Anda di halaman 1dari 39

Dr.Theresia Walelang - R Sp.

S(K)
Bagian Neurologi
FK UNSRAT / RSUP Prof. Dr. R.D. KANDOU
MANADO
Sinonim :
• Nyeri kepala
• Cephalgia
• headache
Epidemiologi :
• Prevalensi “life time” nyeri kepala 90
%
- 70 % jenis nyeri kepala tipe tegang
pria : wanita = 4 : 5
- 16 % migren ( pria : wanita = 1: 3)
• Angka kejadian bertambah sesuai
usia
• Ratio pria ; wanita = 1 : 1,57
Struktur – struktur di kepala & leher

• Peka Nyeri :
– Kulit, fasia, otot
– Arteri di basis kranii,
Sinus Venosus, vena-vena
kortikal
– Duramater di basis kranii,
tentorium Serebelli,
– N. kranialis: N V, VII, IX, X
– N. servikalis: C1, C2, C3
 Tidak peka nyeri:
- jaringan otak, tengkorak,
selaput otak, pia &
arakhnoidea, ependim dan
pleksus khoroid
Klasifikasi Nyeri Kepala :
• Ad Hoc committee classification of
headache (1962)
• Klasifikasi yg disepakati oleh PERDOSSI
menggunakan HIS dan ICD 10 (Headache
Classification Committee of International
Headache Society 1988 & ICD 10 Guide
for Headache WHO 1997 )
• Klasifikasi Internasional Nyeri Kepala edisi
ke-2 dari Kode ICD-10NA 2004.
• Migren
• nyeri kepala tipe tegang
• nyeri kepala klaster & hemikrania paroksismal kronik
• jenis nyeri kepala lainnya yg tak berhubungan dgn lesi
struktural di otak
• nyeri kepala akibat cedera kepala
• nyeri kepala berhub. dgn gangguan vaskuler.
• nyeri kepala berhub kelainan intrakranial non vaskuler
• nyeri kepala berhub dgn pemakaian substansi/zat atau
reaksi putus obat
• nyeri kepala berhub dgn infeksi non sefalik
• nyeri kepala berhub dgn gangguan metabolisme
• nyeri kepala/wajah berhub dgn kelainan di kranium,
leher, mata, telinga hidung,sinus, gigi, mulut, atau
struktur fasial lainnya
• neuralgia kranialis, nyeri trunkus saraf, dan nyeri
deaferentasi.
• nyeri kepala yang tak terklasifikasi.
MIGREN
• Nyeri kepala paroksismal, unilateral,
berdenyut, bersifat familial.
• Serangan berakhir 4-72 jam
• Disertai gejala mual /muntah, dan atau
fotofobia / fonofobia
• Dapat didahului oleh aura
Aura
• Suatu gejala neurologik fokal yang kompleks
yg mendahului atau menyertai suatu serangan
migren
• Aura visual : skotoma, ggn visual homonim,
ggn lapang pandang, fotopsia
• Aura sensorik : parestesia hemisensorik,
kebas, atau rasa panas separuh badan.
• Aura motorik : hemiparesis, monoparesis,
disfagia, kesulitan bicara.
Gejala-gejala prodormal
• Hiperaktif, hipoaktif, depresi, mendambakan
jenis makanan ttn, grkan mengunyah, perasaan
lemah-letih-lesu, kurang nafsu makan.
• perasaan sensitif terhdp sentuhan, suara, bau-
bauan maupun cahaya.
• Sering kencing, dll
• Biasanya dijumpai bbrp jam/hari sblm serangan
migren baik yg tanpa aura maupun migren dgn
aura.
MIGREN TANPA AURA
• Nama lain: migren umum atau
hemikrania simpleks
• Idiopatik
• Serangan nyeri kepala berlangsung 4-72
jam
• Nyeri kepala unilateral, berdenyut.
• Intensitas nyeri sedang sampai berat
• Gejala tambahan: nausea, fotofobia,
fonofobia
• Tidak ada aura
• Biasanya > 24 jam sebelum serangan
terdpt gejala prodormal
MIGREN DENGAN AURA
• Sinonim: migren klasik, migren oftalmik,
m.hemiparestetik, m.hemiplegik, m.afasik,
m.accompagnee, m.komplikata
• Idiopatik, serangan berulang.
• Didahului gejala neurologik serebral atau
batang otak, berlangsung 5-20 menit
bahkan s/d 60 menit.
• Sesudah itu diikuti nyeri kepala, nausea
dan atau fotofobia
• Nyeri kepala berlangsung selama 4-72 jam
NYERI KEPALA TIPE TEGANG

• Sinonim: nyeri kepala tegang, nyeri kepala


kontraksi otot, nyeri kepala psikomiogenik,
nyeri stress, nyeri kepala esensial, nyeri kepala
idiopatik, nyeri kepala psikogenik
• Proses ketegangan kontraksi otot kepala, wajah, rahang
& leher yg disebbkn oleh proses:
 stress psikis atau depresi yg kronis
 pulsasi arteri pd kulit kepala berkurang
 ggn lalu lintas elektrolit (natrium) pd
daerah kulit kepala
 sikap & posisi badan, kepala yg salah
dan terus menerus dlm waktu lama.
 Perangsangan tdk wajar akibat peny.kronik
didaerah kepala & sekitarnya
GEJALA KLINIS
• Nyeri kepala bersifat konstan & terus menerus
• Terasa berat seperti tertekan, kepala diikat, spt
diperas, spt ada bisul, spt mau meledak atau terasa
kosong.
• Tempat sakitnya tidak karakteristik
• Frekuensi, fluktuasi dan intensitas nyeri sangat
bervariasi
• Bertambah terutama pd masa pubertas, baru masuk
kerja, pindah sekolah, masalah pekerjaan,
perkawinan, problem kehidupan lainnya.
Gambaran klinis
NYERI KEPALA KLASTER DAN
HEMIKRANIA PAROKSISMAL KRONIK

• Histamin instrinsik sbg mediator proses


dilatasi arteri karotis eksterna.
• Keterlibatan arteri karotis interna, karena
adanya nyeri retro-orbital, penurunan aliran
darah supraorbital.
• Sistem simpatis pd pupil, jantung, dan pola
keringat di wajah.
• Kesamaan gejala klaster dengan hemikrania
paroksismal kronik:
- nyeri unilateral
- keparahan intensitas nyerinya
- letak lokasi nyeri
- adanya phenomena otonom
- pola temporal serangan
- serangannya episodik.
• Perbedaannya:
- jenis kelamin
- frekuensi dan lamanya serangan
- efektivitas obat terapeutik maupun profilaksis
GEJALA KLINIS
NYERI KEPALA KLASTER
• Serangan nyeri unilateral disekitar mata, supraorbital,
bisa menjalar kedaerah temporal
• Serangan berlangsung 15-180 menit dan bisa berulang
• Gejala penyerta bisa berupa injeksi konyungtiva,
lakrimasi, kongesti-nasal, rinore, kening dan wajah
berkeringat, miosis, ptosis, edema daerah kelopak
mata.
• Serangan bisa berlgsung bbrp minggu/bulan
• Ada periode remisi selama bbrp bulan / tahun
• Ada sekitar 10% pasien bersifat kronis.
CLUSTER HEADACHE
PRIMER
– Nyeri unilateral orbital,
– supraorbital, temporal
– Berlangsung 15-180 menit
– Episodik, bisa berulang.

SEKUNDER
- Injeksi konjunctiva, lakrimasi
- Kongesti nasal, rinore,
- Kening dan wajah berkeringat
- miosis, ptosis
- Edem daerah kelopak mata.
Gambaran Klinis
NYERI KEPALA SEHUBUNGAN DENGAN
TRAUMA KAPITIS
• Nyeri kepala pasca trauma akut
 ada riwayat trauma kapitis beserta gejala sbb:
- ada riwayat pingsan
- amnesia pasca trauma > 10 menit
- ada kelainan neurologis ataupun laboratorium
- nyeri kepala timbul < 14 hari sesdh trauma
- nyeri kepala menghilang dlm 8 minggu sesdh
trauma
 Dengan trauma kapitis ringan tanpa gejala neurologis
• Nyeri kepala pasca trauma kronik
 Nyeri kepala berlangsung > 8 minggu pasca trauma
Post traumatic syndrome
• Headache
• Dizziness
• Irritability
• Nervousness
• Inability to concentrate
• Impaired memory
• Excessive tiredness
• insomnia
DIAGNOSIS
• Anamnesis
a. Mula timbul dan lama serangan
b. Bentuk serangan nyeri
c. Lokalisasi nyeri
d. Sifat nyeri
e. Gejala prodormal & gejala penyerta
f. Faktor pencetus
g. Faktor yg mengurangi nyeri
h. Faktor yg berpengaruh thd nyeri
i. Riwayat keluarga, riwayat psikososial
j. Obat yang diminum (vasodilator, oral kontrasepsi,
analgesik berlebihan)
k. Makanan mengandung tiramin (cokelat, keju,
anggur merah,dll)
l. Riwayat dahulu
Faktor pencetus Nyeri Kepala

-Stres
-Kurang/kebanyakan tidur
-Tidak/telat makan
-Bau menyengat : parfum,rokok
-Lingkungan:
cahaya silau/berkedip,gaduh,
ketinggian,panas,lembab,
ruang berasap
-Makanan/minuman
PEMERIKSAAN FISIK UMUM
• Keadaan umum, sikap
• Toraks, paru, jantung
• Abdomen
• Tekanan darah
• Nadi
PEMERIKSAAN KHUSUS KEPALA
• Palpasi tengkorak  kelainan bentuk, nyeri
tekan, benjolan
• Palpasi otot  tonus, nyeri tekan daerah
tengkuk
• Perabaan arteri temporalis superior & arteri
karotis
• Pemeriksaan mata, hidung, tenggorokan,
telinga, mulut dan gigi.
PEMERIKSAAN NEUROLOGIK
1. Saraf kranial
2. Funduskopi  papil edema
3. Tanda rangsang meningeal: kaku kuduk
4. Motorik
5. Sensorik
6. Otonom
7. Fungsi-luhur
8. Fungsi-mental
PEMERIKSAAN PENUNJANG
1. Laboratorium: kimiawi darah lengkap
2. Pungsi lumbal
3. EEG
4. EMG
5. Rontgen kepala, foto sinus, servikal, mastoid, sendi
temporo mandibuler
6. CT-scan otak, MRI, angiografi, ultrasonografi karotis
7. THT/ mata
PENANGANAN NYERI KEPALA
• Penanganan umum:
Tatalaksana umum nyeri kepala meliputi:
- Cara hidup (life style) yg baik dan teratur.
- Hindari faktor pencetus nyeri kepala
- Olah raga & biofeedback
- Pengobatan medikamentosa dgn interaksi positif
antara dokter dan penderita.
• Penanganan khusus:
– Migren akut
 Terapi non spesifik:
 analgetik
 AINS
 Anti emetik: domperidon, metoklopropamid
 Simpatomimetik: Isometheptene mucate

 Terapi spesifik:
 Ergotamin derivat: ergotamin tartrat, dehidroergotamin
 5HT1 (5-hidroksi triptamin) agonis: sumatriptan, naratriptan,
zolmitriptan
TERAPI PROFILAKSIS MIGREN
 Penyekat beta: propanolol, timolol, nadolol,
atenolol
 Antidepresan trisiklik: amitriptilin, nortriptilin
 Antagonis serotonin: metisergid, pizotifen
 Antihistamin: siproheptadin
 Antokonvulsan: asam valproat
 Inhibitor MAOA (monoamin-oksidase-A)
 Antagonis kalsium: flunarisin, nifedipin,
verapamil.
TERAPI NON-FARMAKOLOGIK
1. Tatalaksana psikologik
 Mengadakan diskusi utk memahami nyeri kepala
 Memberikan nasehat
 Mengatasi stress

2. Tatalaksana fisiologik:
 Latihan relaksasi
 Olah raga teratur
 Biofeedback
 Masase
 akupuntur
3. Mencegah retensi garam dan air
4. Pengaturan tidur yg cukup
5. Menghindari faktor pencetus: stres, cahaya silau,
bunyi ribut, perubahan cuaca, bau-bauan,
kelaparan, hipoglikemia, merokok, tidur
kurang/berlebihan, menstruasi, hamil trimester
pertama.
6. Makanan: keju, alkohol, kafein, cokelat, gula
pekat, makanan berfermentasi (tapai) yg
mengandung nitrit & nitrat, glutamat, sulfid,
sayuran kacang, bawang, buah zaitun, asinan.
Terapi : Farmakologis
• Tension- type headache
- Analgesik
- Asetosal 500-1000 mg / hari
- paracetamol/metampiron 1000-1500mg/hari
- asam mefenamat 1000-1500 mg/hari
- atau kombinasinya
- NSAID : naproxen sodium, dosis 275-550mg
2-3 kali/hari
- Antidepresan
- trisikilik antidepresan
- SSRI : fluoxetin, sertralin, dll
- Muscle relaxan : eperisone Hcl
- Minor tranguiliser : diasepam, lorazepam,klobazam, dll
Terapi : Cluster headache
• Terapi abortif :
- O2 murni dengan memakai masker 8-10 l/menit
selama 15 menit
- ergotamin tartrat
- tetes hidung lidocain 4%
- Sumatriptan
- Indometasin

• Terapi preventif :
- metisergid
- kortikosteroid
- ergotamin tartrat
- klorpromasin
- lithium karbonat
- verapamil