lebih jelas lagi dari segala
penderitaan yang hebat.
LO 3
Kedudukan jiwa dalam agama tentang Euthanasia
Dan
Pandangan thd 5 agama
Kedudukan jiwa dalam agama
• Ajaran agama pada umumnya menghargai
jiwa lebih-lebih terhadap jiwa manusia, sangat
banyak petunjuk dari kitab suci mengharuskan
kita untuk memelihara jiwa manusia
• Jiwa merupakan karunia Tuhan, karena itu
setiap diri manusia sama sekali tidak
berwenang dan tidak boleh melenyapkan jiwa
tanpa kehendak dan aturan YME
Pandangan Syariah Islam

Syariah Islam merupakan syariah sempurna yang


mampu mengatasi segala persoalan di segala waktu
dan tempat. Berikut ini solusi syariah terhadap
euthanasia, baik euthanasia aktif maupun
euthanasia pasif.
Pada konferensi pertama tentang kedokteran Islam di
Kuwait tahun 1981, dinyatakan bahwa tidak ada
suatu alasan yang membenarkan dilakukannya
eutanasia ataupun pembunuhan berdasarkan belas
kasihan (mercy killing) dalam alasan apapun juga .
EUTHANASIA AKTIF dalam Islam
• Syariah Islam mengharamkan euthanasia aktif, karena termasuk dalam kategori pembunuhan
sengaja (al-qatlu al-‘amad), walaupun niatnya baik yaitu untuk meringankan penderitaan pasien.
Hukumnya tetap haram, walaupun atas permintaan pasien sendiri atau keluarganya.
• Dalil-dalil dalam masalah ini sangatlah jelas, yaitu dalil-dalil yang mengharamkan pembunuhan.
Baik pembunuhan jiwa orang lain, maupun membunuh diri sendiri. Misalnya firman Allah SWT :
• “Dan janganlah kamu membunuh jiwa yang diharamkan Allah (untuk membunuhnya) melainkan
dengan sesuatu (sebab) yang benar.” (QS Al-An’aam : 151)
• “Dan tidak layak bagi seorang mu`min membunuh seorang mu`min (yang lain), kecuali karena
tersalah (tidak sengaja)...” (QS An-Nisaa` : 92)
• “Dan janganlah kamu membunuh dirimu, sesungguhnya Allah adalah Maha Penyayang
kepadamu.” (QS An-Nisaa` : 29).
• Dari dalil-dalil di atas, jelaslah bahwa haram hukumnya bagi dokter melakukan euthanasia aktif.
Sebab tindakan itu termasuk ke dalam kategori pembunuhan sengaja (al-qatlu al-‘amad) yang
merupakan tindak pidana (jarimah) dan dosa besar.
• Dokter yang melakukan euthanasia aktif, misalnya dengan memberikan suntikan mematikan,
menurut hukum pidana Islam akan dijatuhi qishash (hukuman mati karena membunuh), oleh
pemerintahan Islam (Khilafah), sesuai firman Allah :
• “Telah diwajibkan atas kamu qishash berkenaan dengan orang-orang yang dibunuh.” (QS Al-
Baqarah : 178)
• Namun jika keluarga terbunuh (waliyyul maqtuul) menggugurkan qishash (dengan memaafkan),
qishash tidak dilaksanakan. Selanjutnya mereka mempunyai dua pilihan lagi, meminta diyat
(tebusan), atau memaafkan/menyedekahkan. Firman Allah SWT :
“Maka barangsiapa yang mendapat suatu pemaafan dari saudaranya, hendaklah (yang
memaafkan) mengikuti dengan cara yang baik, dan hendaklah (yang diberi maaf) membayar
(diyat) kepada yang memberi maaf dengan cara yang baik (pula).” (QS Al-Baqarah : 178)
• Diyat untuk pembunuhan sengaja adalah 100 ekor unta di mana 40 ekor di antaranya dalam
keadaan bunting, berdasarkan hadits Nabi riwayat An-Nasa`i (Al-Maliki, 1990: 111). Jika dibayar
dalam bentuk dinar (uang emas) atau dirham (uang perak), maka diyatnya adalah 1000 dinar, atau
senilai 4250 gram emas (1 dinar = 4,25 gram emas), atau 12.000 dirham, atau senilai 35.700 gram
perak (1 dirham = 2,975 gram perak) (Al-Maliki, 1990: 113).
• Tidak dapat diterima, alasan euthanasia aktif yang sering dikemukakan yaitu kasihan melihat
penderitaan pasien sehingga kemudian dokter memudahkan kematiannya. Alasan ini hanya
melihat aspek lahiriah (empiris), padahal di balik itu ada aspek-aspek lainnya yang tidak diketahui
dan tidak dijangkau manusia. Dengan mempercepat kematian pasien dengan euthanasia aktif,
pasien tidak mendapatkan manfaat (hikmah) dari ujian sakit yang diberikan Allah kepada-Nya,
yaitu pengampunan dosa. Rasulullah SAW bersabda,”Tidaklah menimpa kepada seseorang
muslim suatu musibah, baik kesulitan, sakit, kesedihan, kesusahan, maupun penyakit, bahkan duri
yang menusuknya, kecuali Allah menghapuskan kesalahan atau dosanya dengan musibah yang
menimpanya itu.” (HR Bukhari dan Muslim).
Euthanasia pasif Dalam Islam

 Abdul Qadim Zallum (1998:69) mengatakan bahwa jika para


dokter telah menetapkan bahwa si pasien telah mati organ
otaknya, maka para dokter berhak menghentikan
pengobatan, seperti menghentikan alat bantu pernafasan,
dsb. Sebab pada dasarnya penggunaan alat-alat bantu
tersebut adalah termasuk aktivitas pengobatan yang
hukumnya sunah bukan wajib.

 Karena itu, hukum euthanasia pasif hukumnya boleh (jaiz)


dan tidak haram bagi dokter. Jadi setelah mencabut alat-alat
tersebut dari tubuh pasien, dokter tidak dapat dikatakan
berdosa dan tidak dapat dimintai tanggung jawab mengenai
tindakannya itu (Zallum, 1998:69; Zuhaili,1996:500; Utomo,
2003:182).
• Namun untuk bebasnya tanggung jawab
dokter, disyaratkan adanya izin dari pasien,
walinya, atau washi-nya (washi adalah orang
yang ditunjuk untuk mengawasi dan
mengurus pasien. Jika pasien tidak memiliki
wali atau washi, maka wajib diperlukan izin
dari pihak penguasa. (Al-Hakim/Ulil Amri)
(Audah, 1992 : 522-523).
Euthanasia menurut Kristiani
• Keluaran 20:13 hk ke 6=“Jangan Membunuh”
• Kematian Hak Tuhan (Ayub 1:21) ”Dengan
telanjang aku keluar dari kandungan
ibuku,dengan telanjang pula aku akan kembali
ke dalamnya. Tuhan yang memberi,Tuhan yang
mengambil, terpujilah nama Tuhan!”
Euthanasia Dalam Kristen
• Gereja Metodis (United Methodist church):
– Penggunaan teknologi kedokteran untuk
memperpanjang kehidupan pasien terminal
membutuhkan suatu keputusan yang dapat
dipertanggung jawabkan tentang hingga
kapankah peralatan penyokong kehidupan
tersebut benar-benar dapat mendukung
kesempatan hidup pasien, dan kapankah batas
akhir kesempatan hidup tersebut.
Euthanasia Dalam Kristen
• Gereja Lutheran di Amerika:
– Menggolongkan nutrisi buatan dan hidrasi sebagai
suatu perawatan medis yang bukan merupakan
suatu perawatan fundamental.
– Dalam kasus dimana perawatan medis tersebut
menjadi sia-sia dan memberatkan, maka secara
tanggung jawab moral dapat dihentikan atau
dibatalkan dan membiarkan kematian terjadi.
• Gereja Ortodoks

• Gereja Ortodoks punya kebiasaan untuk


mendampingi orang-orang beriman sejak kelahiran
hingga hingga kematian melalui doa,
upacara/ritual, sakramen, khotbah, pengajaran dan
kasih, iman dan pengharapan. Kehidupan hingga
kematian dipandang sebagai suatu kesatuan
kehidupan manusia. Gereja Ortodoks memiliki
pendirian yang sangat kuat terhadap prinsip pro-
kehidupan dan anti euthanasia.
Euthanasia secara katolik
 Gereja Katolik berpendapat bahwa tidak diperbolehkan mempercepat
kematian seseorang secara aktif dan terencana, juga jika secara medis
ia tidak lagi dapat disembuhkan dan juga kalau euthanasia dilakukan
atas permintaan pasien sendiri ("Iman Katolik", Konferensi Waligereja
Indonesia, hal. 73). Lain halnya kalau dipertimbangkan sejauh mana
harus diteruskan pengobatan yang tidak menyembuhkan orang dan hanya
memperpanjang proses kematiannya.
 Disebut euthanasia pasif, kalau
pengobatan yang sia sia dihentikan atau sama sekali tidak dimulai,
dan euthanasia tidak langsung, kalau obat penangkal sakit
memperpendek hidupnya. Menurut moral gereja Katolik, tindakan semacam
ini dapat dibenarkan. ("Iman Katolik", hal. 74). Gereja Katolik
berpendapat bahwa tidak dibenarkan mengakhiri hidup seseorang hanya
karena rasa iba dan kasihan. Penderitaan harus diringankan bukan
dengan pembunuhan, melainkan dengan pendampingan oleh seorang teman.
Gereja mengakui adanya makna dalam penderitaan, sebab Allah tidak
meninggalkan orang yang menderita. Dan dengan memikul penderitaan
dalam solidaritas, kita ikut menebus penderitaan.
mati=jiwa telah pergi meninggalkan
tubuh.
• penciptaan jiwa manusia: (katholik)
• 1) Traducianisme adalah teori bahwa jiwa
dihasilkan oleh orangtua kandung bersama
dengan tubuh jasmani
• (2) Kreationisme adalah pandangan bahwa
Allah menciptakan jiwa yang baru ketika
manusia dikandung.
Euthanasia Dalam Katolik

Agama Katolik melarang praktek euthanasia dasarnya:


• Barangsiapa dengan sengaja mengakhiri hidup sendiri adalah
bunuh diri dan merupakan penolakan terhadap rencana Allah.
Melakukan percobaan atas kehidupan atau membunuh,
seseorang yang tak bersalah merupakan suatu tindakan
kejahatan.

• Oleh karena alasan diatas, konsili Vatikan II, mengutuk, “apa


saja yang berlawanan dengan hidup sendiri, misalnya bentuk
pembunuhan yang manapun juga, penumpasan suku,
pengguguran, euthanasia (bunuh diri yang disengaja)...”
(Gaudium et spes no 27)
Euthanasia Dalam Katolik
• Bapa suci mengukuhkan, “memperhatikan distingsi-distingsi
itu, selaras dengan Magisterium pada pendahulu kami, dan
dalam persekutuan dengan para uskup gereja Katolik, kami
mengukuhkan bahwa euthanasia itu pelanggaran berat
hukum Allah, karena berarti pembunuhan manusia yang
disengaja dan dari sudut moril tidak dapat diterima.”
(Evangelium Vitae, No 65)

• “Belas kasihan yang sejati mendorong untuk ikut menanggung


penderitaan sesama. Belas kasihan itu tidak membunuh
orang yang penderitaannya tidak dapat kita tanggung”
(Evangelium Vitae no 66)
Agama Yahudi

• Agama Yahudi melarang euthanasia dalam


berbagai bentuk dan menggolongkannya ke dalam
“pembunuhan”. Hidup seseorang bukanlah miliknya
lagi melainkan milik dari Tuhan, sumber dan tujuan
kehidupan. Walaupun dengan motivasi yang baik,
misalnya mercy killing, euthanasia merupakan
kejahatan karena melawan kewenangan Tuhan.
Dasar yang dipakai adalah Kej 1:9, “Tetapi
mengenai darah kamu, yakni nyawa kamu, Aku
akan menuntut balasnya; dari segala binatang Aku
akan menuntutnya, dan dari setiap manusia Aku
akan menuntut nyawa sesama manusia”.
Euthanasia Dalam ajaran agama Hindu
• Pandangan agama Hindu terhadap euthanasia adalah didasarkan pada
ajaran tentang karma, moksa dan ahimsa.
• Karma adalah merupakan suatu konsekwensi murni dari semua jenis
kehendak dan termasuk perbuatan.
• Sebagai akumulasi terus menerus dari "karma" yang buruk adalah menjadi
penghalang "moksa" kebebasan dari siklus reinkarnasi yang menjadi suatu
tujuan utama dari penganut ajaran Hindu.
• Ahimsa adalah merupakan prinsip “anti kekerasan” atau pantang menyakiti
siapapun juga.
• Bunuh diri adalah suatu perbuatan yang terlarang didalam ajaran Hindu
dengan pemikiran bahwa perbuatan tersebut dapat menjadi suatu faktor
yang mengganggu pada saat reinkarnasi oleh karena menghasilkan
“karma” buruk.
• Berdasarkan kepercayaan umat Hindu, apabila seseorang melakukan bunuh
diri, maka rohnya tidak akan masuk neraka ataupun surga melainkan tetap
berada di dunia fana sebagai roh jahat dan berkelana tanpa tujuan hingga
ia mencapai masa waktu di mana seharusnya ia menjalani kehidupan.
Misalnya, seseorang bunuh diri pada usia 17 tahun padahal dia ditakdirkan
hidup hingga 60 tahun. Maka selama 43 tahun rohnya berkelana tanpa arah
tujuan. Setelah itu, rohnya masuk ke neraka untuk menerima hukuman
lebih berat; kemudian kembali ke dunia (reinkarnasi) untuk menyelesaikan
“karma”-nya terdahulu yang belum selesai dijalaninya.
Euthanasia mnrt Agama Buddha
• Ajaran agama Buddha sangat menekankan kepada makna
dari kehidupan dimana penghindaran untuk melakukan
pembunuhan makhluk hidup adalah merupakan salah satu
moral dalam ajaran Budha
• Jelas bahwa euthanasia adalah sesuatu perbuatan yang tidak
dapat dibenarkan dalam ajaran agama Buddha

• Mempercepat kematian seseorang secara


tidak alamiah adalah merupakan pelanggaran
terhadap perintah utama ajaran Budha yaitu
sila pertama Panatipatta yang dengan
demikian dapat menjadi “karma” negatif
kepada siapapun yang terlibat dalam
pengambilan keputusan guna memusnahkan
kehidupan seseorang tersebut
LO 4

Pandangan hukum (pemerintah) thd Euthanasia


Dan contoh kasus euthanasia
Indonesia
Aspek Hukum
• Berdasarkan hukum di Indonesia maka eutanasia adalah sesuatu perbuatan yang
melawan hukum, hal ini dapat dilihat pada peraturan perundang-undangan yang
ada yaitu pada Pasal 344 KUHP yang menyatakan bahwa ”Barang siapa
menghilangkan nyawa orang lain atas permintaan orang itu sendiri, yang
disebutkannya dengan nyata dan sungguh-sungguh, dihukum penjara selama-
lamanya 12 tahun”. Juga demikian halnya nampak pada pengaturan pasal-pasal
338, 340, 345, dan 359 KUHP yang juga dapat dikatakan memenuhi unsur-unsur
delik dalam perbuatan eutanasia. Dengan demikian, secara formal hukum yang
berlaku di negara kita memang tidak mengizinkan tindakan eutanasia oleh siapa
pun.
• Hubungan hukum dokter-pasien juga dapat ditinjau dari sudut perdata, antara lain
pasal 1313, 1314, 1315, dan 1319 KUH Perdata[11]. Secara formal tindakan
euthanasia di Indonesia belum memiliki dasar hukum sehingga selalu terbuka
kemungkinan terjadinya penuntutan hukum terhadap euthanasia yang dilakukan.
• Ketua umum pengurus besar IDI, Farid Anfasal Moeloek dalam suatu
pernyataannya yang dimuat oleh majalah Tempo Selasa 5 Oktober 2004 [12]
menyatakan bahwa : Eutanasia atau "pembunuhan tanpa penderitaan" hingga
saat ini belum dapat diterima dalam nilai dan norma yang berkembang dalam
masyarakat Indonesia. "Euthanasia hingga saat ini tidak sesuai dengan etika yang
dianut oleh bangsa dan melanggar hukum positif yang masih berlaku yakni KUHP.
Contoh Kejadian Euthanasia
Kasus Hasan Kusuma - Indonesia
• Sebuah permohonan untuk melakukan eutanasia pada
tanggal 22 Oktober 2004 telah diajukan oleh seorang
suami bernama Hassan Kusuma karena tidak tega
menyaksikan istrinya yang bernama Agian Isna Nauli, 33
tahun, tergolek koma selama 2 bulan dan disamping itu
ketidakmampuan untuk menanggung beban biaya
perawatan merupakan suatu alasan pula. Permohonan
untuk melakukan eutanasia ini diajukan ke Pengadilan
Negeri Jakarta Pusat. Kasus ini merupakan salah satu
contoh bentuk eutanasia yang diluar keinginan pasien.
Permohonan ini akhirnya ditolak oleh Pengadilan Negeri
Jakarta Pusat, dan setelah menjalani perawatan intensif
maka kondisi terakhir pasien (7 Januari 2005) telah
mengalami kemajuan dalam pemulihan kesehatannya.[34]
Dukungan pemerintah Belanda thd kasus
euthanasia pasien dimentia / pikun
LO 5

Kode etik kedokteran tentang Euthanasia


Kode etik kedokteran Indonesia
• Dalam KODEKI pasal 2 dijelaskan bahwa; “seorang dokter
harus senantiasa berupaya melaksanakan profesinya
sesuai dengan standar profesi tertinggi”. Jelasnya bahwa
seorang dokter dalam melakukan kegiatan kedikterannya
sebagai seorang profesi dokter harus sesuai dengan ilmu
kedokteran mutakhir, hukum dan agama.
• KODEKI pasal 7d juga menjelaskan bahwa “setiap dokter
harus senantiasa mengingat akan kewajiban melindungi
hidup insani”. Artinya dalam setiap tindakan dokter harus
bertujuan untuk memelihara kesehatan dan
kebahagiaaan manusia. Jadi dalam menjalankan
profesinya seorang dokter tidak boleh melakukan:
• Menggugurkan kandungan (Abortus Provocatus),
• mengakhiri kehidupan seorang pasien yang menurut ilmu
dan pengetahuan tidak mungkin akan sembuh lagi
(euthanasia)
Sikap & Pandangan dokter tentang
euthanasia
• Dokter harus memberitahukan resiko-resiko
pada keluarga dan pasien
• Dilakukan atau tidaknya euthanasia
tergantung kesepakatan kedua belah pihak
L0 6
solusi
Solusi
Menjelaskan kepada pasien dan keluarganya
prognosis dari penyakit pasien dan
menjelaskan konsekuensi yg akan ditimbulkan
dari tindakan merawat pasien di rumah.
Memberikan kebebasan kepada keluarga dan
pasien untuk memilih.
Kesimpulan & Saran
• Euthanasia dilarang dilihat dari semua agama
• Euthanasia dilarang dari segi hukum, medis, agama, tetapi
dalam realitasnya euthanasia masih diperdebatkan.
• Sebagai dokter yang taat beragama, beretika,dan taat hukum
harus mengupayakan kesembuhan pasien secara maksimal
dan menghindari tindakan euthanasia.

• Cara mengatasi Tn A yg depresi berat pd kasus pemicu :


 keluarga & org disekitarnya memotivasi hidup
 dr segi tenaga medis  menyediakan pelayanan kshtn “ FREE
charge..caring of the dying patient”
 Memberikan pelatihan kerja dan pembekalan skill
kemampuan utk si istri Tn A
 Mengajarkan ke semua anak Tn A utk dapat hidup mandiri shg
meringankan beban ortu.
Daftar pustaka
• Mubarak Zakky,2008. Modul MPK AGAMA,
Jakarta: FK Untar
• Modul Blok Humaniora FK untar, Ilmu Sosial
Kedokteran, 2008
• Achadiat Chrisdiono,1996.Pernik Pernik
Hukum Kedokteran,Jakarta
TERIMA KASIH