Anda di halaman 1dari 38

BENIGN PROSTATE HYPERPLASIA

RISELENA ALYSSA AMADEA


N 111 16 004

PEMBIMBING
dr. Alfreth Langitan, Sp.B., FINACS, FICS
PENDAHULUAN
Kelenjar prostat adalah salah satu organ
genitalia pria yang terletak sebelah inferior buli-buli
dan melingkari uretra posterior. Bila mengalami
pembesaran, organ ini dapat menyumbat uretra
pars prostatika dan menyebabkan terhambatnya
aliran urine keluar dari buli-buli. Bentuknya sebesar
buah kenari dengan berat normal pada orang
dewasa 20 gram. membagi kelenjar prostat dalam
beberapa zona, antara lain zona perifer, zona
sentral, zona transisional,zona fibromuskuler
anterior, dan zona periuretra
ANATOMI
ETIOLOGI
Beberapa hipotesis yang diduga sebagai penyebab
timbulnya hiperplasia prostat:
• Teori dihidrotestosteron
• Ketidakseimbangan antara estrogen-testosteron
• Interaksi stroma-epitel
• Teori sel stem
PATOFISIOLOGI
Pembesaran prostat menyebabkan terjadinya
penyempitan lumen uretra pars prostatika dan
menghambat aliran urin sehingga menyebabkan
tingginya tekanan intravesika. Untuk dapat
mengeluarkan urin, buli-buli harus berkontraksi lebih
kuat guna melawan tahanan, menyebabkan terjadinya
perubahan anatomik buli-buli, yakni: hipertropi otot
destrusor, trabekulasi, terbentuknya selula, sakula, dan
divertikel buli-buli. Perubahan struktur pada buli-buli
tersebut dirasakan sebagai keluhan pada saluran
kemih bagian bawah atau Lower Urinary Tract
Symptoms (LUTS).
MANIFESTASI KLINIK
TERAPI
• Inhibitor 5 α-redukstase inhibitor
• Terapi Kombinasi
• Agen anti-muskarinik6
TURP dilakukan dengan memakai alat yang
disebut resektoskop dengan suatu lengkung diathermi.
Jaringan kelenjar prostat diiris selapis demi selapis dan
dikeluarkan melalui selubung resektoskop. Perdarahan
dirawat dengan memakai diathermi, biasanya dilakukan
dalam waktu 30 sampai 120 menit, tergantung besarnya
prostat. Selama operasi dipakai irigan akuades atau cairan
isotonik tanpa elektrolit. Prosedur ini dilakukan dengan
anastesi regional ( Blok Subarakhnoidal / SAB /
Peridural. Setelah itu dipasang kateter nomer Ch. 24
untuk beberapa hari. Sering dipakai kateter bercabang
tiga atau satu saluran untuk mencegah terjadinya
pembuntuan oleh pembekuan darah.
1)Open prostatectomy
Open prostatectomy adalah suatu prosedur
pembedahan dengan melakukan insisi pada kulit
dan mengangkat adenoma prostat melalui kapsula
prostat (retropubic prostattectmy) atau RPP, atau
melalui kandung kemih (suprapubic
prostatectomy) atau SPP, Open prostatectomy
diindikasikan apabila masa prostat lebih dari 60
gram.
2) Laparoscopy prostatectomy
Suatu laparoscopi atau empat insisi kecil dibuat
di abdomen dan seluruh prostat dikeluarkan
secara hati-hati dimana saraf-¬saraf lebih
mudah rusak dengan teknik retropubis atau
suprapubis. Laparoscopic prostatectomy lebih
menguntungkan dibandingkan dengan
pembedahan radikal perineal prostate¬ctomy
atau retropubik prostatectomy dan lebih
ekonomis dibandingkan teknik bantuan robot
3)Robotic-assistedprostatectomy
Robotic-assisted prostatectomy atau pembedahan
dengan bantuan robot. Tangan-tangan robot
laparoscopi dikendali¬kan oleh seorang ahli bedah.
Robot memberikan ahli bedah lebih banyak
ketrampilan daripada laparoscopi konvensional
dengan menawarkan keuntungan-keuntungan yang
lebih daripada open prostatectomy, diantaranya
insisi lebih kecil, nyeri ringan, perdarahan sedikit,
resiko infeksi rendah, waktu penyembuhan lebih
cepat, dan perawatan lebih pendek.
KOMPLIKASI
• Apabila BPH tidak di berikan tindakan konservatif
dapat menimbulkan komplikasi:
1. Inkontinensia Paradoks
2. Batu Kandung Kemih
3. Hematuria
4. Sistitis
5. Pielonefritis
6. Retensi Urin Akut Atau Kronik
7. hemorroid
8. Hernia
9. Hidronefrosis
• Komplikasi yang pada pasien BPH yang
melakukan tindakan operasi tertutup: Salah satu
komplikasinya adalah TURP syndrome. TURP
syndrome adalah sekumpulan gejala sistemik
sebagai efek dari penyerapan cairan irigasi yang
terlalu banyak sehingga hal tersebut
mengganggu kestabilan kadar natrium tubuh,
sementara natrium memiliki peran vital dalam
menjaga fungsi kerja saraf.
• Komplikasi yang pada pasien BPH yang melakukan
tindakan operasi terbuka: Retropubic Atau Extravesical
Prostatectomy Pada prostatectomy retropubic dibuat
insisi pada abdominal bawah tapi kandung kemih tidak
dibuka dapat menimbulkan komplikasi berupa
perdarahan, infeksi, osteitis pubis, trombosis.
Suprapubic Atau Tranvesical Prostatectomy Metode
operasi terbuka, reseksi supra pubic kelenjar prostat
diangkat dari uretra lewat kandung kemih dapat
menimbulkan komplikasi berupa Striktura post operasi
(uretra anterior 2 – 5 %, bladder neck stenosis 4%),
Inkontinensia (<1%) , Perdarahan , Epididimo orchitis
, Recurent (10 – 20%)
LAPORAN KASUS
IDENTITAS PASIEN
• Nama : Tn. Usman Patta
• Umur : 67 tahun
• Jenis Kelamin : Laki-laki
• Alamat : Morowali
• Pekerjaan : Wiraswasta
• Waktu masuk : 13 Oktober 2017
• Ruangan : Teratai
• Rumah Sakit : RSUD Undata
ANAMNESIS
• Keluhan utama
BAK tersendat-sendat
• Anamnesis terpimpin
pasien masuk rumah sakit dengan keluhan BAK tersendat-sendat
sejak kurang lebih 7 bulan yang lalu, Pasien mengeluh jika BAK selalu
merasa tidak puas, pada saat pasien ingin berkemih pasien selalu mengejan
untuk mengeluarkan kencing sehingga butuh waktu lama untuk
mengeluarkan kencing, pada saat buang air kecil urin yang keluar
pancarannya lemah sehingga urin yang keluar sedikit, pasien juga kadang
merasa celana dalam pasien basah karna urin yang merembes sedikit-
sedikit tanpa dirasakan, pasien BAK >10x sehari tetapi sedikit-sedikit, dan
pada malam hari selalu terbangun karena merasa ingin BAK, BAK pada
malam hari >3x, BAK kadang disertai nyeri perut bagian bawah disertai
mual namun tidak ada muntah. BAK warna biasa, darah (-), pusing (-),
sakit kepala(-), demam (-), BAB lancar. Pasien tidak mengeluhkan BAB
berdarah, juga menyangkal adanya benjolan yang keluar masuk pada anus
dan selangkangan.
• Riwayat penyakit sebelumnya
Pasien mengaku pernah mengalami keluhan serupa
namun pasien membiarkannya. Hipertensi
disangkal. Diabetes disangkal. Jantung disangkal.

• Riwayat penyakit keluarga


Tidak ada yang menderita penyakit yang sama
dalam keluarga.

• Riwayat pengobatan
Pasien belum pernah berobat dan mengonsumsi
obat sebelumnya saat pasien berobat di Puskesmas.
PEMERIKSAAN FISIK
• Status generalisata
Keadaan umum :Sakit Sedang
Kesadaran : GCS E4V5M6
Status gizi : Gizi baik
BB : 62 kg
TB : 150 cm
IMT : 25,1kg/m2 (normal)
• Tanda vital
Tekanan darah : 110/80 mmHg
Nadi : 80 ×/menit, regular, kuat angkat
Respirasi : 20 ×/menit
Suhu axilla : 36,7ºC
PEMERIKSAAN FISIK
• Pemeriksaan kepala
Wajah : Tampak pucat (-), edema (-), efloresensi (-)
Bentuk : Normocephalus
Rambut : Warna hitam, distribusi normal, alopecia (-)
Deformitas: (-)
Mata : Konjungtiva: Anemis -/-
Sklera : Ikterus -/-
Pupil : Bentuk bulat, isokor, RCL +/+
Mulut : Bibir : Warna kesan normal
Lidah : Bentuk kesan normal, warna merah
muda, tremor (-), lidah kotor (-)
Tonsil : Ukuran T1/T1
Telinga : Secret (-)
PEMERIKSAAN FISIK
• Pemeriksaan leher
Kelenjar getah bening : Pembesaran (-), nyeri tekan (-)
Kelenjar tiroid : Pembesaran (-), nyeri tekan (-)
JVP : Peningkatan (-)
Massa : (-)
• Thorax
Pemeriksaan Paru-Paru
Inspeksi : Ekspansi paru simetris bilateral kanan = kiri,
retraksi interkosta (-), jejas (-), bentuk normochest, jenis
pernapasan thoraco-abdominal, pola pernapasan kesan normal.
Palpasi : Ekspansi dada simetris, vocal fremitus normal
kanan = kiri, nyeri tekan (-)
Perkusi : sonor (+)
Auskultasi : Suara napas vesikuler di kedua lapang paru
Suara napas tambahan: Ronkhi (-/-),Whezzing (-/-).
PEMERIKSAAN FISIK
• Pemeriksaan Jantung
Inspeksi : Ictus cordis tidak tampak
Palpasi : Pulsasi ictus cordis teraba pada SIC V linea
midclavicula sinistra
Perkusi : batas jantung normal
Auskultasi : Bunyi jantung S1 dan S2 murni reguler, bunyi
tambahan (-).
• Pemeriksaan Abdomen
Inspeksi : Tampak datar, kesan normal
Auskultasi : Bunyi peristaltik usus terdengar, frekuensi
kesan normal.
Perkusi : Bunyi timpani (+). Pembesaran lien & hepar (-
)
Palpasi : Nyeri tekan (-). Palpasi hepar dan lien tidak
teraba.Palpasi ginjal tidak teraba.
PEMERIKSAAN FISIK
• Pemeriksaan ekstremitas
Ekstremitas superior
Kulit : Warna kuning langsat kesan normal, edema (-/-
), akral hangat (+/+), fungsi sensorik normal, efloresensi (-/-
).
Otot : Bentuk eutrofi, tonus normal, kekuatan otot 5/5
Sendi : ROM dalam batas normal
Ekstremitas inferior
Kulit : Warna kuning langsat kesan normal, edema (-/-
), akral hangat (+/+), fungsi sensorik normal, efloresensi (-/-
).
Otot : Bentuk eutrofi, tonus normal, kekuatan otot 5/5
Sendi : ROM dalam batas normal
PEMERIKSAAN FISIK
• Status lokalis
• Regio Costovertebra
• - Inspeksi : Bentuk pinggang simetris, benjolan (-)
• - Palpasi : Bimanual Ballotement ginjal (-)
• - Perkusi : Nyeri Ketok (-)
• Regio Supra Pubis
• - Inspeksi : Terdapat rambut pubis, tidak ada benjolan
• - Palpasi : Nyeri Tekan (-), Nyeri Lepas (-), Defance Muscular (-
• - Perkusi : Timpani
• - Auskultasi : Bising Usus (+) Normal
• Regio Genetalia Eksterna
• - Inspeksi : Orifisium uretra eksterna baik
• - Palpasi : Testis teraba dua buah, kanan dan kiri. Konsistensi
• Kenyal.
• Regio Anal
• - Inspeksi : Bentuk Normal, benjolan(-)
• - Rectal Toucher : Sfingter Ani Menjepit
• Pada mukosa teraba massa yang konsistensinya kenyal, permukaan sedikit tidak rata, batas tegas, puncak
agak sulit dicapai.
• Tidak teraba nodul
• - Handscoon : Darah, lendir dan feses tidak ada
PEMERIKSAAN PENUNJANG
a. Darah Rutin
RBC : 4,46 106/mm3 (4,50-6,50)
WBC : 5,4 103mm3 (4,0-10,0)
HGB : 11,8 g/dL (13,0-17,0)
HCT : 37,1 % (40,0-54,0)
PLT : 256 103/mm3 (150-500)
b. Hasil USG
Hipertrofi prostat grade 3
c. Hasil Pemeriksaan PA
Makroskopik : 2 buah jaringan ukuran 2 x 1 cm dan 0,8 x 0,4 x 0,3, putih
kecoklatan padat.
Mikroskopik : sediaan jaringan menunjukkan proliferasi kelenjar-kelenjar
prostat sebagian berdilatasi kistik dilapisi epitel kuboid di sertai
proliferasi/hiperplasia sel basal beberapa lapis epitel, inti bulat oval,
vesikuler, nukeloli jarang, diantara stroma fibromuskuler
Kesimpulan : Basal Cell Hyperplasia Prostat.
RESUME
• Pasien laki-laki usia 67 tahun masuk rumah sakit dengan keluhan
miksi tersendat- sendat sejak 7 bulan, tidak puas saat BAK, butuh
waktu lama untuk memulai miksi, urin merembes, nokturia >3 kali,
BAB berdarah disangkal, benjolan pada lipatan paha disangkal.
Pemeriksaan fisik:
TD : 110/80 mmHg
N : 80 x/menit
S : 36,7 C
R :20 x/menit
Rectal Toucher : Sfingter Ani Menjepit,Pada mukosa teraba
massa yang konsistensinya kenyal, permukaan sedikit tidak rata,
batas tegas, puncak agak sulit dicapai. Tidak teraba nodul.
Handscoon : Darah, lendir dan feses tidak ada.Hasil USG
Hipertrofi prostat grade 3
• DIAGNOSIS KERJA
Benign Prostat Hyperplasia grade 3
• DIAGNOSIS BANDING
-Striktur Uretra
-Karsinoma Prostat
-Prostatitis
• RENCANA TATALAKSANA
Rencana tindakan Prostatectomy
• PROGNOSIS
Dubia et bonam
FOLLOW UP
• 25 oktober 2017
S: nyeri post op (+), BAK dengan kateter, flatus (+), mual muntah (-)
O: TD: 120/60 mmHg
N: 84 x/menit
R: 20x/menit
S: 36,7 C
A: Post Prostatektomi H1 e.c BPH grade 3
P:
Infus futrolit 22 tpm
Cefuroxime 1 gr/12 jam
Asam mefenamat 3 x 500 mg
Ranitidin 2 x 150 mg
Transamin 3 x 500 mg
Spooling kateter hingga jernih
Diet lunak
• 26 oktober 2017
S: nyeri post op (+), BAK dengan kateter, flatus (+),
mual muntah (-)
O: TD: 110/90 mmHg
N: 76 x/menit
R: 20x/menit
S: 36,5 C
A: Post Prostatektomi H2 e.c BPH grade 3
P
Infus futrolit 22 tpm
Cefuroxime 1 gr/12 jam
Asam mefenamat 3 x 500 mg
Ranitidin 2 x 150 mg
Transamin 3 x 500 mg
Spooling kateter hingga jernih
Diet bebas
• 27 oktober 2017
S: nyeri post op (+) berkurang, BAK dengan kateter,
flatus (+), mual muntah (-), BAK biasa
O: TD: 120/90 mmHg
N: 88 x/menit
R: 20x/menit
S: 36,5 C
A: Post Prostatektomi H3 e.c BPH grade 3
P:
Infus futrolit 22 tpm
Cefuroxime 1 gr/12 jam
Asam mefenamat 3 x 500 mg
Ranitidin 2 x 150 mg
Transamin 3 x 500 mg
Diet bebas
• 28 oktober 2017
S: nyeri post op (+) berkurang, BAK dengan kateter,
flatus (+), mual muntah (-), BAB biasa
O: TD: 120/80 mmHg
N: 80 x/menit
R: 20x/menit
S: 36,5 C
A: Post Prostatektomi H4 e.c BPH grade 3
P
Aff infus
Asam mefenamat 3 x 500 mg
Ranitidin 2 x 150 mg
Cefadroxil 2x500 mg
Rawat jalan dengan kateter
PEMBAHASAN
Pada kasus ini, diagnosis ditegakkan berdasarkan aloanamnesis dari pasien
langsung, serta dari pemeriksaan fisik yang dilakukan. Dari hasil anamnesis
didapatkan data bahwa pasien berjenis kelamin laki-laki berusia 67 tahun
(>50tahun) cenderung memiliki keluhan sulit berkemi/kemih tersendat-sendat,
tidak puas saat berkemih, nokturia, dan sering urin merembes. Sesuai dengan
teori bahwa Benign Prostat Hyperplasia terjadi pada usia >50 tahun. Gejala
BPH umumnya disebut sebagai "gejala saluran kemih bagian bawah" atau lower
urinary tract symptoms (LUTS), dan ini dapat dibagi lagi menjadi gejala
obstruktif dan gejala iritatif. Gejala obstruktif termasuk perlu waktu jika akan
berkemih, terputus-putus, sulit keluar, menetes, dan penurunan aliran kencing.
Gejala iritatif meliputi frekuensi kencing yang lebih sering, tidak dapat
menahan kencing, dan kencing pada malam hari
Dari hasil pemeriksaan Rectal Toucher didapatkan Sfingter Ani
Menjepit Pada mukosa teraba massa yang konsistensinya kenyal,
permukaan sedikit tidak rata, batas tegas, puncak agak sulit dicapai. Tidak
teraba nodul. Setelah jari dikeluarkan pada hanscoon Darah, lendir dan
feses tidak ada. Pada pemeriksaan Abdomen dan pemeriksaan Thorax tidak
nampak adanya kelainan.
Dari hasil pemeriksaan penunjang yang paling berperan adalah
pemeriksaan USG, dari hasil USG menunjukkan kesan adanya Hipertrofi
Prostat Grade 3. Untuk pemeriksaan darah rutin yang dilakukan untuk
RBC, HB, WBC, HCT dan PLT dalam batas normal. Tidak tampak adanya
tanda-tanda infeksi ataupun anemia. Dari hasil pemeriksaan Patologii
anatomi didapatkan hasil Makroskopik : 2 buah jaringan ukuran 2 x 1 cm
dan 0,8 x 0,4 x 0,3, putih kecoklatan padat.Mikroskopik : sediaan jaringan
menunjukkan proliferasi kelenjar-kelenjar prostat sebagian berdilatasi
kistik dilapisi epitel kuboid di sertai proliferasi/hiperplasia sel basal
beberapa lapis epitel, inti bulat oval, vesikuler, nukeloli jarang, diantara
stroma fibromuskuler. Kesimpulan : Basal Cell Hyperplasia Prostat.
Dari hasil anamnesis, pemeriksaan fisik dan
pemeriksaan penunjang yang telah dilakukan, dapat
ditegakkan diagnosis pasien ini mengalami Benign
Prostate Hyperplasi, hal ini sudah sesuai dengan teori
teori yang telah dipaparkan.
Untuk penatalaksanaan dari Benign Prostate
Hyperplasi adalah dengan dilakukan tindakan
operatif. Pada pasien ini dilakuian tindakan
Prostatectomy untuk mengatasi keluhan pasien, hal
ini sudah sesuai dengan teori.
TERIMA KASIH