Anda di halaman 1dari 16

ALO atau edema paru akut merupakan

terjadinya penumpukan cairan di rongga


alveoli yang menyebabkan pasien berada
dalam kegawatdaruratan respirasi dan
ancaman gagal nafas.
Edema Paru Kardiogenik
 Penyakit Arteri Coronaria
 Kardiomiopati (Kematian Sel Sel Di Otot
Jantung)
 Gangguan Katup Jantung
 Hipertensi

Non Kardiogenik
 Infeksi Pada Paru
 Reaksi Alergi
 Paparan Zat Toksik (Racun)
 Acute Respiratoy Distress Syndrome
1. Nafas sesak secara tiba-tiba
2. Berkeringat dingin
3. Terdengar bunyi wheezing pada
seluruh paru
4. Batuk kadang terdapat hemoptysis
sehingga menyebabkan terjadinya
bloody sputum
Alo kardiogenik dicetuskan oleh peningkatan tekanan atau
volume yang mendadak tinggi di atrium kiri, vena pulmonalis
dan diteruskan (peningkatan tekanannya) ke kapiler dengan
tekanan melebihi 25 mmhg. Mekanisme fisiologis tersebut
gagal mempertahankan keseimbangan sehingga cairan akan
membanjiri alveoli dan terjadi oedema paru. Jumlah cairan
yang menumpuk di alveoli ini sebanding dengan beratnya
oedema paru. Penyakit jantung yang potensial mengalami alo
adalah semua keadaan yang menyebabkan peningkatan
tekanan atrium kiri >25 mmhg.
Sedangkan alo non-kardiogenik timbul
terutama disebabkan oleh kerusakan dinding
kapiler paru yang dapat mengganggu
permeabilitas endotel kapiler paru sehingga
menyebabkan masuknya cairan dan protein ke
alveoli. Proses tersebut akan mengakibatkan
terjadinya pengeluaran sekret encer berbuih.
Adanya sekret ini akan mengakibatkan gangguan
pada alveolus dalam menjalankan fungsinya.
1. EKG
Bisa sinus takikardia dengan hipertrofi atrium
kiri atau fibrilasi atrium.
2. Laboratorium
a) AGD : PO2 rendah, PCO2 mula-mula
rendah dan kemudian hiperkapnia.
b) Enzim kardiospesifik meningkat
c) Darah rutin, ureum, kreatinin, elektrolit
d) Foto thorax
3. Gambaran radiologi
Pelebaran atau penebalan hilus. Corakan
paru . Batas tidak jelas
1. Posisi setengah duduk
2. Pemberian oksigenasi
3. Infus emergensi
4. Pemberian morfin sulfat 3 – 5 mg IV
5. Diuretik Furosemid 40 – 80 mg IV bolus
dapat diulangi
6. Ventilator pada pasien dengan hipoksia
berat, asidosis/tidak berhasil dengan
oksigen
ALI atau acute limb iskemik penurunan
perfusi jaringan ke ekstremitas yang terjadi
secara tiba-tiba.
1. Depresi sistem saraf pusat
2. Kelainan neurologis primer
3. Efusi pleura, hemotoraks dan
pneumothoraks
4. Trauma
5. Penyakit akut paru
1. Peningkatan jumlah pernapasan
2. Klien mengeluh sulit bernapas, retraksi dan sianosis
3. Pada Auskultasi mungkin terdapat suara napas
tambahan
4. Penurunan kesadaran mental
5. Takikardi, takipnea
6. Dispnea dengan kesulitan bernafas
7. Terdapat retraksi interkosta
8. Sianosis
9. Hipoksemia
10. Auskultasi paru : ronkhi basah, krekels, stridor, wheezing
11. Auskultasi jantung : BJ normal tanpa murmur atau
gallop
Penatalaksanaan
 Terapi oksigen
 Pemberian oksigen kecepatan rendah :
masker Venturi atau nasal prong
 Ventilator mekanik dengan tekanan jalan
nafas positif kontinu (CPAP) atau PEEP
 Inhalasi nebuliser
 Fisioterapi dada
 Pemantauan hemodinamik/jantung
 Pengobatan
Brokodilator
Steroid
 Dukungan nutrisi sesuai kebutuhan
 Pengkajian Primer
1. Airway
Ditemukan adanya penumpukan sputum
pada jalan nafas, sehingga menyebabkan
pasien sesak
2. Breathing
Sesak nafas, dada tertekan, pernafas
cuping hidung, penggunaan otot bantu
pernafasan, laju pernafasan meningkat.
Disebabkan oleh adanya sumbatan pada
jalan nafas pasien sehingga
bertambahnya usaha untuk memperoleh
oksigen.
3. Circulation
peningkatan denyut nadi lebih dari 110
x/menit. Pembuluh darah vasokonstriksi,
kualitas darah menurun, denyut jantung
tidak teratur dan adanya suara jantung
tambahan. Adanya kekurangan oksigen
ini dapat menyebabkan sianosis.
4. Disability
Pasien dengan acute lung oedema akan
gelisah, penurunan kesadaran,GCS
menurun, reflex menurun/normal, latergi
5. Exposure
Keadaan kulit, seperti turgor / kelainan
pada kulit dan keadaan
ketidaknyamanan (nyeri) dengan
pengkajian PQRST
Pada pemeriksaan fisik, ditemukan kelainan pada:
 Paru-paru
I : Bentuk dada simetris, pergerakan dada simetris,
retraksi otot dada (+), tidak ada lesi, penggunaan
otot bantu pernapasan.
Pa : Nyeri tekan (+), vocal vremitu teraba.
Pe : Terdengar hipersonor pada lapang paru kanan
dan kiri.
A : Ronkhi

 Jantung
I :Tidak terlihat pulsasi ictus cordis
Pa : Nyeri tekan (-)
Pe : Ictus cordis teraba di ICS V mid klavikula kiri ± 2
cm.
A : BJ I dan II tunggal.