Anda di halaman 1dari 38

IMPORTANCE OF THE

HISTORY IN THE DIAGNOSIS


OF SHOULDER PATHOLOGY
Anamnesis pasien merupakan langkah awal dalam mengevaluasi gejala penyakit pada bahu.
Faktor penting dalam anamnesis:
Usia Pasien
Keluhan utama
Riwayat perjalanan penyakit
Durasi gejala
Respon terhadap pengobatan sebelumnya
Kesehatan secara umum
Tangan dominan
Kelainan bahu utama yang paling sering muncul:
 cedera strukturan pada rotator cuff
 ketidakstabilan sendi glenohumeral
 Detachment glenoid labrum superior
 Diskinesia scapulothoracic, defisit inti keseimbangan, dan kebugaran lainnya atau teknik(related provocations)
 capsulitis adhesive (frozen sholder)
 calcific tendinitis
 kelainan tendon Biceps
 penyakit sendi degeneratif acromioclavicular
 Penyakit sendi degenerativ glenohumeral
 kelainan tulang belakang cervical
 fraktur
Cedera Struktural pada Rotator Cuff
Cedera struktural pada cuff yang paling khas pada usia 40 tahun keatas
Paling sering disebabkan adanya trauma atau penggunaan secara berlebihan akut, sebagian
disertai mekanisme abduksi/ eksternal rotasi
Nyeri pada malam hari adalah karakter utama kelainan rotator cuff
Nyeri berkurang dengan menggunakan ketiak bawah payudara dan maksimal antara 90 dan 120
derajatdari elevasi/abduksi aktif
Nyeri terlokalisasi dari area subacromial atau sisi anterior/lateral acromion, dengan radiasi
rendah arm lateral sampai ke insersi deltoid. Nyeri bersifat tumpul, dengan superimposisi nyeri
seperti ditusuk benda tajam.
Diskinesia Skapulothoraks, Penurunan
Stabilitas, serta Fitnes dan Teknik Provokasi

Diskinesia Skapulothoraks, penurunan stabilitas, dan aktivitas fitness umumnya berkontribusi


terhadap gejala pada bahu yang menyebabkan iritasi sekunder dari rotator cuff atau unit otot-
tendon lain dihasilkan dari overload bimekanik.
Kapsulitis adesiva “Frozen Shoulder”
“Frozen Shoulder” tipikal tidak disebabkan oleh trauma, meskipun pada pasien sering
ditemukan riwayat cedera minor yang dirasakan sebagai gejala
Gejala yang muncul sangat progresif, dengan bebrapa stadium yaitu: “freezing”, “Frozen”, dan
“thawing”
Pasien juga akan menggambarkan perasaan tidak nyaman pada bagian belakang bahu dengan
lokasi pada trapezius dan periscapular karena otot-otot tersebut akan menjadi kaku ketika
mengkompensasi gerakan sendi glenohumeral yang terbatas
Calcific Tendinitis
Calcific Tendinitis ditandai dengan nyeri yang sangat berat pada sisi lateral bahu atau
subacromial. Nyeri muncul secara tiba-tiba, namun berkembang secara cepat dan sering
ditemukan pada pasien usia pertengahan.
Tendinosis Bisep
Tendinosis bisep sering berhubungan dengan penyakit pada otot-otot rotator cuff. Akan tetapi,
nyeri pada biseps pada dasarnya mengarah pada bagian anterior lengan, berlawanan dengan
gangguan pada cuff, yang dicirikan oleh nyeri pada bagian lateral.
Karena bisep merupakan ootot supinator pada lengan atas, pasien dengan gangguan pada
biseps akan mengeluhkan gejala yang berhubungan dengan rotasi lengan atas.
Penyakit Degeneratif pada Sendi
Acromioclavicular

Gejala yang muncul pada sendi AC (Acromioclavicular) pada umumnya ditandai dengan nyeri
pada bahu superior yang semakin memberat dengan adduksi horizontal pada lengan (karena
adanya penekanan pada sendi AC) atau penggunaan berlebih pada lengan yang mengalami
gangguan
Penyakit pada sendi AC dapat menyebabkan diskinesia pada Skapulotoraks dan gangguan
sekunder rotator cuff.
Penyakit Degeneratif pada Sendi Glenohumeral

Atritis Glenohumeral (GH) dapat berhubungan dengan dengan riwayat pembedahan sebelumnya
(stabilisai open ligament, artroskopi pada robekan yang luas, dan penggunaan alat implan sperti
“pain pump”) dan robekan rotator cuff yang masif (cuff tear arthropathy), khususnya pada
wanita usia lanjut.
Gejala yang muncul paling berat pada malam hari dan dapat ditoleransi pada saat beraktivitas.
Reumathoid Arthritis sistemik dapat mempengaruhi sendi glenohumeral
Gangguan pada Vertebra Servikal
Gangguan pada vertebra servikal akan menyebabkan adanya nyeri yang menjalar dari leher
sampai ke posterior dan superior bahu
Ketika percabangan dari saraf servikal mengalami penekanan, sebagian besar C5 dan C6 terkena,
dan gejala radikular (“tajam”, “menusuk”, atau “nyeri terbakar”) dirasakan pada bagian lengan
atas dan menjalar ke distal sampai siku sesuai dengan distribus dermatom.
Fraktur
Fraktur pada bagian bahu jarang terjadi pada seluruh kelompok usia. Umumnya, terdapat
riwayat trauma spesifik, namun pada pasien usia tua yang mengalami osteoporosis atau situasi
khusus tertentu, cedera yang terjadi mungkin tidak terlalu berat.
TUJUAN UMUM
REHABILITASI PADA BAHU
Range of Motion
Salah satu kunci utama pada proses penyembuhan adalah kembali normalnya ROM. Profesional
pada awalnya bergantung pada estimasi visual atau “quick” test untuk menilai gerakan sendi.
Yang terpenting adalah mengembalikan gerakan arthrokinematik normal pada bahu. ROM bahu
secara aktif selalu dilakukan sebelum gerakan pasif
penting juga untuk memastikan evaluasi gerakan glenohumeral yang terbatas.
Salah satu gerakan yang terbatas yang sering bermasalah dengan berbagai kondisi bahu adalah
struktur bahu posterior atau inferior
Ukuran ROM aktif bahu
Penilaian bahu posterior dapat dilakukan dengan mengukur rotasi internal glenohumeral yang
terbatas. Untuk melakukan tes ini, humerus dilakukan gerakan rotasi internal secara pasif
sementara skapula distabilkan dengan menggenggam prosesus coracoid dan tulang belakang
dan pemantauan gerakan
Gerakan ini harus dibandingkan secara bilateral untuk menilai defisit rotasi internal
glenohumeral (GIRD) antara bahu yang tidak terlibat dan tidak terlibat
Perbedaan rotasi internal yang lebih besar dari 20 derajat dianggap sebagai perkusor patologi
bahu.
Kehilangan rotasi internal bahu tidak selalu patologis karena beberapa gerakan ini mungkin hilang
akibat perubahan struktur tulang pada humerus.
Konsep ROM rotasi bahu total juga harus disebutkan.
Dengan menambahkan dua hal yaitu rotasi internal dan rotasi eksternal GH secara bersamaan,
gabungan total gerakan bahu dapat diperoleh
Pada awal rehabilitasi jaringan lunak bahu terjadi dominasi perbaikan gerak pasif.
Latihan pasif dan aktif awalnya harus dimulai dengan pasien dalam posisi supinasi dengan
lengan posisi nyaman di samping dengan gulungan handuk kecil atau bantalan di bawah siku dan
siku fleksi
Setelah gerakan aktif dapat dilaukan, pasien didorong untuk bekerja lebih awal pada ROM bebas
nyeri dengan elevasi 90 derajat
Pereda Nyeri
Gerakan bahu dan kekuatan bahu bisa dihambat oleh rasa sakit dan pembengkakan
Rasa sakit bisa merupakan hasil dari initial injury atau dari prosedur pembedahan dalam
memperbaiki / mengganti jaringan yang terluka.
Pereda nyeri yang dapat digunakan:
 Istirahat, menghindari gerakan yang menyakitkan (contohnya, imobilisasi
Cryotherapy
Ultrasound
galvanic stimulation
obat-oabatan oral atau suntikan
Cryotherapy berkelanjutan efeKtif setelah prosedur pembedahan seperti open rotator cuff
repairs, stabilisasi bahu, biceps tenodesis, total shoulder arthroplasty, dan arthroscopic
subacromial decompression pergelangan tangan bisteps
Hasil cryotherapy pasca operasi:
 pendinginan berkelanjutan dari kedua ruang subakromial dan suhu sendi glenohumeral
 menurunkan tingkat keparahan dan frekuensi nyeri yang memungkinkan pola tidur normal
 peningkatan kenyamanan dan kepuasan pasca operasi secara keseluruhan
Penguatan Otot
Sindrom pergeseran tanpa komplikasi memungkinkan latihan penguatan dimulai pada hari
pertama
postoperative rotator cuff repair memerlukan waktu hingga 10 minggu sebelum memulai latihan
penguatan
Latihan awal yang aman adalah latihan isometrik dan latihan rantai kinetik tertutup
Keuntungan dari latihan rantai tertutup adalah kontraksi ulang dari kelompok otot agonis dan
antagonis yang membantu meningkatkan stabilitas glenohumeral.
Kontraksi ulang ini mereplika pola motor fisiologis normal dan berfungsi untuk membantu
menstabilkan bahu, membatasi pergesaran abnormal dan berpotensi merusak sendi
glenohumeral.
Salah satu contoh latihan rantai kinetik tertutup yang digunakan saat elevasi, posisi yang
fungsional adalah “clock exercise” di mana tangan distabilisasi terhadap dinding atau meja
(tergantung derajat elevasi yang dapat dilakukan) dan tangan dirotasikan berlawana arah jarum
jam
Sebagai alternatif, terapis juga dapat memberikan tahanan manual pada arah yang sama ke
lengan pasien saat pasien menstabilisasi lengan tersebut dengan berpegangan pada dinding
Awalnya, manuver dilakukan dengan gerakan bahu kurang dari 90 derajat abduksi atau fleksi
glenohumeral
Saat proses penyembuhan jaringan membaik dan gerakan pulih, latihan penguatan berlanjut
pada gerakan abduksi dan forward fleksi bahu.
Latihan isometrik juga bisa dilakukan di berbagai rentang elevasi bahu.
“Posisi keseimbangan" adalah 90 sampai 100 derajat forward fleksi bahu saat telentang
Posisi ini membutuhkan sedikit aktivasi deltoid sehingga rotator cuff dapat bekerja tanpa
menimbulkan respons menyakitkan pada bahu
Pada posisi ini kontraksi dari deltoid akan menghasilkan kompresi sendi, membantu
meningkatkan stabilitas sendi
Meningkatkan kekuatan stabilitas scapula merupakan tahap awal yang penting dalam program
rehabilitas.
Memperkuat scapula dapat dimulai dengan posisi berbaring miring disertai kontraksi otot
isometric atau kontraksi isotonic atau closed chain (Gambar 21.16) dan progresi ke latihan open
chain (Gambar 21.17)
Latihan perlu ditingkatkan dari pergerakan isometrik dan closed chain menjadi lebih isotonic
dan open chain (gambar 21.18)
Open chain exercise selesai dilakukan jika ujung distal ekstremitas tidak lagi distabilkan melawan
benda tidak bergerak.
Latihan rotasi internal dan eksternal sendi glenohumeral selesai dilakukan saat bahu sudah
berada dalam posisi scapular plane .
Posisi scapular plane merupakan posisi ketika bahu berada antara 20-30 derajat antara anterior
dan frontal plane dari thoraks atau setengah bagian antara sagital plane dan frontal plane
Bagi mereka yang melakukan perlombaan, sebagian besar fungsional dari open chain exercise adalah
plyometric exercises.
Tidak semau pasien membutuhkan latihan pyelometrik, latihan ini perlu didiskusikan sebelum
dimulai. Latihan ini merupakan pilihan latihan untuk mengembangkan kekuatan otot. Tabung, bola
latihan medis, atau free weight merupakan alat pyelometrik yang dapat digunakan untuk bahu
(gambar 21.19)
Total arm strengthening diperlukan ketika terdapat salah satu lengan yang cedera, karena bila
hanya melakukan rehabilitas pada satu lengan akan menyebabkan kelemahan pada lengan
lainnya.
Semua kondisi meliputi stretching, strengthening, dan endurance training atau komponen lain
dari kinematic chain sebaiknya secara simultan dilakukan.
Motivasi pasien merupakan komponen kritis dalam program rehabilitasi. Tanpa motivasi diri,
program rehabilitasi akan gagal. Untuk sembuh sempurna rehabilitasi harus dilakukan juga
sendiri dirumah. Latihan membutuhkan bukan hanya tenik tapi juga kedisiplinan.